Dialog Kepemimpinan Bersama Dahlan Iskan

Source : http://leadershipqb.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1822:dialog-kepemimpinan-bersama-dahlan-iskan-dirut-pln&catid=39%:betti-content&Itemid=30

 

Dialog kepemimpinan bersama dahlan Iskan dilakukan pada Senin, 28 Februari, pukul 19:00 -22:00, di mailing list Senyum-ITB@yahoogroups.com.

Profil Dahlan Iskan:
Dahlan Iskan lahir pada 17 Agustus 1951 di Magetan, Jawa Timur. Ia adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos News Network, yang bermarkas di Surabaya. Ia menjabat Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009.

Karir Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda, Kalimantan Timur pada 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sejak 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos.

Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos, yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar dalam waktu 5 tahun.

Lima tahun kemudian, terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, yang memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada 1997, ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta.

Pada 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru. Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan Presiden Direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta, yakni PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya. Sejak akhir 2009, Dahlan diangkat menjadi Direktur Utama PLN, menggantikan Fahmi Mochtar. (Sumber: Wikipedia.org)

TANYA JAWAB

Betti Alisjahbana, AR-79:
Terima kasih telah bersedia menjadi tokoh tamu Dialog Kepemimpinan di milis Senyum-ITB, milisnya Alumni ITB. Ketika Bapak diangkat untuk menjadi Direktur Utama PLN pada 23 Desember 2009, banyak sekali tantangan yang harus segera di hadapi. Padahal Pak Dahlan adalah orang luar yang kehadirannya disambut dengan pro dan kontra di PLN.

Bisakah diceritakan pendekatan apa yang Bapak terapkan pada waktu itu untuk dapat secara cepat menguasai situasi? Lalu apa yang Bapak lakukan untuk merebut kepercayaan orang-orang yang Bapak Pimpin. Apa yang menjadi prioritas untuk dibenahi terlebih dahulu pada saat itu? Bagaimana hasilnya sejauh ini?

Dahlan Iskan:
Sikap saya terhadap penolakan waktu itu biasa-biasa saja. Saya sepenuhnya memaklumi sikap mereka dengan berandai-andai bahwa kalau saya jadi mereka mungkin juga akan melakukan yang sama. Saya juga tidak menentukan usaha tertentu untuk merebut kepercayaan. Saya kerja biasa saja.

Siapapun tahu prioritas apa yang harus diperbuat: mengatasi krisis listrik dan pemadaman bergilir. Kami sepakati semua itu harus selesai dalam waktu enam bulan. Ketika program ini berhasil, kepercayaan diri teman-teman di PLN meningkat drastis. Momentum inilah yang kemudian membuat semua orang PLN percaya kepada kemampuan dirinya. Karena itu teman-teman langsung menetapkan target berikutnya: melayani penyambungan satu juta dalam sehari. Ini karena daftar tunggu sudah sangat panjang (jutaan) dan mereka sudah menunggu listrik bertahun-tahun.

Djoko Purwanto:
Persoalan kelistrikan di Indonesia sudah terasa semakin membebani atau barangkali lebih tepat menghambat pertumbuhan perekonomian nasional sejak 8-10 tahun yang lalu, yaitu pada saat bapak menjadi wartawan yang pasti sangat kritis meliput, menganalisa, mengomentari serta membuat berita-berita tentang kinerja Direksi PLN dalam hubunganya dengan regulasi dari Kementrian ESDM maupun perundang-undangan yang disahkan oleh DPR.

Saat ini, setelah 1 tahun bapak memangku jabatan sebagai Direktur Utama PT PLN, bagaimana pendapat bapak tentang berita-berita yang diterbitkan oleh Pers tentang kinerja Direksi PLN saat ini. Apakah proporsional? Apakah para wartawan memahami permasalahan yang sebenarnya terjadi?

Apakah Regulasi yang ditetapkan oleh Kementrian ESDM maupun Perundang-undangan yang disahkan oleh DPR benar-benar merefleksikan kebutuhan yang dapat mendukung kinerja PLN dalam menjawab persoalan kelistrikan nasional? Apakah kita semua benar-benar memahami persoalan kelistrikan nasional yang sebenarnya terjadi saat ini?

Salah satu upaya penanggulanagan kelangkaan listrik, Pemerintah memberi peluang kepada pihak Swasta melalui program IPP. Akan tetapi dalam penetapan Tariff jual-beli listrik PLTU batubara misalnya, PLN terlihat mengambil patokan biaya investasi dengan menggunakan harga-harga referensi peralatan buatan Cina. Padahal kita ketahui tingkat keandalan operasi (Boiler) nya rata-rata dibawah 80%. Apakah hal ini tidak berarti sengaja memindahkan resiko kerugian kepada pihak swasta karena akan tidak mampu mencapai target produksi, dan konsekwensi selanjutnya adalah tetap tidak mampu memberi solusi bagi penyelesaian persoalan kelistrikan nasional.

Pembangkit listrik di Cina pada musim dingin juga menjual steam sebagai media pemanas disamping menjual listrik, sehingga rata-rata PLTU di Cina memiliki Boiler dengan kapasitas 150% dari kebutuhan pembangkit. Dengan demikian keandalan operasi PLTU disana dapat mencapai lebih dari 90%. Bagus, namun artinya Tariff listrik PLTU swasta di Indonesia harus dirumuskan kembali atau disesuaikan. Mohon komentar Bapak.

Dahlan Iskan:
Setelah satu tahun di PLN, saya ini kadang malu: kok asyik banget! Seperti saya ini sangat menginginkan jabatan ini. Keasyikan saya itu karena begitu banyak tantangan yang ternyata bisa diselesaikan oleh tim PLN satu persatu. Mulai dari krisis listrik se indonesia, daftar tunggu yang jutaan sampai ke pasokan untuk kalangan bisnis.

Soal pemberitaan, rasanya masih proporsional. kepada teman-teman PLN saya selalu mengatakan jangan reaksioner terhadap berita yang kritis kepada PLN. Humas saya minta juga jangan menutup-nutupi. Tidak ada pilihan lebih baik untuk menghindari berita yang kritis itu kecuali memperbaiki kinerja. daripada sibuk membantahi atau menutupi berita kritis lebih baik menggunakan energi untuk memperbaiki kinerja.

Soal listrik swasta, sekarang ini sudah mencapai kira-kira 18% dari seluruh kapasitas pembangkitan di indoensia. saya berpendapat sebaiknya peranan swasta ini dibatasi sampai kira-kira maksimal 40%. Jangan sampai menjadi mayoritas. Pengalaman negara lain, yang listriknya didominasi swasta harga listrik cenderung tidak terjangkau oleh masyarakat dan akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi. Kecuali kelak, kalau kita sudah menjadi negara maju.

Das Albantani, AR-95: 
Ada yg menjadi kegelisahan saya sebagai warga Indonesia yg mempunyai potensi sumber energi terbarukan luar biasa sekali, tapi mengapa kebijakan pemerintah tentang kebutuhan listrik ini belum atau bisa dikatakan terlambat untuk mengoptimalkan potensi tsb, kebetulan saya ada di Banten dan saya lihat sedang dibangun sumber listrik yg memakai bahan batu bara yang termasuk ke dalam sumber energi kotor, kenapa tidak dibangun saja sumber energi dari tenaga angin, matahari atau gelombang, apa kendalanya? Terima kasih atas kesempatannya

Dahlan Iskan:
Ini tentu karena batubara masih menjadi sumber listrik paling murah. Kalau kelak batubara sudah mahal, mau tidak mau kita akan meninggalkan batubara. Listrik dari batubara harganya sekitar 800,-/kwh, sedang dari geothermal (menurut ketentuan baru) 900,-/kwh. Sedang dari tenaga matahari masih jauh lebih mahal. Kelak kalau teknologi sudah lebih maju barangkali matahari akan lebih murah.

Meski begitu kita terus mengembangkan geothermal, dan kita rencanakan di tahun 2014 sudah mencapai 4.000 mw. kalau target ini tercapai Indonesia sudah menjadi juara pertama negara yang menggunakan geothermal terbanyak. PLN juga sudah selesai membuat program lima pulau terkemuka di dunia untuk 100% menggunakan tenaga matahari (Bunaken, Wakatobi, Banda, Derawan dan raja Empat). Tahun ini diprogramkan 100 pulau kecil sudah harus 100% tenaga matahari. Tahun depan kalau bisa 1.000 pulau. Begitu seterusnya.

Dewi, IF-95:
Kabarnya Bapak mampu membuat PLN yg tadinya merugi, sekarang dapat menuai untung. Apa saja yang Bapak lakukan dalam mengubah keadaan menjadi PLN untung? Apakah dgn menerapkan sistem voucher adalah langkah utk menuju untung? Dan bagaimana bapak mengatasi kebocoran listrik?

Oh ya Pak Dahlan, satu lagi, bagaimana PLN menangani pemadaman listrik bergilir? Dan kapan PLN berencana untuk zero pemadaman?

Dahlan Iskan:
Tidak benar saya berhasil membuat PLN untung. Laba PLN saat ini bukanlah laba yang sebenarnya. Ini laba yang dibuat “harus”. Kalau PLN tidak laba tidak akan dapat pinjaman, he he.

Kapan zero padam? Rasanya masih jauh. Target teman-teman PLN tahun ini adalah mengalahkan Malaysia. Konkritnya lagi, listrik Jawa harus mengalahkan Malaysia peninsula. Listrik Sumatera harus mengalahkan Serawak. Listrik Indonesia Timur harus mengalahkan Sabah.

Apa ukurannya?  Kalau di Jawa mati lampunya 9 kali per pelanggan per tahun, itu sudah mengalahkan Malaysia. Kalau akhir tahun ini program mengalahkan Malaysia sudah berhasil, tahun depan kami cari lagi negara mana yang harus kami loncati. Saya kira masyarakat belum terlalu berharap listrik di Indonesia bisa zero padam, karena hal itu akan sangat-sangat mahal investasinya. Tapi kalau bisa mengalahkan Malaysia, saya kira rakyat kita sudah cukup senang (sementara….)

Ahmad Zoelkarnaen, AR-87:
Sudah diketahui bahwa daerah kami Lampung sangat tekor daya listrik. Beberapa investor sdh serius mulai bergerak berminat serius untuk melakukan investasi pembangunan pembangkit listrik tenaga air (mini hydro plant) dan tenaga angin. Tetapi tetap ada rasa kekhawatiran kami bahwa pihak PLN tidak mau membeli daya listrik yang dihasilkan mrk kelak, atau tidak mau membeli dengan harga yang wajar, sehingga mrk akan urung berinvestasi, sementara pihak PLN sendiri tidak mampu secara cepat menutup celah kekurangan daya tsb.  Bagaimana pendapat Bapak tentang hal ini?

Dahlan Iskan:

PLN pasti beli listrik PLTM, apalagi di Lampung. Harganya pun sudah sangat bagus kan? Sudah sekitar 800,-/kWh. Tolonglah segera bangun dan kami akan sepenuhnya membantu. Memang untuk PLTM masih harus ada ijin dari menteri, tapi kami lagi merumuskan usul agar untuk PLTM tidak perlu serumit itu.

Hercules:
Senang mendengar Bench marking-nya. Itu baru dari sisi availability-nya terhadap yang sudah tersambung. Bagaimana dengan availability nya secara keseluruhan?
Sebagai Contoh, di Balikpapan, banyak sekali yang belum tersambung listrik (availability-nya 0?), padahal di situ gudang nya energy.
Bapak kan dari Kaltim sebelumnya. Apa permasalahannya? Apakah tidak bisa di beri sambungan semuanya khususnya di kota2 besarnya?

Dahlan Iskan:
Kaltim itu menjadi contoh terbunuhnya akal sehat selama puluhan tahun. Energi apa saja ada di situ, tapi krisis listrik yang amat berat. Batubara yang murah diekspor luar biasa, tapi semua pembangkitnya pakai BBM yang begitu mahal. Karena itu, sebelum masuk PLN, saya sering mengatakan bahwa kalau ada instansi yang paling saya benci, maka nomor satu adalah PLN!

Di Balikpapan kini sedang dipersiapan pembangunan PLTU 2 x 100 MW (sudah selesai tender, dananya juga sudah ada, tinggal memulainya, mungkin akhir Maret depan). Lalu beberapa PLTU lagi sedang diproses tendernya. Tapi semua itu memakan waktu dua tahun.

Di belahan utara, kami baru saja dapat gas kecil dari Medco, gas ini akan kami pakai untuk membangkitkan listrik di utara, lalu akan kami bangun kabel bawah laut ke Nunukan, lalu dengan kabel bawah laut lagi ke Sebatik. Semoga tahun depan pulau sebatik (yang separonya milik Malaysia itu) bisa lebih terang dari wilayahnya Malaysia. Masih terlalu banyak yang harus diperbuat di Kaltim. Maret ini saya ke sana untuk memulai proyek itu….

Ary Suhendro:
Dalam RUPTL PLN 2010-2019 tertanggal 8 Juli 2010, terdapat beberapa proyek strategis untuk PLTGU, PLTU dan PLTA. Dalam perjalanan waktu, nampak PLTP yang semula terkendala, kemungkinan tanggal 11 Maret 2011 akan ada angin segar (jika jadi ditandatangani “sesuatu”).
Mengingat PLTP termasuk pembangkit ramah lingkungan, dan Indonesia mempunyai cadangan panas bumi terbesar di dunia, rencana Bapak terhadap PLTP ini bagaimana?

Moga-moga Bapak bersedia memberikan perhatian lebih untuk PLTP. Moga-moga Bapak bersedia mengawal perjalanan (relative) awal PLTP ini. Moga-moga PLTP dapat membantu program Fast Track tahap kedua Bapak.Kami doakan Bapak selalu sehat, sehingga bisa berkontribusi aktif dalam kelistrikan di Indonesia.

Dahlan Iskan:
Kami memang menargetkan tanggal 11 Maret ini ada 5 kontrak Geothermal yang harus kami tandatangani. Semua upacara itu ingin kami laksanakan di makamnya Pak Vincent Raja, yakni tokoh Geothermal PLN yang juga alumni terkemuka ITB. Maksud kami menghargai almarhum yang berjuang keras mewujudkan Geothermal, tapi sampai beliau wafat belum terwujud.

Kami bersumpang untuk mewujudkan PLTP ulumbu di kampung halamannya itu sebelum natal tahun ini, sebagai hadiah natal bagi warga Flores. Sekarang ini, PLN sedang nginul (maksud saya sedang ngebor) Geothermal di Tulehu, Ambon. Mestinya Geothermal ini dibiayai oleh ADB, tapi karena kelamaan, maka saya putuskan dibiayai PLN sendiri, agar lebih cepat. Hari ini pengeborannya sudah mencapai 900 meter. mohon doa restu.

Masrizal Umar:
Terima kasih untuk kesediaannya berbagi ilmunya dengan kami. Pertanyaan saya:

  1. Menurut saya, Bapak termasuk salah satu Pathfinding Leader atau Cracker di Indonesia dan Calculated Risk Taker, Bagaimana Strategy Bapak untuk menyiapkan Leader2 baru di PLN, sehingga selanjutnya CEO PLN bisa dari Internal tetapi memang credible dan layak bukan hanya masalah senioritas saja? Seperti yg sudah dilakukan GE dengan GE University-nya.
  2. Trend dunia sekarang adalah menggunakan “Clean dan Sustainable Energy” salah satunya adalah PLTP atau Panas Bumi, tetapi kalau dilihat kontrak2 yang baru masih dominan dengan PLTU dgn Bahan Bakar Batu Bara. Kapan prosentase PLTP bisa lebih dari 50% dari source mix yg digunakan utk pembangkit.
  3. Apakah Bapak setuju dan ada rencana untuk menggunakan PLTN? Kalau iya kapan?
  4. Apakah Bapak bersedia jika dicalonkan jadi Calon Presiden atau Wapres?

Terima kasih dan semoga Bapak senantiasa sehat.

PS: Sejak Bapak jadi Dirut, Listrik di kompleks saya sdh jarang sekali byarpet kecuali faktor alam (badai atau banjir). Terima kasih, Pak. Mohon izin Blog-nya saya buat link ke Blog saya.

Dahlan Iskan:
Terus terang, di antara direksi sekarang setidaknya ada tiga yang pantas jadi Dirut PLN. Tidak perlu saya. Mereka hebat-hebat. Jadi besok pagi pun, misalnya saya berhenti dari PLN tidak perlu dikhawatirkan.

Kini kami sedang menjalankan program menyiapkan level kedua. Hampir selesai juga sehingga sudah mulai membicarakan penyiapan level ketiga, sambil kami sudah sepakat untuk melakukan percepatan naiknya golongan yang lebih muda. Kami sepakat hanya anak muda yang bisa membuat kemajuan.

PLTN, sepenuhnya saya setuju. Tinggal secara komersial memang masih lebih mahal dari sumber lain. “Salah kita” adalah kita punya banyak batubara, geothermal dan air yang jauh lebih murah dari nuklir. Tapi kalau tidak sekarang memulai, kita akan ketinggalan manakala di kemudian hari tiba-tiba kita harus bernuklir-ria.  Saya usul agar proyek PLTN pertama sebaiknya hasil kerjasama antara Insdonesia-Singapura-Malaysia. Akan tidak “bising” di bidang percaturannya. Kita cari lokasi yang bisa diterima ketiga negara itu. Dari  pada kita kerja sendiri tapi dimusuhi banyak orang…..

Yayuk, FI-76:
Mohon maaf, Pak. Mungkin perlu dilakukan pengecekan ke lapangan.

  1. Untuk listrik tenaga matahari yang ada di pulau bunaken dan wakatobi tidak berjalan mulus. Terakhir kami kesana (rekreasi – diving september 2010 dan januari 2011), semua. Resort dan juga penduduk desa membayar iuran listrik pakai tenaga genset, yang bising sekali bunyinya dan hanya sampai jam 6 sore. Jam 6 sore, tidak ada listrik sama sekali.
  2. Saya ingin bertanya, Pak. Apakah bapak mentargetkan besaran revenue di kantor2 cabang PLN ? Hal ini karena banyak sekali kejadian mirip yang berlangsung dalam 1 tahun terakhir ini. Saya dan juga ada 3 teman saya mengalaminya. Kami beli rumah dan baru tinggal rata2 6 – 12 bulan. Tiba2 kedatangan petugas PLN yang menyatakan meter PLN rusak, dan harus diuji kalibrasi ke sunter ( teman saya lainnya ke bSD – dekat rumah msg2). Hasil dari kalibrasi yang kami tdk pernah ketahui prosesnya, adalah form yang harus di-ttd oleh kami. Denda sebesar 17 juta, teman saya 37 juta, dan yang lainnya ada yang 24 juta. Kalau tdk dibayar maka listrik akan dipadamkan.. Memang pihak PLN memberikan kebijaksanaan cicilan, tetapi 20% harus dibayar didepan dan harus cash (agak aneh ini).

Sebagai pelanggan yang tdk punya alternatif lain, juga malas debat bolak balik ke PLN, kami terpaksa terima, padahal kalau dihitung tinggal 6 bulan dng bukti berupa akte jual beli rumah. Tdk mungkin kena beban 17juta.

Mohon klarifikasi Bapak utk kasus yang terjadinya hampir serentak ini tetapi pada lokasi yang berbeda-beda. Mohon maaf jika tidak berkenan.

Dahlan Iskan:
Kalau Anda ke Wakatobi dan Bunaken bulan september (SAYA JUGA DI SANA BULAN ITU, tapi untuk rapat dan tidak sempat menyelam, sayang…) rasanya tidak mungkin kalau Anda bisa melihat PLTS kami di sana. Bulan September itu baru proses tender. Pemasangan baru dilakukan bulan Desember. Sekarang sudah selesai tapi masih dalam tahap evaluasi, apakah masih ada kekurangan.

Soal yang kedua, saya belum bisa menjawab karena harus bertanya dulu kepada bagian itu. Maafkan atas kurang menguasainya persoalan ini.

Jalal Umaruddin:
Walaupun belum pernah ketemu secara langsung dengan Pak Dahlan, Tapi sangat bahagia bisa bertemu dalam diskusi virtual ini, semoga hari esok bisa bertemu.

Saya sering mengikuti artikel-artikel yang Pak Dahlan tulis, tentang ekonomi Global dan Nasional, tentang perjalanan gaya kepemimpinan yang Bapak instal di PLN sejak pertama sampai sekarang. Sungguh luar biasa, Kalau saya Presiden, saya ganti semua Dirut BUMN dengan karakter kepemimpinan seperti yang Bapak miliki (*untuk Indonesia saat ini).

