Tiga Tantangan Profesi Teknologi Informasi

Source : http://leadershipqb.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1477:tiga-tantangan-profesi-teknologi-informasi&catid=39%:betti-content&Itemid=30

 

Jumat, 4 Februari 2011, saya diminta memberikan Graduation Speech dalam acara Syukuran dan Pelepasan Wisudawan program Sarjana dan Paska Sarjana Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Tema sambutan saya adalah “Tiga Tantangan Profesi Teknologi Informasi”. Berikut adalah transkrip sambutan saya:

Selanjutnya Apa?

Besok Anda akan memasuki bab baru dalam hidup Anda. Dan kesempatannya sangat luas. Sebagian dari Anda ada yang akan bekerja pada suatu organisasi, sebagian lagi mungkin akan memulai bisnis sendiri. Satu hal yang pasti, Anda telah memilih bidang yang sangat menarik dan strategis. Begitu strategisnya bidang ini, sehingga saya yang dulu kuliah di bidang Arsitektur pun berpindah rel untuk berkarir di bidang Teknologi Informasi.

Saya baru saja membaca prediksi dari IDC, sebuah lembaga riset yang fokus pada Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). IDC menyatakan bahwa negara-negara di Asia akan menikmati pertumbuhan TIK yang luar biasa, yang dimotori oleh China, India, Indonesia, Vietnam, dan Filipina. Kesempatan kerja dan berkarir terbuka lebar bagi Anda semua. Bahkan perebutan dan saling bajak tenaga kerja dibidang TIK sangat terasa.

Tanpa terasa, saya sudah berkecimpung di dunia TIK selama lebih dari 25 tahun. Beberapa pelajaran telah saya petik dan ingin saya bagikan kepada Anda semua. Namun demikian, sebelumnya saya ingin menyampaikan beberapa hal di dunia TIK, dan tantangan saya bagi Anda.

TIK dan Karya Anak Bangsa

TIK berkembang sangat pesat dan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Pengguna Internet di Indonesia telah mencapai 45 juta tahun lalu, berdasarkan data dari Kementrian Kominfo, sementara telepon selular pun tumbuh sangat pesat dan saat ini mencapai 180 juta pelanggan atau 80% penduduk Indonesia.

Di bidang social media, pengguna Facebook di Indonesia mencapai 33 juta, dan menempati peringkat nomor 2 di dunia setelah Amerika. Sementara itu, pengguna Twitter di Indonesia sebanyak 6,24 juta, berdasarkan data pada September 2010.

Pertanyaan yang harus kita jawab adalah, apakah kita telah memanfaatkan teknologi tersebut untuk hal-hal yang produktif, yang memajukan dan mensejahterakan bangsa kita? Ataukah teknologi itu hanya menjadi sarana hiburan dan menjalin silaturahmi online saja? Lalu, apakah kita hanya bertindak sebagai pengguna saja, atau ikut memproduksi—baik itu perangkat keras, perangkat lunak, serta kontennya?

Kita sering dibuat sedih karena sementara pertumbuhan makro ekonomi di Indonesia baik, tetapi pertumbuhan tersebut lebih didorong oleh konsumsi saja. Hal ini membuat kita lebih menjadi penikmat keringat orang luar negeri. Akibatnya, penciptaan lapangan kerja di Indonesia masih terbatas dan angka kemiskinan pun masih tinggi. Di bidang TIK pun, hal ini terjadi—produk yang kita nikmati kebanyakan adalah produk impor.

Kabar baiknya, kini lebih banyak kesempatan bagi kita untuk tidak sekadar menjadi pengguna tetapi juga menjadi pencipta. Di bidang konten misalnya, Fahma Waluya Rosmansyah adalah pembuat aplikasi Nokia Ovi Store yang termuda. Berusia 12 tahun, Fahma berhasil menjuarai APICTA (Asia Pacific ICT Award) untuk kategori Secondary Student Project. Karyanya yang berupa game edukasi kini dipasarkan di seluruh dunia melalui Nokia Ovi Store. Kalau anak berumur 12 tahun saja bisa, masa Anda tidak?

Jadi, tantangan pertama yang saya berikan kepada Anda para wisudawan adalah untuk bersama-sama membangun kemampuan menjadi produsen TIK. Anda bisa berperan sebagai produsen itu sendiri, maupun sebagai fasilitator bagi tumbuh dan berkembangnya karya-karya anak bangsa.

Bagaimana cara menjadi fasilitator? Caranya adalah dengan menggunakan produk karya Indonesia bila ada. Jadi, setiap kali akan membeli produk TIK, kita perlu bertanya, apakah sudah ada produk serupa yang merupakan karya anak bangsa? Jika ada, coba kita pertimbangkan untuk menggunakannya. Dan bila tidak ada, itu adalah peluang bagi kita untuk membuatnya.

Saya yakin kesempatannya banyak. Pada jaman di mana perubahan terjadi dengan sangat cepat seperti sekarang ini, yang dibutuhkan adalah keinginan untuk mencari peluang untuk melakukan inovasi. Selagi Anda masih muda, cobalah hal-hal baru yang berbeda, yang inovatif.

Itu tadi tantangan pertama. Gunakan produk Indonesia kalau sudah ada. Kalau belum ada, Anda bisa membuatnya.

TIK sebagai Katalisator Kemajuan Bangsa

TIK telah dan akan memberikan kontribusi yang signifikan untuk meningkatkan produktivitas, kreativitas, serta daya saing individu, organisasi, dan bangsa. Penelitian Bank Dunia atas 120 negaradengan basis data tahun 1980-2006, yang disajikan dalam laporan InfoDev 2009, menunjukkan bahwa penetrasi broadband sebesar 10% di negara sedang berkembang akan meningkatkan GDP sebesar 1,38%.

Sebagai praktisi TIK, kita wajib mendorong pemanfaatan TIK untuk memecahkan berbagai masalah bangsa. Salah satu masalah terbesar yang dihadapi bangsa kita adalah maraknya korupsi. Dibutuhkan peran serta berbagai pihak untuk memecahkannya.

Sistem informasi yang baik dapat mendukung transparansi dan tata kelola yang baik (good governance). Ketika e-government diterapkan dengan baik, bagi masyarakat ini berarti layanan yang lebih mudah diakses. Bagi komunitas bisnis, hal itu akan mengurangi beban pengurusan administrasi dengan memanfaatkan internet. Sementara bagi kantor-kantor pemerintah, itu berarti efisiensi dan efektivitas kerja yang menurunkan biaya, pelaporan yang lebih mudah, dan pengukuran kinerja yang lebih jelas.

Misalnya saja, 77% kasus korupsi yang ditangani KPK adalah menyangkut pengadaan. Daerah-daerah yang telah berhasil menerapkan e-procurement dapat mencegah korupsi karena adanya peluang kontak langsung antara penyedia jasa dengan petugas pengadaan menjadi lebih kecil. Proses pun menjadi lebih transparan dan lebih mudah diaudit.

Studi yang dilakukan oleh KPK menunjukan penerapan e-procurement telah menghasilkan penghematan anggaran sebesar 23.5% dan penghematan HPS (Harga Penetapan Sendiri) sebesar 20%. Penghematan waktu pelaksanaan pun terjadi, dari rata-rata 36 hari menjadi 20 hari.

Jadi tantangan kedua adalah, sebagai praktisi dan calon praktisi TIK, kita semua harus mendorong penerapan TIK untuk meningkatkan transparansi dan tata kelola yang baik. Dengan demikian kita berharap korupsi dapat ditekan. Jadi kita tidak lagi disuguhi tontonan Gayus di televisi setiap hari, tetapi melihat tokoh-tokoh TIK menjadi pejuang antikorupsi melalui penerapan TIK yang baik.

Kuasai Softskills

Sepanjang lebih dari 25 tahun berkecimpung di bidang TIK, saya telah merekrut ratusan praktisi TIK. Dari situ saya menemukan pola bahwa mereka yang sukses adalah mereka yang tidak saja mahir berbicara dengan komputer, tetapi juga mahir berkomunikasi dan berkolaborasi dengan bahasa manusia. Implementasi TIK hanya bisa berhasil bila kita bisa membuatnya dimengerti oleh orang awam.

Jadi, jangan berusaha untuk terlihat pandai dengan menggunakan bahasa-bahasa yang memusingkan, tetapi kuasailah seni berkomunikasi yang mampu membuat orang tertarik untuk memanfaatkan TIK secara maksimal. Demikian pula perkembangan TIK yang demikian cepat telah membuat kolaborasi antarnegara dan antarorganisasi yang difasilitasi oleh internet dan TIK  menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari.

Perusahaan kini bisa menjalankan operasinya secara terintegrasi di berbagai negara. Misalnya tim TIK ada di India dan Indonesia, pengadaan dilakukan China, call center di Filipina, sementara pusat administrasi pelanggan dilakukan di Malaysia. Tenaga kerja masa kini harus mampu bekerja dalam TEAM dan menyelesaikan suatu pekerjaan dengan kolaborasi antarorganisasi dan antarnegara. Syaratnya, selain hard skills, kita pun perlu menguasai softskills.

Apa saja yang termasuk softskills? Di antaranya kemampuan untuk berkomunikasi, beradaptasi pada situasi yang berbeda-beda, bernegosiasi, mengatur waktu, memecahkan masalah, bekerja dalam tim dan memimpin suatu tim. Gaya kepemimpinan masa kini adalah gaya kepemimpinan yang memberdayakan, membangun kolaborasi, dan memupuk segenap potensi yang ada.

Lalu, bagaimana mengasah softskills? Pelajari teorinya lalu praktekan. Niscaya, semakin lama kita akan semakin mahir.

Itu tadi tiga tantangan saya untuk para wisudawan, yakni:

  1. Bersama-sama membangun kemampuan menjadi produsen TIK,
  2. Menjadikan TIK sebagai katalisator kemajuan bangsa,
  3. Menguasai softskills.

Lima Ide untuk Mencapai Lebih dalam Hidup

Saya akan menutup sambutan saya dengan menyampaikan lima  kiat untuk membuat Anda lebih sukses dalam hidup. Jadi bagi Anda yang tadi belum menyimak, sekarang waktunya untuk menyimak.

#1 Ciptakan Mimpi Besarmu

Cita-cita memberikan arah dan momentum dalam hidup. Sukses dalam kehidupan dibangun dari capaian demi capaian menuju suatu cita-cita. Ketika kita dihadapkan pada situasi sulit, cita-cita kitalah yang membuat kita terus bersemangat.

#2 5..4..3..2..1 ACTION!

“Banyak orang punya ide yang hebat, tetapi ide itu tidak kunjung dilaksanakan. Padahal ide saja tidak akan membawa kita kemana-mana.” Katanya, kata Motivation berasal dari kata motive dan action. Dengan kata lain motivation hanya ada bila kita punya tujuan (motive) dan ada tindakan. Jadi, bila kita merasa kehilangan motivasi dalam hidup ini, kemungkinan besar kita tidak punya motive dan kurang action.

Banyak orang memiliki ide, tetapi tidak dilaksanakan hanya karena takut membuat kesalahan. Hal ini sebenarnya bisa diatasi jika kita dapat melihat kesalahan sebagai hal yang positif. Kita belajar ketika kita membuat kesalahan.

Bukankah kita belajar paling banyak ketika kita membuat kesalahan? Berapa banyak kesalahan dibuat oleh seorang anak ketika mereka pertama belajar merangkak, lalu berjalan, hingga akhirnya berlari? Mereka belajar sambil berbuat dan memperbaiki apa yang salah. Mereka belajar secara alamiah. Tetapi, ketika menjadi dewasa, kita seringkali lupa bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Kesalahan hanya terjadi ketika kita mengambil tindakan.

Tindakan adalah dasar dari keberhasilan dalam hidup. Jadi sederhananya, pertama kita punya tujuan, lalu ambil tindakan, barulah keberhasilan akan datang. Ingatlah, “a journey of a thousand miles begin with a simple step”. What will your first step be?

#3 Semuanya Tergantung Saya, Bukan Orang Lain:  If it is to be, it’s up to me

Salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi dalam hidup adalah berani menerima kenyataan bahwa kita bertanggung jawab atas apa yang kita alami dalam hidup kita.

Kita punya kecenderungan untuk menyalahkan semua orang kecuali diri kita sendiri dari waktu ke waktu. Kenyataannya, dengan menyalahkan orang lain, kita sebetulnya telah menyerahkan kontrol terhadap hidup kita dan menghilangkan kesempatan untuk belajar dari kesalahan yang kita buat. Saat di mana kita berhenti mencari-cari kesalahan orang lain atas kesalahan yang kita buat, adalah saat di mana kita mulai menemukan kekuatan untuk berprestasi.

#4 Ciptakan Peluang Kita

Peluang tidak datang begitu saja, peluang kita ciptakan. Kita tidak begitu saja bertemu dengan peluang, melainkan kita mempersiapkan diri kita dengan pertama-tama membuka wawasan bagi munculnya ide baru dan masukan-masukan. Semuanya berawal dari keputusan untuk ingin membawa hal baru dalam hidup kita.

Belajarlah untuk bertanya. Apa yang saya ingin lakukan dalam hidup saya? Apa yang saya bisa lakukan untuk mengubah hidup saya? Atau, di mana saya bisa mendapat informasi yang akan membantu saya untuk mencapai tujuan saya dengan lebih cepat? Belajarlah untuk menentukan tujuan dan mengambil tindakan. Karena tindakanlah yang akan mempersiapkan diri kita untuk bisa mengenali dan memanfaatkan peluang-peluang dalam hidup kita.

Ada banyak peluang di sekitar kita. Bila kita mencarinya, kita akan menemukannya. Ingatlah bahwa peluang jarang mengetuk pintu. Kitalah yang harus mengetuk pintu peluang, bila kita ingin masuk ke dalamnya.

#5 Investasi Pada Diri Sendiri

Kita tidak perlu kaya dulu untuk menjadi seorang investor. Tetapi sebaliknya, kita harus menjadi investor bila kita ingin kaya. Dan ingatlah bahwa dari semua investasi yang bisa kita buat, investasi pada diri sendiri adalah investasi yang akan memberikan hasil yang terbesar dan paling penting yang bisa kita harapkan.

Inti dari berinvestasi pada diri sendiri adalah secara sadar mengontrol hidup kita dan memutuskan untuk mengalokasikan sebagian dari sumber daya yang terbatas yang kita miliki untuk pengembangan diri. Suatu pengembangan keterampilan dari dalam keluar. Keterampilan hidup yang akan mempengaruhi semangat, sikap, kebiasaan, dan tingkah laku—yang pada akhirnya akan membuat membentuk nasib kita.

Berinvestasi pada diri sendiri berarti bukan hanya belajar ,tetapi juga melatih ketrampilan-keterampilan baru. Itu berarti mengalokasikan sebagian waktu kita, uang kita, dan energi kita. Itu berarti berkorban sekarang untuk sesuatu yang penting di masa depan.

Kesimpulan

Itu tadi adalah lima kiat agar kita bisa mencapai lebih banyak dan lebih baik dalam hidup kita:

  • Ciptakan mimpimu
  • 5..4..3..2..1 ACTION
  • Semuanya terserah kita
  • Ciptakan kesempatan
  • Investasi pada diri sendiri

Sekali lagi, selamat atas wisuda ini dan selamat atas semua yang telah Anda capai. Saya berdoa agar Anda mencapai yang terbaik di tahun-tahun mendatang. Anda telah dibekali pendidikan terbaik dari salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Dan saya berharap, Anda akan membawa nama harum UI dan Indonesia di kancah dunia.

Salam hangat penuh semangat
Betti Alisjahbana

Sumber gambar: vixstar1314.wordpress.com

 

Sunday, 06 February 2011 23:29 | Written by Betti Alisjahbana

Tiga Tantangan Profesi Teknologi Informasi

 
www.stisitelkom.ac.id www.di.stisitelkom.ac.id www.ktm.stisitelkom.ac.id
www.dkv.stisitelkom.ac.id www.dp.stisitelkom.ac.id www.srm.stisitelkom.ac.id
www.blog.stisitelkom.ac.id www.multimedia.stisitelkom.ac.id
www.elearning.stisitelkom.ac.id www.library.stisitelkom.ac.id
www.repository.stisitelkom.ac.id www.cloudbox.stisitelkom.ac.id
www.digilib.stisitelkom.ac.id www.mirror.stisitelkom.ac.id
www.sisfo.stisitelkom.ac.id www.hilfan.blog.stisitelkom.ac.id
www.telkomuniversity.ac.id www.stisitelkom.academia.edu
www.kuningmas-autocare.co.id www.usnadibrata.co.id www.askaf.co.id www.hilfans.wordpress.com www.hilfan-s.blogspot.com www.profesorjaket.co.id

Dialog Kepemimpinan Bersama Dahlan Iskan

Source : http://leadershipqb.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1822:dialog-kepemimpinan-bersama-dahlan-iskan-dirut-pln&catid=39%:betti-content&Itemid=30

 

Dialog kepemimpinan bersama dahlan Iskan dilakukan pada Senin, 28 Februari, pukul 19:00 -22:00, di mailing list Senyum-ITB@yahoogroups.com.

Profil Dahlan Iskan:
Dahlan Iskan lahir pada 17 Agustus 1951 di Magetan, Jawa Timur. Ia adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos News Network, yang bermarkas di Surabaya. Ia menjabat Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009.

Karir Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda, Kalimantan Timur pada 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sejak 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos.

Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos, yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar dalam waktu 5 tahun.

Lima tahun kemudian, terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, yang memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada 1997, ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta.

Pada 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru. Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan Presiden Direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta, yakni PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya. Sejak akhir 2009, Dahlan diangkat menjadi Direktur Utama PLN, menggantikan Fahmi Mochtar. (Sumber: Wikipedia.org)

TANYA JAWAB

Betti Alisjahbana, AR-79:
Terima kasih telah bersedia menjadi tokoh tamu Dialog Kepemimpinan di milis Senyum-ITB, milisnya Alumni ITB. Ketika Bapak diangkat untuk menjadi Direktur Utama PLN pada 23 Desember 2009, banyak sekali tantangan yang harus segera di hadapi. Padahal Pak Dahlan adalah orang luar yang kehadirannya disambut dengan pro dan kontra di PLN.

Bisakah diceritakan pendekatan apa yang Bapak terapkan pada waktu itu untuk dapat secara cepat menguasai situasi? Lalu apa yang Bapak lakukan untuk merebut kepercayaan orang-orang yang Bapak Pimpin. Apa yang menjadi prioritas untuk dibenahi terlebih dahulu pada saat itu? Bagaimana hasilnya sejauh ini?

Dahlan Iskan:
Sikap saya terhadap penolakan waktu itu biasa-biasa saja. Saya sepenuhnya memaklumi sikap mereka dengan berandai-andai bahwa kalau saya jadi mereka mungkin juga akan melakukan yang sama. Saya juga tidak menentukan usaha tertentu untuk merebut kepercayaan. Saya kerja biasa saja.

Siapapun tahu prioritas apa yang harus diperbuat: mengatasi krisis listrik dan pemadaman bergilir. Kami sepakati semua itu harus selesai dalam waktu enam bulan. Ketika program ini berhasil, kepercayaan diri teman-teman di PLN meningkat drastis. Momentum inilah yang kemudian membuat semua orang PLN percaya kepada kemampuan dirinya. Karena itu teman-teman langsung menetapkan target berikutnya: melayani penyambungan satu juta dalam sehari. Ini karena daftar tunggu sudah sangat panjang (jutaan) dan mereka sudah menunggu listrik bertahun-tahun.

Djoko Purwanto:
Persoalan kelistrikan di Indonesia sudah terasa semakin membebani atau barangkali lebih tepat menghambat pertumbuhan perekonomian nasional sejak 8-10 tahun yang lalu, yaitu pada saat bapak menjadi wartawan yang pasti sangat kritis meliput, menganalisa, mengomentari serta membuat berita-berita tentang kinerja Direksi PLN dalam hubunganya dengan regulasi dari Kementrian ESDM maupun perundang-undangan yang disahkan oleh DPR.

Saat ini, setelah 1 tahun bapak memangku jabatan sebagai Direktur Utama PT PLN, bagaimana pendapat bapak tentang berita-berita yang diterbitkan oleh Pers tentang kinerja Direksi PLN saat ini. Apakah proporsional? Apakah para wartawan memahami permasalahan yang sebenarnya terjadi?

Apakah Regulasi yang ditetapkan oleh Kementrian ESDM maupun Perundang-undangan yang disahkan oleh DPR benar-benar merefleksikan kebutuhan yang dapat mendukung kinerja PLN dalam menjawab persoalan kelistrikan nasional? Apakah kita semua benar-benar memahami persoalan kelistrikan nasional yang sebenarnya terjadi saat ini?

