DNS (Domain Name System) adalah sistem penerjemahan “alamat nama” ke “alamat ip”atau sebaliknya. Data DNS yg akan dikirim ketika diproses di Layer Transport (L4 OSI Model) akan dibubuhi alamat port bernomor 53 dgn metode UDP (User Datagram Protocol) atau TCP (Transmission Control Protocol), dalam kegiatan transportasi data DNS pada umumnya menggunakan UDP.

Jika sebuah protokol L7 menggunakan UDP, biasanya realibilitas akan ditangani oleh protokol itu sendiri, jika melihat sesi transaksi data pada protokol yg menggunakan UDP seperti DNS dan DHCP maka selalu saja ada tahapan-tahapan yang harus terpenuhi sebelum tahapan berikutnya dilakukan.

Misalnya pada protokol DHCP, urutan-urutannya: DHCP Discover -> DHCP Offer -> DHCP Request -> DHCP Ack.

DHCP Server tidak akan merespon dengan DHCP Offer jika sebelumnya ia tak menerima DHCP Discover (bunyi serupa jika menggunakan TCP, tidak akan dikirimkan segmen data berikutnya jika pengirim belum menerima Acknowledge dari si penerima).

Saat transfer zone dari master ke slave itu menggunakan TCP, karena zone transfers memerlukan protocol yang dapat menjamin keselamatan kirimannya. Protocol TCP lebih bisa dipercaya daripada UDP untuk melakukan hal tersebut, karena TCP akan bertanggung jawab dan memastikan “paket” tersebut sampai ke tujuan, sedangkan UDP tidak.

Jadi kesimpulannya, TCP akan digunakan ketika kegiatan yg dilakukan adalah transaksi data berkapasitas cukup besar, seperti transfer zona dari Master DNS ke Slave DNS

 

DIsadur dari : https://www.facebook.com/groups/ilmujaringan/?fref=nf Moderator : https://www.facebook.com/kasamuddin.palopo?fref=ufi