Pertanyaan saya:

  1. Kenapa Indonesia tidak segera beralih ke PLTN? Secara ekonomis padahal per-unit energi MegaWattHour(MW) dibutuhkan biaya yang lebih kecil.Kalaupun LSM yang menjadi kendala karena menakutkan akan terjadi kecelakaan, Saya yakin ketika PLN mengajak diskusi secara terbuka dengan dengan LSM-LSM tersebut. Dan PLN berkomitmen untuk menjaga satefy dengan perjanjian di depan masyarakat banyak. Saya yakin mereka akan menerima.
  2. Sekitar 1,5 tahun yang lalu, Saya berdiskusi dengan Tenaga Ahli BP (British Petroleum) dalam feasibility study Lapangan Gas TANGGUH di Perairan Papua. Betapa kecewanya Saya melihat list nama calon konsumen gas tidak ada PLN. Konsumen terbesar Perusahaan Listrik Negeri Jepang. Padahal biaya produksi listrik per-unit energi dengan menggunakan LNG bisa 6 kali lebih murah dibandingkan dengan solar. padahal kita sudah banyak kecolongan dengan MOU penjualan gas di lapangan-lapangan gas seperti Arun (Aceh), Bontang (Kalimantan Timur) dll. Sedangkan Negara-negara lain importir LNG Indonesia bisa menyediakan Listrik dari LNG Indonesia yang sangat murah. Bagaimana Bapak Dahlan menanggapi hal ini?

Dahlan Iskan:
Kami juga menyesal mengapa PLN tidak dapat jatah gas dari Tangguh. Tapi semua itu sudah berlalu. Menyesalinya hanya membuat tidak akan bisa bekerja. Belajar dari situ, saya ngotot agar gas Donggi Senoro dijual ke PLN 100% dengan harga komersial. Tapi saya masuk ke PLN sudah terlambat, karena sudah terjadi kontrak. Kini kami lagi berjuang agar ijin LNG Sengkang bisa segera diterbitkan. Ini akan baik untuk mengganti BBM di Ambon, Lombok dan seterusnya.

Soal PLTN sudah saya jelaskan di email kepada rekan yang lain. Terima kasih atas dorongan LNG ini.

Sidik Permana:

  1. Terkait diversifikasi energi, menurut bapak potensi energi baru dan terbarukan di Indonesia untuk memenuhi prediksi defisit listrik Indonesia idealnya seperti apa, kontribusi idealnya dari resource yang ada?
  2. Tekait dengan kasus export batu bara dan kekurangan pasokan dalam negeri untuk PLN khususnya bagaimna pandangan bapak? apakah perlu menstop export atau mengurangi sampai batas equilibrium export ratenta ataubagaimana?
  3. Apakah mungkin kedepan karena potensi energi baru dan terbarukan penting, PLN menjadi promotor utama dan menjadi  punya anak perusahaan pengembangan potensi itu. Apakah concern PLN juga bagi pengembagan teknologi hemat energy.

Dahlan Iskan:
PLN sudah punya anak perusahaan di bidang geothermal, tapi memang masih kecil. Kelihatannya ke depan geothermal akan lebih banyak ditangani swasta dan Pertamina (karena dulunya, sesuai dengan peraturan yang berlaku waktu itu) wilayah geothermal itu menjadi hak Pertamina.

Kini wilayah geothermal (sesuai dengan peraturan yang berlaku sekarang) menjadi hak Pemda. Karena itu terserah Pemda untuk diapakan wilayah itu. Pemdalah yang harus melakukan tender dan dalam hal ini PLN tinggal menjadi pembeli listriknya.
Soal PLTN saya respons kepada rekan yang terdahulu.

Abdul Bari, GL-90:
Sebagai negara yang mempunyai potensi cadangan panas bumi dunia yang sangat besar (±40%).

  1. Apa rencana jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang untuk pelaksanaan penggunaan Tenaga Panas Bumi guna menunjang pemenuhan ketenagalistrikan di Indonesia?
  2. Dan apa langkah2 real yang sudah dilakukan?

Dahlan Iskan:
Sekali lagi bahwa wilayah geothermal itu kini (sesuai dengan UU yang baru) sudah menjadi milik Pemda. Sedang Wilayah yang lama, umumnya milik Pertamina. Kita doakan Pertamina segera membangunnya dan Pemda rajin membuka tender. PLN tinggal jadi pembeli listriknya. Kedengarannya agak ruwet ya?

Trias Adijaya:
Saat ini banyak perubahan energi green yang mengandalkan listrik sebagai sumber daya utama. Yang saya tau ada perusahaan mobil jerman terkemuka akan memproduksi mobil listrik pada tahun 2013 dan dapat digunakan sebagai pengganti mobil berbahan bakar fosil yang saat ini populer.

Pertanyaannya, apakah PLN sebagai pemasok listrik di Indonesia sudah siap dgn kemungkinan pertambahan kebutuhan seperti ini? Berapa asumsi pertumbuhan kebutuhan listrik per rumah tangga? Apalagi kalo jalan ke mall dng mudah dan murahnya kita bisa beli perlengkapan RT bertenaga listrik.

Dahlan Iskan:
Kami memang memimpikan PLN akan berperan besar dalam mengubah sifat lalu-lintas kita. Kami bayangkan suatu saat SPBU-2 itu berubah menjadi colokan listrik. Lalu, listrik di rumah-rumah yang kalau tengah malam tidak dipakai itu bisa dipakai untuk charging mobil/motor listrik.

Tapi semua itu jangan dilakukan tahun ini atau tahun depan. Masih terlalu banyak keperjaan yang lebih mendesak. Kalau hal itu bisa mulai diwujudkan tahun 2013, rasanya akan hebaaat…..

Susilo Cahyono:
Pak Dahlan senang dan terima kasih ada kesempatan berinteraksi dengan Bapak. To the point aja pak, pertanyaan saya:

  1. Bagaimana langkah pertama Bapak ketika memasuki dunia ketenagalistrikan yg benar2 baru dan dengan PLN yg punya handicap “rugi”, atau “utang numpuk” dll mengingat selama itu keberhasilan usaha bapak adalah di bidang yg sangat berlainan.
  2. Apakah menurut Bapak sistem pentarifan listrik PLN saat ini masih perlu dirasionalisasi, dirubah dan diperbaiki? Mengingat berbagai hal saat ini sudah sgt berbeda dg era lalu menyangkut bisnis ketenagalistrikan di era yg sangat kompetitif ini, juga peningkatan peranan swasta dlm usaha ketenagalistrikan yg mau gak mau restrukturisasi bisnis ketenagalistrikan juga berubah.

Terima kasih sebelumnya, dan selamat bekerja dan sukses, Pak.

Dahlan Iskan:
Memang saya tidak tahu apa itu listrik. Minggu pertama di PLN saya minta seorang manajer memberikan kursus kepada saya dengan judul: Apakah listrik itu? Saya sungguh menyesali diri mengapa dulu tidak punya kesempatan kuliah di Fakultas Elektro.

Soal pentarifan, setelah saya renungkan, sistem India yang terbaik. Di India akan komite non pemerintah yang menentukan tarif listrik. Komite itu beranggotakan tokoh-tokoh masyarakat. Jadi mereka yang lebih rasional dalam membela kepentingan rakyat sebagai konsumen dan kepentingan penyedia listrik. Dengan demikian sangat imbang.

Selama tarif listrik ditentukan para politisi sulit berharap listrik akan menjadi baik. Di India jalan tol pun tentukan oleh komite non pemerintah. Ini yang membuat pertumbuhan ekonomi India menjadi 9 % selama beberapa tahun terakhir. Tapi sampai akhir tahun ini saya belum akan berteriak soal ini. Lebih baik saya memperbaiki PLN dulu agar lebih effisien dan memenuhi harapan masyarakat.

Fik Ahmad:
Pak Dahlan, debat soal capping sempat ramai. Dulu bapak pengusaha pengguna listrik yg besar, sekarang pak Dahlan penyedia listrik dengan kondisi harga penjualan yang jauh dari memadai keekonomiannya.

Menurut Bapak bagaimana kebijakan listrik secara kesdeluruhan terkait harga dan ketersediannya? Apakah yang harus direvisi dari kebijakan saat ini?

Dahlan Iskan:
Saya memang punya pabrik kertas yang bayar listriknya waktu itu sampai Rp 12 miliar/bulan. Yang saya keluhkan bukan soal mahalnya, tapi seringnya padam/trip. Kerugian sangat besar karena sekali listrik mati atau trip menghidupkan mesinnya lagi perlu waktu enam jam.

Soal capping sudah selesai. Semua pengusaha sudah membayar listrik tanpa capping (sudah 100% membayar tangal 28 Februari hari ini).  Saya ngotot capping itu dicabut karena tidak masuk akal sehat. Rp 1,1 triliun subsidi hanya dinikmati oleh 304 perusahaan. Salah satunya perusahaan multinasional yang hebat yang labanya saja Rp 4 triliun setahun. Apakah yang seperti ini pantas dapat subsidi? Perusahaan itu sendiri tidak pernah minta dicapping, karena itu ketika capping dicabut tidak keberatan sama sekali. Mereka juga tidak ingin disubsidi karena memang mampu. Banyak penerima subsidi yang sebenarnya karena ditakdirkan “diberi”, he he.

Budiawan Butarbutar:
Pak, di milis sebelah pernah ada diskusi tentang teknologi pembangkitan yg relatif baru yg kabarnya jauh lebih murah, yakni CWS (coal water slurry). Walaupun baru tapi kabarnya di China sudah lebih 100-an PLTU di sana menggunalan teknologi CWS.

Tentunya PLN sudah mendengar dan mengetahui teknologi ini. Mengapa PLN belum menggunakan teknologi ini kabarnya karena ada mafia yg menghalanginya. Mafia yg mengejar rente batubara dan BBM.

Bagaimana menurut bapak dan direksi lainnya tentang pilihan teknologi ini? Dan bagaimana pula tanggapan bapak jika ada mafia yang mencoba menghalangi penggunaan teknologi ini.

Dahlan Iskan:
Itu bukan teknologi pembangkitan, tapi jenis bahan bakar. Pembangkit yang selama ini menggunakan gas atau BBM, dengan perubahan tertentu akan bisa menggunakan bahan bakar slury. Bahan bakar ini pada dasarnya batubara yang dilembutkan yang lembutnya mungkin melebihi lembutnya bedaknya Luna Maya he he…, lalu dicampuri kimia tertentu dan jadi barang cair berwarna hitam pekat.

Nah benda cair itulah yang dialirkan ke boiler untuk dibakar di dalam boiler. Kami sudah sering mendiskusikannya dan kini lagi menunggu pilot proyek yang baru akan selesai dua tahun lagi yang dikerjakan oleh investor dari Jepang karena itu memang teknologi mereka.

Abdul Manan:

Saya ingin bertanya tentang rahasia sukses bapak.Apa primary values bapak sehingga bapak kelihatan selalu berhasil didalam memimpin berbagai kegiatan usaha yang sdh dipimpin selama ini .Tks salam hormat.

Dahlan Iskan:

Tidak betul saya selalu berhasil. Banyak sekali perusahaan saya yang saya tutup karena gagal. Persoalannya, hanyalah karena saya sering diminta jadi pembicara seminar yang topiknya “Kiat Sukses Dahlan Iskan”. Judul itu panitia yang menentukan. Ini tidak fair. Seharusnya harus sering juga diadakan seminar dengan topik “Kegagalan-kegagalan Dahlan Iskan”. Sayangnya sampai hari ini belum ada panitia yang minta seperti itu. Kalau ada pun akan saya ceritakan semuanya.

Mulyanto M-76:

Acara yg menarik, selamat buat P Dahlan atas keterbukaan ini. Saya punya beberapa pertanyaan atau komentar sbb:

  1. Pada RUPTL yg baru, cukup banyak rencana pembangunan pembangkitan yg melibatkan nilai tidak sedikit. Bgmn mendorong industri lokal unt berperan. Industri lokal harus menanggung biaya bea masuk bahan, sedangkan import barang bea masuk bisa nol.
  2. Menurut informasi PLTU dari program percepatan 10 000 MW tahap pertama performance, reliability, waktu serta dukungan servis minim. Hampir seluruh PLTU tsb dari satu negara. Mengapa 10 000  tahap kedua juga tetap memakai dari negara yg sama.
  3. Selain geothermal, biomass dapat diprioritaskan 4. PLN bersama dg Pabrik gula dpt bersinergi unt program swasembada gula dan biomass, seperti Brazil

Dahlan Iskan:
Tolong diingat, saya ini DIRUT PLN yang tidak bisa bicara soal industri apalagi bea masuk segala, ha ha. Soal 10.000 yang pertama kami lagi kerja keras sekali untuk menambal di sana-sini, tapi yah dijalani saja, dinikmati saja. Soal mengapa dulunya begitu, yah apa perlu kita perdebatkan?

Yang 10.000 kedua sudah berubah total lho! Yang kedua itu 40%-nya GEOTHERMAL, selebihnya ditenderkan secara terbuka dari negara mana pun, termasuk karena di dalamnya lebih banyak milik swasta. Kita memang harus belajar dari pembangunan 10.000 tahap pertama. Inilah ongkos kuliah yang lebih mahal daripada kuliah di ITB.

Larasati, TK85:
Berkaitan dengan program 100 pulau yang akan menggunakan tenaga surya, apakah itu program PLN, atau melibatkan pihak swasta?

Dahlan Iskan:
Itu sepenuhnya program PLN tapi untuk pasok peralatannya ditenderkan. Sekarang ini di dalam negeri sudah ada sekitar 10 perusahaan pemasok tenaga surya. Bangga kami melihat perkembangan ini.

PLN akan terus mengembangkan pulau-pulau kecil itu karena selama ini pulau2 tersebut sangat sulit dilayani. Harga BBMnya mahal sekali dan sering tidak bisa diangkut ke sana, karena lagi musim gelombang, misalnya.

Karena itu kini kami menciptakan yang kami sebut “Sistem Listrik Kepulauan”. Ini untuk mengatasi tujuh propinsi yang memang propinsi kepulauan. Karena itu propinsi seperti NTT yang tahun lalu ratio elektrifikasinya baru 31% (terendah di Indoensia) akan langsung loncat menjadi 70% akhir tahun ini. Semoga berhasil dan membuat propinsi yang selalu tertinggal itu menjadi sesekali berada di depan.

Ismie:

Selamat malam Pak Dahlan, saya tertarik dg topik PLTU utk Kaltim padahal terdpt banyak batubara disana, ada yg menarik utk PLTU di Meulaboh tapi spec batubara Kalimantan ironinya di lokasi tsb juga ada batubara sehingga ada kemarahan masyarakat di daerah tsb. Mereka mengharapkan teknologi PLTU nya bisa memanfaatkan batubara lokal, bagaimana tanggapan Bapak dengan masalah ini?

Dahlan Iskan:
PLTU Meulaboh atau juga sering disebut Nagan raya itu baru jadi tahun depan. Di masa lalu memang sudah ditenderkan bahwa batubaranya dari kalimantan. Anda benar, bahwa di depan PLTU itu ternyata ada tambang batubara. Kini kami sedang mempelajarinya. termasuk bagaimana batubara setempat yang HGi-nya terlalu tinggi itu bisa dipergunakan di PLTU Meulaboh. Kita lagi cari teknologi yang bisa mengatasi HGI yang berlebihan itu. semoga berhasil.

Ricky Cahya Andrian, EL-97:
Kalo di PLN, Pak Dahlan Iskan ada program live chatting dengan para pegawainya apa bisa dilakukan hal spt ini?

Dahlan Iskan:

Saya sudah dua kali melakukan live chatting khusus untuk seluruh karyawan PLN. Yang pertama saya lakukan ketika saya berada di Palu untuk mengatasi krisis listrik yang luar biasa di sana. Kedua beberapa waktu lalu. Sebentar lagi bisa kita adakan lagi. Rame kok. Sampai jari ini rasanya seperti digigit semut.

Ayuhanif:

  1. Menurut Pak DI, adakah “kebohongan” yg dilakukan oleh pemerintahan SBY terkait dengan penyediaan energi listrik utk rakyat Indonesia?
  2. “Jika ada”, sejauh apa hal itu mempengaruhi kinerja PLN?

Saran:
ITB memiliki kelompok2 keahlian dan grup penelitian (research group) yang dapat ditingkatkan kualitasnya dalam menghasilkan inovasi pengayaan dibidang energi listrik. utk itu dibutuhkan kerjasama antara komponen2 penelitian di ITB tersebut dgn dunia usaha dan industri yg dalam hal ini PLN. saya ingin mendorong adanya kerjasama “program hibah penelitian di bidang energi listrik PLN-ITB” yang bertujuan:

  1. Mendorong terwujudnya kerjasama dalam pelaksanaan dan  pengembangan penelitian sesuai dengan kompetensi yang dimiliki ITB
  2. Pengelolaan dana penelitian secara optimal dalam grup penelitian yang berkualitas
  3. Pengembangan kerjasama dengan lembaga atau mitra di luar ITB, sehingga mampu menghasilkan penelitian yang bermutu dan berdaya saing tinggi. sekiranya, hal ini dapat diwujudkan dengan sinergis.

Ini saja yg ingin saya sampaikan. Terimakasih sebelumnya. Selamat berkarya, Pak DI.

Dahlan Iskan:
Saya belum mencermati itu. Saya sendiri punya prinsip yang bisa membedakan antara “program” dan “janji”. Program bisa meleset, bisa tidak tercapai, tadi tidak bisa disebut bohong. Sedang janji, kalau tidak dipenuhi, harus disebut bohong. Mungkin banyak yang mencampuradukkan antara “program” dan “janji”.

Dicky Gumirlang:

Bagaimana menurut bapak mengenai PLTN untuk opsi pemenuhan kebutuhan listrik kita? Apakah kita akan menuju ke sana, dan kapan? Atau bapak termasuk yang tidak setuju PLTN?

Dahlan Iskan:
Saya setuju kita memulai PLTN, tapi jangan dimaksudkan sebagai senjata mengatasi krisis listrik. Membangun PLTN itu perlu waktu lima tahun, kita keburu mati oleh krisis. Demikian juga dibandingkan dengan Batubara atau Geothermal masih terlalu mahal.

Karena itu kalau kita memasuki era PLTN harus dimaksudkan dulu sebagai upaya untuk menyiapkan diri agar jangka panjang kita siap melakukannya. Kita perlu masuk ke PLTN dengan tujuan agar SDM kita sudah mulai diberi kesempatan sejak sekarang.

Yusadana Made:

Menyimak peran orang muda di PLN, saya kebetulan karyawan bapak di PLN P3B Sumatera, sejak lulus kuliah dr ITB tahun 2002 langsung masuk PLN. Saya ingin menanyakan hal-hal apa sekiranya yg membuat bahwa diwaktu yg akan datang PLN akan menjadi perusahaan yg hebat dan disegani masyarkat Indonesia .

Dahlan Iskan:

Hari ini tadi kita rapat kerja. Di situ saya beberkan road map PLN ke depan, yang kata teman-teman sangat menjanjikan. Cobalah anda cari bocoran presentasi yang sudah disempurnakan oleh peserta raker itu. Kalau sulit dapat bocoran, Anda hubungi saya.

Daniel David:

Saya sangat tertarik dengan kalimat Bapak, yaitu kami sepakat hanya anak muda yang bisa membuat kemajuan. Pertanyaan saya, sejauh mana bapak memberikan kesempatan kepada yang muda2 untuk dapat berkembang dan membuat kemajuan di PLN, Pak?

Itu saja pertanyaan sederhana saya, Pak. semoga bapak diberikan kesehatan selalu oleh Tuhan. Amin. Sukses membawa perubahan bagi PLN dan Bangsa ini.

Dahlan Iskan:
Di perusahaan saya yang lama, hal itu bisa saya laksanakan dengan konsekuen dan total. Di PLN banyak sekali hambatannya, terutama hambatan prosedur. Misalnya seseorang untuk naik tingkat harus melewati banyak sekali syarat dan kriteria dan apa lagilah.

Sekarang persyaratan itu lagi dikurangi dan diperependek. Dari sembilan syarat (harus pernah jadi apa dan harus pernah ikut pendidikan apa), menjadi hanya empat saja. Semoga Anda belum keburu tua.

Saya sendiri ketika sakit selama tiga tahun menyerahkan kepemimpinan kepada anak muda yang baru 32 tahun. Selama saya tinggal sakit perusahaan ternyata terus maju dan tambah maju. Setelah saya sembuh, mau kembali ke posisi itu lagi menjadi malu, lalu saya tetapkan mengangur saja. Eh, ketahuan presiden dan jadilah Dirut PLN yang terlalu tua.