Salah satu upaya penanggulanagan kelangkaan listrik, Pemerintah memberi peluang kepada pihak Swasta melalui program IPP. Akan tetapi dalam penetapan Tariff jual-beli listrik PLTU batubara misalnya, PLN terlihat mengambil patokan biaya investasi dengan menggunakan harga-harga referensi peralatan buatan Cina. Padahal kita ketahui tingkat keandalan operasi (Boiler) nya rata-rata dibawah 80%. Apakah hal ini tidak berarti sengaja memindahkan resiko kerugian kepada pihak swasta karena akan tidak mampu mencapai target produksi, dan konsekwensi selanjutnya adalah tetap tidak mampu memberi solusi bagi penyelesaian persoalan kelistrikan nasional.

Pembangkit listrik di Cina pada musim dingin juga menjual steam sebagai media pemanas disamping menjual listrik, sehingga rata-rata PLTU di Cina memiliki Boiler dengan kapasitas 150% dari kebutuhan pembangkit. Dengan demikian keandalan operasi PLTU disana dapat mencapai lebih dari 90%. Bagus, namun artinya Tariff listrik PLTU swasta di Indonesia harus dirumuskan kembali atau disesuaikan. Mohon komentar Bapak.

Dahlan Iskan:
Setelah satu tahun di PLN, saya ini kadang malu: kok asyik banget! Seperti saya ini sangat menginginkan jabatan ini. Keasyikan saya itu karena begitu banyak tantangan yang ternyata bisa diselesaikan oleh tim PLN satu persatu. Mulai dari krisis listrik se indonesia, daftar tunggu yang jutaan sampai ke pasokan untuk kalangan bisnis.

Soal pemberitaan, rasanya masih proporsional. kepada teman-teman PLN saya selalu mengatakan jangan reaksioner terhadap berita yang kritis kepada PLN. Humas saya minta juga jangan menutup-nutupi. Tidak ada pilihan lebih baik untuk menghindari berita yang kritis itu kecuali memperbaiki kinerja. daripada sibuk membantahi atau menutupi berita kritis lebih baik menggunakan energi untuk memperbaiki kinerja.

Soal listrik swasta, sekarang ini sudah mencapai kira-kira 18% dari seluruh kapasitas pembangkitan di indoensia. saya berpendapat sebaiknya peranan swasta ini dibatasi sampai kira-kira maksimal 40%. Jangan sampai menjadi mayoritas. Pengalaman negara lain, yang listriknya didominasi swasta harga listrik cenderung tidak terjangkau oleh masyarakat dan akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi. Kecuali kelak, kalau kita sudah menjadi negara maju.

Das Albantani, AR-95: 
Ada yg menjadi kegelisahan saya sebagai warga Indonesia yg mempunyai potensi sumber energi terbarukan luar biasa sekali, tapi mengapa kebijakan pemerintah tentang kebutuhan listrik ini belum atau bisa dikatakan terlambat untuk mengoptimalkan potensi tsb, kebetulan saya ada di Banten dan saya lihat sedang dibangun sumber listrik yg memakai bahan batu bara yang termasuk ke dalam sumber energi kotor, kenapa tidak dibangun saja sumber energi dari tenaga angin, matahari atau gelombang, apa kendalanya? Terima kasih atas kesempatannya

Dahlan Iskan:
Ini tentu karena batubara masih menjadi sumber listrik paling murah. Kalau kelak batubara sudah mahal, mau tidak mau kita akan meninggalkan batubara. Listrik dari batubara harganya sekitar 800,-/kwh, sedang dari geothermal (menurut ketentuan baru) 900,-/kwh. Sedang dari tenaga matahari masih jauh lebih mahal. Kelak kalau teknologi sudah lebih maju barangkali matahari akan lebih murah.

Meski begitu kita terus mengembangkan geothermal, dan kita rencanakan di tahun 2014 sudah mencapai 4.000 mw. kalau target ini tercapai Indonesia sudah menjadi juara pertama negara yang menggunakan geothermal terbanyak. PLN juga sudah selesai membuat program lima pulau terkemuka di dunia untuk 100% menggunakan tenaga matahari (Bunaken, Wakatobi, Banda, Derawan dan raja Empat). Tahun ini diprogramkan 100 pulau kecil sudah harus 100% tenaga matahari. Tahun depan kalau bisa 1.000 pulau. Begitu seterusnya.

Dewi, IF-95:
Kabarnya Bapak mampu membuat PLN yg tadinya merugi, sekarang dapat menuai untung. Apa saja yang Bapak lakukan dalam mengubah keadaan menjadi PLN untung? Apakah dgn menerapkan sistem voucher adalah langkah utk menuju untung? Dan bagaimana bapak mengatasi kebocoran listrik?

Oh ya Pak Dahlan, satu lagi, bagaimana PLN menangani pemadaman listrik bergilir? Dan kapan PLN berencana untuk zero pemadaman?

Dahlan Iskan:
Tidak benar saya berhasil membuat PLN untung. Laba PLN saat ini bukanlah laba yang sebenarnya. Ini laba yang dibuat “harus”. Kalau PLN tidak laba tidak akan dapat pinjaman, he he.

Kapan zero padam? Rasanya masih jauh. Target teman-teman PLN tahun ini adalah mengalahkan Malaysia. Konkritnya lagi, listrik Jawa harus mengalahkan Malaysia peninsula. Listrik Sumatera harus mengalahkan Serawak. Listrik Indonesia Timur harus mengalahkan Sabah.

Apa ukurannya?  Kalau di Jawa mati lampunya 9 kali per pelanggan per tahun, itu sudah mengalahkan Malaysia. Kalau akhir tahun ini program mengalahkan Malaysia sudah berhasil, tahun depan kami cari lagi negara mana yang harus kami loncati. Saya kira masyarakat belum terlalu berharap listrik di Indonesia bisa zero padam, karena hal itu akan sangat-sangat mahal investasinya. Tapi kalau bisa mengalahkan Malaysia, saya kira rakyat kita sudah cukup senang (sementara….)

Ahmad Zoelkarnaen, AR-87:
Sudah diketahui bahwa daerah kami Lampung sangat tekor daya listrik. Beberapa investor sdh serius mulai bergerak berminat serius untuk melakukan investasi pembangunan pembangkit listrik tenaga air (mini hydro plant) dan tenaga angin. Tetapi tetap ada rasa kekhawatiran kami bahwa pihak PLN tidak mau membeli daya listrik yang dihasilkan mrk kelak, atau tidak mau membeli dengan harga yang wajar, sehingga mrk akan urung berinvestasi, sementara pihak PLN sendiri tidak mampu secara cepat menutup celah kekurangan daya tsb.  Bagaimana pendapat Bapak tentang hal ini?

Dahlan Iskan:

PLN pasti beli listrik PLTM, apalagi di Lampung. Harganya pun sudah sangat bagus kan? Sudah sekitar 800,-/kWh. Tolonglah segera bangun dan kami akan sepenuhnya membantu. Memang untuk PLTM masih harus ada ijin dari menteri, tapi kami lagi merumuskan usul agar untuk PLTM tidak perlu serumit itu.

Hercules:
Senang mendengar Bench marking-nya. Itu baru dari sisi availability-nya terhadap yang sudah tersambung. Bagaimana dengan availability nya secara keseluruhan?
Sebagai Contoh, di Balikpapan, banyak sekali yang belum tersambung listrik (availability-nya 0?), padahal di situ gudang nya energy.
Bapak kan dari Kaltim sebelumnya. Apa permasalahannya? Apakah tidak bisa di beri sambungan semuanya khususnya di kota2 besarnya?

Dahlan Iskan:
Kaltim itu menjadi contoh terbunuhnya akal sehat selama puluhan tahun. Energi apa saja ada di situ, tapi krisis listrik yang amat berat. Batubara yang murah diekspor luar biasa, tapi semua pembangkitnya pakai BBM yang begitu mahal. Karena itu, sebelum masuk PLN, saya sering mengatakan bahwa kalau ada instansi yang paling saya benci, maka nomor satu adalah PLN!

Di Balikpapan kini sedang dipersiapan pembangunan PLTU 2 x 100 MW (sudah selesai tender, dananya juga sudah ada, tinggal memulainya, mungkin akhir Maret depan). Lalu beberapa PLTU lagi sedang diproses tendernya. Tapi semua itu memakan waktu dua tahun.

Di belahan utara, kami baru saja dapat gas kecil dari Medco, gas ini akan kami pakai untuk membangkitkan listrik di utara, lalu akan kami bangun kabel bawah laut ke Nunukan, lalu dengan kabel bawah laut lagi ke Sebatik. Semoga tahun depan pulau sebatik (yang separonya milik Malaysia itu) bisa lebih terang dari wilayahnya Malaysia. Masih terlalu banyak yang harus diperbuat di Kaltim. Maret ini saya ke sana untuk memulai proyek itu….

Ary Suhendro:
Dalam RUPTL PLN 2010-2019 tertanggal 8 Juli 2010, terdapat beberapa proyek strategis untuk PLTGU, PLTU dan PLTA. Dalam perjalanan waktu, nampak PLTP yang semula terkendala, kemungkinan tanggal 11 Maret 2011 akan ada angin segar (jika jadi ditandatangani “sesuatu”).
Mengingat PLTP termasuk pembangkit ramah lingkungan, dan Indonesia mempunyai cadangan panas bumi terbesar di dunia, rencana Bapak terhadap PLTP ini bagaimana?

Moga-moga Bapak bersedia memberikan perhatian lebih untuk PLTP. Moga-moga Bapak bersedia mengawal perjalanan (relative) awal PLTP ini. Moga-moga PLTP dapat membantu program Fast Track tahap kedua Bapak.Kami doakan Bapak selalu sehat, sehingga bisa berkontribusi aktif dalam kelistrikan di Indonesia.

Dahlan Iskan:
Kami memang menargetkan tanggal 11 Maret ini ada 5 kontrak Geothermal yang harus kami tandatangani. Semua upacara itu ingin kami laksanakan di makamnya Pak Vincent Raja, yakni tokoh Geothermal PLN yang juga alumni terkemuka ITB. Maksud kami menghargai almarhum yang berjuang keras mewujudkan Geothermal, tapi sampai beliau wafat belum terwujud.

Kami bersumpang untuk mewujudkan PLTP ulumbu di kampung halamannya itu sebelum natal tahun ini, sebagai hadiah natal bagi warga Flores. Sekarang ini, PLN sedang nginul (maksud saya sedang ngebor) Geothermal di Tulehu, Ambon. Mestinya Geothermal ini dibiayai oleh ADB, tapi karena kelamaan, maka saya putuskan dibiayai PLN sendiri, agar lebih cepat. Hari ini pengeborannya sudah mencapai 900 meter. mohon doa restu.

Masrizal Umar:
Terima kasih untuk kesediaannya berbagi ilmunya dengan kami. Pertanyaan saya:

  1. Menurut saya, Bapak termasuk salah satu Pathfinding Leader atau Cracker di Indonesia dan Calculated Risk Taker, Bagaimana Strategy Bapak untuk menyiapkan Leader2 baru di PLN, sehingga selanjutnya CEO PLN bisa dari Internal tetapi memang credible dan layak bukan hanya masalah senioritas saja? Seperti yg sudah dilakukan GE dengan GE University-nya.
  2. Trend dunia sekarang adalah menggunakan “Clean dan Sustainable Energy” salah satunya adalah PLTP atau Panas Bumi, tetapi kalau dilihat kontrak2 yang baru masih dominan dengan PLTU dgn Bahan Bakar Batu Bara. Kapan prosentase PLTP bisa lebih dari 50% dari source mix yg digunakan utk pembangkit.
  3. Apakah Bapak setuju dan ada rencana untuk menggunakan PLTN? Kalau iya kapan?
  4. Apakah Bapak bersedia jika dicalonkan jadi Calon Presiden atau Wapres?

Terima kasih dan semoga Bapak senantiasa sehat.

PS: Sejak Bapak jadi Dirut, Listrik di kompleks saya sdh jarang sekali byarpet kecuali faktor alam (badai atau banjir). Terima kasih, Pak. Mohon izin Blog-nya saya buat link ke Blog saya.

Dahlan Iskan:
Terus terang, di antara direksi sekarang setidaknya ada tiga yang pantas jadi Dirut PLN. Tidak perlu saya. Mereka hebat-hebat. Jadi besok pagi pun, misalnya saya berhenti dari PLN tidak perlu dikhawatirkan.

Kini kami sedang menjalankan program menyiapkan level kedua. Hampir selesai juga sehingga sudah mulai membicarakan penyiapan level ketiga, sambil kami sudah sepakat untuk melakukan percepatan naiknya golongan yang lebih muda. Kami sepakat hanya anak muda yang bisa membuat kemajuan.

PLTN, sepenuhnya saya setuju. Tinggal secara komersial memang masih lebih mahal dari sumber lain. “Salah kita” adalah kita punya banyak batubara, geothermal dan air yang jauh lebih murah dari nuklir. Tapi kalau tidak sekarang memulai, kita akan ketinggalan manakala di kemudian hari tiba-tiba kita harus bernuklir-ria.  Saya usul agar proyek PLTN pertama sebaiknya hasil kerjasama antara Insdonesia-Singapura-Malaysia. Akan tidak “bising” di bidang percaturannya. Kita cari lokasi yang bisa diterima ketiga negara itu. Dari  pada kita kerja sendiri tapi dimusuhi banyak orang…..

Yayuk, FI-76:
Mohon maaf, Pak. Mungkin perlu dilakukan pengecekan ke lapangan.

  1. Untuk listrik tenaga matahari yang ada di pulau bunaken dan wakatobi tidak berjalan mulus. Terakhir kami kesana (rekreasi – diving september 2010 dan januari 2011), semua. Resort dan juga penduduk desa membayar iuran listrik pakai tenaga genset, yang bising sekali bunyinya dan hanya sampai jam 6 sore. Jam 6 sore, tidak ada listrik sama sekali.
  2. Saya ingin bertanya, Pak. Apakah bapak mentargetkan besaran revenue di kantor2 cabang PLN ? Hal ini karena banyak sekali kejadian mirip yang berlangsung dalam 1 tahun terakhir ini. Saya dan juga ada 3 teman saya mengalaminya. Kami beli rumah dan baru tinggal rata2 6 – 12 bulan. Tiba2 kedatangan petugas PLN yang menyatakan meter PLN rusak, dan harus diuji kalibrasi ke sunter ( teman saya lainnya ke bSD – dekat rumah msg2). Hasil dari kalibrasi yang kami tdk pernah ketahui prosesnya, adalah form yang harus di-ttd oleh kami. Denda sebesar 17 juta, teman saya 37 juta, dan yang lainnya ada yang 24 juta. Kalau tdk dibayar maka listrik akan dipadamkan.. Memang pihak PLN memberikan kebijaksanaan cicilan, tetapi 20% harus dibayar didepan dan harus cash (agak aneh ini).

Sebagai pelanggan yang tdk punya alternatif lain, juga malas debat bolak balik ke PLN, kami terpaksa terima, padahal kalau dihitung tinggal 6 bulan dng bukti berupa akte jual beli rumah. Tdk mungkin kena beban 17juta.

Mohon klarifikasi Bapak utk kasus yang terjadinya hampir serentak ini tetapi pada lokasi yang berbeda-beda. Mohon maaf jika tidak berkenan.

Dahlan Iskan:
Kalau Anda ke Wakatobi dan Bunaken bulan september (SAYA JUGA DI SANA BULAN ITU, tapi untuk rapat dan tidak sempat menyelam, sayang…) rasanya tidak mungkin kalau Anda bisa melihat PLTS kami di sana. Bulan September itu baru proses tender. Pemasangan baru dilakukan bulan Desember. Sekarang sudah selesai tapi masih dalam tahap evaluasi, apakah masih ada kekurangan.

Soal yang kedua, saya belum bisa menjawab karena harus bertanya dulu kepada bagian itu. Maafkan atas kurang menguasainya persoalan ini.

Jalal Umaruddin:
Walaupun belum pernah ketemu secara langsung dengan Pak Dahlan, Tapi sangat bahagia bisa bertemu dalam diskusi virtual ini, semoga hari esok bisa bertemu.

Saya sering mengikuti artikel-artikel yang Pak Dahlan tulis, tentang ekonomi Global dan Nasional, tentang perjalanan gaya kepemimpinan yang Bapak instal di PLN sejak pertama sampai sekarang. Sungguh luar biasa, Kalau saya Presiden, saya ganti semua Dirut BUMN dengan karakter kepemimpinan seperti yang Bapak miliki (*untuk Indonesia saat ini).

Pertanyaan saya:

  1. Kenapa Indonesia tidak segera beralih ke PLTN? Secara ekonomis padahal per-unit energi MegaWattHour(MW) dibutuhkan biaya yang lebih kecil.Kalaupun LSM yang menjadi kendala karena menakutkan akan terjadi kecelakaan, Saya yakin ketika PLN mengajak diskusi secara terbuka dengan dengan LSM-LSM tersebut. Dan PLN berkomitmen untuk menjaga satefy dengan perjanjian di depan masyarakat banyak. Saya yakin mereka akan menerima.
  2. Sekitar 1,5 tahun yang lalu, Saya berdiskusi dengan Tenaga Ahli BP (British Petroleum) dalam feasibility study Lapangan Gas TANGGUH di Perairan Papua. Betapa kecewanya Saya melihat list nama calon konsumen gas tidak ada PLN. Konsumen terbesar Perusahaan Listrik Negeri Jepang. Padahal biaya produksi listrik per-unit energi dengan menggunakan LNG bisa 6 kali lebih murah dibandingkan dengan solar. padahal kita sudah banyak kecolongan dengan MOU penjualan gas di lapangan-lapangan gas seperti Arun (Aceh), Bontang (Kalimantan Timur) dll. Sedangkan Negara-negara lain importir LNG Indonesia bisa menyediakan Listrik dari LNG Indonesia yang sangat murah. Bagaimana Bapak Dahlan menanggapi hal ini?

Dahlan Iskan:
Kami juga menyesal mengapa PLN tidak dapat jatah gas dari Tangguh. Tapi semua itu sudah berlalu. Menyesalinya hanya membuat tidak akan bisa bekerja. Belajar dari situ, saya ngotot agar gas Donggi Senoro dijual ke PLN 100% dengan harga komersial. Tapi saya masuk ke PLN sudah terlambat, karena sudah terjadi kontrak. Kini kami lagi berjuang agar ijin LNG Sengkang bisa segera diterbitkan. Ini akan baik untuk mengganti BBM di Ambon, Lombok dan seterusnya.

Soal PLTN sudah saya jelaskan di email kepada rekan yang lain. Terima kasih atas dorongan LNG ini.

Sidik Permana:

  1. Terkait diversifikasi energi, menurut bapak potensi energi baru dan terbarukan di Indonesia untuk memenuhi prediksi defisit listrik Indonesia idealnya seperti apa, kontribusi idealnya dari resource yang ada?
  2. Tekait dengan kasus export batu bara dan kekurangan pasokan dalam negeri untuk PLN khususnya bagaimna pandangan bapak? apakah perlu menstop export atau mengurangi sampai batas equilibrium export ratenta ataubagaimana?
  3. Apakah mungkin kedepan karena potensi energi baru dan terbarukan penting, PLN menjadi promotor utama dan menjadi  punya anak perusahaan pengembangan potensi itu. Apakah concern PLN juga bagi pengembagan teknologi hemat energy.

Dahlan Iskan:
PLN sudah punya anak perusahaan di bidang geothermal, tapi memang masih kecil. Kelihatannya ke depan geothermal akan lebih banyak ditangani swasta dan Pertamina (karena dulunya, sesuai dengan peraturan yang berlaku waktu itu) wilayah geothermal itu menjadi hak Pertamina.

Kini wilayah geothermal (sesuai dengan peraturan yang berlaku sekarang) menjadi hak Pemda. Karena itu terserah Pemda untuk diapakan wilayah itu. Pemdalah yang harus melakukan tender dan dalam hal ini PLN tinggal menjadi pembeli listriknya.
Soal PLTN saya respons kepada rekan yang terdahulu.

Abdul Bari, GL-90:
Sebagai negara yang mempunyai potensi cadangan panas bumi dunia yang sangat besar (±40%).

  1. Apa rencana jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang untuk pelaksanaan penggunaan Tenaga Panas Bumi guna menunjang pemenuhan ketenagalistrikan di Indonesia?
  2. Dan apa langkah2 real yang sudah dilakukan?

Dahlan Iskan:
Sekali lagi bahwa wilayah geothermal itu kini (sesuai dengan UU yang baru) sudah menjadi milik Pemda. Sedang Wilayah yang lama, umumnya milik Pertamina. Kita doakan Pertamina segera membangunnya dan Pemda rajin membuka tender. PLN tinggal jadi pembeli listriknya. Kedengarannya agak ruwet ya?

Trias Adijaya:
Saat ini banyak perubahan energi green yang mengandalkan listrik sebagai sumber daya utama. Yang saya tau ada perusahaan mobil jerman terkemuka akan memproduksi mobil listrik pada tahun 2013 dan dapat digunakan sebagai pengganti mobil berbahan bakar fosil yang saat ini populer.