Ketut Wiyasa:

  1. Ketika saya bekerja di salah satu internet provider di denpasar Bali (sejahtera globalindo), perusahaan kami juga berlangganan backbone ke icon+ yang menghubungkan salah satu bts kami ke NOC nusa dua dan NOC nusa dua dan surabaya, availability cukup tinggi,support cukup bagus (boleh pinjam modem dlm keadaan darurat) walaupun masih office hour only, pertanyaan saya : kapan PLN menyediakan VAS (value added service) akses internet untuk pelanggan? Karena secara teknis implementasi tidak sulit) (istilah saya the sleeping giant) karena sudah leading di biaya kontruksi pekerjaan sipil yang meningkat seiring waktu sementara harga kabel dan peralatan makin murah. (Pengalaman kami tarik kabel optik dari nusa dua ke peti tenget)
  2. Bagaimana dengan perkembangan pembangunan PLTGU Telukan Bawang?

Dahlan Iskan:
Saya sih kepingin PLN fokus ke mengurus listrik. Tidak perlu ngurus yang macam-macam dan aneh-aneh.

Alma Adventa:
Semoga Bapak dalam keadaan sehat walafiat. Saya salut dengan usaha Bapak untuk membenahi PLN. Namun sayang sekali setelah 6 bulan target tidak ada pemadaman di daerah saya di Kalimantan Tengah pemadaman listrik masih sering terjadi dalam seminggu bisa dua sampai tiga kali (tidak jarang setiap 2 hari sekali) dan padam dalam jangka waktu yang lama bisa mencapai 6-8 jam.Sampai ada joke ini bukan pemadaman bergilir tapi penyalaan bergilir.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa di daerah yang merupakan salah satu produsen batubara, tidak ada satupun PLTU. Selama ini listrik Kalteng sangat tergantung dengan Kalsel. Dan sering terjadi PLTU Asam-Asam di Kalsel kekurangan batubara.
Kira-kira kapan PLTU Pulang Pisau bisa mulai beroperasi? Karena selama ini tambahan listrik di Kalteng diperoleh dari PLTD, padahal masyarakat sangat kekurangan solar (harus antri berjam-jam di SPBU).

Apakah ada rencana untuk membangun PLTU di daerah DAS Barito untuk memenuhi kebutuhan listrik yang sangat kurang di daerah yang notabene penghasil batubara ini?

Satu lagi pertanyaan saya, mengapa sangat sulit bagi masyarakat di Kalteng untuk mendapat sambungan listrik? Kadang harus harus main tembak sampai 7 juta untuk satu sambungan.

Demikian pertanyaan dan keprihatinan saya akan masalah listrik di Kalteng. Terimakasih untuk perhatian dan jawaban Bapak Dahlan Iskan. Semoga Tuhan menganugerahi bapak kebahagiaan dan kesehatan.

Dahlan Iskan:
Kalteng dan Kalsel memang sangat mengecewakan. Saya merasa tertipu di sini. Bahkan sehari tadi kami membahas situasi di sana dan mengambil langkah nyata dengan cara menambah lagi pembangkit 40 MW di sana dalam waktu dua bulan ke depan…maafkan. Ternyata memang ada yang tercecer.

David Ketaren, SI-81:
Seni apa yg Bapak terapkan dlm memimpin PLN? Saya dengar bhw pengeluaran terbesar dari PLN adalah untuk BBM, sbg contoh besarannya sampai 100 an T. Jadi kalo bisa menghemat BBM 2% saja dalam satu tahun artinya menghemat nilai Rp 2 T. Sungguh sangat besar. Bagaimana soal BBM PLN ini, Pak?

Dahlan Iskan:
Orang-orang bilang saya menggunakan jurus pendekar mabuk. Saya memang mabuk dalam hal BBM itu. Karena itu teman-teman setuju kita melakukan program yang kami sebut “pembunuhan berencana”. Kami akan membunuh pembangkit-pembangkit yang “salah makan” itu. Pembangkit tersebut sesuai dengan desainnya mestinya dimakani gas, tapi tidak pernah mendapat gas, akhirnya dimakani BBM.

Pertengahan tahun ini, setidaknya ada 1.000 MW pembangkit jenis ini yang akan kami bunuh. Itulah sebabnya belakangan ini kami banyak membeli trafo IBT agar kami bisa melakukan “pembunuhan” itu dengan senjata sistem. Misalnya PLTGU Tambak Lorok Semarang itu, akan kami bunuh dengan acara memasang trafo IBT GITET Ungaran. Dengan demikian listrik Semarang kami ambilkan dari sistem 500kv Jawa. Lalu ditambah dari PLTU Rembang yang secara langsung akan kami masukkan ke Semarang dengan sistem 150kv.

Daniel Daud, AR-84:
Pak Dahlan, agar Indonesia bisa menjadi negara maju, apa yg harus dipersiapkan?

Dahlan Iskan:
Yang paling penting siap mental dulu, yakni siap mental bahwa untuk menjadi negara maju perlu waktu dan perlu iklim yang baik, termasuk iklim agar warga negara itu mayoritas memiliki sikap positif. Kalau terlalu banyak orang yang pikirannya negatif dan pesimis, negara ini akan benar-benar gagal maju.

Tentu kalau kita bisa membuat pertumbuhan ekonomi 7 persen setahun, Indonesia tidak mungkin tidak maju. Dengan pertumbuhan selama ini saja ekonomi indonesia terus maju. Sepuluh tahun lalu kita tidak bisa membayangkan bahwa pendapatan perkapita kita bisa USD 3.200 seperti terjadi sekarang ini. Kalau tidak ada aral melintang, lima tahun lagi jadi USD 6.000/kapita.

Dengan jumlah penduduk yang 250 juta, bisa dibayangkan skala ekonomi Indonesia. Saya merasa bangga bahwa akhir tahun depan skala ekonomi Indonesia sudah lebih besar dari skala ekonomi Belanda, negara yang 350 tahun menjajah kita. Saya bangga, seperti orang RRT bangga bisa mengalahkan ekonomi Jepang tahun lalu. Kita tunggu saja, Indonesia akan maju sendiri siapa pun pemerintahnya, sepanjang kondisi seperti ini kita pertahankan.

Farli Siregar:
Saya sangat setuju Pak, mudah2an penegakan hukum di negeri ini bisa dilakukan lebih massive lagi, seperti yg sedang Bapak lakukan di PLN.

Irendra Radjawali:
Terimakasih untuk waktu bapak. Saya tertarik untuk mengetahui rencana PLN jangka panjang berkaitan dengan energi dari sumber terbarukan. Apakah PLN memiliki strategi dengan memberikan insentif bagi pengembang energi terbarukan terutama pada skala kecil (rumah tangga dengan panel surya misalnya)? Sejauh yang saya tau, beberapa saudara di daerah yang ingin mengembangkan pembangkit listrik dari sumber terbarukan terbentur pada terbatasnya akses terhadap grid. Terimakasih banyak, Pak.

Dahlan Iskan:
Untuk tenaga surya kami mengembangkan tiga sistem sekaligus: 1) Sistem Sehen, 2) sistem komunal 3) hybrid.

Kalau Anda berminat besar, bisa bersama teman-teman PLN ke pulau Sumba, sebuah pulau yang terdiri dari empat kabupaten yang besarnya sekitar tiga kali lipat pulau Bali. Di sana sedang dilakukan pemasangan sisten Sehen. satu rumah dapat tiga lampu, dengan satu panel, dan setiap kelompok ada satu televisi (televisinya sudah dibuat khusus untuk tenaga surya).

Lampu-lampu itu bisa dicopot dan dibawa berjalan-jalan sebagai senter. Bisa juga kalau di desa itu lagi ada kondangan, masing-masing orang membawa lampu sendiri-sendiri sehingga tempat kondangan atau pesta itu terang benderang oleh ratusan lampu sehen. Di Pulau Sumba ini akan ada 170.000 rumah yang dilistriki dengan sistem ini.

Adi Irianto, EL-81:
Bapak Dahlan, mohon bapak bisa jujur mengkritik alumni yg lulusan ITB dalam pengalaman bapak di PLN atau tempat Bapak sebelumnya, apa plus dan minusnya alumni ITB untuk perbaikan ke depan bagi kinerja bangsa ini. Terima kasih dan sehat selalu.

Dahlan Iskan:
Minggu lalu saya ke ITB, ceramah di depan dosen dan guru besar dan mahasiswa elektro ITB. Sebelum saya naik podium, ternyata ada empat sambutan. Seperti ada lomba pidato hari itu. Dalam hati saya tersenyum, ITB sudah seperti birokrasi saja….he he

Laksono Budi Prasetyo / TA-77:
Dalam pengantar CV Bapak disebutkan bahwa selain sebagai pemimpin Grup Jawa
Pos, Pak Dahlan juga merupakan Presiden Direktur dari dua perusahaan pembangkit
listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric
Power di Surabaya. Sejak akhir 2009, Bapak menjabat sebagai Direktur Utama PLN

Bagaimana bapak mengatasi konflik kepentingan dalam memimpin perusahaan milik  swasta dan milik pemerintah tersebut. Demikian pertanyaan singkat saya Pak, mohon maaf bila tidak berkenan. Semoga Bapak selalu dikaruniai Allah kesehatan lahir dan batin dalam pengabdian Bapak untuk bangsa dan negara.

Dahlan Iskan:
Untuk urusan yang menyangkut kepentingan saya, saya tidak mau ikut membahas dan memutuskan. Tapi penjelasan ini akan sulit diterima dan karena itu ya saya jalani saja apa yang menurut saya baik dan menurut saya sesuai dengan hati nurani dan rasa keadilan masyarakat.

Akbar, PL-04:
Apa motivasi bapak ketika jadi Dirut PLN?

Mengenai PLTN, bagaimana pendapat bapak, apakah setuju atau punya target khusus kapan implementasinya? Kebetulan saya asli Pati, didaerah saya isu ttg PLTN Muria dimulai sejak awal tahun 90an dan sampe sekarang tidak jelas juntrungannya kemana. Pernah dengar isu kalo sebenarnya PLTN Muria dibuat diam2 dan sudah ada patoknya disana, katanya lho pak.

Setelah jadi Dirut pln, kalau boleh tahu rencana bapak selanjutnya apa ya, jadi Dirut BUMN lainnya atau terjun ke dunia perpolitikan? Saya selalu membaca PLN CEO note tiap bulan di web-nya PLN dan sangat menginspirasi saya. Terima kasih, semoga selalu diberi kesehatan.

Dahlan Iskan:
Memang tidak begitu jelas apa motivasi saya jadi dirut PLN. Campur-aduk seperti coto Makasar! Setelah jadi Dirut PLN saya memilih akan menjadi “mantan Dirut PLN”!

Natal Hutabarat:
Saya senang baca Blog Anda. Saya sangat senang punya seorang leader yg senang berbagi dalam bentuk tulisan. Yang jadi pertanyaan saya, bagaimana bapak menyikapi dan merespon apabila karyawan PLN ada yg ketahuan korupsi? Atau menyalahgunakan jabatannya di PLN utk kepentingannya sendiri atau memperkaya pihak2 tertentu? Atau semisal ketahuan menerima sogokan dalam memenangkan tender?

Ridwan Noor:
Mungkin pertanyaan dibawah ini, pertanyaan standar yang sering ditanyakan. Namun saya rasa tidak ada salahnya saya tanyakan ke Pak Dahlan. Salah satu Permasalahan di indonesia untuk bumn adalah masalah mentalitas di karyawannya, mungkin secara tegas saya sebut korupsi (saya tidak sedang mengeneralisir bahwa semua karyawan bumn bermasalah, toh banyak juga yang mempunyai integritas tinggi, ini sangat tergantung pribadi masing-masing, namun saya menitikberatkan disini untuk pegawai bermasalah dan bagaimana kita mencari solusi untuk masalah seperti ini).

Di sini, yang ingin saya tanyakan adalah penyelesaian di sistem (kalau orang per orang tentu KPK jawabannya). Bagaimana menurut Bapak model yang baik untuk menyelesaikan masalah seperti ini (apa membentuk bumn sejenis yang menjadi tandingan semisal, atau malah privatisasi,dll) baik dari sisi eksternal maupun internal perusahaan? Mungkin itu dulu Pak, kalau ada kemiripan pertanyaan dgn yang lain, digabung saja. Terima kasih sebelumnya.

Dahlan Iskan:
Tahun lalu kami merombak sistem pengadaan strategis. Sistemnya juga harus diperbaiki di samping orangnya. Misalnya perantara tidak boleh menjadi leader dalam proyek pembangunan gardu induk. Hasil perombakan sistem pengadaan strategis ini menghasilkan penghematan Rp 2,4 triliun setahun kemarin. Misalnya satu trafo IBT yang dulu harganya Rp 120 miliar/buah, dengan perubahan sistem itu menjadi tingal Rp 40 miliar/buah.

Tahun ini pembenahan kami teruskan ke perubahan sistem pengadaan spare part di seluruh Indonesia. Dana pengadaan spare part itu mencapai Rp 7 triliun setahun. Kalau bisa dihemat tentu uangnya bisa dipakai untuk memperbaiki kualitas layanan, atau, misalnya untuk menambah daya di Kalteng tadi.

PENUTUP

Betti Alisjahbana:
Rupanya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang masuk malam ini sehingga tanpa terasa waktu sudah jam 22:14. Pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih kepada Pak Dahlan Iskan yang telah bersedia menjawab berbagai pertanyaan yang di ajukan.

Membaca jawaban-jabawan pak Dahlan dan melihat kemajuan-kemajuan yang telah di capai PLN kami jadi lebih optimis bahwa masalah-masalah yang masih ada akan segera teratasi. Semoga PLN semakin sukses. Terima kasih sekali lagi.

Salam hangat penuh semangat.

Dahlan Iskan:
Tidak terasa sudah melebihi jam 21.00. Saya minta maaf melebihi jam yang disediakan Betti Alisjahbana. Semoga bisa disambung di waktu mendatang. Ciao! Xie Xie!

 

 

Tuesday, 01 March 2011 09:24 | Written by Betti Alisjahbana

Dialog Kepemimpinan Bersama Dahlan Iskan

 

 
www.stisitelkom.ac.id www.di.stisitelkom.ac.id www.ktm.stisitelkom.ac.id
www.dkv.stisitelkom.ac.id www.dp.stisitelkom.ac.id www.srm.stisitelkom.ac.id
www.blog.stisitelkom.ac.id www.multimedia.stisitelkom.ac.id
www.elearning.stisitelkom.ac.id www.library.stisitelkom.ac.id
www.repository.stisitelkom.ac.id www.cloudbox.stisitelkom.ac.id
www.digilib.stisitelkom.ac.id www.mirror.stisitelkom.ac.id
www.sisfo.stisitelkom.ac.id www.hilfan.blog.stisitelkom.ac.id
www.telkomuniversity.ac.id www.stisitelkom.academia.edu
www.kuningmas-autocare.co.id www.usnadibrata.co.id www.askaf.co.id www.hilfans.wordpress.com www.hilfan-s.blogspot.com www.profesorjaket.co.id

Dialog Kepemimpinan Bersama Jusman Syafii Djamal

Source : http://leadershipqb.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2450:dialog-kepemimpinan-bersama-jusman-syafii-djamal&catid=39%:betti-content&Itemid=30

 

Rabu (13/4/2011), pukul 21:00 – 02:06, digelar dialog online bersama mantan Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal melalui mailing list Ikatan Alumni ITB (IA-ITB).  Berikut ini adalah hasil kompilasi dari dialog tersebut.

Profil Jusman Syafii Djamal

Jusman Syafii Djamal lahir di Langsa Aceh Timur, 28 Juli 1954. Ia menerima Penghargaan “Bintang Jasa Nararya” dari Presiden RI pada Hari Kemerdekaan ke-50, 17 Agustus 1995, atas keberhasilannya sebagai Chief Project Engineer N250, generasi baru Turboprop berpenumpang 50 orang, yang sukses melakukan penerbangan perdana pada 10 Agustus 1995.

Pada Dies ke 50 Institut Teknologi Bandung, 2 Maret 2009, Jusman menerima Penghargaan “Ganesha Pradjamanggala Bhakti Adiutama”.

Pada 15 Agustus 2008, ia mendapatkan hak paten No ID 0 021 669 untuk  Digital Flight Control Systems, bersama alm. Bambang Pamungkas dari Direktur Jendral HAKI, Departemen Hukum dan HAM.

Pengalaman Profesional

Januari 2011—sekarang: Komisaris Utama PT Telkom Indonesia Tbk
Mei 2010—sekarang: Diangkat oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Anggota Komite Inovasi Nasional
Januari 2005—sekarang: Ketua Matsuhita Gobel Foundation, dengan fokus kegiatan Pelatihan dan Diskusi tentang Eco Manufacturing dan Green Industry Paradigm
Januari 2010: Komisaris Independen  PT Jasa Angkasa Semesta Tbk, Airport Services dan Ketua Dewan Penasihat DPP Organda
Mei 2007—Oktober 2009: Menteri Perhubungan Kabinet Indonesia Bersatu Pertama
Januari 2007—April 2007: Anggota Tim Nasional Evaluasi Keselamatan dan Keamanan Transportasi (EKKT)
2005—2006: Ketua Tim Perumus Roadmap Industri KADIN
Januari  2005—sekarang: Penasihat Bisnis Teknologi, Bussiness Unit Inkubator Teknologi BPPT
2000—2002: Presiden Direktur PT Dirgantara Indonesia
1998—2000: Direktur HRD PT Dirgantara Indonesia
1995—1998: Direktur Senjata dan Sistem Persenjataan, Sistem Satelit dan Produksi Helikopter; dan Wakil Presiden Pengembangan Produk IPTN
1990—1995: Chief Project Engineer N250, 50 Seater Advanced Turboprop Airplane
1982—1989: Professional Engineer in Aerodynamics and Preliminary Design of Aircraft

Tanya Jawab

Ramli Sihaloho (TA82):

  1. Apa kriteria mahasiswa ideal untuk jurusan teknik dan manfaat pengalaman sebagai aktivis mahasiswa setelah terjun ke masyarakat?
  2. Mengapa  memilih jurusan Teknik Penerbangan? Apakah memang bercita-cita menjadi astronot? Bagaimana prospek ilmu penerbangan ke depan? Mengapa sangat terbatas perguruan tinggi yang  membuka jurusan ini, apa kesulitannya? Bagaimana kebutuhannya? Bagaimana peluangnya untuk bekerja diluar negeri?
  3. Dalam berkarier di IPTN, Bapak telah berhasil mencapai puncak. Tentu bukan sesuatu yang mudah karena harus menyingkirkan saingan-saingan yang berasal dari satu kampus. Apa kiat-kiatnya? Apa prestasi yang dicapai selama menjadi nahkoda disana. Kenapa pada akhirnya IPTN tidak bisa survive dan harus mem-PHK ribuan profesionalnya, padahal investasi pemerintah/rakyat sudah sangat besar dihabiskan untuk merebut teknologi pesawat itu? Bagaimana masa depan IPTN ke depan? Apakah Pak Habibie masih berperan sebagai orang yang paling bertanggung jawab pada IPTN?
  4. Dari jabatan profesional di IPTN ke jabatan politis sebagai Menteri Perhubungan meski tidak satu periode penuh dalam kabinet karena sifatnya mengganti, gebrakan apa yg dilakukan selama menjadi Menhub dan perubahan/prestasi apa yang diraih? Apa hambatan-hambatan yang dirasakan/dialami pada waktu mulai memasuki jabatan politis?
  5. Dari profil Bang Jusman, tampaknya Anda orang yang sangat sibuk, apalagi merangkap jabatan. Bagaimana mengatur waktunya untuk keluarga? Apakah ada yang dikorbankan? Prestasi anak-anaknya bagaimana? Sampai kapan akan aktif terus? Apakah tidak merasa capek dan mengenal waktu pensiun/istirahat?
  6. Secara pribadi, saya salut dan ikut bangga dengan prestasi dan reputasinya. Apakah Bang Jusman suka pujian?

Jusman:
Pertanyaanya beruntun ya. Terima kasih atas apresiasinya. Saya jawab yang mudah dulu, apa suka pujian. Saya pikir tak ada orang yang tidak suka dipuji. Makanya Dale Carnegie dalam buku klasiknya yang saya baca tahun 1980-an dengan judul How to Influence People and to Win Friends, menganjurkan kita untuk memberikan pujian.

Pujian membuat kita menyorot dan berfokus pada kekuatan dan keunggulan orang lain. Katanya, dengan selalu memuji, kelemahan orang lain tidak terlihat dan sinergi mudah terbangun. Saya pikir, resep ini bagus untuk dikelola menjadi kekuatan batin kita. Jika, kita banyak memuji orang lain, kita pasti akan rendah hati dan tidak takabur. Kita terpacu untuk menutupi kelemahan kita dengan belajar dan bekerja keras.

Resep Dale Carnegie itu mirip seperti ajaran almarhum ayah saya ketika mengantar saya naik kapal Koanmaru dari Belawan ke Priok. Dia bilang, merantau ke negeri seberang jangan mencari musuh, tapi berjuanglah untuk membangun persahabatan.

Apa saya begitu sibuk sehingga lupa anak? Ah ya nggak, saya selalu menyediakan waktu untuk anak-anak saya. Untuk mereka, saya bekerja. Mereka titipan Allah yang hak-haknya harus saya hormati dan lindungi. Beruntung saya punya isteri yang jauh lebih baik dari saya dalam kasih sayang pada anak-anak. Dia tinggalkan tempat bekerja dan hidupnya untuk mencintai anak-anak dan tentu suaminya.

Ayah saya tidak pernah pensiun dalam mencari nafkah. Begitu juga saya pelajari hidup guru-guru saya. Ambil contoh Prof. Diran, hingga saat ini meski usianya sudah 70 tahun tidak pernah berhenti bekerja. Begitu juga Prof. Filino, Prof. Wiranto, dan guru besar ITB yang saya kenal baik, mereka tak pernah merasa lelah dan capek bekerja. Jadi, saya ikuti saja ajaran hidup seperti itu.

Kemudian pertanyaan lain saya urut satu demi satu, ya.

Mahasiswa ideal—kata alm Prof. Iskandar Alisjahbana, Rektor ITB tahun 1978, yang sering menjadi partner debat saya; dan Prof Santoso Imam Rahayu, guru kimia saya di TPB—adalah mahasiswa yang mengisi hidupnya dengan adventure, petualangan menjelajah dunia dan wilayah baru yang sebelumnya tidak dia ketahui. Petualangan fisik, naik turun gunung, turun lembah, menyebrang sungai dan lautan dengan kegembiraan yang luar biasa; petualangan dalam alam ide dan gagasan, melalui membaca buku dialog debat dan diskusi; petualangan dalam berkesenian. Karena itu, ketika di TPB/ITB kami diwajibkan mengikuti paling tidak 3 aktivitas kemahasiswaan, yakni olah raga, seni dan kaligrafi, serta diskusi. Itu TPB73.

Akibatnya, jadi aktivis bukan karena pilihan atau memilih, tetapi karena memang kita direkayasa oleh kurikulum ITB ketika tahun ’73 untuk  menjadi aktivis. Sehingga, kriteria mahasiswa teladan adalah yang aktivitas nonkurikuler kuat dan nilai Matematika, Fisika, Kimia, serta pelajaran mata kuliah lainnya tinggi. Contoh mahasiswa teladan, seperti Jero Wacik, Fadel Muhammad, dan banyak yang lainnya.

Apa itu baik untuk mahasiswa ITB? Jelas sangat baik, ITB adalah tempat di mana pendiri Republik digembleng. Ir. Sukarno, Ir. Anwari, Ir. Sutami, Ir. Rooseno—semuanya mahasiswa pintar yang sangat aktif dalam masyarakat.

Kenapa memilih penerbangan? Karena saya lebih senang Matematika dan Fisika, serta Kimia dibandingkan menggambar teknik. Kebetulan waktu saya masuk jurusan penerbangan, di situ hanya ada 5 orang mahasiswa satu angkatan. Dosennya 10 profesor doktor yang semuanya jagoan dan termasuk sukar ditemukan. Jadi, kita terpaksa belajar lintang pukang kesana kemari mencari referensi, sehingga bisa survive sampai sekarang.

Penerbangan adalah teknologi masa kini dan masa depan. Tidak mungkin orang tidak naik pesawat terbang. Jadi, masa depan pasti terbuka luas. Hanya di ITB bisa dikembangkan Fakultas Dirgantara. Di universitas lainnya, saya pikir susah ya. Kenapa? Karena tidak mudah mencari dosennya dan laboratorium mahal.

Kenapa bisa jadi orang nomor satu di IPTN? Ini karena Prof. B. J. Habibie yang merekayasa sistem pembudayaan teknologi yang dikembangkan oleh Beliau melalui filsafat “bermula dari akhir berujung pada awalnya”. Oleh Beliau, saya ditawarkan dua pilihan: mau pintar dan profesional dalam dunia penerbangan melalui jalur pendidikan, atau melalui jalur pembudayaan teknologi through learning by doing.

Saya pilih jalur kedua. Jadi, oleh Beliau saya dicemplungkan pada pekerjaan paling rendah dalam bidang aerodinamika dan perancangan pesawat, yaitu bekerja di hanggar pesawat terbang di CASA Spanyol, sebagai pengukur discrepancy antara gambar teknik dengan komponen yang diproduksi.

Setiap penyimpangan saya catat, kemudian dikalkulasi dalam model komputer untuk diteliti tingkat inefficiency yang terjadi akibat penyimpangan tadi. Inefficiency kinerja aerodinamika sebagai buah ketidaktelitian proses produksi ini disebut parasitic drag. Itulah kerja awal saya. Kemudian naik satu jenjang ke jenjang lainnya.

Semua jabatan dan posisi yang ada dalam anak tangga karier di industri pesawat terbang pernah saya alami, selama 20 tahun tanpa henti. Jadi wajar ketika krisis melanda IPTN, saya ditunjuk oleh Pak Habibie untuk menjadi direktur sistem senjata, helikopter, dan sistem antariksa; kemudian dipindah menjadi direktur umum dan sumber daya manusia; baru menjadi direktur utama ketika dtunjuk oleh Gus Dur dan Megawati untuk memimpin IPTN dan mentransformasikan semua hutang. Saya diberhentikan pada 2002, kemudian pensiun dini.

Ketika menjadi Menhub, saya diamanahkan Presiden SBY untuk menurunkan jumlah kecelakaan. Saya buat program “Roadmap to Zero Accident” dan bersama dengan DPR mengubah Undang-undang Transportasi. Dalam 2,5 tahun menjadi Menhub, telah diterbitkan 5 UU Transportasi, yakni perkeretaapian, pelayaran, penerbangan, lalu angkutan jalan raya serta UU Geofisika Meteorologi dan Klimatologi.

Esthi TB (FT83):
Bang Jusman, CV-nya sangat keren. Ikut bangga dengan insinyur yang setia pada bidangnya dan meroket karirnya juga. Pertanyaannya, bagaimana strategi bangsa kita sebaiknya untuk mengubah brain drain (tenaga skill disedot oleh perusahaan luar negeri) menjadi brain gain (tenaga skill kita di luar negeri kembali ke Tanah Air dan memajukan ekonomi/ilmu pengetahuan Indonesia)?

Jusman:
Saya tidak setuju dengan istilah brain drain. Menurut hemat saya, anak-anak muda Indonesia adalah benih unggul dalam bidang sains dan teknologi. Kita hanya bisa menguasai sains dan teknologi jika setiap hari kita bergelut dalam dunia sains dan teknologi. Sama juga ahli renang, hanya bisa menjadi ahli renang di kolam renang 8 jam sehari setiap minggu.

Pusat-pusat keuunggulan sains dan teknologi untuk sementara ini tidak ada di Indonesia. Belum berkembang infrastruktur sains dan teknologi yang mampu menampung, menumbuhkembangkan potensi kreatif yang tersimpan dalam brain anak-anak muda di Indonesia. Karena itu, marilah kita didik dan kembangkan mereka untuk mampu bersaing dengan benih unggul negara lain, di pusat-pusat keunggulan sains teknologi dunia. Beri kesempatan kepada mereka untuk menjadi top engineer dan top scientist dunia. Pasti kita bangga sebagai Bangsa Indonesia.

Dicky Gumilang (TI78):
Sebagai mantan Chief Engineer dan Dirut PT DI, dan sekarang berada di luar, apakah harapan Pak Jusman terhadap PT DI? Apakah PTDI dapat diselamatkan atau malah dikembangkan sesuai blueprint Pak Habibie?

Jusman:
Kita semua punya harapan besar agar PT Dirgantara Indonesia dapat bangkit kembali. Mengapa? Sebab perusahaan itu didirikan dan digeluti serta dicintai seperti anak sendiri oleh pejuang dirgantara Tanah Air.

Di pintu masuk GPM (Gedung Pusat Manajemen) PT DI dulu, ketika saya menjadi Dirut, saya letakkan patung Nurtanio Pringgoadisuryo yang sedang tersenyum dengan mimik dan sinar mata pantang menyerah. Patung yang bagus sekali, yang menggambarkan sosok seorang desainer dan flight test engineer otodidak, yang langka di Indonesia—genius pada zamannya.

Jejak pesawat hasil karya Nurtanio yang lahir dari tangannya dan keterampilan tim kerjanya masih dapat dilihat kalau kita mau ke Bandara Husein Sastranegara, Bandung, yakni “Si Kumbang”, dst. Itu adalah rekam jejak ketika industri ini masih berskala kecil, dengan biaya incremental atas kebijakan negara melalui jalur TNI AU.

Step by step approach to build aircraft industry—sasarannya membuat pesawat latih untuk pilot dan pesawat penyemprot hama padi untuk pertanian, Gelatik, dan terakhir pesawat 4 penumpang LT200. Dua prototipe Pesawat LT200 karya Nurtanio itu ketika saya mahasiswa, dijadikan tempat saya dilatih menjadi flight test engineer oleh Kolonel Sumarlan dan Prof. Oetarjo Diran.

Saya belajar mengemudikan pesawat take off-landing dari alm. Kolonel Sukandar dan Mayor Tamawi, yang kemudian gugur menjalankan tugas dam dimakamkan di Makam Pahlawan Sirnaraga.

Tahun 1965, Bung Karno membuat perintah kepada Menteri Panglima AU, Marsekal Omar Dhani untuk menjadikan PT Nurtanio sebagai pabrik pesawat terbang penumpang 50 pengganti Foker 27. Ia berubah jadi Kopelapip. Cerita ini saya peroleh dari Pak Omar Dhani sendiri ketika saya sebagai Dirut PT DI mengundang semua mantan Kepala Staff TNI AU ke kompleks IPTN untuk menunjukkan semua peralatan utama industri pesawat terbang yang dikembangkan selama 20 tahun oleh generasi penerus mereka, yakni Prof B. J. Habibie.

Ketika berdiri di samping N250, Pak Omar Dhani mengusap matanya. Beliau tampak terharu. Saya tanya, “Kenapa begitu terharu Pak?” Beliau jawab, “Saya bangga dengan kalian, akhirnya saya bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri perintah Bung Karno itu telah terwujud dalam kenyataan.” Dream come through reality through hard works struggle, passion, and love to our Nation.

Apa yang saya alami tahun 2000 hampir mirip ketika kami mendapat tugas menjadi pendamping Prof. B. J. Habibie bersama alm Said Jenie, alm Bambang Pamungkas, dan alm Alex Supelli menemani alm Presiden Soeharto pada 10 Agustus, pukul 10:10, menyaksikan penerbangan perdana N250.

Ketika roda belakang terangkat dan pesawat bewarna biru putih berlambang Gatot Kaca itu terbang mulus ke angkasa, semua orang meneteskan air mata. Tak terkecuali alm Presiden Soeharto dan alm Ibu Tien. Keharuan yang timbul dari rasa bangga karena ujian pertama lulus cumlaude. It is not about money. Ini bukan soal uang seperti yang sering disebut banyak orang, but it is about nation pride. Pride where everybody count.

Setiap orang, dari satpam, pembuat kopi, tukang antar surat, cleaning service, teknisi di meja gambar, di depan mesin, insinyur di depan komputer, dan catia terminal serta petugas finansial dan administratif telah disatukan oleh visi Presiden Soeharto yang melanjutkan mimpi Bung Karno, dan diwujudkan melalui kerja keras, kepemimpinan yang kuat dengan visi masa depan science technology Prof B. J. Habibie. Sebuah mahakarya telah lahir. N250 yang kemudian dibawa terbang ke Paris, keliling Eropa pada 1997.

Karena itu, kalau sekarang PT DI seperti hidup segan mati tak mau, saya pikir bersifat sementara. Anda dan teman-teman generasi masa kini dan masa depan pasti lebih baik dari generasi masa lalu yang fading away. Pasti kita bisa melahirkan mahakarya teknologi lain yang lebih canggih dan lebih dicintai bangsanya.

PT DI masih dapat diselamatkan dengan beberapa catatan:

Pertama, fokuskan pada upaya untuk mendapatkan revenue stream setiap tahun paling minimal 1,5 triliun. Itu revenue stream dari skenario survival. Jika tidak tercapai dalam 3 tahun berturut-turut, ia akan pindah ke jalan krisis yg berujung pada sayonara.

Kedua, kembangkan lagi struktur organisasi yang terdesentralisasi. Tiap revenue stream memiliki portofolio tersendiri yang fokus berdasarkan kompetensi utama dan aset yang dimiliki untuk dilekatkan pada “market nieche” ceruk pasar.

Ketiga, kuatkan Technology Driven Organization, dimana organisasi rekayasa dan rancang bangun yang kuat dapat dijadikan subkontrak pekerjaan engineering dari dunia lain.

Keempat, kembalikan kepercayaan dari industri dirgantara luar negeri untuk bekerja sama. Jika tidak ada expert asing yang sering berkunjung ke pabrik di Bandung, artinya PT DI terisolasi dari kemajuan dialog dalam diaspora para engineer aeronautik dunia. Dan itu artinya, mandeg hancur.

Agung:
Sekarang ini sangat marak tren LCC di Indonesia. Bagaimana tanggapan abang mengenai hal ini?
Bagaimana airline bertitel LCC harus bekerja untuk bersaing dengan LCC asing seperti Tiger Airways dan Air Asia Group?

Jusman:
Sdr. Agung, low cost carrier adalah tren industri penerbangan dunia. Jadi, jika ingin pasar domestik Indonesia didominir oleh industri maskapai penerbangan Indonesia, low cost carrier model seperti Air Asia dan Ryan Air yang mengedepankan tingkat keselamatan penerbangan tinggi serta manajemen revenue yang berkualitas perlu dikuasai dan dijadikan “brand” dari maskapai penerbangan di Indonesia.

Jika dipelajari model bisnis Air Asia dan Ryan Air atau Ricahrd Branson Virgin Blue, maka Anda akan melihat makna low cost carrier dengan tepat. Pelajari juga fenomena Soutwest Airline yang bertransformasi dari legacy airline ke low cost air.

Bahaya dari LCC adalah reduksi cost yang ikut menggerus biaya perawatan pesawat terbang dan penggunaan bogus part atau praktik-praktik lain yang tidak sesuai dengan Regulasi Keselamatan Pesawat Terbang. Dan itu bukan konsep low cost carrier. Itu maskapai flying coffin, namanya. Yang mengabaikan keselamatan penerbangan tidak dapat dikategorikan sebagai maskapai penerbangan. Dan saya pikir, di Indonesia tidak ada maskapai penerbangan seperti itu.

UU No. 1 tahun 2009 telah memberikan ruang sanksi yang sangat ketat agar praktik pengelolaan maskapai penerbangan yang tidak berbasis keselamatan tidak terjadi di Indonesia, serta perkembangan LCC nasional menjadi lebih kompetitif untuk masuk ke pasar regional. Lion Air, Wing Air, Batavia Air, Sriwijaya Air, Susy Air adalah contoh maskapai penerbangan nasional yang sedang berjuang untuk membangun keselamatan penerbangan yang sesuai standar internasional. Tidak mudah tapi pasti berhasil.

Hanief Adrian (Planologi 2003):
Saya mau bertanya, apa korelasi kebijakan 6 Koridor Ekonomi dengan paper yang dikeluarkan Komite Inovasi Nasional? Apakah Komite Inovasi memiliki rencana untuk mengembangkan pusat inovasi di Indonesia Barat dan Timur?

Jusman:
Kemarin Komite Inovasi Nasional diberi kesempatan oleh Bapak Presiden untuk memaparkan rekomendasi KIN berkaitan dengan 6 koridor ekonomi menuju Indonesia 2025, di depan Sidang Kabinet Paripurna yang diperluas. Prof Zuhal sebagai ketua Komite Inovasi Nasional memaparkan pentingnya dikembangkan Sistem Inovasi Daerah dan Klaster Inovasi yang memiliki fokus dan
kawasan tertentu di setiap daerah unggulan dalam koridor ekonomi tersebut.

Oleh Bapak Presiden, KIN diminta melanjutkan rekomendasi tersebut ke perencaan strategis yang lebih “down to earth”. Artinya, melalui pemetaan yang lebih akurat dari masing masing keunggulan daerah yang memiliki momentum dan titik ungkit untuk diprioritaskan sebagai pusat pertumbuhan inovasi.

Dadang JP (EL 79):
Setelah 10 tahun reformasi, saya merasakan belum ada perkembangan berarti dalam kemajuan bangsa, seperti masih banyaknya kemiskinan, pengangguran, korupsi, pertikaian antargolongan dll. Menurut saya, salah satu penyebabnya adalah lemahnya kepemimpinan bangsa. Bagaimana menurut Bapak? Pemimpin seperti apa (kriteria) yang dapat memajukan Indonesia? Tks.

Jusman:
Pertanyaan yang susah. Menurut hemat saya, kepemimpinan yang kuat sekarang telah terbangun. Kuat dari segi dukungan rakyat yang diperoleh melalui mekanisme pemilihan umum langsung, baik
di tingkat daerah maupun ditingkat daerah. Kemiskinan dan pengangguran masih ada, saya kira jelas. Karena itu program aksi dan kebijakan yang ada perlu diakselerasi agar apa yang dicita-citakan cepat terjadi.

Kalau sekarang, kriteria pemimpin yang kuat adalah yang dapat meyakinkan rakyat pemilih untuk dipilih dalam pemilihan umum sebab kita sudah memilih jalan demokrasi sebagai jalan kehidupan politik ekonomi kita. Tidak mungkin kita mundur ke masa sebelum reformasi. Reformasi 1998 tak mungkin gagal, jika semua warga negara mampu bekerja sama mencintai Bangsa dan Negara Indonesia.

O.K. Taufik:
Ada tidak kekecewaan kita gagal mengembangkan industri penerbangan di situasi maraknya LCC?

Jusman:
Mengapa harus kecewa? Dunia penerbangan atau tepatnya industri penerbangan PT Dirgantara Indonesia, bukan kalah karena tenaga kerja kita tidak memiliki talenta untuk menjadi engineer yang mumpuni di tingkat dunia. Tidak juga kalah karena tidak dapat menghasilkan produk unggulan yang baik. Kita kalah karena ketika pada 1997, ketika krisis ekonomi, semua orang, baik di Indonesia maupun di internasional, terutama para pengambil keputusan politik makro, memang menyerahkan nasib IPTN ke tangan lembaga yang tidak menginginkan IPTN tumbuh berkembang, yakni IMF dan Badan Keuangan dunia lainnya.

Mereka bilang, untuk apa Indonesia punya industri penerbangan? Kan semuanya bisa dibeli. Untuk apa menguasai teknologi? Semua produk dan jasa apa saja sudah tersedia di pasar global. Semua bilang, lebih baik IPTN mati pelan-pelan dengan cara menutup kran sumber keuangannya.

Bagaimana mungkin IPTN tumbuh sendiri tanpa dukungan negara? Lihat saja pertumbuhan Airbus yang kini jadi EADS, atau Boeing apakah bisa maju kalau tidak didukung negara? Nasib IPTN mengikuti nasib Foker ketika Pemerintah Belanda mencabut dukungan keuangan dan mengalihkannya kepada Airbus. Fokker juga mati. Begitu juga Dornier.

Nasib baik ada pada De Havilland Canada. Pemerintahnya mencabut dukungan swasta Bombardier masuk dan mereka selamat. Demikian juga Embraer Brasilia. Pemerintah mencabut dukungan. Lembaga Dana Pensiun diminta take over oleh Pemerintah pada masa transisi, kemudian dijual kepada investor Amerika. Embraer selamat.

Untuk IPTN, dukungan ada tapi di atas kertas. Uang tak pernah mengalir, sementara working capital untuk mengerjakan kontrak tidak dibuka channell-nya. Apa tidak tutup??