Pertanyaannya, apakah PLN sebagai pemasok listrik di Indonesia sudah siap dgn kemungkinan pertambahan kebutuhan seperti ini? Berapa asumsi pertumbuhan kebutuhan listrik per rumah tangga? Apalagi kalo jalan ke mall dng mudah dan murahnya kita bisa beli perlengkapan RT bertenaga listrik.

Dahlan Iskan:
Kami memang memimpikan PLN akan berperan besar dalam mengubah sifat lalu-lintas kita. Kami bayangkan suatu saat SPBU-2 itu berubah menjadi colokan listrik. Lalu, listrik di rumah-rumah yang kalau tengah malam tidak dipakai itu bisa dipakai untuk charging mobil/motor listrik.

Tapi semua itu jangan dilakukan tahun ini atau tahun depan. Masih terlalu banyak keperjaan yang lebih mendesak. Kalau hal itu bisa mulai diwujudkan tahun 2013, rasanya akan hebaaat…..

Susilo Cahyono:
Pak Dahlan senang dan terima kasih ada kesempatan berinteraksi dengan Bapak. To the point aja pak, pertanyaan saya:

  1. Bagaimana langkah pertama Bapak ketika memasuki dunia ketenagalistrikan yg benar2 baru dan dengan PLN yg punya handicap “rugi”, atau “utang numpuk” dll mengingat selama itu keberhasilan usaha bapak adalah di bidang yg sangat berlainan.
  2. Apakah menurut Bapak sistem pentarifan listrik PLN saat ini masih perlu dirasionalisasi, dirubah dan diperbaiki? Mengingat berbagai hal saat ini sudah sgt berbeda dg era lalu menyangkut bisnis ketenagalistrikan di era yg sangat kompetitif ini, juga peningkatan peranan swasta dlm usaha ketenagalistrikan yg mau gak mau restrukturisasi bisnis ketenagalistrikan juga berubah.

Terima kasih sebelumnya, dan selamat bekerja dan sukses, Pak.

Dahlan Iskan:
Memang saya tidak tahu apa itu listrik. Minggu pertama di PLN saya minta seorang manajer memberikan kursus kepada saya dengan judul: Apakah listrik itu? Saya sungguh menyesali diri mengapa dulu tidak punya kesempatan kuliah di Fakultas Elektro.

Soal pentarifan, setelah saya renungkan, sistem India yang terbaik. Di India akan komite non pemerintah yang menentukan tarif listrik. Komite itu beranggotakan tokoh-tokoh masyarakat. Jadi mereka yang lebih rasional dalam membela kepentingan rakyat sebagai konsumen dan kepentingan penyedia listrik. Dengan demikian sangat imbang.

Selama tarif listrik ditentukan para politisi sulit berharap listrik akan menjadi baik. Di India jalan tol pun tentukan oleh komite non pemerintah. Ini yang membuat pertumbuhan ekonomi India menjadi 9 % selama beberapa tahun terakhir. Tapi sampai akhir tahun ini saya belum akan berteriak soal ini. Lebih baik saya memperbaiki PLN dulu agar lebih effisien dan memenuhi harapan masyarakat.

Fik Ahmad:
Pak Dahlan, debat soal capping sempat ramai. Dulu bapak pengusaha pengguna listrik yg besar, sekarang pak Dahlan penyedia listrik dengan kondisi harga penjualan yang jauh dari memadai keekonomiannya.

Menurut Bapak bagaimana kebijakan listrik secara kesdeluruhan terkait harga dan ketersediannya? Apakah yang harus direvisi dari kebijakan saat ini?

Dahlan Iskan:
Saya memang punya pabrik kertas yang bayar listriknya waktu itu sampai Rp 12 miliar/bulan. Yang saya keluhkan bukan soal mahalnya, tapi seringnya padam/trip. Kerugian sangat besar karena sekali listrik mati atau trip menghidupkan mesinnya lagi perlu waktu enam jam.

Soal capping sudah selesai. Semua pengusaha sudah membayar listrik tanpa capping (sudah 100% membayar tangal 28 Februari hari ini).  Saya ngotot capping itu dicabut karena tidak masuk akal sehat. Rp 1,1 triliun subsidi hanya dinikmati oleh 304 perusahaan. Salah satunya perusahaan multinasional yang hebat yang labanya saja Rp 4 triliun setahun. Apakah yang seperti ini pantas dapat subsidi? Perusahaan itu sendiri tidak pernah minta dicapping, karena itu ketika capping dicabut tidak keberatan sama sekali. Mereka juga tidak ingin disubsidi karena memang mampu. Banyak penerima subsidi yang sebenarnya karena ditakdirkan “diberi”, he he.

Budiawan Butarbutar:
Pak, di milis sebelah pernah ada diskusi tentang teknologi pembangkitan yg relatif baru yg kabarnya jauh lebih murah, yakni CWS (coal water slurry). Walaupun baru tapi kabarnya di China sudah lebih 100-an PLTU di sana menggunalan teknologi CWS.

Tentunya PLN sudah mendengar dan mengetahui teknologi ini. Mengapa PLN belum menggunakan teknologi ini kabarnya karena ada mafia yg menghalanginya. Mafia yg mengejar rente batubara dan BBM.

Bagaimana menurut bapak dan direksi lainnya tentang pilihan teknologi ini? Dan bagaimana pula tanggapan bapak jika ada mafia yang mencoba menghalangi penggunaan teknologi ini.

Dahlan Iskan:
Itu bukan teknologi pembangkitan, tapi jenis bahan bakar. Pembangkit yang selama ini menggunakan gas atau BBM, dengan perubahan tertentu akan bisa menggunakan bahan bakar slury. Bahan bakar ini pada dasarnya batubara yang dilembutkan yang lembutnya mungkin melebihi lembutnya bedaknya Luna Maya he he…, lalu dicampuri kimia tertentu dan jadi barang cair berwarna hitam pekat.

Nah benda cair itulah yang dialirkan ke boiler untuk dibakar di dalam boiler. Kami sudah sering mendiskusikannya dan kini lagi menunggu pilot proyek yang baru akan selesai dua tahun lagi yang dikerjakan oleh investor dari Jepang karena itu memang teknologi mereka.

Abdul Manan:

Saya ingin bertanya tentang rahasia sukses bapak.Apa primary values bapak sehingga bapak kelihatan selalu berhasil didalam memimpin berbagai kegiatan usaha yang sdh dipimpin selama ini .Tks salam hormat.

Dahlan Iskan:

Tidak betul saya selalu berhasil. Banyak sekali perusahaan saya yang saya tutup karena gagal. Persoalannya, hanyalah karena saya sering diminta jadi pembicara seminar yang topiknya “Kiat Sukses Dahlan Iskan”. Judul itu panitia yang menentukan. Ini tidak fair. Seharusnya harus sering juga diadakan seminar dengan topik “Kegagalan-kegagalan Dahlan Iskan”. Sayangnya sampai hari ini belum ada panitia yang minta seperti itu. Kalau ada pun akan saya ceritakan semuanya.

Mulyanto M-76:

Acara yg menarik, selamat buat P Dahlan atas keterbukaan ini. Saya punya beberapa pertanyaan atau komentar sbb:

  1. Pada RUPTL yg baru, cukup banyak rencana pembangunan pembangkitan yg melibatkan nilai tidak sedikit. Bgmn mendorong industri lokal unt berperan. Industri lokal harus menanggung biaya bea masuk bahan, sedangkan import barang bea masuk bisa nol.
  2. Menurut informasi PLTU dari program percepatan 10 000 MW tahap pertama performance, reliability, waktu serta dukungan servis minim. Hampir seluruh PLTU tsb dari satu negara. Mengapa 10 000  tahap kedua juga tetap memakai dari negara yg sama.
  3. Selain geothermal, biomass dapat diprioritaskan 4. PLN bersama dg Pabrik gula dpt bersinergi unt program swasembada gula dan biomass, seperti Brazil

Dahlan Iskan:
Tolong diingat, saya ini DIRUT PLN yang tidak bisa bicara soal industri apalagi bea masuk segala, ha ha. Soal 10.000 yang pertama kami lagi kerja keras sekali untuk menambal di sana-sini, tapi yah dijalani saja, dinikmati saja. Soal mengapa dulunya begitu, yah apa perlu kita perdebatkan?

Yang 10.000 kedua sudah berubah total lho! Yang kedua itu 40%-nya GEOTHERMAL, selebihnya ditenderkan secara terbuka dari negara mana pun, termasuk karena di dalamnya lebih banyak milik swasta. Kita memang harus belajar dari pembangunan 10.000 tahap pertama. Inilah ongkos kuliah yang lebih mahal daripada kuliah di ITB.

Larasati, TK85:
Berkaitan dengan program 100 pulau yang akan menggunakan tenaga surya, apakah itu program PLN, atau melibatkan pihak swasta?

Dahlan Iskan:
Itu sepenuhnya program PLN tapi untuk pasok peralatannya ditenderkan. Sekarang ini di dalam negeri sudah ada sekitar 10 perusahaan pemasok tenaga surya. Bangga kami melihat perkembangan ini.

PLN akan terus mengembangkan pulau-pulau kecil itu karena selama ini pulau2 tersebut sangat sulit dilayani. Harga BBMnya mahal sekali dan sering tidak bisa diangkut ke sana, karena lagi musim gelombang, misalnya.

Karena itu kini kami menciptakan yang kami sebut “Sistem Listrik Kepulauan”. Ini untuk mengatasi tujuh propinsi yang memang propinsi kepulauan. Karena itu propinsi seperti NTT yang tahun lalu ratio elektrifikasinya baru 31% (terendah di Indoensia) akan langsung loncat menjadi 70% akhir tahun ini. Semoga berhasil dan membuat propinsi yang selalu tertinggal itu menjadi sesekali berada di depan.

Ismie:

Selamat malam Pak Dahlan, saya tertarik dg topik PLTU utk Kaltim padahal terdpt banyak batubara disana, ada yg menarik utk PLTU di Meulaboh tapi spec batubara Kalimantan ironinya di lokasi tsb juga ada batubara sehingga ada kemarahan masyarakat di daerah tsb. Mereka mengharapkan teknologi PLTU nya bisa memanfaatkan batubara lokal, bagaimana tanggapan Bapak dengan masalah ini?

Dahlan Iskan:
PLTU Meulaboh atau juga sering disebut Nagan raya itu baru jadi tahun depan. Di masa lalu memang sudah ditenderkan bahwa batubaranya dari kalimantan. Anda benar, bahwa di depan PLTU itu ternyata ada tambang batubara. Kini kami sedang mempelajarinya. termasuk bagaimana batubara setempat yang HGi-nya terlalu tinggi itu bisa dipergunakan di PLTU Meulaboh. Kita lagi cari teknologi yang bisa mengatasi HGI yang berlebihan itu. semoga berhasil.

Ricky Cahya Andrian, EL-97:
Kalo di PLN, Pak Dahlan Iskan ada program live chatting dengan para pegawainya apa bisa dilakukan hal spt ini?

Dahlan Iskan:

Saya sudah dua kali melakukan live chatting khusus untuk seluruh karyawan PLN. Yang pertama saya lakukan ketika saya berada di Palu untuk mengatasi krisis listrik yang luar biasa di sana. Kedua beberapa waktu lalu. Sebentar lagi bisa kita adakan lagi. Rame kok. Sampai jari ini rasanya seperti digigit semut.

Ayuhanif:

  1. Menurut Pak DI, adakah “kebohongan” yg dilakukan oleh pemerintahan SBY terkait dengan penyediaan energi listrik utk rakyat Indonesia?
  2. “Jika ada”, sejauh apa hal itu mempengaruhi kinerja PLN?

Saran:
ITB memiliki kelompok2 keahlian dan grup penelitian (research group) yang dapat ditingkatkan kualitasnya dalam menghasilkan inovasi pengayaan dibidang energi listrik. utk itu dibutuhkan kerjasama antara komponen2 penelitian di ITB tersebut dgn dunia usaha dan industri yg dalam hal ini PLN. saya ingin mendorong adanya kerjasama “program hibah penelitian di bidang energi listrik PLN-ITB” yang bertujuan:

  1. Mendorong terwujudnya kerjasama dalam pelaksanaan dan  pengembangan penelitian sesuai dengan kompetensi yang dimiliki ITB
  2. Pengelolaan dana penelitian secara optimal dalam grup penelitian yang berkualitas
  3. Pengembangan kerjasama dengan lembaga atau mitra di luar ITB, sehingga mampu menghasilkan penelitian yang bermutu dan berdaya saing tinggi. sekiranya, hal ini dapat diwujudkan dengan sinergis.

Ini saja yg ingin saya sampaikan. Terimakasih sebelumnya. Selamat berkarya, Pak DI.

Dahlan Iskan:
Saya belum mencermati itu. Saya sendiri punya prinsip yang bisa membedakan antara “program” dan “janji”. Program bisa meleset, bisa tidak tercapai, tadi tidak bisa disebut bohong. Sedang janji, kalau tidak dipenuhi, harus disebut bohong. Mungkin banyak yang mencampuradukkan antara “program” dan “janji”.

Dicky Gumirlang:

Bagaimana menurut bapak mengenai PLTN untuk opsi pemenuhan kebutuhan listrik kita? Apakah kita akan menuju ke sana, dan kapan? Atau bapak termasuk yang tidak setuju PLTN?

Dahlan Iskan:
Saya setuju kita memulai PLTN, tapi jangan dimaksudkan sebagai senjata mengatasi krisis listrik. Membangun PLTN itu perlu waktu lima tahun, kita keburu mati oleh krisis. Demikian juga dibandingkan dengan Batubara atau Geothermal masih terlalu mahal.

Karena itu kalau kita memasuki era PLTN harus dimaksudkan dulu sebagai upaya untuk menyiapkan diri agar jangka panjang kita siap melakukannya. Kita perlu masuk ke PLTN dengan tujuan agar SDM kita sudah mulai diberi kesempatan sejak sekarang.

Yusadana Made:

Menyimak peran orang muda di PLN, saya kebetulan karyawan bapak di PLN P3B Sumatera, sejak lulus kuliah dr ITB tahun 2002 langsung masuk PLN. Saya ingin menanyakan hal-hal apa sekiranya yg membuat bahwa diwaktu yg akan datang PLN akan menjadi perusahaan yg hebat dan disegani masyarkat Indonesia .

Dahlan Iskan:

Hari ini tadi kita rapat kerja. Di situ saya beberkan road map PLN ke depan, yang kata teman-teman sangat menjanjikan. Cobalah anda cari bocoran presentasi yang sudah disempurnakan oleh peserta raker itu. Kalau sulit dapat bocoran, Anda hubungi saya.

Daniel David:

Saya sangat tertarik dengan kalimat Bapak, yaitu kami sepakat hanya anak muda yang bisa membuat kemajuan. Pertanyaan saya, sejauh mana bapak memberikan kesempatan kepada yang muda2 untuk dapat berkembang dan membuat kemajuan di PLN, Pak?

Itu saja pertanyaan sederhana saya, Pak. semoga bapak diberikan kesehatan selalu oleh Tuhan. Amin. Sukses membawa perubahan bagi PLN dan Bangsa ini.

Dahlan Iskan:
Di perusahaan saya yang lama, hal itu bisa saya laksanakan dengan konsekuen dan total. Di PLN banyak sekali hambatannya, terutama hambatan prosedur. Misalnya seseorang untuk naik tingkat harus melewati banyak sekali syarat dan kriteria dan apa lagilah.

Sekarang persyaratan itu lagi dikurangi dan diperependek. Dari sembilan syarat (harus pernah jadi apa dan harus pernah ikut pendidikan apa), menjadi hanya empat saja. Semoga Anda belum keburu tua.

Saya sendiri ketika sakit selama tiga tahun menyerahkan kepemimpinan kepada anak muda yang baru 32 tahun. Selama saya tinggal sakit perusahaan ternyata terus maju dan tambah maju. Setelah saya sembuh, mau kembali ke posisi itu lagi menjadi malu, lalu saya tetapkan mengangur saja. Eh, ketahuan presiden dan jadilah Dirut PLN yang terlalu tua.

Ketut Wiyasa:

  1. Ketika saya bekerja di salah satu internet provider di denpasar Bali (sejahtera globalindo), perusahaan kami juga berlangganan backbone ke icon+ yang menghubungkan salah satu bts kami ke NOC nusa dua dan NOC nusa dua dan surabaya, availability cukup tinggi,support cukup bagus (boleh pinjam modem dlm keadaan darurat) walaupun masih office hour only, pertanyaan saya : kapan PLN menyediakan VAS (value added service) akses internet untuk pelanggan? Karena secara teknis implementasi tidak sulit) (istilah saya the sleeping giant) karena sudah leading di biaya kontruksi pekerjaan sipil yang meningkat seiring waktu sementara harga kabel dan peralatan makin murah. (Pengalaman kami tarik kabel optik dari nusa dua ke peti tenget)
  2. Bagaimana dengan perkembangan pembangunan PLTGU Telukan Bawang?

Dahlan Iskan:
Saya sih kepingin PLN fokus ke mengurus listrik. Tidak perlu ngurus yang macam-macam dan aneh-aneh.

Alma Adventa:
Semoga Bapak dalam keadaan sehat walafiat. Saya salut dengan usaha Bapak untuk membenahi PLN. Namun sayang sekali setelah 6 bulan target tidak ada pemadaman di daerah saya di Kalimantan Tengah pemadaman listrik masih sering terjadi dalam seminggu bisa dua sampai tiga kali (tidak jarang setiap 2 hari sekali) dan padam dalam jangka waktu yang lama bisa mencapai 6-8 jam.Sampai ada joke ini bukan pemadaman bergilir tapi penyalaan bergilir.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa di daerah yang merupakan salah satu produsen batubara, tidak ada satupun PLTU. Selama ini listrik Kalteng sangat tergantung dengan Kalsel. Dan sering terjadi PLTU Asam-Asam di Kalsel kekurangan batubara.
Kira-kira kapan PLTU Pulang Pisau bisa mulai beroperasi? Karena selama ini tambahan listrik di Kalteng diperoleh dari PLTD, padahal masyarakat sangat kekurangan solar (harus antri berjam-jam di SPBU).

Apakah ada rencana untuk membangun PLTU di daerah DAS Barito untuk memenuhi kebutuhan listrik yang sangat kurang di daerah yang notabene penghasil batubara ini?

Satu lagi pertanyaan saya, mengapa sangat sulit bagi masyarakat di Kalteng untuk mendapat sambungan listrik? Kadang harus harus main tembak sampai 7 juta untuk satu sambungan.

Demikian pertanyaan dan keprihatinan saya akan masalah listrik di Kalteng. Terimakasih untuk perhatian dan jawaban Bapak Dahlan Iskan. Semoga Tuhan menganugerahi bapak kebahagiaan dan kesehatan.

Dahlan Iskan:
Kalteng dan Kalsel memang sangat mengecewakan. Saya merasa tertipu di sini. Bahkan sehari tadi kami membahas situasi di sana dan mengambil langkah nyata dengan cara menambah lagi pembangkit 40 MW di sana dalam waktu dua bulan ke depan…maafkan. Ternyata memang ada yang tercecer.

David Ketaren, SI-81:
Seni apa yg Bapak terapkan dlm memimpin PLN? Saya dengar bhw pengeluaran terbesar dari PLN adalah untuk BBM, sbg contoh besarannya sampai 100 an T. Jadi kalo bisa menghemat BBM 2% saja dalam satu tahun artinya menghemat nilai Rp 2 T. Sungguh sangat besar. Bagaimana soal BBM PLN ini, Pak?

Dahlan Iskan:
Orang-orang bilang saya menggunakan jurus pendekar mabuk. Saya memang mabuk dalam hal BBM itu. Karena itu teman-teman setuju kita melakukan program yang kami sebut “pembunuhan berencana”. Kami akan membunuh pembangkit-pembangkit yang “salah makan” itu. Pembangkit tersebut sesuai dengan desainnya mestinya dimakani gas, tapi tidak pernah mendapat gas, akhirnya dimakani BBM.

Pertengahan tahun ini, setidaknya ada 1.000 MW pembangkit jenis ini yang akan kami bunuh. Itulah sebabnya belakangan ini kami banyak membeli trafo IBT agar kami bisa melakukan “pembunuhan” itu dengan senjata sistem. Misalnya PLTGU Tambak Lorok Semarang itu, akan kami bunuh dengan acara memasang trafo IBT GITET Ungaran. Dengan demikian listrik Semarang kami ambilkan dari sistem 500kv Jawa. Lalu ditambah dari PLTU Rembang yang secara langsung akan kami masukkan ke Semarang dengan sistem 150kv.

Daniel Daud, AR-84:
Pak Dahlan, agar Indonesia bisa menjadi negara maju, apa yg harus dipersiapkan?