Djoko Suharto (MS67):

  1. Bapak sudah berpengalaman di organisasi BUMN, swasta, dan birokrasi pemerintah. Apa kesan Pak Jusman tentang karakter di tiap organisasi tersebut, kelemahan maupun kekuatannya masing-masing? Apakah punya saran untuk perbaikan di kelemahan organisasi tsb supaya Indonesia bisa lebih maju lagi?
  2. Pak Hatta Rajasa memberikan presentasi tentang rencana pengembangan Indonesia 2011—2025. Sebagai alumni ITB dengan prestasi yang patut kita banggakan, apa saran Pak Jusman supaya ITB dan para alumninya bisa berkontribusi untuk merealisasikan rencana tersebut?

Jusman:
Yth. Pak Djoko Suharto, ini suheng atau kakak seperguruan saya dalam dunia kangow perguruan siawlimsi atau kunlunpay. Pertanyannya sukar.

Kelemahan terbesarnya menurut saya ada dua. Pertama, sort sighted, terbelenggu oleh pandangan jangka pendek, tidak memiliki visi masa depan yang secara konsisten berkesinambungan dikerjakan dalam rincian aksi hari-hari dalam satu grand strategy dan cetak biru roadmap yang baik.

Kedua, kurang terbuka untuk mau bersinergi dan beraliansi dengan kekuatan organisasi lain, atau ada ego sektoral yang kuat, yang tumbuh atas dasar kepentingan sesaat yang terakumulasi menjadi habit dan kultur melekat. “Ada semacam departemen-isme atau organisasi-isme” yang tumbuh berkembang. Akibatnya, pikiran mandeg dalam paradigma yang lama.

Obatnya apa ada? Jawabnya pasti ada. Saya kira di sinilah peran alumni ITB dan para dosen serta mahasiswanya. Yang memiliki pikiran jangka panjang, mudah bekerja sama, tidak egois, pasti
memiliki kekuatan untuk membangun sinergi.

Kebijakan 6 Koridor Ekonomi tahun 2025 yang dipresentasikan oleh Menko Perekonomian adalah konsep yang sangat baik dan relevan yang harus diwujudkan jika kita ingin jadi Negara Maju. Kata kunci dari konsep itu adalah locally integrated, globally connected. Fokusnya pada pengembangan infrastruktur transportasi, infrastruktur ICT, dan infrastruktur inovasi berbasis science and technology. Itu artinya, ITB driven growth, ITB memiliki potensi untuk menjadi engine bukan screw driver-nya. Bagaimana ITB berperan? Saya pikir, bidang keahlian yang ada di ITB harus dikelola secara private sector. Maksudnya, dikelola dengan gaya manajemen modern. Every single laboratorium and working place at ITB, is portfolio by itself.

Yang harus dipimpin oleh profesor yang mumpuni dan respected untuk dapat bersinergi dengan dunia industri untuk mendapatkan “breathing space” atau ruang bernapas bagi kemajuan science and technology, ya. Mungkin ada baiknya ditiru model MIT, atau Korean Institute Technology, atau Nanyang University dalam mengelola pusat keunggulan riset dan development-nya.

Kelemahan ITB adalah tidak percaya pada kredibilitas profesor dan doktornya yang dimiliki sendiri, sehingga terlalu sibuk memuji kemajuan bangsa lain, lupa kalau di sebelahnya duduk potensi genius yang tersia-sia tanpa ada challenge pekerjaan yang menantang kemampuan terbaik beliau-beliau itu.

Mas Djoko pasti pernah membaca dua buku menarik ini. “Why Smart Executuves Fails, and What You Can Learn from Their Mistakes” karya Sydney Finkelstein hasil wawancara ratusan CEO yang paling pintar di dunia; dan buku karya Roger Lowenstein berjudul “When Genius Failed, the Rise and Fall of Long Term Capital Management”. Dua buku itu patut didiskusikan di ITB agar bangkit kembali sebagai kekuatan pendorong kemajuan teknologi di Indonesia. Semua anak Bangsa Indonesia percaya ITB should become a leader in the front, agar jangan kuda ditarik bendi.

Salam hormat

Betti Alisjahbana (AR79):
Bang Jusman dulu adalah Chief Project Engineer dari pesawat N250. Menurut Anda, apakah N250 sebaiknya dihidupkan lagi? Bila ya, apa yang harus dilakukan untuk menghidupkannya?

Jusman:
Apakah N250 apakah perlu dihidupkan kembali? Jawabnya tentu perlu, terutama jika kita mampu mengembangkan pesawat 50-70 penumpang dengan teknologi jet yang terbaru, yang lebih efisien dan mempunyai daya dorong dan berat yang appropriate untuk kelas pesawat tersebut.

N250 yang terbang tahun 1995 sukar untuk dihidupkan kembali karena sukar dapat sertifikasinya. Mengapa? Karena semua kosep struktur ringan yang dikembangkan dalam airframe design-nya direkayasa berdasarkan kriteria dan rules kekuatan struktur regulasi FAR 25 pada tahun 1990.

Badan sertifikasi Amerika tiap tahun meng-update rule and regulation FAR 25-nya berdasarkan peristiwa kecelakaan dan kemajuan teknologi yang berkembang. Jadi, kriteria desain tahun 1990 pasti tidak sama dengan kriteria desain tahun 2000. Setiap 10 tahun pasti ada perubahan mendasar. Perubahan ini berdampak pada proses audit teknologi proses dan audit kekuatan setruktur yang akan dilaksanakan oleh FAA dalam memberikan sertifikat. Ini merupakan satu kendala yang sangat tidak mudah untuk ditemukan solusinya.

Selain itu, dalam rekayasa dan rancang bangun N250 ada kurang lebih 300 vendor utama. Yang menjadi rantai supply chain pemasok suku cadang, komponen, dst. Kini di tahun 2011, boleh dikatakan setelah 15 tahun terjadi proses konsolidasi dan merger serta akuisisi perusahaan, mungkin ada perusahaan pemasok itu yang sudah dilikuidasi dan menjadi a new entity. Ambil contoh lugas Leibher, pemasok komponen software dan hardware Fly By Wire yang menjadi jantung pengendali N250, telah melebur menjadi perusahaan konsorsium Eropa EADS, atau ada pecahan portofolio yang telah dipangkas menjadi perusahaan software missile, misalnya. Jadi, ada kendala bersifat how to integrate the bussiness process into one single product. Ini kendala kedua.

Ketiga, lead time dalam proses produksi serial production. Contohnya pemesanan raw material alumunium type serial 76, 75 yang juga merupakan raw material pesawat jet 100 seater. Tidak mudah untuk membloknya. Perlu working capital yang besar.

Itu beberapa contoh untuk menyatakan tidak mudah menghidupkan kembali produk yang sudah dimatikan oleh IMF itu.

O. K. Taufik:
Bagaimana sebenarnya prioritas industri kita ditengah degradasi sumber daya alam yang dimiliki?

Jusman:
Prioritas bisa dilihat dari dua perspektif. Jika kita menganut mazhab incremental innovation, gradually step by step, grows as we go—kata Prof Zuhal—eksploitasi sumber daya alam ini hanya boleh dilakukan secara terbatas sesuai kebutuhan anggaran pembangunannya. Kemudian, 50% hasilnya dikembalikan menjadi investasi dalam membangun industri hilir dan hulu dari sumber daya alam di tempat yang dieksploitasi tadi.

Jika batu bara digali, maka harus dikembangkan industri pengolah batu bara menjadi batu bara cair. Kemudian, ada kewajiban top soil-nya harus dikembalikan ke tempat asal yang digali tadi dan diubah menjadi tempat tanaman industri bagi bahan baku industri furnitur.

Pendekatan ini pernah dilakukan ketika awal kemerdekaan. Selalu di tiap daerah yang minyaknya dieksploitasi, dikembangkan kebun karet. Atau yang tanahnya labil, dijadikan kebun teh. Dengan kata lain, eksploitasi SDA harus dibarengi oleh investasi untuk masa depan lapangan kerja baru dan peremajaan tanah untuk produktif kembali. Jika tidak, mulai dari sekarang belajarlah menjadi suku padang pasir yang hidupnya susah karena mencari air dan dapatnya fatamorgana.

Jika kita menganut mazhab quantum leap atau loncatan jauh ke depan, konsepsi managed eksploitasi SDA tetap wajib dilakukan sebagai upaya mengisi defisit anggaran pembangunan. Kemudian, tambahan anggaran pembangunan harus diprioritaskan diambil dari hasil budidaya atau produk dari industri maritim, perikanan, pertanian. Jadi, fokus pada foods, energy security, dan water treatment sustainability. Kembangkan industri farmacy dan bio diversity. Loncatan teknologi masuk ke software development industry, electronics, kereta api. Kembangkan PT DI menjadi kawasan riset dan pengembangan produk baru teknologi dirgantara, menjadi engineering company dan komponen suku cadang. Assembly line tutup.

Maksudnya, baik quantum leap maupun incremental approach tidak membolehkan kita menebang habis hutan kita maupun mengubah semua daratan jadi kubangan air karena semua digali. Indonesia memerlukan bukit, gunung, dan lembah serta pohon supaya ada sungai mengalirnya seperti di surga.

Ramli Sihaloho (TA82):
Saya garis bawahi pernyataan Bapak tentang SDA yang unrenewable ini seperti batu bara, misalnya. Fakta:

  1. Batubara kita dieksploitasi mayor untuk komoditas ekspor. Hampir semua eksploitasi batubara di negeri ini punya asing dan bangsa ini hanya sebagai penonton dengan segala mudaratnya sampai PLN kelimpungan untuk mendapatkan pasokan batu bara. Kebijakan pemerintah belum berpihak pada kepentingan rakyat dan nasional. Konversi batu bara ke cair masih belum jelas statusnya.
  2. Out crop atau top soil yang Bapak sebutkan adalah part of good mining practice. Pertanyaannya, siapa yang akan melakukan dan mengendalikan ini? Pengawasan dari pihak pemerintah masih sangat lemah. Sementara penanggung jawab operasi tambangnya yaitu KTT (kepala teknik tambang) di banyak tempat masih lebih pro pada kepentingan perusahaan. Bicara aplikasi good mining practice adalah bicara cost yang harus dibayar mahal sehingga dalam praktiknya dipinggirkan.

Jusman:
Kalau soal batu bara banyak diekspor dan tidak ada di dalam negeri—yang saya tau dari pelaku bisnis, karena soal harga. Lebih banyak untung kalau diekspor daripada dipasok ke PLN. Pricing policy ini mesti direvisi, kalau mau diproteksi pasti bisa.

Soal kebijakan pemerintah yang belum memihak rakyat dan nasional, saya kira keliru dan tidak sepenuhnya benar. Saya sekarang tidak duduk di pemerintahan. Tetapi selama 2,5 tahun saya jadi pembantu presiden yang dipilih secara langsung, saya merasakan bahwa orientasi kebijakan beliau selalu pro-rakyat, pro-poor, dan menjaga keadulatan NKRI sesuai amanah konstitusi. Pemain batubara 5 besarnya saya kira pengusaha nasional, bukan asing. Siapa yang mengawasi, saya kira para ahli pertambangan harus membangun asosiasi profesional yang kuat untuk mengaudit dan menjaga aplikasi dari good mining practice ini.

Saya banyak mengenal lulusan dan ahli pertambangan ITB yang masih idealis dan menjaga good mining practice ini. Tapi mereka silence mayority. Mungkin Anda lebih tau tentang ini.

Mukhlason (Penerbangan 99):
Dengan potensi Indonesia yang memiliki 17 ribu-an pulau dan tersebar, sarana perhubungan udara yang sekiranya memungkinkan, semisal pesawat amfibi/wing in surface effect craft, apakah tidak lagi menjadi prioritas—baik dari sisi regulasi maupun industri?

Seperti kita tahu bersama, sejak 2000-an, ITB, PT DI, dan BPPT sudah merancang Belibis dari versi 2 penumpang hingga dibesarkan lagi menjadi 8 penumpang, dst. Bagaimana perkembangannya? Saya kok berkeyakinan bila menggandeng Pemda-Pemda kepulauan/pesisir se-Indonesia bisa diwujudkan dalam skala massal. Mohon pencerahan tentang kendalanya.

Jusman:
Saya kira penggunaan pesawat amfibi dan surface in ground effect untuk wilayah pesisir dapat diterapkan. Ada dua kendala yang dihadapi kalau surface in ground effect. Masalah utamanya adalah, kita tidak punya sungai yang tenang airnya dalam gelombang yang beriak kecil seperti permukaan datar seperti ditemukan di Rusia, di mana pesawat surface in ground effect itu berkembang dengan baik dan pasarnya terbuka

Di Indonesia, kebanyakan sungai besar airnya tidak tenang sepanjang waktu karena di sungai itu pada umumnya berkeliaran tongkang, sampan, dan anak-anak berenang atau kayu yang hanyut. Jadi, ada biaya yang harus dikeluarkan untuk sterilisasi sungai agar permukaannya rata seperti landasan untuk menimbulkan efek gaya angkat seperti diharapkan oleh kombinasi sayap badan pesawat tersebut. Kendala kedua adalah menemukan engine yang tidak boros, supaya direct operating cost-nya rendah.

Nana (TA97):
Menurut Bang Jusman yang pernah mengurusi perhubungan di negara kita, bagaimana strategi untuk mengembangkan sektor perkeretaapian di Indonesia? Karena menurut saya, ini adalah salah satu sektor yang bisa mengatasi masalah kemacetan dan juga ujung-ujungnya efisiensi energi.

Jusman:
Ketika saya diangkat Presiden SBY menjadi pembantu Beliau sebagai Menhub, perintah Beliau adalah satu, benahi tingkat keselamatan transportasi, cegah kecelakaan, dan benahi angkutan massal untuk rakyat. Jadi saya fokusnya 3 Roadmap to Zero Accident melalui transformasi UU Transportasi dan proses audit maskapai penerbangan, operator pelayaran, dan angkutan darat serta kereta api berjenjang, kemudian pembenahan infrastruktur.

Jalur kereta api sudah disiapkan oleh Belanda dengan sangat bagus. Semua jalur kereta api yang ada dan dibangun di jaman Belanda menghubungkan semua kota strategis di Jawa, dan muaranya kalau untuk gerbong barang pasti ke pelabuhan. Ke bandara tidak ada, kecuali Maguwo dan Jogja serta Solo. Jadi kalau mau benahi kereta api, hidupkan saja lagi semua jalur kereta api tadi. Ganti relnya dengan ukuran yang tepat, sesuai kriteria beban lokomotif dan gerbong masa kini.

Rel baru ini bisa dibuat oleh Krakatau Steel jika mereka mau memindahkan pabrik pembuat rel dari negara lain dengan membeli mesin pembuat relnya—lebih murah dan menyediakan lapangan kerja. Produksi rel untuk 3000 km, misalnya. Untuk bantalan betonnya, PT WIKA telah mampu. Untuk pensinyalan, ada PT LEN.

Lokomotif dan gerbong segala tipe bisa dimanufaktur di INKA. Jim Immelt, pengganti Jack Welch dari General Electric, pernah melakukan courtessy call ke ruang kantor saya selaku Menhub. Dia bilang jika GE dipercaya oleh Pemerintah RI, dia siap mengalokasikan resources untuk bekerjasama memajukan teknologi perkeretaapian di INKA Madiun untuk membuat 100 lokomotif. Dia bertemu saya sebulan sebelum masa jabatan saya habis. Artinya, the best company in the word mempunyai kepercayaan kepada INKA. Mengapa kita tidak?

Selain itu, pada hari ulang tahun Presiden SBY tanggal 9 bulan 9 tahun 2009, Pak SBY saya mohon hadir di Stasiun BEOS Jakarta untuk meresmikan peluncuran 75 gerbong kereta ekonomi dan eksekutif, serta 2 lokomotif hasil karya PT INKA Madiun (yang dipimpin anak ITB) sebagai hadiah ulang tahun Presiden kepada rakyat Indonesia pengguna kereta api.

Cerita ini saya kemukakan untuk menyatakan bahwa program revitalisasi kereta api dapat dilakukan dengan kekuatan bangsa sendiri.

Ari Surhendro (M76):
Juli tahun ini ada pemilihan Ketua IAM ITB. Sebagai Alumni Mesin, apa harapan Bang Jusman terhadap kepengurusan IAM ITB mendatang? Terima kasih.

Jusman:
Tugas ikatan alumni mesin ITB adalah mengimpulkan uang untuk dijadikan working capital oleh HMM ITB; menyelenggarakan kegiatan padat keterampilan, seperti pembuatan dan rekayasa go carter, kemudian dipertandingkan; rekayasa rancang bangun solar cell untuk air conditioning; serta robotics atau hal-hal lain yang memang benar untuk keahlian anak mesin. Kemudian juga working capital untuk biaya laboratorium di mesin ITB. Itu saja sudah repot. Salam.

Penutup

Jusman:

Betti Alisjahbana, terima kasih ya atas kesempatan memberi ruang dialog untuk saya. Saya banyak belajar. Mohon maaf jika masih kurang sedap jawabannya. Motto rumah makan Padang saya haturkan, “Jika puas sampaikan kepada kawan, bila tak enak beri tahu kami segera.”
Salam Bravo Alumni ITB.

Betti Alisjahbana:

Bang Jusman, kami yang berterima kasih atas kesediaan Anda menjadi tokoh tamu di milis IA-ITB, dan untuk jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang begitu bertubi-tubi mengalir dari kami semua. Jawaban-jawaban Bang Jusman sangat lugas, jitu, dan bijaksana. Jawaban-jawaban tersebut telah memperluas wawasan kami, membangkitkan semangat Merah Putih di hati kami, dan telah membangkitkan optimisme akan kemampuan kita di bidang Iptek.

Saya perhatikan jawaban terakhir Anda dibuat pada jam 02.06 di mana saya sudah tertidur lelap. Itu artinya, Anda telah menjawab pertanyaan-pertanyaan ini selama lima jam. Luar biasa. Terima kasih sekali lagi. Bravo Alumni ITB.

Salam hangat penuh semangat
Betti Alisjahbana

 

Thursday, 14 April 2011 10:25 | Written by Betti Alisjahbana

Dialog Kepemimpinan Bersama Jusman Syafii Djamal

 
www.stisitelkom.ac.id www.di.stisitelkom.ac.id www.ktm.stisitelkom.ac.id
www.dkv.stisitelkom.ac.id www.dp.stisitelkom.ac.id www.srm.stisitelkom.ac.id
www.blog.stisitelkom.ac.id www.multimedia.stisitelkom.ac.id
www.elearning.stisitelkom.ac.id www.library.stisitelkom.ac.id
www.repository.stisitelkom.ac.id www.cloudbox.stisitelkom.ac.id
www.digilib.stisitelkom.ac.id www.mirror.stisitelkom.ac.id
www.sisfo.stisitelkom.ac.id www.hilfan.blog.stisitelkom.ac.id
www.telkomuniversity.ac.id www.stisitelkom.academia.edu
www.kuningmas-autocare.co.id www.usnadibrata.co.id www.askaf.co.id www.hilfans.wordpress.com www.hilfan-s.blogspot.com www.profesorjaket.co.id

Dialog Kepemimpinan Dengan Walikota Jogjakarta Herry Zudianto

Source : http://leadershipqb.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1495:dialog-kepemimpinan-dengan-walikota-jogjakarta-herry-zudianto&catid=39%:betti-content&Itemid=30

 

Dialog Kepemimpinan dengan Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto, dilakukan pada Jumat, 4 Februari 2011, pukul 19:00–21:00 di milis Senyum-ITB@yahoogro ups.com.

Profil Herry Zudianto
Herry Zudianto, SE.Akt, MM lahir pada tanggal 31 Maret 1955 di Yogyakarta. Dia adalah salah satu putra daerah terbaik yang dimiliki Kota Yogyakarta saat ini. Masa kecil dan pendidikan dasar hingga meraih gelar Magister ditempuh Herry dengan suka cita di kota kelahirannya.

Selepas menamatkan pendidikan di SMA Negeri 3 Yogyakarta (1973), Herry melanjutkan studinya di Fakultas Teknik Sipil UGM. Namun, masih di universitas yang sama, ia kemudian pindah jurusan ke Fakultas Ekonomi hingga meraih gelar Sarjana Ekonomi pada 1981. Pada 1997, Herry meraih gelar Magister Manajemen dari UII.

Mungkin karena latar belakang pendidikan sebagai akuntan, dalam bidang organisasi, suami dari Hj. Dyah Suminar, SE ini seringkali dipercaya sebagai bendahara—mulai dari lingkup RW hingga provinsi. Tak hanya itu, Herry juga menduduki berbagai jabatan penting lainnya di beberapa organisasi dan kegiatan sosial.

Dalam meniti karir dan usaha, ayah dari Alfita Ratna Hapsari, S.KG, Arief Nur Wibawanta dan Annisa Rahma Herdyana ini pernah berkiprah sebagai internal auditor, pengusaha swasta, hingga menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta, serta menjadi narasumber berbagai seminar dan lokakarya.

Menyebut Kota Yogyakarta saat ini tidak dapat lepas dari nama H. Herry Zudianto. Walikota Yogyakarta ini lebih suka menyebut dirinya sebagai Kepala Pelayan Masyarakat Kota Yogyakarta. Dalam kurun jabatannya sebagai Walikota Yogyakarta periode 2001—2006 tidak kurang dari 522 penghargaan dan kejuaraan telah diperoleh Kota Yogyakarta, baik tingkat nasional maupun propinsi.

Untuk tingkat nasional, Yogyakarta telah mendapatkan 139 penghargaan. Di antaranya Penghargaan Widya Krama untuk keberhasilan menuntaskan Program Wajib Belajar 9 Tahun (Bidang Pendidikan) Tingkat Nasional, Penyelenggaraan Sanitasi (Bidang Pemukiman) Terbaik Tingkat Nasional, Penghargaan Adipura Bangun Praja (Bidang Lingkungan) Terbaik Tingkat Nasional, Penghargaan Kota Bersih (Bidang Lingkungan) Terbaik Tingkat Nasional, Otonomi Award (Bidang Pemerintahan) Grand Category Region in Leading Profile on Political Performance, serta Special Category Region in a Leading Innovative Breakthrough on Public Accountability.

Belum lama ini, Kota Yogyakarta meraih kembali Penghargaan Adipura untuk kategori kota besar (Bidang Lingkungan) terbaik tingkat Nasional. Herry Zudianto terpilih kedua kalinya sebagai Walikota Yogyakarta melalui Pilkada Langsung untuk periode jabatan 2006—2011. (Sumber: www.jogjakota.go.id)

 

Catatan dari Betti Alisjahbana:

Pemerintah Kota Yogyakarta di bawah pimpinan Herry Zudianto memenangkan Bung Hatta Anti Corruption Award pada 2010 karena tindakan-tindakan nyata yang telah dilakukannya untuk melawan korupsi.

Beliau memiliki visi Iptek yang sangat kuat. Semasa saya masih menjabat sebagai CEO IBM Indonesia, IBM pernah mendukung beliau mewujudkan Taman Pintar yang menampilkan sains dan teknologi dengan cara yang menyenangkan. Pada 20 Desember 2010, pengunjung yang kesejuta sudah hadir di Taman Pintar. Tempat ini pun menjadi tempat wisata sambil belajar yang sangat populer.

Herry Zudianto juga mengembangkan e-government, yang meliputi berbagai layanan publik, termasuk mekanisme komplain elektronik yang dikenal sebagai UPIK (Unit Pelayanan Informasi Keluhan). Beliau sangat aktif berkomunikasi dengan masyarakat. Antara lain melalui radio, Facebook, dan akun Twitter @herry_zudianto.

 

Berikut adalah “Dialog Kepemimpinan dengan Herry Zudianto” di mailing-list Senyum-ITB.

 

Betti Alisjahbana, AR-79:

Selamat datang di Senyum-ITB, Pak Herry Zudianto. Terima kasih telah berkenan bertamu di milis Senyum-ITB, milisnya alumni ITB.

 

Banyak kemajuan telah terjadi sejak Bapak Memimpin Yogyakarta sebagai walikota. Tentunya tidak mudah memimpin transformasi di jajaran Pemerintah Kota Yogyakarta. Bisa diceritakan tentang tahapan-tahapan transformasi yang dilakukan di Yogyakarta, juga tantangan yang dihadapi di masing-masing tahapan tersebut? Lalu, milestones apa yang telah berhasil di capai sejauh ini?

 

Terima kasih atas perhatian dan jawabannya. Salam hangat penuh semangat.

 

Herry Zudianto:

Satu kehormatan bagi saya bisa bincang2 di milis Senyum-ITB. Saya mulai menjadi kepala pelayan masyarakat Yogyakarta pada September 2001. Saya adalah walikota dari masyarakat sipil kembali setelah kurang lebih 32 tahun Walikota Yogyakarta selalu dipegang oleh pejabat militer.

 

Transformasi yang paling berat dari suatu organisasi adalah meyakinkan dan menyatukan visi saya kepada jajaran organisasi birokrasi. Untuk menyatukan visi birokrasi, saya melakukan dialog yang panjang—bukan dengan cara langsung memerintahkan atau memobilisasi pemikiran. Dan, untuk meyakinkan bahwa visi yang saya sampaikan akan saya jalankan dengan sungguh-sungguh, yang saya lakukan adalah memberikan contoh dalam kebijakan-kebijakan, dan saya lakukan secara konsisten.

 

Tentunya setiap organisasi yang diarahkan untuk perubahan pasti ada tantangan-tantangan, terutama mereka yang merasa sudah dalam comfort zone dalam nilai-nilai organisasi yang sudah berlaku sebelumnya atau selama ini. Salah satu contoh, misalkan saya ingin menyampaikan visi bahwa saya tidak mau menerima bentuk loyalitas dari jajaran pemerintah kota yogyakarta dalam bentuk materi, maka saya menolak sejak awal parcel-parcel Lebaran dari instansi-instansi. Bahkan, saya balik paradigma itu dengan memberikan parcel-parcel kepada instansi-instansi selama Lebaran.

 

Saya pun melakukan rekayasa organisasi di mana Pemerintah Kota membuka komunikasi seluas mungkin secara interaktif dengan masyarakat luas dengan membentuk UPIK (Unit Pelayanan Informasi Keluhan). Melalui UPIK, melalui telpon dan SMS, masyarakat dapat memberi masukan mengkritisi, melaporkan hal apapun tentang jalannya Pemerintahan Kota Yogyakarta. Semua informasi yang ada di UPIK bisa langsung saya akses, dan saya minta semua instansi harus merespon balik. Karena tujuan saya adalah untuk desakralisasi birokrasi di mana semua kebijakan pemerintah dapat dan harus bisa diketahui masyarakat.

 

Sebaliknya, pemerintah juga harus tahu bahwa Pemerintah Kota (khususnya saya) mengenai hal-hal yang dibutuhkan masyarakat—termasuk jika ada praktik-praktik negatif dari oknum-oknum jajaran Pemerintah Kota Yogyakarta.

 

Yang jelas, pendekatan saya kepada jajaran birokrasi adalah pendekatan secara multidimensi karena saya sadar yang saya hadapi adalah manusia, di mana kepekaan untuk melakukan perubahan tidak bisa disentuh hanya dengan satu dimensi—dari mulai dimensi kepeloporan saya, kemudian nilai-nilai spiritual, nilai-nilai kebangsaan sampai pendekatan sistem dan prosedur untuk perbaikan-perbaikan kinerja, transparansi dan akuntabilitas.

 

Ada 2 prinsip yang saya pegang, yaitu saya berusaha untuk tidak “sombong”. Saya lebih mengutamakan dialog-dialog dari pada langsung memaksakan suatu pemikiran. Dan yang kedua adalah, tidak takut untuk mengambil keputusan jika suatu keputusan sudah saya dialogkan.
Dalam melakukan perubahan, saya tidak melakukan dengan cara revolusioner tetapi dengan evolusi, di mana perubahan nilai-nilai organisasi serta perubahan sistem dan prosedur saya lakukan secara bertahap sedikit demi sedikit, sehingga menjadi seolah-olah tanpa terasa perubahan telah terjadi. Dengan perubahan secara bertahap itu, sesuatu menjadi tidak menakutkan. Karena manusiawi sekali bahwa banyak manusia mempunyai sifat takut menghadapi perubahan atau tidak siap menghadapi perubahan.

 

Kepuasan batin saya selama saya menjadi kepala pelayan masyarakat Kota Yogyakarta saya peroleh paling tinggi jika tampil di acara Walikota Menyapa (dialog interaktif di empat radio di Yogya dengan masyarakat secara langsung). Ada masyarakat awam yang menyampaikan ucapan terima kasih dengan tulus karena masukannya atau laporannya sudah saya tindak lanjuti.

 

Adi Irianto, Elektro:

Dari diskusi dengan Bpk. Walikota Solo, beliau mengatakan agar tidak tersandera dengan kepentingan Partai Politik dalam hal melakukan hal yang pro-rakyat yang kadang kala bertentangan dengan garis partai pendukung. Namun, melihat kasus Walikota Surabaya yang bertentangan dengan partai pendukungnya, bagaimana dengan pengalaman Bapak di Yogyakarta—khususnya apabila harus berseberangan dengan partai? Apakah menurut Bapak ada fenomena di mana kepentingan partai berbeda dengan kepentingan rakyat? Terima kasih dan salam hormat.

 

Ilham Akar, PL04:

Anda mungkin sering mengunjungi kota-kota lain di Indonesia, seperti Jakarta dan Bandung. Jika Bapak menjadi Gubernur DKI atau Walikota Bandung, apa yang Bapak putuskan atau kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pertama kali dan akan lebih fokus ke mana?

 

Kota Jogja adalah kota pendidikan dengan jumlah universitas lebih dari 70 dan mungkin kota terbanyak di dunia yang punya perguruan tinggi (CMIIW, correct me if I’m wrong). Tentunya punya efek positif dan negatif dengan banyaknya mahasiswa yang datang ke Jogja. Bagaimana mengatasi eksternalitas negatif dengan banyaknya pendatang? Bagaimana dengan sebutan—maaf—kota maksiat, karena banyaknya mahasiswi yang sudah tidak perawan (http://yudhim.blogspot.com/2008/02/9705-mahasiswi-yogya-tak-perawan.html) atau lokalisasi di tengah kota? (Dulu saya punya beberapa teman mahasiswa di Jogja, dan mereka relatif membenarkan berita semacam ini dan memang benar-benar sebuah fakta.)

 

Setelah nanti lengser, karena sudah 2 kali menjabat, apa yang akan Bapak lakukan lagi? Berminat terjun ke dunia perpolitikan nasionalkah? Matur suwun Pak, salut karo program sego segawe-ne!

 

Herry Zudianto:

Pertanyaan 1: Maaf saya tidak bisa memberi komentar karena jawaban itu tentunya memerlukan informasi yang sangat jauh lebih harus saya kuasai lagi dibandingkan dengan informasi yang saya punyai saat ini atas kota Jakarta dan Bandung. Saya tidak ingin jadi orang yang “rumongso biso nanging ora biso rumongso”.
Pertanyaan 2: Dengan mahasiswa-mahasiswa yang belajar di Jogja, saya dan Pemerintah Kota mempunyai komunikasi yang cukup intens dengan organisasi-organisai kemahasiswaan dari daerah bahkan Pemkot punya program anggaran khusus untuk men-support kegiatan-kegiatan mereka.

 

Dalam komunikasi itu, saya sampaikan visi saya bahwa yang disebut orang Jogja adalah siapapun dia, dari suku mana pun, agama apa pun, adalah orang Jogja jika mereka mencintai Jogja dan berkarya nyata untuk Jogja. Intinya mereka harus merasa selama tinggal di Jogja atau kuliah di Jogja menjadi orang Jogja.

 

Sebutan “kota maksiat” belum pernah saya dengar, karena sesungguhnya sebutan itu menjadi tendensius untuk Kota Yogyakarta, termasuk masalah isu keperawanan yang menurut saya sangat tidak relevan jika nilai-nilai permisif dalam pergaulan seolah-olah hanya terjadi di Yogyakarta.
Pertanyaan 3: Setelah lengser, saya akan menjadi ketua RW di kampung saya karena sebelum menjadi walikota, jabatan terakhir saya adalah bendahara RW. Hehehehe.

 

Mufti, MA 79:

Mas Herry Z, saya bangga pada Pemda Jogja, di mana catatan tentang Indeks Pembangunan Manusia terakhir menduduki peringkat ke-4 dari 33 provinsi di Indonesia. Apa kiat Bapak mengembangkan Kota Jogja? Apakah ingin dipertahankan sebagai ikon kota pelajar ataukah ke arah kota budaya?

 

Herry Zudianto:

Terimakasih atas apresiasinya. Arah ke depan Kota Yogyakarta bagi saya biasa saya sebut dengan menjadi kota yang nyaman untuk dihuni dengan nilai-nilai sebagai kota pendidikan, budaya, perjuangan, dan pariwisata bisa berjalan dalam keharmonian. Kota yang nyaman dihuni meliputi:

  1. aspek fisik
  2. aspek sosial
  3. aspek ekonomi
  4. aspek budaya dan agama.

Dan, menurut hasil survey Ikatan Ahli Perencana Indonesia tahun 2010, Kota Yogyakarta menempati ranking 1 dari 12 kota besar yang disurvey tentang persepsi masyarakat terhadap kotanya.

 

Ari Suhendro, MS76:
Status Yogya (kota atau gubernur) yang tampaknya tidak apa-apa, akhir-akhir ini dipersoalkan. Menurut pendapat Bapak bagaimana? Terima kasih.

 

Herry Zudianto:

Menurut saya apa yang dipersoalkan sesungguhnya menunjukkan minimnya dialog dan komunikasi politik antara Pemerintah Pusat dengan masyarakat Yogyakarta dengan berpijak pada konsepsi kebhinekaan dan sejarah perjalanan NKRI.

 

Wicaksono Sarosa, AR/78 (juga warga Padmanaba):

Saya melihat masih banyak potensi Kota Jogja untuk pengembangan wisata yang belum dikembangkan dengan baik. Malioboro, misalnya, sudah terasa sangat sumpek karena hanya mengandalkan ruas jalan, tidak dikembangkan secara kawasan sebagaimana yang pernah direncanakan (lupa oleh siapa, tapi saya pernah lihat maket besarnya dipamerkan di Benteng Vredeburg). Sayang, kan?

Banyak potensi lain yang sebenarnya masih perlu dikembangkan sehingga orang yang sering datang ke Jogja tidak bosan-bosannya berkunjung ke kota ini. Ada kesan masyarakat Jogja merasa sudah puas dengan apa yang dimilikinya, sehingga kelihatannya kurang upaya untuk lebih berkembang secara all-out. Bagaimana rencana Pak Herry sebagai walikota utk mengubah sikap mental tersebut sehingga potensi wisata kota Jogja bisa dimaksimalkan dan terus bertambah/ berubah?

 

Herry Zudianto:

1. Konsepsi revitalisasi Malioboro saat ini masih terus dikembangkan dengan bantuan Bappenas karena persoalannya sangat komprehensif yang meliputi rekayasa fisik, rekayasa ekonomi, rekayasa sosial, status hukum pertanahan. Mudah-mudahan tahun 2011 ini, grand desain 4 hal itu sudah dapat dirumuskan untuk dimulainya revitalisasi Malioboro kedepan.

 

2. Saya kira tidak benar bahwa masyarakat Jogja sudah puas dengan apa yang dicapai saat ini. Ini saya ketahui dari hasil dialog saya dengan masyarakat Kota Yogyakarta. Masyarakat Yogyakarta adalah masyarakat yang dinamis dan sangat open mind untuk menangkap tantangan dan peluang yang terjadi. Saya tidak punya rencana untuk mengubah sikap mental, tetapi menggerakkan daya sosial masyarakat Yogyakarta dengan lebih komprehensif dengan semangat “Segoro Amarto”, yaitu Semangat Gotong-Royong Agawe Majuning Ngayogyakarto dengan 4 pilar: kemandirian, disiplin, kepedulian, gotong royong. Implementasi Segoro Amarto kita uji coba di 3 kampung di Kota Yogyakarta, dan dalam perjalanannya mampu melakukan percepatan dalam hal peningkatan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

 

Wicaksono Sarosa:

Matur nuwun Pak Herry, senang mendengar jawaban Bapak khususnya mendengar rencana pengembangan Malioboro (dan tentunya bagian lain Jogja) yang mempertimbangkan berbagai hal serta tentang masyarakat Jogja yang dinamis dan optimistik walau dari luar kelihatan adem ayem.
Salut!

 

Henry Ako Tampubolon:

Saya tergerak menanyakan beberapa hal karena dulu saya pernah tinggal di Yogya beberapa tahun di sekitar jalan Magelang.

 

a. Apa visi dan misi selama kepemimpinan Bapak?

b. Dari email yang dikirim Yogya menurut bapak adalah kota pendidikan, pariwisata, perjuangan. Bagaimana masterplan pembangunan industri-industri di sekitar Yogyakarta? Pertanyaan ini saya ajukan karena begitu banyak sarjana yang dihasilkan di Yogyakarta—dari Agro, Teknik, Peternakan dsb.

c. Mengenai transportasi massal di tahun 1995 sudah saya dengar. Saya belum pernah ke Yogya lagi hingga sekarang, jadi tidak tahu apakah ini sudah terlaksana. Saya pengin tahu, masterplan untuk hal ini ke depan?

d. Kalau boleh tahu, bagaimana Bapak mengalokasi APBD dan mengoperasikannya demi kesejahteraan rakyat Yogya? Kekurangan anggaran adalah alasan klasik yang sering kita dengar. Bagaimana Bapak mengoptimalkan anggaran yang ada? Berapa persen dialokasikan untuk pendidikan?

e. Ke depan, apakah Yogya juga akan diarahkan sebagai kota industri?

 

Herry Zudianto:

a. Visi besar saya adalah mampu menggerakkan partisipasi masyarakat dengan membangun pemerintahan yang baik dan bersih agar terbangunnya kepercayaan masyarakat terhadap transparansi, akuntabilitas, dan responsivitas pemerintah Kota Yogyakarta. Karena saya percaya pembangunan berkelanjutan dapat dicapai apabila pemerintah mampu men-drive daya sosial masyarakat.
b. Untuk Kota Yogyakarta, tumpuan ekonominya adalah kota jasa dan perdagangan dengan lokomotifnya adalah pariwisata yang berbasis budaya, pendidikan. Tentunya pengembangan bidang agro, industri dsb dapat dikembangkan di 4 kabupaten di Propinsi DIY. Dan, secara lebih luas lagi tentunya hasil pendidikan untuk bidang-bidang itu dapat dimanfaatkan untuk Indonesia.
c. Kota Yogyakarta punya program pembangunan transportasi massal, yaitu Trans Jogja yang bekerjasama dengan Pemprov DIY yang tahun ini sudah mulai dikoneksikan dengan Stasiun Tugu, bandara, dan terminal bis, dan terus dikembangkan jejaring jalurnya setiap tahun.
d. Alokasi anggaran adalah kebijakan politik, sehingga jika suatu sektor pembangunan tidak dilakukan maka jawaban yang benar adalah karena memang tidak dianggarkan—bukan karena tidak ada anggaran. Untuk anggaran pendidikan Kota Yogyakarta, sudah lebih dari 30% yang dialokasikan—termasuk jaminan pendidikan di mana untuk penduduk miskin dibebaskan dari seluruh biaya pendidikan, baik yang sekolah di negeri atau swasta hingga SMA atau SMK. Untuk kriteria penduduk miskin, kami membuat kriteria tersendiri yang kriteria kemiskinannya lebih tinggi dari kriteria yang ditentukan BPS (karena definisi kemiskinan itu bersifat relatif antara kelompok yang berpenghasilan rendah dengan rata-rata pendapatan masyarakat, jadi orang miskin di Yogyakarta belum tentu termasuk orang miskin di daerah lain). Kami punya database by name, by address, yang selalu di-update tingkat pendapatan dan standard biaya hidup setiap tahun.
e. Kota Yogyakarta diarahkan untuk kota yang nyaman dihuni karena sesungguhnya fungsi kota adalah tempat manusia hidup yang harus memiliki standard kelayakan dari 4 aspek, yakni fisik, sosial, ekonomi, budaya dan agama. Jangan terjebak pada format daya dukung ekonomi semata.

 

Rulan, EL-99:

1. Kalau boleh tahu, latar belakang Bapak sebelum jadi walikota berprofesi sebagai apa?
2. Pengalaman apa di masa lalu yang membuat Bapak mencapai kualitas seperti sekarang?
3. Kenapa Bapak mencalonkan menjadi walikota waktu itu? Terima kasih.