Dahlan Iskan:
Yang paling penting siap mental dulu, yakni siap mental bahwa untuk menjadi negara maju perlu waktu dan perlu iklim yang baik, termasuk iklim agar warga negara itu mayoritas memiliki sikap positif. Kalau terlalu banyak orang yang pikirannya negatif dan pesimis, negara ini akan benar-benar gagal maju.

Tentu kalau kita bisa membuat pertumbuhan ekonomi 7 persen setahun, Indonesia tidak mungkin tidak maju. Dengan pertumbuhan selama ini saja ekonomi indonesia terus maju. Sepuluh tahun lalu kita tidak bisa membayangkan bahwa pendapatan perkapita kita bisa USD 3.200 seperti terjadi sekarang ini. Kalau tidak ada aral melintang, lima tahun lagi jadi USD 6.000/kapita.

Dengan jumlah penduduk yang 250 juta, bisa dibayangkan skala ekonomi Indonesia. Saya merasa bangga bahwa akhir tahun depan skala ekonomi Indonesia sudah lebih besar dari skala ekonomi Belanda, negara yang 350 tahun menjajah kita. Saya bangga, seperti orang RRT bangga bisa mengalahkan ekonomi Jepang tahun lalu. Kita tunggu saja, Indonesia akan maju sendiri siapa pun pemerintahnya, sepanjang kondisi seperti ini kita pertahankan.

Farli Siregar:
Saya sangat setuju Pak, mudah2an penegakan hukum di negeri ini bisa dilakukan lebih massive lagi, seperti yg sedang Bapak lakukan di PLN.

Irendra Radjawali:
Terimakasih untuk waktu bapak. Saya tertarik untuk mengetahui rencana PLN jangka panjang berkaitan dengan energi dari sumber terbarukan. Apakah PLN memiliki strategi dengan memberikan insentif bagi pengembang energi terbarukan terutama pada skala kecil (rumah tangga dengan panel surya misalnya)? Sejauh yang saya tau, beberapa saudara di daerah yang ingin mengembangkan pembangkit listrik dari sumber terbarukan terbentur pada terbatasnya akses terhadap grid. Terimakasih banyak, Pak.

Dahlan Iskan:
Untuk tenaga surya kami mengembangkan tiga sistem sekaligus: 1) Sistem Sehen, 2) sistem komunal 3) hybrid.

Kalau Anda berminat besar, bisa bersama teman-teman PLN ke pulau Sumba, sebuah pulau yang terdiri dari empat kabupaten yang besarnya sekitar tiga kali lipat pulau Bali. Di sana sedang dilakukan pemasangan sisten Sehen. satu rumah dapat tiga lampu, dengan satu panel, dan setiap kelompok ada satu televisi (televisinya sudah dibuat khusus untuk tenaga surya).

Lampu-lampu itu bisa dicopot dan dibawa berjalan-jalan sebagai senter. Bisa juga kalau di desa itu lagi ada kondangan, masing-masing orang membawa lampu sendiri-sendiri sehingga tempat kondangan atau pesta itu terang benderang oleh ratusan lampu sehen. Di Pulau Sumba ini akan ada 170.000 rumah yang dilistriki dengan sistem ini.

Adi Irianto, EL-81:
Bapak Dahlan, mohon bapak bisa jujur mengkritik alumni yg lulusan ITB dalam pengalaman bapak di PLN atau tempat Bapak sebelumnya, apa plus dan minusnya alumni ITB untuk perbaikan ke depan bagi kinerja bangsa ini. Terima kasih dan sehat selalu.

Dahlan Iskan:
Minggu lalu saya ke ITB, ceramah di depan dosen dan guru besar dan mahasiswa elektro ITB. Sebelum saya naik podium, ternyata ada empat sambutan. Seperti ada lomba pidato hari itu. Dalam hati saya tersenyum, ITB sudah seperti birokrasi saja….he he

Laksono Budi Prasetyo / TA-77:
Dalam pengantar CV Bapak disebutkan bahwa selain sebagai pemimpin Grup Jawa
Pos, Pak Dahlan juga merupakan Presiden Direktur dari dua perusahaan pembangkit
listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric
Power di Surabaya. Sejak akhir 2009, Bapak menjabat sebagai Direktur Utama PLN

Bagaimana bapak mengatasi konflik kepentingan dalam memimpin perusahaan milik  swasta dan milik pemerintah tersebut. Demikian pertanyaan singkat saya Pak, mohon maaf bila tidak berkenan. Semoga Bapak selalu dikaruniai Allah kesehatan lahir dan batin dalam pengabdian Bapak untuk bangsa dan negara.

Dahlan Iskan:
Untuk urusan yang menyangkut kepentingan saya, saya tidak mau ikut membahas dan memutuskan. Tapi penjelasan ini akan sulit diterima dan karena itu ya saya jalani saja apa yang menurut saya baik dan menurut saya sesuai dengan hati nurani dan rasa keadilan masyarakat.

Akbar, PL-04:
Apa motivasi bapak ketika jadi Dirut PLN?

Mengenai PLTN, bagaimana pendapat bapak, apakah setuju atau punya target khusus kapan implementasinya? Kebetulan saya asli Pati, didaerah saya isu ttg PLTN Muria dimulai sejak awal tahun 90an dan sampe sekarang tidak jelas juntrungannya kemana. Pernah dengar isu kalo sebenarnya PLTN Muria dibuat diam2 dan sudah ada patoknya disana, katanya lho pak.

Setelah jadi Dirut pln, kalau boleh tahu rencana bapak selanjutnya apa ya, jadi Dirut BUMN lainnya atau terjun ke dunia perpolitikan? Saya selalu membaca PLN CEO note tiap bulan di web-nya PLN dan sangat menginspirasi saya. Terima kasih, semoga selalu diberi kesehatan.

Dahlan Iskan:
Memang tidak begitu jelas apa motivasi saya jadi dirut PLN. Campur-aduk seperti coto Makasar! Setelah jadi Dirut PLN saya memilih akan menjadi “mantan Dirut PLN”!

Natal Hutabarat:
Saya senang baca Blog Anda. Saya sangat senang punya seorang leader yg senang berbagi dalam bentuk tulisan. Yang jadi pertanyaan saya, bagaimana bapak menyikapi dan merespon apabila karyawan PLN ada yg ketahuan korupsi? Atau menyalahgunakan jabatannya di PLN utk kepentingannya sendiri atau memperkaya pihak2 tertentu? Atau semisal ketahuan menerima sogokan dalam memenangkan tender?

Ridwan Noor:
Mungkin pertanyaan dibawah ini, pertanyaan standar yang sering ditanyakan. Namun saya rasa tidak ada salahnya saya tanyakan ke Pak Dahlan. Salah satu Permasalahan di indonesia untuk bumn adalah masalah mentalitas di karyawannya, mungkin secara tegas saya sebut korupsi (saya tidak sedang mengeneralisir bahwa semua karyawan bumn bermasalah, toh banyak juga yang mempunyai integritas tinggi, ini sangat tergantung pribadi masing-masing, namun saya menitikberatkan disini untuk pegawai bermasalah dan bagaimana kita mencari solusi untuk masalah seperti ini).

Di sini, yang ingin saya tanyakan adalah penyelesaian di sistem (kalau orang per orang tentu KPK jawabannya). Bagaimana menurut Bapak model yang baik untuk menyelesaikan masalah seperti ini (apa membentuk bumn sejenis yang menjadi tandingan semisal, atau malah privatisasi,dll) baik dari sisi eksternal maupun internal perusahaan? Mungkin itu dulu Pak, kalau ada kemiripan pertanyaan dgn yang lain, digabung saja. Terima kasih sebelumnya.

Dahlan Iskan:
Tahun lalu kami merombak sistem pengadaan strategis. Sistemnya juga harus diperbaiki di samping orangnya. Misalnya perantara tidak boleh menjadi leader dalam proyek pembangunan gardu induk. Hasil perombakan sistem pengadaan strategis ini menghasilkan penghematan Rp 2,4 triliun setahun kemarin. Misalnya satu trafo IBT yang dulu harganya Rp 120 miliar/buah, dengan perubahan sistem itu menjadi tingal Rp 40 miliar/buah.

Tahun ini pembenahan kami teruskan ke perubahan sistem pengadaan spare part di seluruh Indonesia. Dana pengadaan spare part itu mencapai Rp 7 triliun setahun. Kalau bisa dihemat tentu uangnya bisa dipakai untuk memperbaiki kualitas layanan, atau, misalnya untuk menambah daya di Kalteng tadi.

PENUTUP

Betti Alisjahbana:
Rupanya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang masuk malam ini sehingga tanpa terasa waktu sudah jam 22:14. Pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih kepada Pak Dahlan Iskan yang telah bersedia menjawab berbagai pertanyaan yang di ajukan.

Membaca jawaban-jabawan pak Dahlan dan melihat kemajuan-kemajuan yang telah di capai PLN kami jadi lebih optimis bahwa masalah-masalah yang masih ada akan segera teratasi. Semoga PLN semakin sukses. Terima kasih sekali lagi.

Salam hangat penuh semangat.

Dahlan Iskan:
Tidak terasa sudah melebihi jam 21.00. Saya minta maaf melebihi jam yang disediakan Betti Alisjahbana. Semoga bisa disambung di waktu mendatang. Ciao! Xie Xie!

 

 

Tuesday, 01 March 2011 09:24 | Written by Betti Alisjahbana

Dialog Kepemimpinan Bersama Dahlan Iskan

 

 
www.stisitelkom.ac.id www.di.stisitelkom.ac.id www.ktm.stisitelkom.ac.id
www.dkv.stisitelkom.ac.id www.dp.stisitelkom.ac.id www.srm.stisitelkom.ac.id
www.blog.stisitelkom.ac.id www.multimedia.stisitelkom.ac.id
www.elearning.stisitelkom.ac.id www.library.stisitelkom.ac.id
www.repository.stisitelkom.ac.id www.cloudbox.stisitelkom.ac.id
www.digilib.stisitelkom.ac.id www.mirror.stisitelkom.ac.id
www.sisfo.stisitelkom.ac.id www.hilfan.blog.stisitelkom.ac.id
www.telkomuniversity.ac.id www.stisitelkom.academia.edu
www.kuningmas-autocare.co.id www.usnadibrata.co.id www.askaf.co.id www.hilfans.wordpress.com www.hilfan-s.blogspot.com www.profesorjaket.co.id

Dialog Kepemimpinan Bersama Jusman Syafii Djamal

Source : http://leadershipqb.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2450:dialog-kepemimpinan-bersama-jusman-syafii-djamal&catid=39%:betti-content&Itemid=30

 

Rabu (13/4/2011), pukul 21:00 – 02:06, digelar dialog online bersama mantan Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal melalui mailing list Ikatan Alumni ITB (IA-ITB).  Berikut ini adalah hasil kompilasi dari dialog tersebut.

Profil Jusman Syafii Djamal

Jusman Syafii Djamal lahir di Langsa Aceh Timur, 28 Juli 1954. Ia menerima Penghargaan “Bintang Jasa Nararya” dari Presiden RI pada Hari Kemerdekaan ke-50, 17 Agustus 1995, atas keberhasilannya sebagai Chief Project Engineer N250, generasi baru Turboprop berpenumpang 50 orang, yang sukses melakukan penerbangan perdana pada 10 Agustus 1995.

Pada Dies ke 50 Institut Teknologi Bandung, 2 Maret 2009, Jusman menerima Penghargaan “Ganesha Pradjamanggala Bhakti Adiutama”.

Pada 15 Agustus 2008, ia mendapatkan hak paten No ID 0 021 669 untuk  Digital Flight Control Systems, bersama alm. Bambang Pamungkas dari Direktur Jendral HAKI, Departemen Hukum dan HAM.

Pengalaman Profesional

Januari 2011—sekarang: Komisaris Utama PT Telkom Indonesia Tbk
Mei 2010—sekarang: Diangkat oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Anggota Komite Inovasi Nasional
Januari 2005—sekarang: Ketua Matsuhita Gobel Foundation, dengan fokus kegiatan Pelatihan dan Diskusi tentang Eco Manufacturing dan Green Industry Paradigm
Januari 2010: Komisaris Independen  PT Jasa Angkasa Semesta Tbk, Airport Services dan Ketua Dewan Penasihat DPP Organda
Mei 2007—Oktober 2009: Menteri Perhubungan Kabinet Indonesia Bersatu Pertama
Januari 2007—April 2007: Anggota Tim Nasional Evaluasi Keselamatan dan Keamanan Transportasi (EKKT)
2005—2006: Ketua Tim Perumus Roadmap Industri KADIN
Januari  2005—sekarang: Penasihat Bisnis Teknologi, Bussiness Unit Inkubator Teknologi BPPT
2000—2002: Presiden Direktur PT Dirgantara Indonesia
1998—2000: Direktur HRD PT Dirgantara Indonesia
1995—1998: Direktur Senjata dan Sistem Persenjataan, Sistem Satelit dan Produksi Helikopter; dan Wakil Presiden Pengembangan Produk IPTN
1990—1995: Chief Project Engineer N250, 50 Seater Advanced Turboprop Airplane
1982—1989: Professional Engineer in Aerodynamics and Preliminary Design of Aircraft

Tanya Jawab

Ramli Sihaloho (TA82):

  1. Apa kriteria mahasiswa ideal untuk jurusan teknik dan manfaat pengalaman sebagai aktivis mahasiswa setelah terjun ke masyarakat?
  2. Mengapa  memilih jurusan Teknik Penerbangan? Apakah memang bercita-cita menjadi astronot? Bagaimana prospek ilmu penerbangan ke depan? Mengapa sangat terbatas perguruan tinggi yang  membuka jurusan ini, apa kesulitannya? Bagaimana kebutuhannya? Bagaimana peluangnya untuk bekerja diluar negeri?
  3. Dalam berkarier di IPTN, Bapak telah berhasil mencapai puncak. Tentu bukan sesuatu yang mudah karena harus menyingkirkan saingan-saingan yang berasal dari satu kampus. Apa kiat-kiatnya? Apa prestasi yang dicapai selama menjadi nahkoda disana. Kenapa pada akhirnya IPTN tidak bisa survive dan harus mem-PHK ribuan profesionalnya, padahal investasi pemerintah/rakyat sudah sangat besar dihabiskan untuk merebut teknologi pesawat itu? Bagaimana masa depan IPTN ke depan? Apakah Pak Habibie masih berperan sebagai orang yang paling bertanggung jawab pada IPTN?
  4. Dari jabatan profesional di IPTN ke jabatan politis sebagai Menteri Perhubungan meski tidak satu periode penuh dalam kabinet karena sifatnya mengganti, gebrakan apa yg dilakukan selama menjadi Menhub dan perubahan/prestasi apa yang diraih? Apa hambatan-hambatan yang dirasakan/dialami pada waktu mulai memasuki jabatan politis?
  5. Dari profil Bang Jusman, tampaknya Anda orang yang sangat sibuk, apalagi merangkap jabatan. Bagaimana mengatur waktunya untuk keluarga? Apakah ada yang dikorbankan? Prestasi anak-anaknya bagaimana? Sampai kapan akan aktif terus? Apakah tidak merasa capek dan mengenal waktu pensiun/istirahat?
  6. Secara pribadi, saya salut dan ikut bangga dengan prestasi dan reputasinya. Apakah Bang Jusman suka pujian?

Jusman:
Pertanyaanya beruntun ya. Terima kasih atas apresiasinya. Saya jawab yang mudah dulu, apa suka pujian. Saya pikir tak ada orang yang tidak suka dipuji. Makanya Dale Carnegie dalam buku klasiknya yang saya baca tahun 1980-an dengan judul How to Influence People and to Win Friends, menganjurkan kita untuk memberikan pujian.

Pujian membuat kita menyorot dan berfokus pada kekuatan dan keunggulan orang lain. Katanya, dengan selalu memuji, kelemahan orang lain tidak terlihat dan sinergi mudah terbangun. Saya pikir, resep ini bagus untuk dikelola menjadi kekuatan batin kita. Jika, kita banyak memuji orang lain, kita pasti akan rendah hati dan tidak takabur. Kita terpacu untuk menutupi kelemahan kita dengan belajar dan bekerja keras.

Resep Dale Carnegie itu mirip seperti ajaran almarhum ayah saya ketika mengantar saya naik kapal Koanmaru dari Belawan ke Priok. Dia bilang, merantau ke negeri seberang jangan mencari musuh, tapi berjuanglah untuk membangun persahabatan.

Apa saya begitu sibuk sehingga lupa anak? Ah ya nggak, saya selalu menyediakan waktu untuk anak-anak saya. Untuk mereka, saya bekerja. Mereka titipan Allah yang hak-haknya harus saya hormati dan lindungi. Beruntung saya punya isteri yang jauh lebih baik dari saya dalam kasih sayang pada anak-anak. Dia tinggalkan tempat bekerja dan hidupnya untuk mencintai anak-anak dan tentu suaminya.

Ayah saya tidak pernah pensiun dalam mencari nafkah. Begitu juga saya pelajari hidup guru-guru saya. Ambil contoh Prof. Diran, hingga saat ini meski usianya sudah 70 tahun tidak pernah berhenti bekerja. Begitu juga Prof. Filino, Prof. Wiranto, dan guru besar ITB yang saya kenal baik, mereka tak pernah merasa lelah dan capek bekerja. Jadi, saya ikuti saja ajaran hidup seperti itu.

Kemudian pertanyaan lain saya urut satu demi satu, ya.

Mahasiswa ideal—kata alm Prof. Iskandar Alisjahbana, Rektor ITB tahun 1978, yang sering menjadi partner debat saya; dan Prof Santoso Imam Rahayu, guru kimia saya di TPB—adalah mahasiswa yang mengisi hidupnya dengan adventure, petualangan menjelajah dunia dan wilayah baru yang sebelumnya tidak dia ketahui. Petualangan fisik, naik turun gunung, turun lembah, menyebrang sungai dan lautan dengan kegembiraan yang luar biasa; petualangan dalam alam ide dan gagasan, melalui membaca buku dialog debat dan diskusi; petualangan dalam berkesenian. Karena itu, ketika di TPB/ITB kami diwajibkan mengikuti paling tidak 3 aktivitas kemahasiswaan, yakni olah raga, seni dan kaligrafi, serta diskusi. Itu TPB73.

Akibatnya, jadi aktivis bukan karena pilihan atau memilih, tetapi karena memang kita direkayasa oleh kurikulum ITB ketika tahun ’73 untuk  menjadi aktivis. Sehingga, kriteria mahasiswa teladan adalah yang aktivitas nonkurikuler kuat dan nilai Matematika, Fisika, Kimia, serta pelajaran mata kuliah lainnya tinggi. Contoh mahasiswa teladan, seperti Jero Wacik, Fadel Muhammad, dan banyak yang lainnya.

Apa itu baik untuk mahasiswa ITB? Jelas sangat baik, ITB adalah tempat di mana pendiri Republik digembleng. Ir. Sukarno, Ir. Anwari, Ir. Sutami, Ir. Rooseno—semuanya mahasiswa pintar yang sangat aktif dalam masyarakat.

Kenapa memilih penerbangan? Karena saya lebih senang Matematika dan Fisika, serta Kimia dibandingkan menggambar teknik. Kebetulan waktu saya masuk jurusan penerbangan, di situ hanya ada 5 orang mahasiswa satu angkatan. Dosennya 10 profesor doktor yang semuanya jagoan dan termasuk sukar ditemukan. Jadi, kita terpaksa belajar lintang pukang kesana kemari mencari referensi, sehingga bisa survive sampai sekarang.

Penerbangan adalah teknologi masa kini dan masa depan. Tidak mungkin orang tidak naik pesawat terbang. Jadi, masa depan pasti terbuka luas. Hanya di ITB bisa dikembangkan Fakultas Dirgantara. Di universitas lainnya, saya pikir susah ya. Kenapa? Karena tidak mudah mencari dosennya dan laboratorium mahal.

Kenapa bisa jadi orang nomor satu di IPTN? Ini karena Prof. B. J. Habibie yang merekayasa sistem pembudayaan teknologi yang dikembangkan oleh Beliau melalui filsafat “bermula dari akhir berujung pada awalnya”. Oleh Beliau, saya ditawarkan dua pilihan: mau pintar dan profesional dalam dunia penerbangan melalui jalur pendidikan, atau melalui jalur pembudayaan teknologi through learning by doing.

Saya pilih jalur kedua. Jadi, oleh Beliau saya dicemplungkan pada pekerjaan paling rendah dalam bidang aerodinamika dan perancangan pesawat, yaitu bekerja di hanggar pesawat terbang di CASA Spanyol, sebagai pengukur discrepancy antara gambar teknik dengan komponen yang diproduksi.