 

Herry Zudianto:

1. Saya berpendidikan fakultas ekonomi jurusan akuntansi dan berkarier sejak awal sebagai wiraswasta yang bergerak dalam usaha pertokoan (tidak ada usaha yang berhubungan dengan pemerintah). Latar belakang keluarga saya adalah pengusaha batik.
2. Kesan pesan, petuah-petuah, dan gemblengan serta doa dari ibu saya dan eyang saya.
3. Wah, kalau guyonannya, saya ini mengalami kecelakaan sejarah karena saya tidak bermimpi menjadi walikota karena selama hampir lebih dari 32 tahun, Walikota Jogja selalu dipegang pejabat militer. Kalau seriusnya, saya lahir dan dibesarkan di Kota Yogyakarta dan saya punya obsesi-obsesi untuk Kota Yogyakarta, di mana obsesi-obsesi itu setahap demi setahap saya jadikan kebijakan selama saya menjadi kepala pelayan masyarakat Kota Yogyakarta.
Arif Rahmat, TA99:

Saya ingin tanya, ukuran keberhasilan kerja Bapak yang Bapak jadikan acuan itu seperti apa ya? Dalam pemerintahan kota, mungkin yang menjadi prioritas dari program bapak—misalnya jumlah angka pengangguran, angka kemiskinan, pendapatan daerah, atau hal lainnya.

 

Untuk mengukur kinerja bapak dan jajarannya per periode, biasanya apa yang Bapak lakukan (semacam evaluasi internal)? Terima kasih.

 

Herry Zudianto:

Sekali lagi saya tidak mau mengklaim keberhasilan saya. Sebaiknya pertanyaan itu yang menjawab adalah masyarakat atau pemerintah pusat atau lembaga-lembaga lain yang memonitoring kemajuan suatu daerah.

 

Mungkin sedikit referensi bahwa Kota Yogyakarta menerima penghargaan tingkat nasional lebih dari 50 penghargaan baik yg diberikan oleh pemerintah pusat maupun lembaga-lembaga independen dari penghargaan kota sehat sampai penanganan pemukiman kumuh, dari IPK yang 5 besar sampai laporan keuangan yang wajar tanpa pengecualian.
Kita selalu mengadakan evaluasi internal secara rutin untuk melakukan inovasi-inovasi dan perbaikan-perbaikan dari capaian-capaian yang sudah ada. Karena berbagai penghargaan tersebut diatas bagi saya hanya sebagai arah pedoman bahwa kinerja yang pemerintah kota capai sudah on the track tetapi belum tentu itu sudah menjadi yang ideal. atau yang seharusnya masih bisa ditingkatkan pencapaiannya.

 

Natal Hutabarat:

Saya mau bertanya tentang korupsi, karena saya tahu Bapak salah satu penerima penghargaan antikorupsi dari perkumpulan Bung Hatta Anti Korupsi Award.

 

1. Langkah-langkah nyata apa di lapangan yang Bapak lakukan sehingga bisa meminimumkan korupsi di pemerintahan Bapak?

2. Apakah ada punishment yang diberikan jika ada anggota/bawahan Bapak yang korupsi? Atau mungkin Rewards buat yang bersih/tidak korupsi?

 

Terima kasih atas jawaban dan kesediaan Bapak berbagi pengalaman dan ilmu dengan kami di milis Alumni ITB.

 

Herry Zudianto:

1. Secara detail, teknis jawaban itu akan menjadi panjang sekali tetapi intinya adalah melalui pendekatan perubahan mindset organisasi melalui pendekatan nilai maupun pendekatan sistem, di mana pendekatan kedua hal tersebut melalui pendekatan dialogis di birokrasi dan sikap kepeloporan yang dijalankan dengan konsisten.
2. Ya, tentunya ada reward dan punishment. Tapi, yang lebih kami utamakan adalah pencegahan yang sistemik melalui sistem dan prosedur pengelolaan pemerintahan melalui sistem dan prosedur yang mengedepankan transparansi dan akuntabilitas.

 

Wicaksono Saroso, AR78:

Kalau boleh satu pertanyaan lagi. Moga2 masih bisa ditanggapi. Lalu lintas Jogja sudah makin padat. Kawasan pusat kota sudah sering macet luar biasa (sedikit lebih baik dari Jakarta). Walau Trans Jogja patut mendapat acungan jempol, saya kuatir sarana transportasi ini tidak akan memadai dalam waktu dekat (katakanlah 5-10 tahun lagi).

Apakah ada rencana transportasi lain yang lebih berjangka-jauh (“visioner”) untuk mengantisipasi lonjakan lalu-lintas di Jogja? Misalnya yang berbasis rail (tram, monorail, light-rail system)? Perbaikan transportasi publik di sini tentunya menyangkut kenyamanan pejalan kaki (sayangnya trotoar yang ada banyak yang dipakai PKL, walau hal ini juga sangat dipahami). .Sayang kalau masalah kemacetan menyebabkan terhambatnya perkembangan ekonomi (termasuk dari sektor wisata). Just curious (sebagai pecinta kota Jogja). Matur nuwun.

 

Herry Zudianto:

Ada, walaupun tentunya ini berjangka menengah, tetapi sudah dimulai pemikiran konsep-konsep yg digunakan untuk melengkapi Trans Jogja, yaitu pemanfaatan jalur diatas Sungai Code yang membelah Kota Yogyakarta dengan moda transportasi monorail.

 

Mufti, MA79:

1. Jumlah penduduk Jogya terus meningkat. Data BPS 2010 sudah mencapai 3,5 juta penduduk. Apa tanggapan Mas Herry tentang jumlah penduduk yang terus meningkat? Daya dukung kota bagaimana? Problematika menjadi semakin pelik manakala potret kemiskinan menjadi sisi lain perkembangan suatu kota.

2. Apa yang Mas Herry pikirkan tentang upaya-upaya penanggulangan kemiskinan di kota Jogya?

3. Terkait masalah kesehatan masyarakat—utamanya kesehatan ibu dan anak—seberapa jauh program Pemerintah Kota Jogya dalam menanggulangi masalah kesehatan warganya?

 

Herry Zudianto:

1. Program keluarga berencana yang menjadi program unggulan secara nasional untuk menekan pertumbuhan jumlah penduduk di era reformasi meredup karena sepertinya sudah tidak menjadi komitmen prioritas pemerintah secara nasional. Masalah urbanisasi sesungguhnya adalah masalah crucial yang berhubungan dengan konsep pemerataan pembangunan khususnya pembangunan sektor perekonomian antar daerah antar kota dan desa. Selama masih terjadi ketimpangan pembangunan infrastruktur dan daya dukung perekonomian antardaerah maupun antarkota dan desa. Maka, urbanisasi kekota-kota sesuatu yang tidak bisa dicegah, di mana urbanisasi ke kota bukan karena siap untuk hidup di kota tetapi karena terpaksa tidak bisa hidup di desa. Sementara mereka tidak mampu dari segi sumber daya untuk membiayai standar kehidupan kota karena pendapatan yang rendah walaupun masih lebih dari pada pendapatan di desa.

 

2. Ada dua hal: jaring pengaman sosial dan pemberdayaan ekonomi dengan optimalisasi sumber daya di wilayah (tingkat kelurahan sampai kecamatan). Tingkat kemiskinan Kota Yogyakarta versi BPS tahun 2010 adalah 10% di mana angka kemiskinan nasional berkisar 13,5%. Program Segoro Amarto yang kami uji cobakan di 3 kampung di wilayah Jogja mengalami penurunan angka kemiskinan yang cukup cepat. Contoh, di Kampung Kricak ada penurunan angka kemiskinan dari 1.016 kepala keluarga pada 2008 menjadi 640 pada tahun 2010.
3. Kota Yogyakarta termasuk kota sehat terbaik versi Departemen Kesehatan dari aspek pelayanan dan sarpras kesehatan masyarakat, termasuk untuk pelayanan kesehatan ibu dan anak. Program inovasi terbaru adalah pendirian Rumah Pemulihan Gizi yang pertama di Indonesia, dan yang segera akan dilakukan adalah Jaminan Kesehatan untuk semua penduduk (pengembangan dari Jaminan Kesehatan bagi Penduduk miskin yang selama ini telah berjalan dengan baik).

 

Moko Darjatmoko – alumni Sipil ITB yang hidup dan bekerja di US (30 tahun di Madison, Wisconsin) dan sekarang sedang melakukan riset di Indonesia a.l. dalam bidang pendidikan dan antropologi:

Ngaturaken kasugengan. Hari terakhir di Yogya, aku masih punya 12 jam sebelum keretaku tiba (Kereta Malabar dari Malang tiba di Yogya tengah malam). Situasi karcis kereta agak membaik dari waktu berangkat, tetapi tidak banyak pilihan. Sebetulnya aku bisa pulang pagi tetapi terlalu kemrungsung dan aku tidak mau “missed” presentasi IGI-nya Cak SD dan Cak Hernowo (Mizan), yang punya “something in common” denganku—di Kampus ITB sering disebut sebagai “insinyur sesat” (sudah susah-susah diajari ngelmu engineering tetapi berkecimpung dibidang yang sama sekali lain).

 

Diantar mas yang baik hati dari Penerbit Erlangga aku minta di-drop di Malioboro. “Lho terus ngapain saja sampai tengah malam di situ?” Kalau dipikir-pikir seumur hidup aku belum pernah jadi turis di Yogya (selalu cuma mampir saja), dan inilah kesempatan untuk jadi pengamat merangkap salah satu “backpackers”, turis barat yang agak melarat, biasanya mahasiswa (dengan MacBook 17″ di backpack, rasanya sudah seberat gendongan tipikal backpacker, apalagi punyaku masih ditambah mug dan paket minuman seceng—compliment of UNY).

 

Kesanku tentang Malioboro (maaf, ini tidak dimaksudkan untuk menimbulkan “kerusuhan etnis” :-). I just tried to write an honest opinion, nothing personal). Aku merasa berada di sebuah tempat parkir yang luas sekali. Meskipun lalu-lintas (searah) tidak semacet di Bandung, tetapi buat pejalan kaki terasa sangat “rupek” karena banyaknya kendaraan bermotor yang diparkir di pinggir jalan atau kaki lima. Kaki limanya sendiri dipenuhi dengan pedagang asongan (kebanyakan baju batik dan kaos jogadu), kanan-kiri menyisakan lorong yang susah dilalui 2 orang tanpa senggolan (berulang kali backpack yang gemuk punyaku itu nyenggol punggung orang, kakekane!).

 

Aku jadi ingat “survey kecil” yang kulakukan di Bandung bulan-bulan awal kedatanganku. Praktis tidak ada “orang bule” jalan-jalan di tempat-tempat yang seharusnya menjadi “unggulan” turisme. Kenapa begitu? Well, kurasa nomor satu adalah perasaan aman, safety is number one concern dalam masyarakat barat. Sampai saat ini aku sendiri masih merasa “vulnerable” kalau lagi jalan atau nyebrang di Bandung, bahkan di kaki lima pun sering jadi saingan sepeda motor yang naik kaki lima, tidak sabar antre di kemacetan jalan. Di Malioboro yang kuamati kemarin tidak seburuk di Jl. Sunda (Bandung) tetapi aku musti berjalan di jalur andong dan becak dengan resiko bersinggungan dengn mereka—yang kebanyakan sopirnya hanya duduk-duduk parkir sambil merokok.

 

Beberapa bule kulihat tidak lebih dari 20 orang dalam tempo 12 jam itu. Sebagian besar keluarga (suami-istri dan anak) yang tinggal di hotel-hotel besar, sebagian lagi pasangan muda dan backpackers yang tinggal di hotel murah atau homestay di kampung-kampung.

 

Kebanyakan turis dari Eropa, dari bahasa atau aksennya aku kenal yang dari Itali, Perancis, Spanyol, Belanda, Jermanm dan beberapa dari India dan negeri Arab. Tidak kutemui satupun yang berasal dari Amerika. Ada 2 pasangan, dari Perancis dan Belanda, di warung lesehan tetapi duduknya “wagu” yang aku komentari bahwa setelah 30 tahun jadi “wong londo” aku sudah tidak dapat duduk seperti itu lagi. Si cowok Perancis mewakili rombongannya menjawab, “We’re willing to endure this torture because the food is sooooo good!” [kulihat memang piringnya bersih licin bagai dijilat].

 

Ada lebih dari 10 rit pulang-pergi yang kulalui sepanjang jalan yang terkenal ini. Setiap kali, karena capai aku istirahat duduk dibawah pohon sambil mengamati lalu-lintas orang. Aku jadi merenung, seandainya … seandainya aku ini jadi walikota, city planner atau siapa saja yang “in charge” dengan Malioboro, pertama-tama aku bebaskan jalan ini dari kendaraan—barangkali bis turis, andong, dan becak yang dipercantik masih boleh di jalur khusus, tetapi mereka tidak boleh parkir, harus mengalir terus. Kedua, tidak ada lagi parkir di tepi jalan. Semuanya harus pindah ke Benteng Vedreburg atau sekitarnya, bikinkan underground parking biar nggak sepet di mata.

 

Hal lain yang “kosong” sebagai pusatnya kota turis adalah ketiadaan pertunjukan seni atau apa disitu. Aku tanya kemana-mana, kalau mau nonton wayang orang/kulit, ketoprak atau performing arts yang lain dimana, paling banter dapat jawaban di sana (jauh) atau bahkan ke Prambanan saja. Kenapa tidak ada di Malioboro, yang kalau dijadikan “mall” (pedestrian mall) bisa menarik banyak orang yang suka jalan sambil nonton apa saja. Kurasa ISTI dan peguyuban seni di Yogya bisa diajak dan disponsori oleh kotamadya untuk menampilkan (sambil latihan) skill mereka disini.

 

Pedagang asongan dan warung makanan musti “ditertibkan” (bukan diusir) dengan tenda-tenda kecil, dan nggak boleh buang sampah sembarangan. Jalan raya dan selokan itu bukan tempat sampah. Yang masih suka mempertahankan gaya hidup joroknya langsung didenda sampai klenger dan/atau kehilangan lisensi jualnya. Di Madison juga ada PKL, tetapi jangan tanya soal kebersihan dan kesehatan publik—ngaco dikit saja bakal dikasih tiket sama health inspector … and that is not a good thing to have (hasilnya, dua tahun berturut Madison dipilih sebagai “the best city to live” oleh People Magazine). Aku berani jamin, kalau ini dilakukan turis di Malioboro akan naik paling tidak sepuluh kali lipat. Barangkali ada yang bisa meneruskan “ngudarasan” ini ke Sultan atau Walikota?

 

Aku juga sempat ngobrol dengan penduduk lokal. Dua cewek kiyut-kiyut lagi beli dawet pakai gula jawa yang aku juga naksir. Aku bicara pada diri sendiri memuji bahasa jawa si cewek yang “mlipis”—dalam bahasa jawaku yang hampir mlipis juga.

 

“Lho, kami orang sini kok, bukan turis. Bapak ini aslinya dari mana?” Ditanya “aslinya” otomatis jawaban a la Chicago keluar, “Orangtua saya dari Solo, lahir di Malang. Kalau aslinya sih Madison!” Ah, nostalgia … sudah berapa lama beta tidak berbahasa Jawa halus.

 

Sebelum pergi ke stasiun Tugu aku duduk istirahat di dekat sebuah warung lesehan mendengarkan seorang pengamen gitar melantunkan lagu-lagu “oldies” (he’s playing our song, dear!) dengan pronunciation dan aksen yang hampir sempurna. Waktu dia mau pergi aku undang untuk duduk disampingku. Aku kasih salam tempel, kutanya apakah dia bisa bicara bahasa Inggris. Jawabannya tidak. Ternyata benar dugaanku, fenomena yang sama dengan para karaokeawan/wati di BeMall, Bandung: hapal lagu tidak berarti mengerti bahasanya, tetapi lagu juga bisa dipakai memudahkan dalam pembelajaran bahasa (supaya otomatis). Kuminta dia menyanyikan lagu yang paling disukainya, yang ternyata “To Love Somebody” nya Bee Gees (1967). Ketika sampai di refrain aku tidak bisa diam, ikut bengok-bengok (in harmony) dengan Mas Kris, sang pengamen …

 

You don’t know what it’s like.
Baby, you don’t know what it’s like,
To love somebody.
To love somebody.
The way I love you.

No, no, no-no, no, no (sambil geleng-geleng kepala)

 

Beberapa orang yang lewat berhenti menikmati duet tengah malam ini. Ini pengalamanku yang pertama dan mungkin terakhir, ngamen di jalan. Kalau di Madison aku yakin performance seperti ini akan dapat saweran beberapa lembar dolar. I ucapkan selamat tinggal kepada Malioboro dan degan cepat aku mengayunkan kaki ke stasiun Tugu. Tabik.

 

Herry Zudianto:

Minta tolong sampaikan ucapan terima kasih kepada Mas Moko atas pengamatannya terhadap Malioboro dan sekitarnya, akan menjadi salah satu referensi kebijakan Pemerintah Kota Yogyakarta.

 

Minta tolong kepada Bu Betti apakah saya bisa mendapatkan alamat lengkap dari rumah atau kantor dari para peserta dialog interaktif malam ini, saya akan mengirimkan buku saya “Kekuasaan sebagai Wakaf Politik” sebagai apresiasi saya.

 

Sebagai penutup dalam diskusi di milis ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah berdiskusi secara interaktif dengan saya dan semua hasil diskusi tadi akan memperkaya khasanah pemikiran saya sebagai kepala pelayan masyarakat Kota Yogyakarta.

Salam Jogja, Salam Indonesia…… Jaya !

 

Betti Alisjahbana, AR79:

Pak Herry, matur nuwun sanget. Terima kasih ya Pak, atas dialognya yang sangat bermanfaat dan memperluas wawasan kami sekaligus mengispirasi. Semoga semakin banyak pemimpin-pemimpin yang ber integritas dan berdedikasi tinggi dan mampu membawa perbaikan yang signifikan seperti yang telah Bapak contohkan.

Alamat teman-teman akan kami kumpulkan dan kami kirimkan ke Bapak segera. Sekali lagi, terima kasih

 

Komentar-komentar:

 

Wicaksono Sarosa, AR 78: Matur nuwun sanget Pak Wali. Mas Herry semoga semakin sukses menjadikan Jogja yang sejahtera dan nyaman ditinggali.

 

Natal Hutabarat: Saya juga sekali lagi mengucapkan banyak2 terima kasih atas kesediaan Bapak untuk berbagi pengalaman. Sangat mencerahkan. Semoga semakin banyak pemimpin daerah di Indonesia seperti Pak Herry. Semoga Pak Herry tetap sehat dan tetap semangat dalam melayani masyarakat kota Yogyakarta. Terima kasih juga buat Bu Betti dan Group Administrator yang baik yang memfasilitasi diskusi ini.

 

Priyo P Soemarno: Pak Wali, terimakasih atas sumbang pikiran yang sungguh melegakan dan mencerahkan. Semoga pak Wali berhasil menjalankan tugas dengan sukses dan selalu didukung oleh masyarakat Jogya.

 

Monny Rukmono, TK76: Terima kasih untuk Betti dan seluruh penyelenggara. Very inspiring. FYI, hasil diskusi tsb saya cross check ke adik-adik saya yang tinggal di Yogya yang merasakan langsung kepemimpinan beliau. Kata adikku:

– Apa yang Beliau “ucapkan dalam diskusi tersebut kebanyakan sesuai dengan fact-nya”
– Banyak masalah kronis di Yogya yg tidak bisa resolve, Walikota turun temurun. Di tangan Beliau, banyak yang bisa resolved meski belum semua.
– Beliau banyak berdialog secara aktif dg masyarakatnya via langsung dan multimedia terutama FB. Hasil dialog-dialog tersebut dijadikan keputusan dan bila sudah menjadi keputusan akan dijalankan dengan persistent. Jadi bukan pemimpin tipe “or” (yes or no, yes or no…. or or or terus)
– “Keberhasilannya tidak membuatnya sombong, malah makin menunduk” Seperti yang Beliau katakan bahwa Beliau tidak mau menilai diri sendiri, biarlah orang lain/lembaga2 lain yg menilai.

Sebetulnya hal-hal tsb biasa2 saja krn memang itu yg harusnya dilakukan oleh seorang pemimpin, tapi karena saat ini di Indonesia “Leader yang punya Leaderships” sangat langka, so menurut hukum relativitas jadi luarr biasaa……. hihihi.

 

Saya sendiri tidak bisa menilai secara langsung krn saya sdh meninggalkan Yogya sejak tahun 76. Yang saya tahu dulu dia waktu masih di SMA Padmanaba (kakak kelasku). Dia termasuk golongan “ndugal” dan oleh kawan-kawan dipanggil Herry Bintoel. Hehehe. Tapi, yang lebih penting adalah hasil akhir yg bisa memberikan manfaat untuk orang banyak. Alhamdulillah akhirnya jadi “orang”. Hihihihi..