Setiap penyimpangan saya catat, kemudian dikalkulasi dalam model komputer untuk diteliti tingkat inefficiency yang terjadi akibat penyimpangan tadi. Inefficiency kinerja aerodinamika sebagai buah ketidaktelitian proses produksi ini disebut parasitic drag. Itulah kerja awal saya. Kemudian naik satu jenjang ke jenjang lainnya.

Semua jabatan dan posisi yang ada dalam anak tangga karier di industri pesawat terbang pernah saya alami, selama 20 tahun tanpa henti. Jadi wajar ketika krisis melanda IPTN, saya ditunjuk oleh Pak Habibie untuk menjadi direktur sistem senjata, helikopter, dan sistem antariksa; kemudian dipindah menjadi direktur umum dan sumber daya manusia; baru menjadi direktur utama ketika dtunjuk oleh Gus Dur dan Megawati untuk memimpin IPTN dan mentransformasikan semua hutang. Saya diberhentikan pada 2002, kemudian pensiun dini.

Ketika menjadi Menhub, saya diamanahkan Presiden SBY untuk menurunkan jumlah kecelakaan. Saya buat program “Roadmap to Zero Accident” dan bersama dengan DPR mengubah Undang-undang Transportasi. Dalam 2,5 tahun menjadi Menhub, telah diterbitkan 5 UU Transportasi, yakni perkeretaapian, pelayaran, penerbangan, lalu angkutan jalan raya serta UU Geofisika Meteorologi dan Klimatologi.

Esthi TB (FT83):
Bang Jusman, CV-nya sangat keren. Ikut bangga dengan insinyur yang setia pada bidangnya dan meroket karirnya juga. Pertanyaannya, bagaimana strategi bangsa kita sebaiknya untuk mengubah brain drain (tenaga skill disedot oleh perusahaan luar negeri) menjadi brain gain (tenaga skill kita di luar negeri kembali ke Tanah Air dan memajukan ekonomi/ilmu pengetahuan Indonesia)?

Jusman:
Saya tidak setuju dengan istilah brain drain. Menurut hemat saya, anak-anak muda Indonesia adalah benih unggul dalam bidang sains dan teknologi. Kita hanya bisa menguasai sains dan teknologi jika setiap hari kita bergelut dalam dunia sains dan teknologi. Sama juga ahli renang, hanya bisa menjadi ahli renang di kolam renang 8 jam sehari setiap minggu.

Pusat-pusat keuunggulan sains dan teknologi untuk sementara ini tidak ada di Indonesia. Belum berkembang infrastruktur sains dan teknologi yang mampu menampung, menumbuhkembangkan potensi kreatif yang tersimpan dalam brain anak-anak muda di Indonesia. Karena itu, marilah kita didik dan kembangkan mereka untuk mampu bersaing dengan benih unggul negara lain, di pusat-pusat keunggulan sains teknologi dunia. Beri kesempatan kepada mereka untuk menjadi top engineer dan top scientist dunia. Pasti kita bangga sebagai Bangsa Indonesia.

Dicky Gumilang (TI78):
Sebagai mantan Chief Engineer dan Dirut PT DI, dan sekarang berada di luar, apakah harapan Pak Jusman terhadap PT DI? Apakah PTDI dapat diselamatkan atau malah dikembangkan sesuai blueprint Pak Habibie?

Jusman:
Kita semua punya harapan besar agar PT Dirgantara Indonesia dapat bangkit kembali. Mengapa? Sebab perusahaan itu didirikan dan digeluti serta dicintai seperti anak sendiri oleh pejuang dirgantara Tanah Air.

Di pintu masuk GPM (Gedung Pusat Manajemen) PT DI dulu, ketika saya menjadi Dirut, saya letakkan patung Nurtanio Pringgoadisuryo yang sedang tersenyum dengan mimik dan sinar mata pantang menyerah. Patung yang bagus sekali, yang menggambarkan sosok seorang desainer dan flight test engineer otodidak, yang langka di Indonesia—genius pada zamannya.

Jejak pesawat hasil karya Nurtanio yang lahir dari tangannya dan keterampilan tim kerjanya masih dapat dilihat kalau kita mau ke Bandara Husein Sastranegara, Bandung, yakni “Si Kumbang”, dst. Itu adalah rekam jejak ketika industri ini masih berskala kecil, dengan biaya incremental atas kebijakan negara melalui jalur TNI AU.

Step by step approach to build aircraft industry—sasarannya membuat pesawat latih untuk pilot dan pesawat penyemprot hama padi untuk pertanian, Gelatik, dan terakhir pesawat 4 penumpang LT200. Dua prototipe Pesawat LT200 karya Nurtanio itu ketika saya mahasiswa, dijadikan tempat saya dilatih menjadi flight test engineer oleh Kolonel Sumarlan dan Prof. Oetarjo Diran.

Saya belajar mengemudikan pesawat take off-landing dari alm. Kolonel Sukandar dan Mayor Tamawi, yang kemudian gugur menjalankan tugas dam dimakamkan di Makam Pahlawan Sirnaraga.

Tahun 1965, Bung Karno membuat perintah kepada Menteri Panglima AU, Marsekal Omar Dhani untuk menjadikan PT Nurtanio sebagai pabrik pesawat terbang penumpang 50 pengganti Foker 27. Ia berubah jadi Kopelapip. Cerita ini saya peroleh dari Pak Omar Dhani sendiri ketika saya sebagai Dirut PT DI mengundang semua mantan Kepala Staff TNI AU ke kompleks IPTN untuk menunjukkan semua peralatan utama industri pesawat terbang yang dikembangkan selama 20 tahun oleh generasi penerus mereka, yakni Prof B. J. Habibie.

Ketika berdiri di samping N250, Pak Omar Dhani mengusap matanya. Beliau tampak terharu. Saya tanya, “Kenapa begitu terharu Pak?” Beliau jawab, “Saya bangga dengan kalian, akhirnya saya bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri perintah Bung Karno itu telah terwujud dalam kenyataan.” Dream come through reality through hard works struggle, passion, and love to our Nation.

Apa yang saya alami tahun 2000 hampir mirip ketika kami mendapat tugas menjadi pendamping Prof. B. J. Habibie bersama alm Said Jenie, alm Bambang Pamungkas, dan alm Alex Supelli menemani alm Presiden Soeharto pada 10 Agustus, pukul 10:10, menyaksikan penerbangan perdana N250.

Ketika roda belakang terangkat dan pesawat bewarna biru putih berlambang Gatot Kaca itu terbang mulus ke angkasa, semua orang meneteskan air mata. Tak terkecuali alm Presiden Soeharto dan alm Ibu Tien. Keharuan yang timbul dari rasa bangga karena ujian pertama lulus cumlaude. It is not about money. Ini bukan soal uang seperti yang sering disebut banyak orang, but it is about nation pride. Pride where everybody count.

Setiap orang, dari satpam, pembuat kopi, tukang antar surat, cleaning service, teknisi di meja gambar, di depan mesin, insinyur di depan komputer, dan catia terminal serta petugas finansial dan administratif telah disatukan oleh visi Presiden Soeharto yang melanjutkan mimpi Bung Karno, dan diwujudkan melalui kerja keras, kepemimpinan yang kuat dengan visi masa depan science technology Prof B. J. Habibie. Sebuah mahakarya telah lahir. N250 yang kemudian dibawa terbang ke Paris, keliling Eropa pada 1997.

Karena itu, kalau sekarang PT DI seperti hidup segan mati tak mau, saya pikir bersifat sementara. Anda dan teman-teman generasi masa kini dan masa depan pasti lebih baik dari generasi masa lalu yang fading away. Pasti kita bisa melahirkan mahakarya teknologi lain yang lebih canggih dan lebih dicintai bangsanya.

PT DI masih dapat diselamatkan dengan beberapa catatan:

Pertama, fokuskan pada upaya untuk mendapatkan revenue stream setiap tahun paling minimal 1,5 triliun. Itu revenue stream dari skenario survival. Jika tidak tercapai dalam 3 tahun berturut-turut, ia akan pindah ke jalan krisis yg berujung pada sayonara.

Kedua, kembangkan lagi struktur organisasi yang terdesentralisasi. Tiap revenue stream memiliki portofolio tersendiri yang fokus berdasarkan kompetensi utama dan aset yang dimiliki untuk dilekatkan pada “market nieche” ceruk pasar.

Ketiga, kuatkan Technology Driven Organization, dimana organisasi rekayasa dan rancang bangun yang kuat dapat dijadikan subkontrak pekerjaan engineering dari dunia lain.

Keempat, kembalikan kepercayaan dari industri dirgantara luar negeri untuk bekerja sama. Jika tidak ada expert asing yang sering berkunjung ke pabrik di Bandung, artinya PT DI terisolasi dari kemajuan dialog dalam diaspora para engineer aeronautik dunia. Dan itu artinya, mandeg hancur.

Agung:
Sekarang ini sangat marak tren LCC di Indonesia. Bagaimana tanggapan abang mengenai hal ini?
Bagaimana airline bertitel LCC harus bekerja untuk bersaing dengan LCC asing seperti Tiger Airways dan Air Asia Group?

Jusman:
Sdr. Agung, low cost carrier adalah tren industri penerbangan dunia. Jadi, jika ingin pasar domestik Indonesia didominir oleh industri maskapai penerbangan Indonesia, low cost carrier model seperti Air Asia dan Ryan Air yang mengedepankan tingkat keselamatan penerbangan tinggi serta manajemen revenue yang berkualitas perlu dikuasai dan dijadikan “brand” dari maskapai penerbangan di Indonesia.

Jika dipelajari model bisnis Air Asia dan Ryan Air atau Ricahrd Branson Virgin Blue, maka Anda akan melihat makna low cost carrier dengan tepat. Pelajari juga fenomena Soutwest Airline yang bertransformasi dari legacy airline ke low cost air.

Bahaya dari LCC adalah reduksi cost yang ikut menggerus biaya perawatan pesawat terbang dan penggunaan bogus part atau praktik-praktik lain yang tidak sesuai dengan Regulasi Keselamatan Pesawat Terbang. Dan itu bukan konsep low cost carrier. Itu maskapai flying coffin, namanya. Yang mengabaikan keselamatan penerbangan tidak dapat dikategorikan sebagai maskapai penerbangan. Dan saya pikir, di Indonesia tidak ada maskapai penerbangan seperti itu.

UU No. 1 tahun 2009 telah memberikan ruang sanksi yang sangat ketat agar praktik pengelolaan maskapai penerbangan yang tidak berbasis keselamatan tidak terjadi di Indonesia, serta perkembangan LCC nasional menjadi lebih kompetitif untuk masuk ke pasar regional. Lion Air, Wing Air, Batavia Air, Sriwijaya Air, Susy Air adalah contoh maskapai penerbangan nasional yang sedang berjuang untuk membangun keselamatan penerbangan yang sesuai standar internasional. Tidak mudah tapi pasti berhasil.

Hanief Adrian (Planologi 2003):
Saya mau bertanya, apa korelasi kebijakan 6 Koridor Ekonomi dengan paper yang dikeluarkan Komite Inovasi Nasional? Apakah Komite Inovasi memiliki rencana untuk mengembangkan pusat inovasi di Indonesia Barat dan Timur?

Jusman:
Kemarin Komite Inovasi Nasional diberi kesempatan oleh Bapak Presiden untuk memaparkan rekomendasi KIN berkaitan dengan 6 koridor ekonomi menuju Indonesia 2025, di depan Sidang Kabinet Paripurna yang diperluas. Prof Zuhal sebagai ketua Komite Inovasi Nasional memaparkan pentingnya dikembangkan Sistem Inovasi Daerah dan Klaster Inovasi yang memiliki fokus dan
kawasan tertentu di setiap daerah unggulan dalam koridor ekonomi tersebut.

Oleh Bapak Presiden, KIN diminta melanjutkan rekomendasi tersebut ke perencaan strategis yang lebih “down to earth”. Artinya, melalui pemetaan yang lebih akurat dari masing masing keunggulan daerah yang memiliki momentum dan titik ungkit untuk diprioritaskan sebagai pusat pertumbuhan inovasi.

Dadang JP (EL 79):
Setelah 10 tahun reformasi, saya merasakan belum ada perkembangan berarti dalam kemajuan bangsa, seperti masih banyaknya kemiskinan, pengangguran, korupsi, pertikaian antargolongan dll. Menurut saya, salah satu penyebabnya adalah lemahnya kepemimpinan bangsa. Bagaimana menurut Bapak? Pemimpin seperti apa (kriteria) yang dapat memajukan Indonesia? Tks.

Jusman:
Pertanyaan yang susah. Menurut hemat saya, kepemimpinan yang kuat sekarang telah terbangun. Kuat dari segi dukungan rakyat yang diperoleh melalui mekanisme pemilihan umum langsung, baik
di tingkat daerah maupun ditingkat daerah. Kemiskinan dan pengangguran masih ada, saya kira jelas. Karena itu program aksi dan kebijakan yang ada perlu diakselerasi agar apa yang dicita-citakan cepat terjadi.

Kalau sekarang, kriteria pemimpin yang kuat adalah yang dapat meyakinkan rakyat pemilih untuk dipilih dalam pemilihan umum sebab kita sudah memilih jalan demokrasi sebagai jalan kehidupan politik ekonomi kita. Tidak mungkin kita mundur ke masa sebelum reformasi. Reformasi 1998 tak mungkin gagal, jika semua warga negara mampu bekerja sama mencintai Bangsa dan Negara Indonesia.

O.K. Taufik:
Ada tidak kekecewaan kita gagal mengembangkan industri penerbangan di situasi maraknya LCC?

Jusman:
Mengapa harus kecewa? Dunia penerbangan atau tepatnya industri penerbangan PT Dirgantara Indonesia, bukan kalah karena tenaga kerja kita tidak memiliki talenta untuk menjadi engineer yang mumpuni di tingkat dunia. Tidak juga kalah karena tidak dapat menghasilkan produk unggulan yang baik. Kita kalah karena ketika pada 1997, ketika krisis ekonomi, semua orang, baik di Indonesia maupun di internasional, terutama para pengambil keputusan politik makro, memang menyerahkan nasib IPTN ke tangan lembaga yang tidak menginginkan IPTN tumbuh berkembang, yakni IMF dan Badan Keuangan dunia lainnya.

Mereka bilang, untuk apa Indonesia punya industri penerbangan? Kan semuanya bisa dibeli. Untuk apa menguasai teknologi? Semua produk dan jasa apa saja sudah tersedia di pasar global. Semua bilang, lebih baik IPTN mati pelan-pelan dengan cara menutup kran sumber keuangannya.

Bagaimana mungkin IPTN tumbuh sendiri tanpa dukungan negara? Lihat saja pertumbuhan Airbus yang kini jadi EADS, atau Boeing apakah bisa maju kalau tidak didukung negara? Nasib IPTN mengikuti nasib Foker ketika Pemerintah Belanda mencabut dukungan keuangan dan mengalihkannya kepada Airbus. Fokker juga mati. Begitu juga Dornier.

Nasib baik ada pada De Havilland Canada. Pemerintahnya mencabut dukungan swasta Bombardier masuk dan mereka selamat. Demikian juga Embraer Brasilia. Pemerintah mencabut dukungan. Lembaga Dana Pensiun diminta take over oleh Pemerintah pada masa transisi, kemudian dijual kepada investor Amerika. Embraer selamat.

Untuk IPTN, dukungan ada tapi di atas kertas. Uang tak pernah mengalir, sementara working capital untuk mengerjakan kontrak tidak dibuka channell-nya. Apa tidak tutup??

Djoko Suharto (MS67):

  1. Bapak sudah berpengalaman di organisasi BUMN, swasta, dan birokrasi pemerintah. Apa kesan Pak Jusman tentang karakter di tiap organisasi tersebut, kelemahan maupun kekuatannya masing-masing? Apakah punya saran untuk perbaikan di kelemahan organisasi tsb supaya Indonesia bisa lebih maju lagi?
  2. Pak Hatta Rajasa memberikan presentasi tentang rencana pengembangan Indonesia 2011—2025. Sebagai alumni ITB dengan prestasi yang patut kita banggakan, apa saran Pak Jusman supaya ITB dan para alumninya bisa berkontribusi untuk merealisasikan rencana tersebut?

Jusman:
Yth. Pak Djoko Suharto, ini suheng atau kakak seperguruan saya dalam dunia kangow perguruan siawlimsi atau kunlunpay. Pertanyannya sukar.

Kelemahan terbesarnya menurut saya ada dua. Pertama, sort sighted, terbelenggu oleh pandangan jangka pendek, tidak memiliki visi masa depan yang secara konsisten berkesinambungan dikerjakan dalam rincian aksi hari-hari dalam satu grand strategy dan cetak biru roadmap yang baik.

Kedua, kurang terbuka untuk mau bersinergi dan beraliansi dengan kekuatan organisasi lain, atau ada ego sektoral yang kuat, yang tumbuh atas dasar kepentingan sesaat yang terakumulasi menjadi habit dan kultur melekat. “Ada semacam departemen-isme atau organisasi-isme” yang tumbuh berkembang. Akibatnya, pikiran mandeg dalam paradigma yang lama.

Obatnya apa ada? Jawabnya pasti ada. Saya kira di sinilah peran alumni ITB dan para dosen serta mahasiswanya. Yang memiliki pikiran jangka panjang, mudah bekerja sama, tidak egois, pasti
memiliki kekuatan untuk membangun sinergi.

Kebijakan 6 Koridor Ekonomi tahun 2025 yang dipresentasikan oleh Menko Perekonomian adalah konsep yang sangat baik dan relevan yang harus diwujudkan jika kita ingin jadi Negara Maju. Kata kunci dari konsep itu adalah locally integrated, globally connected. Fokusnya pada pengembangan infrastruktur transportasi, infrastruktur ICT, dan infrastruktur inovasi berbasis science and technology. Itu artinya, ITB driven growth, ITB memiliki potensi untuk menjadi engine bukan screw driver-nya. Bagaimana ITB berperan? Saya pikir, bidang keahlian yang ada di ITB harus dikelola secara private sector. Maksudnya, dikelola dengan gaya manajemen modern. Every single laboratorium and working place at ITB, is portfolio by itself.

Yang harus dipimpin oleh profesor yang mumpuni dan respected untuk dapat bersinergi dengan dunia industri untuk mendapatkan “breathing space” atau ruang bernapas bagi kemajuan science and technology, ya. Mungkin ada baiknya ditiru model MIT, atau Korean Institute Technology, atau Nanyang University dalam mengelola pusat keunggulan riset dan development-nya.

Kelemahan ITB adalah tidak percaya pada kredibilitas profesor dan doktornya yang dimiliki sendiri, sehingga terlalu sibuk memuji kemajuan bangsa lain, lupa kalau di sebelahnya duduk potensi genius yang tersia-sia tanpa ada challenge pekerjaan yang menantang kemampuan terbaik beliau-beliau itu.

Mas Djoko pasti pernah membaca dua buku menarik ini. “Why Smart Executuves Fails, and What You Can Learn from Their Mistakes” karya Sydney Finkelstein hasil wawancara ratusan CEO yang paling pintar di dunia; dan buku karya Roger Lowenstein berjudul “When Genius Failed, the Rise and Fall of Long Term Capital Management”. Dua buku itu patut didiskusikan di ITB agar bangkit kembali sebagai kekuatan pendorong kemajuan teknologi di Indonesia. Semua anak Bangsa Indonesia percaya ITB should become a leader in the front, agar jangan kuda ditarik bendi.

Salam hormat

Betti Alisjahbana (AR79):
Bang Jusman dulu adalah Chief Project Engineer dari pesawat N250. Menurut Anda, apakah N250 sebaiknya dihidupkan lagi? Bila ya, apa yang harus dilakukan untuk menghidupkannya?

Jusman:
Apakah N250 apakah perlu dihidupkan kembali? Jawabnya tentu perlu, terutama jika kita mampu mengembangkan pesawat 50-70 penumpang dengan teknologi jet yang terbaru, yang lebih efisien dan mempunyai daya dorong dan berat yang appropriate untuk kelas pesawat tersebut.

N250 yang terbang tahun 1995 sukar untuk dihidupkan kembali karena sukar dapat sertifikasinya. Mengapa? Karena semua kosep struktur ringan yang dikembangkan dalam airframe design-nya direkayasa berdasarkan kriteria dan rules kekuatan struktur regulasi FAR 25 pada tahun 1990.

Badan sertifikasi Amerika tiap tahun meng-update rule and regulation FAR 25-nya berdasarkan peristiwa kecelakaan dan kemajuan teknologi yang berkembang. Jadi, kriteria desain tahun 1990 pasti tidak sama dengan kriteria desain tahun 2000. Setiap 10 tahun pasti ada perubahan mendasar. Perubahan ini berdampak pada proses audit teknologi proses dan audit kekuatan setruktur yang akan dilaksanakan oleh FAA dalam memberikan sertifikat. Ini merupakan satu kendala yang sangat tidak mudah untuk ditemukan solusinya.

Selain itu, dalam rekayasa dan rancang bangun N250 ada kurang lebih 300 vendor utama. Yang menjadi rantai supply chain pemasok suku cadang, komponen, dst. Kini di tahun 2011, boleh dikatakan setelah 15 tahun terjadi proses konsolidasi dan merger serta akuisisi perusahaan, mungkin ada perusahaan pemasok itu yang sudah dilikuidasi dan menjadi a new entity. Ambil contoh lugas Leibher, pemasok komponen software dan hardware Fly By Wire yang menjadi jantung pengendali N250, telah melebur menjadi perusahaan konsorsium Eropa EADS, atau ada pecahan portofolio yang telah dipangkas menjadi perusahaan software missile, misalnya. Jadi, ada kendala bersifat how to integrate the bussiness process into one single product. Ini kendala kedua.

Ketiga, lead time dalam proses produksi serial production. Contohnya pemesanan raw material alumunium type serial 76, 75 yang juga merupakan raw material pesawat jet 100 seater. Tidak mudah untuk membloknya. Perlu working capital yang besar.

Itu beberapa contoh untuk menyatakan tidak mudah menghidupkan kembali produk yang sudah dimatikan oleh IMF itu.

O. K. Taufik:
Bagaimana sebenarnya prioritas industri kita ditengah degradasi sumber daya alam yang dimiliki?

Jusman:
Prioritas bisa dilihat dari dua perspektif. Jika kita menganut mazhab incremental innovation, gradually step by step, grows as we go—kata Prof Zuhal—eksploitasi sumber daya alam ini hanya boleh dilakukan secara terbatas sesuai kebutuhan anggaran pembangunannya. Kemudian, 50% hasilnya dikembalikan menjadi investasi dalam membangun industri hilir dan hulu dari sumber daya alam di tempat yang dieksploitasi tadi.

Jika batu bara digali, maka harus dikembangkan industri pengolah batu bara menjadi batu bara cair. Kemudian, ada kewajiban top soil-nya harus dikembalikan ke tempat asal yang digali tadi dan diubah menjadi tempat tanaman industri bagi bahan baku industri furnitur.

Pendekatan ini pernah dilakukan ketika awal kemerdekaan. Selalu di tiap daerah yang minyaknya dieksploitasi, dikembangkan kebun karet. Atau yang tanahnya labil, dijadikan kebun teh. Dengan kata lain, eksploitasi SDA harus dibarengi oleh investasi untuk masa depan lapangan kerja baru dan peremajaan tanah untuk produktif kembali. Jika tidak, mulai dari sekarang belajarlah menjadi suku padang pasir yang hidupnya susah karena mencari air dan dapatnya fatamorgana.

Jika kita menganut mazhab quantum leap atau loncatan jauh ke depan, konsepsi managed eksploitasi SDA tetap wajib dilakukan sebagai upaya mengisi defisit anggaran pembangunan. Kemudian, tambahan anggaran pembangunan harus diprioritaskan diambil dari hasil budidaya atau produk dari industri maritim, perikanan, pertanian. Jadi, fokus pada foods, energy security, dan water treatment sustainability. Kembangkan industri farmacy dan bio diversity. Loncatan teknologi masuk ke software development industry, electronics, kereta api. Kembangkan PT DI menjadi kawasan riset dan pengembangan produk baru teknologi dirgantara, menjadi engineering company dan komponen suku cadang. Assembly line tutup.

Maksudnya, baik quantum leap maupun incremental approach tidak membolehkan kita menebang habis hutan kita maupun mengubah semua daratan jadi kubangan air karena semua digali. Indonesia memerlukan bukit, gunung, dan lembah serta pohon supaya ada sungai mengalirnya seperti di surga.

Ramli Sihaloho (TA82):
Saya garis bawahi pernyataan Bapak tentang SDA yang unrenewable ini seperti batu bara, misalnya. Fakta:

  1. Batubara kita dieksploitasi mayor untuk komoditas ekspor. Hampir semua eksploitasi batubara di negeri ini punya asing dan bangsa ini hanya sebagai penonton dengan segala mudaratnya sampai PLN kelimpungan untuk mendapatkan pasokan batu bara. Kebijakan pemerintah belum berpihak pada kepentingan rakyat dan nasional. Konversi batu bara ke cair masih belum jelas statusnya.
  2. Out crop atau top soil yang Bapak sebutkan adalah part of good mining practice. Pertanyaannya, siapa yang akan melakukan dan mengendalikan ini? Pengawasan dari pihak pemerintah masih sangat lemah. Sementara penanggung jawab operasi tambangnya yaitu KTT (kepala teknik tambang) di banyak tempat masih lebih pro pada kepentingan perusahaan. Bicara aplikasi good mining practice adalah bicara cost yang harus dibayar mahal sehingga dalam praktiknya dipinggirkan.

Jusman:
Kalau soal batu bara banyak diekspor dan tidak ada di dalam negeri—yang saya tau dari pelaku bisnis, karena soal harga. Lebih banyak untung kalau diekspor daripada dipasok ke PLN. Pricing policy ini mesti direvisi, kalau mau diproteksi pasti bisa.

Soal kebijakan pemerintah yang belum memihak rakyat dan nasional, saya kira keliru dan tidak sepenuhnya benar. Saya sekarang tidak duduk di pemerintahan. Tetapi selama 2,5 tahun saya jadi pembantu presiden yang dipilih secara langsung, saya merasakan bahwa orientasi kebijakan beliau selalu pro-rakyat, pro-poor, dan menjaga keadulatan NKRI sesuai amanah konstitusi. Pemain batubara 5 besarnya saya kira pengusaha nasional, bukan asing. Siapa yang mengawasi, saya kira para ahli pertambangan harus membangun asosiasi profesional yang kuat untuk mengaudit dan menjaga aplikasi dari good mining practice ini.

Saya banyak mengenal lulusan dan ahli pertambangan ITB yang masih idealis dan menjaga good mining practice ini. Tapi mereka silence mayority. Mungkin Anda lebih tau tentang ini.

Mukhlason (Penerbangan 99):
Dengan potensi Indonesia yang memiliki 17 ribu-an pulau dan tersebar, sarana perhubungan udara yang sekiranya memungkinkan, semisal pesawat amfibi/wing in surface effect craft, apakah tidak lagi menjadi prioritas—baik dari sisi regulasi maupun industri?

Seperti kita tahu bersama, sejak 2000-an, ITB, PT DI, dan BPPT sudah merancang Belibis dari versi 2 penumpang hingga dibesarkan lagi menjadi 8 penumpang, dst. Bagaimana perkembangannya? Saya kok berkeyakinan bila menggandeng Pemda-Pemda kepulauan/pesisir se-Indonesia bisa diwujudkan dalam skala massal. Mohon pencerahan tentang kendalanya.

Jusman:
Saya kira penggunaan pesawat amfibi dan surface in ground effect untuk wilayah pesisir dapat diterapkan. Ada dua kendala yang dihadapi kalau surface in ground effect. Masalah utamanya adalah, kita tidak punya sungai yang tenang airnya dalam gelombang yang beriak kecil seperti permukaan datar seperti ditemukan di Rusia, di mana pesawat surface in ground effect itu berkembang dengan baik dan pasarnya terbuka

Di Indonesia, kebanyakan sungai besar airnya tidak tenang sepanjang waktu karena di sungai itu pada umumnya berkeliaran tongkang, sampan, dan anak-anak berenang atau kayu yang hanyut. Jadi, ada biaya yang harus dikeluarkan untuk sterilisasi sungai agar permukaannya rata seperti landasan untuk menimbulkan efek gaya angkat seperti diharapkan oleh kombinasi sayap badan pesawat tersebut. Kendala kedua adalah menemukan engine yang tidak boros, supaya direct operating cost-nya rendah.

Nana (TA97):
Menurut Bang Jusman yang pernah mengurusi perhubungan di negara kita, bagaimana strategi untuk mengembangkan sektor perkeretaapian di Indonesia? Karena menurut saya, ini adalah salah satu sektor yang bisa mengatasi masalah kemacetan dan juga ujung-ujungnya efisiensi energi.

Jusman:
Ketika saya diangkat Presiden SBY menjadi pembantu Beliau sebagai Menhub, perintah Beliau adalah satu, benahi tingkat keselamatan transportasi, cegah kecelakaan, dan benahi angkutan massal untuk rakyat. Jadi saya fokusnya 3 Roadmap to Zero Accident melalui transformasi UU Transportasi dan proses audit maskapai penerbangan, operator pelayaran, dan angkutan darat serta kereta api berjenjang, kemudian pembenahan infrastruktur.

Jalur kereta api sudah disiapkan oleh Belanda dengan sangat bagus. Semua jalur kereta api yang ada dan dibangun di jaman Belanda menghubungkan semua kota strategis di Jawa, dan muaranya kalau untuk gerbong barang pasti ke pelabuhan. Ke bandara tidak ada, kecuali Maguwo dan Jogja serta Solo. Jadi kalau mau benahi kereta api, hidupkan saja lagi semua jalur kereta api tadi. Ganti relnya dengan ukuran yang tepat, sesuai kriteria beban lokomotif dan gerbong masa kini.

Rel baru ini bisa dibuat oleh Krakatau Steel jika mereka mau memindahkan pabrik pembuat rel dari negara lain dengan membeli mesin pembuat relnya—lebih murah dan menyediakan lapangan kerja. Produksi rel untuk 3000 km, misalnya. Untuk bantalan betonnya, PT WIKA telah mampu. Untuk pensinyalan, ada PT LEN.

Lokomotif dan gerbong segala tipe bisa dimanufaktur di INKA. Jim Immelt, pengganti Jack Welch dari General Electric, pernah melakukan courtessy call ke ruang kantor saya selaku Menhub. Dia bilang jika GE dipercaya oleh Pemerintah RI, dia siap mengalokasikan resources untuk bekerjasama memajukan teknologi perkeretaapian di INKA Madiun untuk membuat 100 lokomotif. Dia bertemu saya sebulan sebelum masa jabatan saya habis. Artinya, the best company in the word mempunyai kepercayaan kepada INKA. Mengapa kita tidak?

Selain itu, pada hari ulang tahun Presiden SBY tanggal 9 bulan 9 tahun 2009, Pak SBY saya mohon hadir di Stasiun BEOS Jakarta untuk meresmikan peluncuran 75 gerbong kereta ekonomi dan eksekutif, serta 2 lokomotif hasil karya PT INKA Madiun (yang dipimpin anak ITB) sebagai hadiah ulang tahun Presiden kepada rakyat Indonesia pengguna kereta api.

Cerita ini saya kemukakan untuk menyatakan bahwa program revitalisasi kereta api dapat dilakukan dengan kekuatan bangsa sendiri.

Ari Surhendro (M76):
Juli tahun ini ada pemilihan Ketua IAM ITB. Sebagai Alumni Mesin, apa harapan Bang Jusman terhadap kepengurusan IAM ITB mendatang? Terima kasih.

Jusman:
Tugas ikatan alumni mesin ITB adalah mengimpulkan uang untuk dijadikan working capital oleh HMM ITB; menyelenggarakan kegiatan padat keterampilan, seperti pembuatan dan rekayasa go carter, kemudian dipertandingkan; rekayasa rancang bangun solar cell untuk air conditioning; serta robotics atau hal-hal lain yang memang benar untuk keahlian anak mesin. Kemudian juga working capital untuk biaya laboratorium di mesin ITB. Itu saja sudah repot. Salam.

Penutup

Jusman:

Betti Alisjahbana, terima kasih ya atas kesempatan memberi ruang dialog untuk saya. Saya banyak belajar. Mohon maaf jika masih kurang sedap jawabannya. Motto rumah makan Padang saya haturkan, “Jika puas sampaikan kepada kawan, bila tak enak beri tahu kami segera.”
Salam Bravo Alumni ITB.

Betti Alisjahbana:

Bang Jusman, kami yang berterima kasih atas kesediaan Anda menjadi tokoh tamu di milis IA-ITB, dan untuk jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang begitu bertubi-tubi mengalir dari kami semua. Jawaban-jawaban Bang Jusman sangat lugas, jitu, dan bijaksana. Jawaban-jawaban tersebut telah memperluas wawasan kami, membangkitkan semangat Merah Putih di hati kami, dan telah membangkitkan optimisme akan kemampuan kita di bidang Iptek.

Saya perhatikan jawaban terakhir Anda dibuat pada jam 02.06 di mana saya sudah tertidur lelap. Itu artinya, Anda telah menjawab pertanyaan-pertanyaan ini selama lima jam. Luar biasa. Terima kasih sekali lagi. Bravo Alumni ITB.

Salam hangat penuh semangat
Betti Alisjahbana

 

Thursday, 14 April 2011 10:25 | Written by Betti Alisjahbana

Dialog Kepemimpinan Bersama Jusman Syafii Djamal

 
www.stisitelkom.ac.id www.di.stisitelkom.ac.id www.ktm.stisitelkom.ac.id
www.dkv.stisitelkom.ac.id www.dp.stisitelkom.ac.id www.srm.stisitelkom.ac.id
www.blog.stisitelkom.ac.id www.multimedia.stisitelkom.ac.id
www.elearning.stisitelkom.ac.id www.library.stisitelkom.ac.id
www.repository.stisitelkom.ac.id www.cloudbox.stisitelkom.ac.id
www.digilib.stisitelkom.ac.id www.mirror.stisitelkom.ac.id
www.sisfo.stisitelkom.ac.id www.hilfan.blog.stisitelkom.ac.id
www.telkomuniversity.ac.id www.stisitelkom.academia.edu
www.kuningmas-autocare.co.id www.usnadibrata.co.id www.askaf.co.id www.hilfans.wordpress.com www.hilfan-s.blogspot.com www.profesorjaket.co.id

Tri Mumpuni, Membangun Potensi Desa dengan Listrik

Source : http://leadershipqb.com/index.php?option=com_content&view=article&id=3921:tri-mumpuni-membangun-potensi-desa-dengan-listrik&catid=39%:betti-content&Itemid=30

 

Hidup sekali, hiduplah yang berarti. Itulah prinsip yang dipegang oleh Tri Mumpuni Wiyatno atau akrab disapa Puni. Atas kontribusinya menyalurkan listrik ke desa-desa terpencil, tahun ini dia terpilih menjadi salah seorang penerima penghargaan Magsaysay, penghargaan bergengsi di Asia, yang setara dengan Nobel Prize. Nama penghargaan ini diambil dari nama Presiden Filipina yang tewas dalam kecelakaan pesawat terbang pada tahun 1957, Ramon Magsasay.

Bersama suaminya, Iskandar Budisaroso Kuntoadji, Puni berjuang membangun pembangkit-pembangkit listrik mini bertenaga air (mikrohidro). Iskandar sendiri, yang merupakan sarjana geologi dari Institut Teknologi Bandung, mempelajari pembangkit mokrohidro di Swiss.

Hingga kini, Puni dan Iskandar sudah menerangi 60 lokasi dengan listrik. Mereka mendorong pengembangan pembangkit listrik mikrohidro karena ramah lingkungan, tidak menggunakan bahan bakar fosil. Lewat pembangunan pembangkit-pembangkit mikrohidro itu, mereka ingin membangun potensi desa-desa yang tertinggal, sehingga berdaya secara ekonomi.

Tanpa Dukungan APBN

Puni berkarya melalui Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka), lembaga swadaya yang dia dirikan bersama Iskandar pada 17 Agustus 1992. Diakui oleh Puni, sejak awal mereka tak pernah berhubungan dengan dana pemerintah.

“Karena soul-nya beda. Kita bekerja berdasarkan trust dan diskusi dengan masyarakat, perlu waktu untuk hasil yang baik. Kita ajari masyarakat arti transparasi dan tanggung jawab, amanah. Namun, kalau semua sistem ini harus diganti dengan paper-paper tender, sulit melaksanakannya,” paparnya dalam dialog yang dilakukan secara online melalui milis IA-ITB, Kamis (28/7/2011) lalu.

Mereka memutuskan untuk tidak pernah menggunakan dana Anggaran Pendapat dan Belanja Negara (APBN) karena sistemnya tidak mendukung proses pemberdayaan masyarakat. Untuk menggunakan dana APBN, sebuah lembaga diharuskan mengikuti tender, sesuai dengan Keputusan Presiden No. 80/2003. Sistem itu, menurut Puni, tak mungkin diakses oleh rakyat kecil. Karena itulah, selama ini pihaknya menggunakan dana donor melalui kedutaan ataupun dana dari program CSR (corporate social responsibility) dari pihak-pihak yang menjalin kerja sama dengan Ibeka.

Membangun Potensi Desa

Tujuan utama Ibeka adalah membangun potensi masyarakat desa, bukan menerangi desa-desanya. Mereka percaya, listrik di pedesaan mampu menjangkau tujuan tersebut. Dengan adanya listrik, masyarakat akan memiliki uang bersama untuk membiayai pendidikan, program kesehatan, program perempuan, serta membangun infrastruktur seperti jalan dan radio komunitas. Karena itu, selain melistriki desa-desa terpencil, Puni dan Iskandar juga membangun komunitas.

Pembangunan komunitas dinilai sangat perlu untuk mengajak masyarakat menyadari bahwa pembangkit listrik di desa mereka adalah milik mereka juga. Dengan begitu, mereka akan merasa bertanggung jawab dan mau memelihara pembangkit tersebut, serta mengusahakan kelancaran aliran air sepanjang tahun.

Kendati demikian, dari 60 lokasi yang telah dilistriki oleh Ibeka, memang ada beberapa yang tidak berhasil atau tak berlanjut. Alasannya beragam. Di Padasuka, Cianjur, misalnya. Pohon-pohon di daerah tangkapan air di sana telah ditebangi untuk lapangan golf, yang ternyata tidak jadi dibangun. Adapun turbinnya dijual oleh kepala desanya sebagai besi tua.

Sebelum membangun pembangkit listrik, Ibeka mengumpulkan data mengenai lokasi dan kemungkinannya secara teknis. Iskandar bertugas membuat rencana teknik dan menghitung rencana anggaran biaya. Setelah itu barulah Puni “berjualan”. Selama ini, Kedutaan Jepang banyak membantu Ibeka. Setelah mendapatkan dana, Ibeka akan mengirim tim sosial ke desa.

Desa-desa yang mereka bantu adalah desa-desa yang terpencil. Contohnya, Dusun Palanggaran dan Cicemet, enklave di Gunung Halimun, Sukabumi, Jawa Barat, yang mereka terangi dengan listrik pada tahun 1997. Uang dari listrik di dusun itu kemudian mereka gunakan untuk membangun jalan berbatu yang bisa dilalui kendaraan four wheel drive. Hal ini, menurut Puni, mampu membuka peluang untuk membantu 10 dusun lainnya.

Menurut Puni, lembaga swadaya internasional juga bertanggung jawab dengan membuat proyek Cash for Work. Warga desa dibayar Rp50.000—Rp100.000 sehari untuk mengangkut batu dan membersihkan sampah di rumah mereka sendiri.

Tri Mumpuni adalah satu dari beberapa wanita berprestasi di Tanah Air. Dalam Presidential Summit on Entrepreneurship yang dihadiri oleh para wirausahawan bisnis dan sosial dari sejumlah negara muslim di dunia, yang digelar di Washington DC pada 26-27 April 2010, aktivis sosial ini bahkan dipuji langsung oleh Presiden Obama. Pujian itu dilontarkan atas keberhasilan Puni mengalirkan listrik dan memberdayakan masyarakat di desa-desa terpencil.

***

Kamis, 28 Juli 2011, dialog dengan Tri Mumpuni, pemenang penghargaan Magsaysay, digelar secara online melalui Milis IA-ITB. Berikut adalah kompilasi dari dialog tersebut.

Tanya: Mbak Puni, selamat datang di milis IA-ITB. Selamat ya atas penghargaan Magsaysay-nya. Saya semakin kagum pada dedikasi Mbak Puni untuk memberdayakan masyarakat desa. Untuk memulai dialog, barangkali Mbak Puni bisa cerita suka dan duka dalam kegiatan menerangi desa-desa selama ini.

Salam hangat penuh semangat,
Betti Alisjahbana – AR79

Jawab: Selamat malam, Alhamdulillah baru bisa connect. Semoga Mbak Betti dan rekan-rekan selalu membantu dan menjaga saya agar tetap istiqomah berada dengan masyarakat dan terus menerangi saudara kita yang masih dalam kegelapan.

Kesulitan yang mendasar tentunya menyediakan dana buat desa-desa yang membutuhkan listrik, karena saya bukan Bill Gates, jadi kalau ada orang desa datang dan ingin kampung atau desanya diterangi, saya selalu hanya bisa bilang, berdoa, insya Allah nanti kita usahakan. Lalu kita akan tanya desanya di mana? Lalu kita datangi dan kita lihat potensi tekniknya.

Ternyata ini juga challenge sendiri, utamanya kalau desa itu terpencil, di pulau yang terisolir dan kadang risiko alamnya luar biasa, seperti di Maluku—kalau cuaca jelek dan kapal tiba-tiba mesinnya berhenti, harus siap mental untuk berenang atau menunggu kapal lain datang untuk menarik. Alhamdulillah, semua kalau diniati, Allah selalu melindungi, jadi selamat.

Mengunjungi saudara kita yang ada di penjuru tanah air ternyata juga perlu dana, jadi kalau belum ada dana, ya mereka harus sabar. Setelah data teknis didapat, lalu kita membuat detail design engineering dan keluarlah Rencana Anggaran Biaya. Lalu masih harus menjajakan ke donor atau ketemu orang-orang yang punya hati, mau membantu untuk merealisakan project tersebut.

Hal lain, menyakinkan masyarakat. Kita membangun rasa percaya atau kita biasa sebut trust building, giving sincerity, ini perlu kesabaran, khususnya di daerah yang sudah sering dikecewakan oleh janji-janji politik dan tidak ada realisasi.

Pemerintah Daerah dan aparat—mindset mereka adalah, kalau kegiatan pembangunan itu proyek (karena memang seperti itu realitas APBD maupun APBN), lalu minta bagian. Nah ini jelas tidak bisa kita tolerir. Ini menghabiskan energi tersendiri karena prinsip IBEKA “doing things right”, jadi tidak ada uang yang bisa dipakai kecuali hanya untuk rakyat.

Sementara ini dulu jawaban singkat tapi panjang ya, Mbak?

Thanks and cheers,
Puni

Tanya: 
Apa kabar Mbak Mumpuni? Apakah kantor saya dahulu namanya Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi (DJLPE) sudah membantu upaya Mbak Mumpuni/IBEKA dalam pengembangan dan pemanfaatan PLTMH?

Salam hormat,
Tjahjokartiko/ SI 76

Jawab: 
Mas Tjahjo, dari awal kita tidak pernah bersentuhan dengan dana pemerintah, karena “soulnya” beda. Kita bekerja berdasarkan trust dan diskusi dengan masyarakat, perlu waktu untuk hasil yang baik. Kita ajari masyarakat arti transparasi dan tanggung jawab, amanah. Namun, kalau semua sistem ini harus diganti dengan paper-paper tender, sulit melaksanakannya.

Tujuan dari tender adalah untuk mengefisienkan proyek, tapi faktanya justru dengan tender jatuhnya proyek menjadi lebih mahal. Saya tahun lalu mencoba membantu Pemda karena bupati sampai datang ke rumah ingin satu saja proyeknya bisa dikerjakan oleh Ibeka. Namun, karena kita NGO, jadi kita perlu bantuan pihak ketiga agar bisa ikut tender. Apa yang terjadi? Biaya yang hanya 4,2 M menjadi 6,2 M, dan cara disbursement-nya sangat dzalim (dicicil kecil-kecil, jadi lama pekerjaan bisa selesai), sehingga Ibeka merugi hampir 260-an juta.

Kalau bukan karena saya janji dengan masyarakat untuk melistriki desa tersebut (karena sudah dua tahun kita bersama-sama masyarakat untuk menyiapkan organisasinya), mungkin kita akan membatalkan kegiatan ini. Sampai sekarang, saya masih merasa berhutang, karena pekerjaan sipil belum sempurna. Saya janji akan fund rise 700 juta untuk membereskan hal ini, dan sampai detik ini uang kita 200 juta lebih tidak pernah ditransfer oleh pihak ketiga tersebut.

Ini penjelasan saya kenapa saya takut dengan proyek-proyek pemerintah. Hidup harus mencari yang halal dan toyib mas, Insya Allah rejeki kita ada yang menjamin.

Salam,
Puni

Tanya: 
Ibu Puni, perkenalkan saya Piniji. Masih Muda. Usia 25 tahun. Meskipun masih muda (dibandingkan ibu dan suami), tapi saya belum banyak berbuat untuk bangsa. Saya sangat appreciate atas prestasi Anda. Saya acungi 4 jempol untuk Ibu dan keluarga.

Mengapa ibu memutuskan langsung bergelut di dunia sosial setelah lulus kuliah? Apakah ibu melihat bahwa sensitivitas sosial di perkotaan saat ini lemah? Apa pendapat ibu? Apakah yang ibu akan lakukan apabila ibu diberikan uang IDR500 milyar untuk mengelola suatu daerah dimana sebelum-sebelumnya daerah tersebut selalu defisit anggaran? Terima kasih.

Salam,
Piniji
Aeronautics 2005

Jawab: 
Sebelum lulus kuliah saya sudah bersama-sama dengan Yayasan Helping Hands dengan alm ibu Wawa Wardoyo, membantu istri petani dengan kegiatan home industry dan juga menyulam untuk mendapatkan tambahan income bagi keluarga petani tersebut, etc. Beliau istri pejabat di Bogor, yang punya passion tinggi untuk membantu masyarakat petani miskin.

Lulus kuliah saya sempat bersama peternak ikan di pinggiran danau Toba, lalu sempat juga mengurusi rumah murah untuk orang miskin perkotaan. Namun, menikah dengan Mas Iskandar, seorang insinyur ITB yang sangat sosialis dengan jiwa pemberdayaan yang tinggi membuat saya semakin tidak tertarik dengan dunia di luar sana. Bekerja dengan masyarakat miskin itu sebuah kenikmatan karena doa mereka kepada Allah tidak bersekat dan doa itu itu langsung dijabah. Ini pamrih saya ya, didoakan oleh orang miskin.

Masyarakat perkotaan itu lebih kompleks strukturnya. Bahkan menjadi miskin di kota, jauh lebih menderita daripada menjadi miskin di pedesaan karena resources di kota sangat terbatas buat orang miskin. Apalagi paradigma “money driven development” itu tidak menyisakan ruang buat penduduk miskin di kota—tidak ada trotoar yang nikmat buat jalan kaki bagi yang tidak bermobil. Namun saya yakin kalau orang kota juga banyak yang punya hati, jadi kondisi kota dan desa memang berbeda. Saya lebih menikmati berada di desa, namun karena tuntutan pekerjaan membuat saya harus juga berada di kota.

Uang 500 miliar kan kelihatannya besar, namun kalau dilihat dari 90 juta penduduk belum terlistriki, memang uang tersebut jadi kecil. Paling baik ya, uang itu menjadi “trust fund”, dan dipakai untuk membangun masyarakat secara konkret, dipantau penggunaannya, dan masyarakatnya diberi pendampingan. Juga perlu team yang melakukan assesment dengan benar, apa keperluan masyarakat grass root, sehingga uang tersebut benar-benar memberi manfaat buat masyarakat. Maaf kalau tidak menjawab dengan baik.

Salam,
Puni

Tanya: 
Menambahkan yang disampaikan Bu Betti. Mengapa “jalan” itu menjadi pilihan Mbak Puni pada akhirnya, di tengah banyaknya opsi yang menarik untuk karir Mbak Puni….

Salam hangat,
Taufik TI88

Jawab: 
Orang Jawa bilang, “urip kuwi sak dermo nglakoni” (hidup ini sekedar menjalani rencana Allah) dan saya yakin itu. Sepertinya jalan ini yang ditunjukkan buat saya.

Salam,
Puni

Tanya: 
Sebelumnya saya ucapkan selamat atas anugerah yang didapat. Ada dua pertanyaan untuk Mbak.

1. Apakah selama melakukan kegiatan pendampingan di masyarakat selama ini terdapat perbedaan antara masyarakat pedesaan di wilayah Sumatera, Jawa, atau bahkan Sulawesi dilihat dari aspek sosiologis
2. Kendala utama apakah yang didapatkan selama di lapangan terkait dengan penerapan PLTMH?

Salam hangat,
Arief-TL 90

Jawab: 
Penduduk kita yang sangat beragam dari Sabang sampai Merauke memberikan challenge tersendiri untuk dibangun. Tentunya pendekatan “live in concept”, tinggal bersama masyarakat menjadi pilihan utama agar kita tahu persis karakter mereka, dan ini mempermudah kita untuk mengajak mereka membangun dirinya sendiri. Sumatera, Jawa, dan Sulawesi memang berbeda, namun tidak sesulit masyarakat Papua.

Technical dependability juga harus menjadi perhatian kita, karena ini community based approach, jadi kita harus yakin bahwa teknologi yang dibuat harus mampu didekatkan ke masyarakat. Ini kunci keberhasilannya, kendala utama mendidik masyarakat untuk menguasai teknologi.

Salam,
Puni

Tanya: 
Mbak Puni, saya harus bilang apa ya, ketika Energy Efficiency ditinggal oleh Renewable Energy. Yang lebih mengherankan lagi, dunia Projects meninggalkan dunia Perencanaan. Apakah ini kesalahan Pemerintah, Pendidikan, atau Profesional?

Ada titik terang, Forum Energi Indonesia 2011 beberapa hari yang baru lalu sudah mulai setuju bahwa Energy adalah Heat and Power, karena sejalan denan definisi Energi dari UU Energi.

Salam,
Tjahjo

Jawab: 
Benar, mas. Kita punya tanggung jawab yang sama untuk memperbaiki situasi, lets start small in action, meskipun tetap harus berpikir besar.

Salam,
Puni

Tanya: 
Tks banyak jawabannya. Mbak Puni satu pertanyaan lagi. Bagaimana yang seharusnya dilakukan, membangun institusi lokal dahulu atau menerapkan teknologi dahulu pada masyarakat, karena sering kali local wisdom di daerah seperti disebut Mbak Puni sangat beragam.

Salam,
Arief

Jawab: 
Ibeka selalu membangun institusi lokal dan mempersiapkan masyarakat agar mampu membangun dirinya sendiri. Fungsi kita adalah membantu, bukan main actor. Tks.

Tanya: 
Ibu berasal dari Semarang. Apakah seluruh daerah di Jateng (pedesaan) sudah terdapat listrik? Kalau berkenan, bolehkah saya minta alamat email ibu? Istri saya kebetulan ingin banyak belajar dari ibu. Karena istri saya bukan alumni ITB, jadi ybs minta ke saya alamat email ibu untuk berkorespondensi. Japri juga boleh bu, ke email agungwp@yahoo.com. Mohon maaf kalau kurang berkenan.

Salam,
Piniji
Aeronautics 2005

Jawab: Jawa bagian selatan masih memprihatinkan, e-mail: tri.mumpuni@gmail.com.

Salam,
Puni

Lebih jauh tentang Tri Mumpuni:

Nama: 
Tri Mumpuni Wiyatno
Tempat dan tanggal lahir: Semarang, 6 Agustus 1964
Keluarga: 
Suami: Ir. Iskandar Budisaroso Kuntoadji
Anak: Ayu Larasati (21), mahasiswi industrial design di Toronto University, Kanada dan Asri Saraswati (19), mahasiswi Bioprocess Chemical Engineering di University of Technology Malaysia.
Pendidikan: Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor; Energy and Sustainable Development International Session, Universidad da Costa Rica, 1992; Trade and Sustainable Development Course, Chiang Mai University, Thailand, 1993; Leadership for Environment and Development Course, 1993-1995, LEAD based in New York funded by Rockefeller Foundation; Lead Fellows (Cohort 2).
Penghargaan: Climate Hero 2005 dari World Wildlife Fund for Nature.
Pekerjaan: Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan, Subang

 

Monday, 01 August 2011 09:18 | Written by Restituta Arjanti

Tri Mumpuni, Membangun Potensi Desa dengan Listrik

 
www.stisitelkom.ac.id www.di.stisitelkom.ac.id www.ktm.stisitelkom.ac.id
www.dkv.stisitelkom.ac.id www.dp.stisitelkom.ac.id www.srm.stisitelkom.ac.id
www.blog.stisitelkom.ac.id www.multimedia.stisitelkom.ac.id
www.elearning.stisitelkom.ac.id www.library.stisitelkom.ac.id
www.repository.stisitelkom.ac.id www.cloudbox.stisitelkom.ac.id
www.digilib.stisitelkom.ac.id www.mirror.stisitelkom.ac.id
www.sisfo.stisitelkom.ac.id www.hilfan.blog.stisitelkom.ac.id
www.telkomuniversity.ac.id www.stisitelkom.academia.edu
www.kuningmas-autocare.co.id www.usnadibrata.co.id www.askaf.co.id www.hilfans.wordpress.com www.hilfan-s.blogspot.com www.profesorjaket.co.id

Fadel Muhammad Bicara tentang Entrepreneurial Public Service

Source : http://leadershipqb.com/index.php?option=com_content&view=article&id=5822:fadel-muhammad-bicara-tentang-entrepreneurial-public-service&catid=39%:betti-content&Itemid=30

 

Fadel Muhammad, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, pernah membagi pengalamannya memimpin kementeriannya dalam acara QB Leadership Series pada 23 Februari 2011. Dalam acara tersebut, Fadel yang masih menjabat sebagai menteri memperkenalkan pemahaman baru mengenai kepemimpinan di Indonesia, yakni “Entrepreneurial Public Service” atau pelayanan publik bergaya kewirausahaan. Berikut adalah transkrip dari presentasi yang dibawakan oleh Fadel Muhammad.

Apa benar pelayanan publik itu ada, dan bagaimana?

Pemahaman yang ada itu adalah, kalau bicara tentang pelayanan publik, swasta pun melakukan itu. Yang biasanya bagus melakukan Entrepreneurial Public Service itu adalah orang-orang swasta. Orang-orang pemerintahan jarang—mereka kaku berkomunikasi, kaku berbicara.

Sekarang di dunia, dalam beberapa tahun belakangan ini, terjadi perubahan besar dalam pelayanan pemerintah terhadap sektor publik. Hal ini terjadi sejak Clinton mulai mengangkat mengenai Entrepreneurial Public Service bersama Al Gore. Jadi, Clinton menempatkan orang-orang ini (dari sektor swasta) dalam tim kerja Al Gore, dan mengenalkan kewirausahaan ke dalam sektor publik atau pemerintahan. Dari situ muncul pemahaman baru ini.

Muncul isu tentang kewirausahaan di sektor publik. Di swasta, entrepreneur ini biasa. Tapi di publik, di sektor pemerintah, apakah ada? Saya berpendapat ada.

Sewaktu menjadi gubernur, saya berupaya menerapkan apa yang dikenal dengan sifat-sifat atau jiwa atau spirit entrepreneur ke dalam pemerintahan.

Salah satu faktor yg membuat pemerintahan, baik di pusat atau daerah tidak maju atau lambat majunya, itu karena kita menjalankan pemerintahan dengan gaya birokrasi. Tidak ada perubahan. Saya kira saat ini adalah momen yang tepat untuk menyampaikan pengalaman-pengalaman saya.

Sebelum ke pengalaman saya, saya ingin menjelaskan sedikit kerangka teoritis, lingkungan eksternal yang berubah.

Sekarang ini berbeda dengan dulu. Permintaan eksternal luar biasa berubahnya. Permintaan orang-orang di luar ini tinggi sekali—jauh lebih tinggi daripada kemampuan orang pemerintah daerah. Kita lihat bupati, walikota, gubernur kadang-kadang kelabakan melayani permintaan masyarakat. Masyarakat berbicara demikian hebat, demikian terbuka. Kita tak mampu lagi melayani mereka.

Saya jelaskan pengalaman saya, apa yang saya buat.

Permintaan public interest itu cenderung berubah dan sulit kita identifikasikan dan petakan—ini permintaan siapa, ini kelompok siapa, ini aliran siapa? Tidak seperti dulu, gampang. Sekarang sulit sekali.

Sektor publik itu membutuhkan pemerintahan yang efisien dan inovatif. Saya tak bilang kepercayaan (terhadap pemerintah) telah hilang, tetapi kadang-kadang akuntabilitas itu kurang. Pelayanan publik itu selalu dibandingkan dengan pengorbanan.

Karena itu, selama saya jadi gubernur, saya tak pernah mengatakan bahwa saya ini pejabat negara. Itu hanyalah simbol. Saya katakan bahwa saya adalah pejabat publik. Dengan terminologi ini saja, sudah mengubah seluruh paradigma kita. Saya pasar, saya ke mana-mana, saya adalah pejabat publik.

Dengan demikian, saya itu hanya sementara dipilih oleh publik, untuk duduk, nati saya kembali ke publik lagi. Jadi tertanam di kepala saya ini, I’m only temporary sitting here. In any time I will be on your side.

Kewirausahaan sektor publik itu punya aneka ragam, ada aturan-aturannya, bagaimana resources-nya. Tapi intinya, kewirausahaan sektor publik itu mesti inovatif, kreatif, membuat keputusan tentang investasi, dan dalam segala hal ada kepastian yang jelas. Orang tak mau kalau tak jelas atau ragu-ragu. Tidak bisa, ini bisa ini tidak, ini iya ini tidak. Meskipun salah, orang tetap akan menghargai kita.

Pejabat publik harus punya inovasi, baik dalam produk, proses, dan apa yang akan dia buat. Ini intinya. Ini harus menjadi bagian yang harus dimiliki oleh seorang di pejabat publik.

Mindset kewirausahaan ini penting. Saya ingin gambarkan di sini, bahwa seorang yang menjadi pemimpin publik, apakah bupati atau gubernur atau menteri, harus juga menjadi seorang public manager. Jadi dia punya klien, karyawan, dan lainnya yang harus dikelola dengan baik.

Ini implementasi kewirausahaan. Ini menunjukkan kewirausahaan sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi berbagai peluang yang ada. Misalnya, sewaktu saya menjadi Gubernur Gorontalo, saya tidak hanya menghabiskan anggaran pemerintah daerah.

Dana anggaran Gorontalo yang saya pegang hanya Rp560 miliar. Tapi saya tahu apa yang mesti saya bikin, sehingga pertumbuhan ekonomi dari 4% naik menjadi 8%. Dan saya bisa membuat perubahan-perubahan, akibatnya uang dari pusat ke Gorontalo mencapai hampir Rp5 triliun. Jadi kita mesti tahu kita mau bikin apa dan peluangnya bagaimana.

Ketika saya di Gorontalo, saya fokus pada tiga program, yakni sumber daya manusia, pertanian jagung, serta perikanan dan kelautan. Produknya saya hitung berapa, tiap tahun naik berapa. Jagung, misalnya. Sekarang jagung 50.000 ton, naik 200.000 ton, naik lagi, maka saya harus bikin irigasi dan lainnya. Saya atur seperti sayamanage di korporat.

Ketika saya menjadi menteri, hal yang sama saya terapkan. Saya step in menjadi menteri, dua minggu kemudian saya kumpulkan eselon 1, eselon 2, duduk bersama. Saya bilang begini kepada mereka, “Eh saya dipercaya sebagai menteri oleh Presiden. Saya sudah mengikuti (informasi tentang) kementerian kalian sewaktu saya menjadi gubernur. Nggak benar apa yang kita bikin selama ini. Kita hanya menghabiskan duit rakyat triliunan rupiah tanpa ada hasil untuk kepentingan rakyat.” Ini yang saya mau ubah pertama kali.

Saya panggil beberapa orang yang berkepentingan dan konsultan dari luar untuk berdiskusi. Akhirnya saya ubah visi di kementerian saya. Visnya menjadi penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia pada tahun 2015. Kan heran orang. “Wah, gila Pak Fadel!”

Ini seperti saya bikin jagung dulu. Gorontalo menjadi produsen jagung satu juta ton. Jadi ada ukurannya. Seperti kita bikin di corporate, ada ukurannya, bagaimana kita bikin langkah-langkah. Jadi saya bikin seperti itu. Akibatnya, seluruhnya berubah di kementerian saya, dari atas sampai ke bawah berubah. Semua orientasinya pada produksi.

Hubungan saya dengan gubernur dan bupati pun berubah. Saya punya kontrak produksi dengan mereka. Sampai di rapat kabinet, pada heran orang-orang. Saya bilang, buat apa saya selama ini saya punya uang… Maaf, uang dari pemerintah pusat Rp1.200 triliun. Kita bangun untuk berbagai pemerintahan daerah, tapi tidak kelihatan ada hasil apa-apa. Karena apa? Karena kita bikin tanpa ada aturan, beda dengan di swasta.

Ketika itu, Pak SBY mengatakan, “Okelah, saudara mulai duluan.” Maka saya punya kontrak produksi dengan gubernur, kontrak produksi dengan bupati. Dan, kalau mereka tidak mencapai produksi ikannya, 100 ribu ton misalnya, saya tarik anggaran saya. Hal ini terjadi pada Sulsel.

Saya kontak dengan Gubernur Makassar. “Pak Fadel, ini saya sudah berapa hari ini mau telpon Anda. Produksi saya tidak naik,” kata. Dia malu sama saya. “Iya, saya mau kurangi Anda punya iaya produksi,” kata saya. Dia langsung bilang akan mengganti kepala dinas beserta staf-stafnya sebelum saya datang. Mereka akhirnya terpacu. Semua berorientasi pada produksi. Nah, swasta seperti begitu.

Apa yang saya katakan, bahwa entrepreneurial government itu ada. Bukan tidak ada. Clinton bikin itu dengan Al Gore. Jadi di kantornya Al Gore ada tim khusus. Mereka-mereka ini yang bikin. Ini kemudian dikenal dengan (istilah) reinventing government. Akibatnya ketika itu (pemerintahan) maju.

Saya ingin menjelaskan teori saya. Jadi, ketika saya sekolah di Universitas Gajah Mada, mengambil doktor saya di UGM, ketika saya membuat perubahan-perubahan di Gorontalo 3 tahun, saya pernah ribut dengan Mendagri. Sama seperti ketika saya menjadi menteri, saya pernah ribut dengan Ibu Sri Mulyani. Lalu di Bappenas ramai dengan saya karena saya ubah anggara total saya sekarang, 4 koma sekian triliun itu. Saya ubah total untuk fokus kepada rakyat kecil.

Saya bikin minapolitan, saya bikin usaha mina di desa. Semua yang hasilnya ke rakyat langsung. Saya tidak bikin program-program untuk kepentingan pemerintah. Yang terbanyak anggaran dalam pemerintah itu anggaran buat diri kita (pemerintah) sendiri. Kita bikin ini, itu, buat diri kita sendiri. Saya bilang ini saya tidak mau. Saya ubah semuanya.

Di rapat kabinet beberapa waktu yang lalu di Bogor, Presiden menyampaikan ada 6 program barunya. Semuanya itu program-program kerakyatan. Di sana ada Ketua Bappenas. Saya bilang, “Kalau bikin ini Pak Presiden, nggak mungkin sistem anggarannya seperti ini. Harus kita bongkar anggarannya mengikuti yang Bapak mau. Anggaran yang kita bikin sekarang di Bappenas ini terlalu konvensional.

Saya ingin mengatakan, bahwa kita harus bikin reformasi—reformasi birokrasi kita. Dan ini bisa jalan, besar sekali. Untuk itu, kita fokus di kemampuan manusianya, dan sistem yang kita betulkan—sumber daya manusia, sistem keuangan, dan teknologi informasi. Tanpa ini, tidak bisa.

Saya punya model, di UGM saya menemukan model saya, karena saya doktor di sana. Sekarang anak-anak di sekolah belajar yang namanya model FN. Ada tiga independent variable: faktor makro, pemerintahan pusat, faktor budaya organisasi dan faktor endowment daerah—DPRD, koran-koran daerah dan sebagainya.

Saya ingin mengatakan, ketiga faktor ini selalu mempegaruhi sebuah daerah. Baik itu pejabatnya gubernur, bupati, ataupun walikota. Tetapi ada variabel antara yang paling menentukan. Saya menyebutnya sebagai manajemen kewirausahaan.

Ketika saya sekolah di UGM, ini memerlukan waktu, barangkali sekitar 6 bulan untuk meyakinkan beberapa profesor. Salah satunya Prof. Mardias, yang sekarang menjadi kepala BPKP. Beliau mengatakan, “No, ini bukan hanya ada di swasta. Itu adalah sifat jiwa yang sama dengan teori-teori dalam new public management.”

Ketika saya lagi membicarakan ini, tiba-tiba keluar buku yang dibuat oleh Prof. Joseph Nye dari Harvard Kennedy School of Government. Itu adalah sekolah pemerintahan yang tertinggi, nomor 1 di dunia. Sementara UGM itu nomor 40.

Prof. Nye mengeluarkan bukunya dan menjadi bahan perdebatan di kalangan ahli-ahli administrasi pemerintahan. Dia mengatakan bahwa mengelola pemerintahan tidak beda jauh dengan mengelola korporasi. Dia bilang sama. Wah, ramai sekali perdebatan tentang hal itu. Karena itu saya ambil di internet, lalu saya bawa ke mereka (para profesor di UGM).

Nye mengatakan bahwa mengelola perusahaan, misalnya Nokia atau Phillips, itu seperti membuat suatu produk lalu dijual kepada masyarakat. Saya mendapatkan deviden karena saya membuat produk ini. Yang paling inti bagi saya adalah deviden, keuntungan, atau profit.

Sekarang orang bertanya kepada Nye, kalau begitu kerja di pemerintahan—bekerja menjadi gubernur, sebagai menteri, apa deviden Anda? Dia mengatakan dalam bukunya, devidennya adalah kepuasan rakyat, kepuasan masyarakat kepada Anda. Ini aneh, tapi betul. Ini bukan saya yang bilang, tetapi guru besar di Harvard Kennedy School of Government.

Kalau begitu, saya tertolong dengan teori itu. Saya katakan, kalau begitu variabel antara adalah kapasitas manajemen kewirausahaan. Ini adalah yang paling menentukan seorang bupati, seorang gubernur, seorang menteri bisa berhasil. Ini menurut saya. Ini model saya. Kalau dia tak punya kemampuan ini, dia tak akan berhasil—menurut saya. Maka kinerja pemerintah daerah itu sangat tergantung kepada 4 variabel, yakni faktor lingkungan makro, budaya organisasi, endowment daerah, kapasitas manajemen kewirausahaan.

Dua variabel yang paling menentukan adalah faktor budaya organisasi dan kapasitas manajemen kewirausahaan. Ketika saya memimpin Bukaka Group, saya bikin apa yang mesti dibuat. Ketika dengan Slumberger bikin joint venture—itu besar—kita bikin apa saja yang mesti dibikin, budaya organisasi kita apa. Ketika saya bikin joint venture dengan Sembawa—kita bikin pabrik besar—ribuan orang saya pecat. Kita bikin budaya organisasi bagaimana, kultur yang ada apa. Di birokrasi tidak ada.

Saya punya karyawan di Gorontalo, 5.000 orang. Sekarang saya punya karyawan di sini, di Kementerian Kelautan dan Perikanan hampir 10.000 orang. Bisa dibayangkan itu, dirjen-dirjen saya, direktur, balai-balai saya begitu banyak, 160 balai saya bikin. Belum lagi pemerintar daerah. Coba dibayangkan. Tak ada yang namanya budaya birokrasi (di sana). Mereka hanya masuk, bekerja. Jadi tidak ada budaya (birokrasi). Memang begitu teorinya.

Setelah saya bikin penelitian, budaya organisasi itu 20 persen menentukan keberhasilan sebuah organisasi atau pemerintah daerah. Kapasitas manajemen kewirausahaan punya peranan hampir 50 persen, yakni 45,8 persen. Keduanya saja kita atur dengan baik, punya kinerja maka endowment daerah, masyarakat tidak akan apa-apa kalau kita bekerja dengan baik.

Ini adalah sasaran reformasi birokrasi, meliputi kelembagaan, bidaya organisasi, ketatalaksanaan, regulasi organisasi birokrasi, dan sumber daya manusia.

(Tentang) kelembagaan, saya ingin katakan ternyata di pemerintahan juga ada. Saya di Gorontalo, saya bikin, saya adalah CEO-nya, I’m the governor, I’m the chief executive officer. Saya punya COO (chief operating officer). Di birokrasi kita kan ada bagian keuangan, saya jadikan dia badan, di eselon 2, sebagai chief financial officer. Ketika itu, belum ada Undang-undang 17. Orang ribut sama saya. Ini Pak Fadel nih, ubah-ubah sendiri.

Sesudah itu, Undang-undang keluar mengikuti persis seperti yang saya mau. Begitu juga perubaha-perubahan PP (Peraturan Pemerintah) No. 41 itu, persis dengan yang kita bikin di Gorontalo. Jadi bahwa tidak boleh sama antara mengelola Jakarta dengan Gorontalo. Papua disamakan dengan Jawa Timur. Itu kan non sense. Papua kecil. Manajemennya disamakan dengan Jawa Timur. Saya bilang tidak bisa. Akhirnya saya dipanggil ke Jakarta. Saya jelaskan semuanya, saya bikin sendiri. Yang penting DPRD saya disetujui. Heboh-hebohlah itu.

Dulu di daerah itu tak pernah ada yang namanya insentif. Di swasta namanya bonus. Di pemerintah daerah tidak ada bonus. Mereka kerja ya begitu saja, gaji 2 juta. Kalau rajin, mau dapat tambahan, ya pura-pura tanda tangan surat orang. Benar itu, saya ngomong sebenarnya. Makanya saya ubah. Saya bikin ini, budaya kerjanya adalah innovation, team work, trustwhortiness, prosperity, dan speed—bekerja cepat, karena birokrasi lambat.

Makin lambat dia tahan surat, makin menumpuk di meja dia, dianggap makin hebat kerjanya. Itu kebiasaan mereka. itu saya tegur mereka. Saya tambah speed. Kelima nilai budaya kerja ini saya sebut sebagai corporate culture. Teori ini ada dalam new public management. Jagoan-jagoannya di dunia sudah bicara mengenai hal itu banyak.

Saya ingin tunjukkan, di birokrasi—sekarang ini saya mengalami di kementerian saya. Ini begini. Di Gorontalo, dapat dibayangkan, untuk mengambil suatu keputusan, (ini) suratnya naik terus sampai ke sekda (sekretaris daerah), wagub (wakil gubernur), ke gubernur, turun lagi, lalu naik terus. Bayangkan, 14 meja harus kita lewati baru diproses.

Supaya prosesnya lebih cepat, seringkali perusahaan yang mengajukan surat atau proposal memberikan uang sebagai sogokan. Saya bilang, setan kalian semua. Tidak ada yang seperti itu.

Saya buat seperti ini saya. Sebagai gubernur, saya tidak pernah tanda tangan apa-apa. Tinggal surat dari SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) Dinas yang ada, masuk ke bagian keuangan, lalu kelar. Jadi saya tidak pernah tanda tangan apa-apa. Proses keuangan jalan seperti itu. Kesal mereka sama saya.

Tetapi saya bikin, sehingga mereka tidak lagi kesal sama saya. Kalau kerja di pemerintahan itu, kita punya yang namanya honor-honor. Banyak honor-honor yang saya terima. Honor ini, honor itu. Gaji saya cuma Rp8,6 juta dulu. Tetapi honor saya bisa mencapai Rp200 juta per bulan. Ini yang sebenarnya. Cek semua bupati dan gubernur, seperti begitu mereka. Jadi bohong kalau kita gajinya kecil. Non sense. Honornya besar.

Karena itu saya rombak apa yang ada di Gorontalo. Saya kumpulkan semua honor-honor, dapat uang Rp6 miliar lebih per tahun. Uang ini saya bikin insentif. Siapa yang bekerja rajin di dinasnya, dapat yang namanya bonus. Jadi orang-orang senang sama saya.

Nah, dulu kan hanya jalur basah. Gubernur dapat bantuan dari pemerintah pusat, Menteri Kelautan dan Perikanan bikin proyek di Gorontalo. Katakan proyek pengembangan rumput laut. Anggaran diberikan Rp1 miliar.

Gubernur punya tugas pertama kali apa? Kepala dinasnya bikin surat ke gubernur, untuk membuat panitia atau tim untuk itu. Maka berapa honornya? Kepala proyeknya dapat honor katakanlah Rp2 juta. Kepala dinas naik, Rp 3 juta. Naik ke sekda, Rp5 juta. Wagub dapat Rp10 juta, Gubernur Rp15 juta. Itu sudah birokrasi. Ke bawah, dapat lagi. Itu di samping gaji yang ada. Itu kan non sense. Nggak perlu, saya bilang. Saya hapus semuanya. Uang itu dikumpulkan.

Sekarang ini pun, di kementerian saya, ada seperti ini. Sekarang ini sedang saya inventarisir semuanya. Saya kumpulkan uang itu, saya bikin tunjangan kinerja di Gorontalo. Ribut, Menpan menegur saya, Mendagri memanggil saya. Apalagi yang kita bikin? Kok ada orang, gajinya cuma Rp3,5 juta di Gorontalo, dia bisa dapat sampai Rp9 juta? Maka ada beberapa orang yang saya pindahkan dari Sulsel, dari Jakarta, mereka senang. Hal itu jelas bikin ribut. Akhirnya, lama-lama, sekarang semua daerah boleh bikin begitu. Namanya tunjangan kinerja.

Untuk reformasi teknologi informasi, kita bikin mobile government (pemanfaatkan teknologi komunikasi untuk koordinasi dan pengendalian); e-procurement untuk pengadaan barang dan jasa; serta e-goverment dan networking. Kita bikin mobile goverment, dan tanpa ini tidak bisa.

Untuk e-procurement, contoh kasus di pemerintah daerah, di 5 pemerintahan daerah. Contohnya di Gorontalo, pembelian produk komputer, karena makin banyak ketemu orang, kemungkinan korupsi semakin besar.

Ini juga yang kita bikin—deregulasi, dengan membuat perda, pergub, surat edaran sekda tentang pengelolaan keuangan daerah.

Deregulasi kita bikin karena semua orang tidak tahu, mana yang oke, mana yang no, yang ragu-ragu besar. Itu di pemerintahan. Jadi yang ragu-ragu ada di daerah abu-abu. Korupsi terjadi di sini. Karena grey area itu, KPK masuk. Seharusnya tidak boleh. Grey area itu harusnya kecil. Karena itu, grey area dipersempit (pada 2007), dan hanya gubernur yang mengambil kebijakan.

Hasil yang diraih, ini yang kita bikin bagaimana orang miskin paling cepat di Indonesia turun di Gorontalo. Ketika itu, nilai tukar petani pun demikian bagus—makin hari makin tinggi.

Saya bikin pemetaan daerah. Ini baru sekarang saya usul ke Presiden. Jadi ketika kita ingin mengubah secara utuh cara kita bekerja. Tujuan kita agar orang miskin cepat kita selesaikan. Sekarang kita bangga mengatakan Indonesia berpendapatan 3.000 dolar per kapita. Betul. Ribut di media massa. Siapa yang dapat 3.000 dolar? Rakyat masih miskin di mana-mana. Dia kritik, kritik, kritik. Akhirnya kita, pemerintah merasa, boikot saja itu pers. Boikot, diributin lagi sama persnya.

Karena sebenarnya adalah, kita tidak merasakan persoalan orang miskin yang di bawah. Maka Presiden membuat enam inisiatif ini sekarang. Ini benar-benar mau menyerang. Ini Pak SBY yang bikin sendiri, setelah melihat kritikan yang ada.

Untuk bikin ini (pemetaan daerah), nilainya Rp5 miliar. Pemerintah tidak punya duit. Saya suruh UNDP yang membayari. UNDP punya model untuk mengukur semua daerah/ wilayah itu maju dari HDI (Human Development Index).

Saya ketika itu mewakili Pak Gubernur DKI pertemuan di Lisboa, di Spanyol. Kita membicarakan soal local government. Mereka ungkapkan teori itu. Saya bilang, saya datang ke chairman-nya. Dia bilang, “Ah, excellence theory. I really like it very much.

Saya bilang saya pernah baca bukunya. Dia bilang, bikin dong di Indonesia. Saya bilang saya bisa membuatnya di Indonesia. Dia tanya, di mana? Saya bilang, “My territory, in Gorontalo.” Langsung dia bikin surat, dan kita bikinlah di Gorontalo. Jadi kita petakan di mana daerah miskin, ada berapa orang miskin—sampai-sampai saya punya buku tentang siapa orang miskin dan dimana orang miskin. Maka akibatnya pertumbuhan ekonominya bagus, kita tahu pengukuran orang miskin yang ada.

Dulu di Gorontalo itu, opini keuangan adalah disclaimer di Gorontalo. Sama seperti ketika saya berada di Kementerian Kelautan dan Perikanan—keuangan di kementerian saya itu disclaimer. Saya bilang sama mereka—saya kumpulkan semua Irjen dan Sekjen—saya bilang, “Hei, saya malu kerja menggunakan uang rakyat yang begitu besar di sini, Rp3 sekian triliun, terus nggak karu-karuan laporan dari BPK. Saya nggak mau kerja seperti ini. Saya minta agar supaya kita rombak.”

“Iya, Pak Menteri. Kita bikin bertahap,” katanya.

“Bertahap apa? Nggak ada begitu-begitu sama saya,” kata saya.

“Susah, Pak.”

“Apanya yang susah?” saya bilang. “Nggak ada susahnya. Kalian saja malas bekerja.” Saya bilang begitu. Saya panggil Irjennya. “Dan kalau mau malas, nggak mau kerja, saya beri waktu 3 hari, bikin surat pengunduran diri,” terus terang saya bilang.

Datang ke saya, empat orang ragu-ragu. “Silakan pindah, saya ambil orang lain.” Saya ambil orang BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) masuk. Nggak sampai setahun, kita dari disclaimer, saya terima dari Pak Freddy Number, laporan keuangan yang kemarin saya bilang wajar, dengan pengecualian karena aset-aset belum beres. Tahun ini, saya bilang laporan yang kemarin, tahun 2010, sudah wajar tanpa pengecualian. Tuh kan, kita saja yang nggak mau, supaya gampang, buang uang. Nggak mau saya.

Di Gorontalo sama-sama, begitu. Saya bikin, saya mulai Gubernur pada 2001. Pada 2003, laporan keuangan saya sudah wajar tanpa pengecualian. Pada 2004, 2005 juga begitu. Kemudian hari ini, ada masalah DPR. Maka saya nggak mau menyelesaikan masalah mereka. Mereka bikin macam-macam—saya bilang, nggak mau saya. “Kalian punya masalah, selesaikan sendiri.” Karena saya ingin memberikan pendidikan kepada mereka, bahwa “you are part of the goverment. Kalau kalian ada masalah, kalian tanggung jawab.

Karena itu, sempat ribut di Gorontalo. “Berarti kita nanti tidak pilih kamu,” kata mereka.

“Boleh, nggak pilih saya,” saya bilang. “Saya tidak jadi gubernur lagi tidak apa-apa.” Itu menjelang pemilihan gubernur di sana. “Nggak apa-apa. Nggak usah pilih saya. Saya nggak jadi gubernur lagi, nggak apa-apa. Tetapi rakyatnya meminta. Akhirnya, kan saya ketua partai juga. Saya ketua Partai Golkar di daerah. Bilang apa kalian?”

Bahkan dulu, saya usul, silakan siapa yang mau maju. Saya bilang, “Saya tinggalkan Gorontalo nanti.” Hampir sekitar 2 bulan saya tinggalkan Gorontalo. “Silakan kalian cari orang lain.” Saya pulang, saya istirahat di Jakarta. Akhirnya tiba pemilihan.

Saya cuma dua kali kampanye. Yang pilih saya ada sebanyak 82,3 persen. Hampir semua rakyat Gorontalo memilih saya. Award saya dapat pernah dapat dari BPK, pada tahun 2006. Saya dapat penghargaan yang tertinggi dari BPK.

Yang saya ingin katakan pada akhirnya, adalah bahwa pemerintahan itu bisa. Kita mesti mengatakan, “We run goverment as a public sector.” Kalau kita mengatakan public sector, maka dia tidak beda jauh dengan menjalankan corporate. Tidak semata-mata birokrasi saja. Maka di pemerintahan saya sekarang juga, saya pun ubah semuanya. Jadi, terus kita berusaha agar ada spirit entrepreneur masuk ke dalam pemerintahan. Itu intinya. Spirit entrepreneur ini ada dimana-mana. Intinya adalah, kita mesti berbuat sesuatu untuk kepentingan rakyat. Kalau tidak, ya nggak usah.

Saya pun sekarang mau menjadi menteri, capek-capek menjadi menteri hanya untuk—tujuan saya adalah saya ingin memberikan pelayanan kepada rakyat. Saya ingin berbuat sesuatu untuk kepentingan rakyat. Jadi harus mindset kita ke sana arahnya. Sama halnya seperti kita bekerja di corporate. Dia bekerja keras, berbuat sesuatu, nanti dia mendapatkan profit, deviden. Deviden saya di sini adalah kepuasan rakyat.

Foto: www.pelitaonline.com

 

Tuesday, 20 December 2011 15:02 | Written by Restituta Arjanti

Fadel Muhammad Bicara tentang Entrepreneurial Public Service

 
www.stisitelkom.ac.id www.di.stisitelkom.ac.id www.ktm.stisitelkom.ac.id
www.dkv.stisitelkom.ac.id www.dp.stisitelkom.ac.id www.srm.stisitelkom.ac.id
www.blog.stisitelkom.ac.id www.multimedia.stisitelkom.ac.id
www.elearning.stisitelkom.ac.id www.library.stisitelkom.ac.id
www.repository.stisitelkom.ac.id www.cloudbox.stisitelkom.ac.id
www.digilib.stisitelkom.ac.id www.mirror.stisitelkom.ac.id
www.sisfo.stisitelkom.ac.id www.hilfan.blog.stisitelkom.ac.id
www.telkomuniversity.ac.id www.stisitelkom.academia.edu
www.kuningmas-autocare.co.id www.usnadibrata.co.id www.askaf.co.id www.hilfans.wordpress.com www.hilfan-s.blogspot.com www.profesorjaket.co.id