 

Semoga Yogya makin oyeee, dan juga untuk Betti dan Mario (via Warta Ekonominya) makin rajin dan serasi menstimulir dan menjaring pemimpin-pemimpin dan CEO-CEO baru yang berkelas dan memberikan manfaat buat orang banyak. Amiiiiiin.

 

Moko Darjatmoko: Terimakasih Mbak Betti, titipan ngudarasaku telah diteruskan—maaf aku tidak bisa hadir Jumat kemarin karena ada prior engagement … ngrumpi dengan “peer” ku di Madison (those interested in my reasearch and what I’m doing here).

 

Juga terimakasih kepada Pak Herry atas apresiasinya … Yogya is so lucky having you as her mayor. Not only you LOVE the city, but you also ACT on that love. It’ll be an honor to meet and to talk you in person … some time in the future (on my next visit to the city).

 

Walau tidak bisa hadir, aku membaca semua Q&A yang berlangsung kemarin, dan aku merasa event semacam ini sangat penting untuk dilakukan secara regular (say, once a month or every other week?). Pertama-tama … ya, supaya milis ini kelihatan lebih “angker” (serious) — dan jelas akan menaikkan S/N ratio :-)

 

Kedua –ini yang lebih penting– dialog semacam ini menyiratkan keterbukaan dalam governance. Dan inilah salah satu faktor yang penting dalam masyarakat yang modern dan demokratis, yang di Amerika biasanya dalam bentuk public hearing atau, historically more romantic, town meeting. Disatu pihak, masyarakat merasa “dianggep” (diuwongke), diajak rembugan, pendapatnya dianggap penting , merasa dilibatkan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kota mereka. Dilain pihak, walikota dan jajaran public servants mendapat feedback yang lebih baik (maunya masyarakat itu sebenarnya apa), dan—ini yang penting—secara psikologis mendapat mekanisme kontrol.

 

Philip Zimbardo, profesor social-psikologi di Stanford, telah membuktikan bahwa garis antara orang baik-baik dan orang jahat itu sangat tipis. Manusia biasa bisa menjadi brutal dan jahat kalau dia mendapat kesempatan (kekuasaan) dan merasa “tidak ada yang melihat” (anonymous), jauh dari scrutiny mata masyarakat. Problem anonimitas ini menjelaskan perilaku yang biasanya tidak dilakukan oleh orang dalam keadaan normal, seperti kekejaman dan kebrutalan terhadap sesama manusia (tawanan/narapidana) di penjara, perilaku yang merusak dalam demontrasi massa (crowd behavior).

 

Ketika menjadi expert witness dalam skandal di penjara Abu-Graib, Zimbardo seolah cuma perlu mengatakan “I told you so” … karena 40 tahun sebelumnya dia telah menunjukkan di laboratorium psikologi, dalam experiment yang paling notorious di dunia psikologi: Stanford Prison Experiment (didokumentasikan secara lengkap di Internet). Yang ingin tahu lebih lanjut bisa membaca sendiri bukunya yang jadi bestseller, “The Lucifer Effect.” [Kalau tidak salah Zimbardo juga pernah bicara soal buku ini di TED, silahkan google].

 

Once again, kudos for Mayor Herry and the facilitator of this dialog. I’m looking forward to the next dialog, with the mayor of Surabaya?

Nuwun,

Moko

 

Monday, 07 February 2011 13:23 | Written by Betti Alisjahbana

Dialog Kepemimpinan Dengan Walikota Jogjakarta, Herry Zudianto

 
www.stisitelkom.ac.id www.di.stisitelkom.ac.id www.ktm.stisitelkom.ac.id
www.dkv.stisitelkom.ac.id www.dp.stisitelkom.ac.id www.srm.stisitelkom.ac.id
www.blog.stisitelkom.ac.id www.multimedia.stisitelkom.ac.id
www.elearning.stisitelkom.ac.id www.library.stisitelkom.ac.id
www.repository.stisitelkom.ac.id www.cloudbox.stisitelkom.ac.id
www.digilib.stisitelkom.ac.id www.mirror.stisitelkom.ac.id
www.sisfo.stisitelkom.ac.id www.hilfan.blog.stisitelkom.ac.id
www.telkomuniversity.ac.id www.stisitelkom.academia.edu
www.kuningmas-autocare.co.id www.usnadibrata.co.id www.askaf.co.id www.hilfans.wordpress.com www.hilfan-s.blogspot.com www.profesorjaket.co.id

Dialog Kepemimpinan dengan Jokowi

Source : http://leadershipqb.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1406:dialog-kepemimpinan-dengan-jokowi-walikota-solo&catid=39%:betti-content&Itemid=30

 

Nama Joko Widodo kembali mencuat, dengan majunya ia sebagai calon gubernur Ibu Kota Jakarta. Kiprahnya sebagai walikota Solo mendapat banyak pujian sehingga wajar sebagian warga Jakarta berharap Jokowi–panggilang akrabnya–dapat pula membawa perubahan ke Tanah Betawi.

Tahun lalu, jauh sebelum hiruk-pikuk Pilkada DKI mengemuka, Jokowi ikut serta dalam Dialog Kepemimpinan yang diadakan di mailing list Senyum-ITB.Ketika itu, dengan gayanya yang lugas, Jokowi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anggota milis, melalui internet.

Kami memuat kembali kompilasi dari tanya jawab yang diadakan pada  Rabu 26 Januari 2011, jam 12:00 – 14:00, tersebut sebagai bahan referensi bagi Anda. Kompilasi ini dibuat oleh moderator diskusi ketika itu: Betti Alisjahbana.
Profil Jokowi
Ir. Joko Widodo lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961. Dia—lebih dikenal dengan julukan Jokowi—adalah walikota Kota Surakarta (Solo) untuk dua kali masa bhakti 2005-2015.

Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada pada 1985. Ketika mencalonkan diri sebagai walikota, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini. Namun, setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dia lakukan. Jokowi banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.

Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto “Solo: The Spirit of Java”. Langkah yang dia lakukan cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa.

Jokowi mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka. Ia memberi syarat kepada investor agar mau memikirkan kepentingan publik. Ia pun melakukan komunikasi langsung secara rutin dan terbuka—disiarkan oleh televisi lokal—dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya.

Sebagai tindak lanjut branding, Jokowi mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia, dan diterima pada 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada Oktober 2008 ini.

Pada 2007, Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran pada 2008. Oleh Majalah Tempo, Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008”. (Sumber: Wikipedia.org)

Jokowi berhasil merelokasi lebih dari 1.000 Pedagang Kaki Lima tanpa ada unjuk rasa, melalui pendekatan dialog, pemberian kios gratis, serta pemberian SIUP dan TDP cuma-cuma sehingga status PKL menjadi formal dan bisa mendapatkan kredit bank.

Sebagai hasilnya, pedagang tradisional ini tak lagi menjadi beban. Malah, selama empat tahun terakhir, retribusi dari pasar tradisional dan pedagang kaki lima (PKL) di Kota Surakarta tercatat sebagai penyumbang bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) tertinggi dibandingkan sejumlah obyek retribusi lainnya. Sumbangan mereka lebih besar dibandingkan pendapatan yang disumbangkan dari perhotelan, reklame, parkir, hingga restoran.

Jokowi sangat efisien dalam penggunaan anggaran. Banyak kemajuan-kemajuan dirasakan di Solo. Di antaranya, ada 13 pasar tradisional baru, taman kota, trotoar pejalan kaki, perbaikan administrasi pelayanan dan pengembangan green belt sepanjang Bengawan Solo (7 kilometer).

Jokowi melakukan banyak langkah untuk memberantas korupsi. Sebagai hasilnya, Solo masuk tiga besar kota dengan indeks persepsi korupsi terbaik di Indonesia. Pak Jokowi juga menjadi pemenang Bung Hatta Anti Corruption Award tahun 2010. Sebelumnya, pada 2009, ia menerima penghargaan Piala Citra Abdi Negara dari Presiden RI untuk kinerja kota dalam penyediaan Pelayanan Publik, Kebijakan Deregulasi, Penegakan Disiplin dan Pengembangan Manajemen Pelayanan.

Berikut adalah “Dialog Kepemimpinan dengan Jokowi” di mailing-list Senyum-ITB.

Suprapto PL-79:
Dalam hal “keberhasilan” Jokowi pada kepemimpinan Kota Surakarta (Solo) salah satunya adalah diawali adanya atau terbangunnya faktor “kepercayaan, kejujuran dan kemauan baik” di antara pemangku kepentingan (stakeholders) Kota Solo (Pemkot, masyarakat, pihak ketiga). Kondisi ini selanjutnya menciptakan sikap penerimaan (acceptance) yang positif atas gagasan-gagasan penataan dan pembangunan Kota Solo. Sangat boleh jadi, kepemimpinan Jokowi telah berhasil melakukan “character approach” pada masyarakat dan lingkungan Kota Solo yang barangkali memang masih relatif homogen.

Pertanyaan saya ada 2 saja. Pertama, mungkinkah kondisi-kondisi lingkungan dan masyarakat di atas ditiru dan diterapkan di kota-kota lain terutama yang lebih kompleks (heterogen)? Kedua, seringkali masalah yang selalu terjadi di lingkungan kita atas suatu program adalah masalah keberlanjutan (sustainabilitas). Seringkali terjadi “penerus” berikutnya kurang berkenan untuk “melanjutkan dan mengembangkan” yang lama yang sudah dinilai baik. Nah, apakah Jokowi sempat terlintas kekhawatiran ini? Bagaimana “menyiapkan” kelanjutan pola kepemimpinan yang selama ini telah dilaksanakan? Sekali lagi terimakasih atas kesempatannya.

Jokowi:
1. Bisa diterapkan di kota-kota yang lain, karena di Solo juga sangat heterogen. disini ada fundamentalis Islam, fundamentalis Kristen, fundamentalis Kejawen dll. yang penting kredibilitas produk yang kita kerjakan terbangun dengan baik. Kota dipandang sebagai sebuah produk perlu tahapan manajemen produk, manajemen brand dan manajemen customer dalam pengelolaannya, … tahapan itu yang kami lakukan
2. Kita punya konsep plan kota sampai 2025. yang ini kita masukkan dalam RPJMD dan RPJPD yang sudah diperdakan, sehingga payung hukumnya jelas. ada rencana-rencana detil yang kita buat sehingga kita bekerjanya lebih enak. Walikota berikutnya bisa memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda, tapi panduan itu mau tidak mau harus dipakai meskipun tidak 100%.

Ari-Ms 76:
Saya ada titipan pertanyaan dari teman di Bali, poin-poinnya adalah sbb:
Ada paket wisata dari luar negeri ke Bali. Dalam perjalanannya, di improve termasuk mampir Bandung untuk belanja dll. Dari analisa pasar, ternyata Solo sangat menarik untuk disinggahi, sehingga ada rencana paket tersebut diextend menjadi Bandung – Bali – Solo, misalnya. Kalau lihat going concern Bapak soal budaya dll, seharusnya ini sejalan ya. Apakah Bapak dan tim siap melakukan pertemuan dan persiapan penjajagan ini, termasuk dan tidak terbatas pada rute pesawat Bali – Solo atau Bandung – Solo atau LN – Solo. Juga atraksi seni. Kalau batik Pasar Klewer dll, rasanya sudah siap. Tidak perlu di up grade. Justru natural itu yang menarik. Kalau Bapak berminat, siapa yang harus dihubungi? Apa dengan Bapak dulu? Terima kasih.

Jokowi:
Bisa saja Pak, karena kita memang baru gencar-gencarnya melakukan city branding dan promosi kota. Kita siap melakukan pertemuan. Bisa langsung ke saya atau ke Lusi di (0271) 712004

Jonathan Simanungkalit:
Apa Dasar Analisa yang dibuat oleh Pak Joko Wi untuk merancang ulang Solo sehingga kondusif untuk berbagai lapisan masyarakat Solo maupun mereka yang datang ke Solo. Terima kasih.

Jokowi:
1. Rutin mensurvei keinginan masyarakat setiap tahun
2. Di kantor maksimal 1 jam sisanya di lapangan untuk melihat masalah atau problem dan mencarikan solusi baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Satyo Fatwan GM-78:
1. Seandainya Bapak diminta menganjarkan tentang kepemimpinan kepada para formal leaders yang ada di Indonesia, bagaimana Bapak akan melakukannya?
2. Menurut hemat Bapak faktor apa saja yang paling menghambat tumbuhnya kepemimpinan di formal leader Indonesia padahal sebagai bangsa kita kaya dengan berbagai filosofi kepemimpinan.

Jokowi:
1. Memberikan tips-tips sederhana mengenai cara-cara membangun kredibilitas produk/program sehingga masyarakat trust pada kita. Ini sebetulnya sangat gampang tetapi tergantung NIAT … mau atau tidak melakukan
2. Tahapan recruitmen politik dari bawah yang dilakukan partai-partai menurut saya tidak melalui tahapan yang benar sehingga banyak muncul pemimpin-pemimpin dadakan yang tidak melalui proses pertarungan alami dari nol

Satyo Fatwan GM-78:
Terima kasih untuk jawabannya. Pertanyaan lanjutan, kalau boleh bung/mbak Mod, Tahapan recruitment politik yang ideal namun sekaligus praktis untuk kondisi Indonesia sekarang seperti apa Pak?

Jokowi:
Pak Satyo, ya urut dari pegang wilayah Kabupaten/Kota, kemudian pegang Propinsi baru pegang Negara, sehingga tahu/menguasai kondisi daerah dan kesulitan rakyat di bawah, dan bukan karena diberitahu kanan kiri saja

Nurhasan Akbar:
Mohon kami bisa belajar dari Bapak, hal apa yang paling penting yang Bapak pelajari selama Bapak memimpin Kota Solo serta birokrasinya. Dari semua yang sudah Bapak kerjakan untuk Solo, pekerjaan apa yang Bapak anggap paling berhasil Bapak lakukan? Terima kasih atas waktu Bapak, semoga Pak Jokowi selalu dalam lindungan-Nya. Amin.

Jokowi:
Saya selalu belajar dari problem-problem dan masalah-masalah di masyarakat, dan juga bertanya kepada rakyat bagaimana kira-kira mencari solusinya. biasanya ada beberapa alternatif solusi dan saya biasanya hanya memutuskan satu dari  beberapa solusi yang ada yang saya anggap paling kena sasaran. Belum ada yang berhasil, karena saya merasa semuanya masih dalam proses.

Ari MS-76:
Seperti di Malaysia dan Sumatera, regular orang2 malaysia datang ke sumatera, karena ada ikatan emosional. Karena satu rumpun, satu bahasa, satu leluhur, dll. Solo dengan Bali juga demikian, ada ikatan emosional. Karena agama, candi, dll sehingga ada kunjungan regular masyarakat Bali ke Solo. Untuk membuat ini lebih intens atau lebih berguna bagi kedua belah pihak (dan pihak lain), boleh tahu program Bapak apa saja? Ini juga pertanyaan titipan Pak. Jadi kalau yang asli bisa bergabung, biar tanya sendiri. Matur nuwun Pak.

Jokowi:
Saya berusaha agar ada penerbangan langsung dari Solo-Bali, Bali-Solo tetapi sampai saat ini belum berhasil karena load factor pesawat yang masih rendah.

Ringgas Hutagaol:
Sesuai sistem demokrasi kita, pada saat Pilkada calon kepala daerah harus diajukan oleh Partai Politik. Banyak juga calon yg menggandeng pengusaha utk membiayai kampanyenya. Jika calon yg didukung tsb berhasil memenangkan Pilkada, maka akan ada balas jasa kepada Partai Politik dan pengusaha tsb.

Bagaimana pengalaman dan kiat2 Pak Jokowi pada Pilkada lalu sehingga tidak perlu melakukan balas jasa dgn membagi-bagi Proyek yg dibiayai oleh ABPD ? Banyak pimpinan daerah yg terjerumus korupsi akibat kewajiban balas jasa ini. Kondisi ini yg membuat saya jadi enggan memiliki cita-cita utk menjadi pimpinan daerah. Mohon maaf jika ada kata2 saya yg salah. Terima kasih.

Jokowi:
Yang paling penting jangan merasa tersandera oleh kepentingan-kepentingan politik atau ekonomi… harus kukuh dengan prinsip ini. Kalau sudah tersandera untuk membalas jasa jangan harap bisa menjadi pemimpin yang baik… karena kalau sudah tersandera kepentingan, inovasi-inovasi terobosan yang akan kita lakukan juga akan tersandera

Agung Wulan Piniji:
Melihat kota solo sekarang, saya rasakan sangat berbeda dengan ketika 10 tahun yang lalu waktu. jauh sangat berbeda. Saya merasa lebih betah dan merasa kangen selalu untuk kembali ke sana. saya juga merasa seperti di eropa ketika berada disolo. Kota mana di luar negeri yang Bapak jadikan rujukan untuk membangun kota Solo seperti saat ini? Bagaimana Bapak bersinergi dengan anggota DPRD kota Solo sehingga sejalan dan sevisi? Terima kasih.

Jokowi:
Singapore dan Korea, terutama dalam manajemen transportasi dan ruang-ruang publik. Setiap program yang akan kita kerjakan kita paparkan secara detail, ada kalkulasi return social dan ekonomi yang kita dapatkan dari setiap program. Ini yang selalu saya sampaikan ke Dewan setiap tahun.

M. Danil Daud:
Sbg walikota di zaman reformasi ini, tentunya bapak terpilih dalam pilkada. Pertanyaan saya kualitas kepemimpinan seperti apa menurut bapak yang menyebabkan Bapak terpilih menjadi Walikota Solo? Terimakasih sebelumnya.

Jokowi:
Pak Danil, untuk Pilkada pertama saya hanya terpilih 37%, karena saat itu saya tidak dikenal orang. Pilkada kedua saya terpilih dengan angka 90,09%. Menurut saya karena integritas dan kerja keras.

Bambang Setijoso:
Pada bulan Januari & Februari 2010, kami telah menyampaikan rasa keprihatinan kami akan kondisi gedung Wayang Orang Sriwedari, kepada Bapak dan staff melalui SMS dan email, dan mendapat jawaban pada waktu itu sbb, “Terimakasih atas masukannya dan akan diperhatikan”.

Pada waktu itu pada intinya kami menyampaikan bahwa suara bising/hingar bingar dari THR masuk ke gedung WO sehingga sangat mengganggu jalannya pertunjukan dan menganngu penonton. Disamping itu, kami juga telah menyampaikan usulan2 kongkrit jangka pendek dan usulan jangka panjang.

Catatan: Petugas ditempat menyatakan telah berulang kali menyampaikan kekecewaan ke THR & Pemdda Solo, tetapi tidak mendapat tanggapan. Beberapa kalangan yg berkecimpung didunia pertunjukan Wayang dan Gamelan Jawa, telah menyatakan kekecewaan yg serupa.

Pertanyaan kami, apakah kondisi WO Sriwedari (khususnya berkenaan dg akustik) sekarang sudah baik / mendapat perhatian Walikota ?

Jokowi:
Kawasan Sriwedari sedang dalam sengketa antara Pemkot dengan Ahli Waris dan sudah sampai MA, sehingga kita tidak bisa memanage dengan baik kawasan itu, karena masih dalam proses wilayah hukum.

Nurhasan Achmad:
Baru-baru ini diberitakan di media bahwa Bpk mau menghidupkan kembali jalur KA Wonogiri-Solo dengan Gerbong Wisata (yg nyaman ber AC). Siapakah target penumpangnya? Apakah wisatawan ataukah warga Wonogir/Solo pengguna moda transportasi? Apakah cukup feasible dilihat dari kacamata bisnis? Jangan-jangan hanya bertahan sebentar lalu sepi dan akhirnya mati karena rugi dan gak bisa nutup biaya operasionalnya. Mohon pencerahannya pak.

Jokowi:
Kita ingin menyiapkan dan mengantisipasi angkutan umum massal 30 tahun yad … bukan mengatasi setelah ada masalah kemacetan. Menjadi kewajiban pemerintah untuk memberikan pelayanan transportasi, meskipun dari kacamata bisnis rugi … karena ini adalah pelayanan. Penumpangnya ya warga ya wisatawan.

Mufti, MA-79:
Sebagai kota yang terus berkembang, bagaimana kota Solo mengantisipasi isu pembangunan millenium atau yang lebih dikenal sebagai Millennium Development Goals (MDGs). Ada dua isu utama yang saya ingin tanyakan kepada Bapak.
1. Bagaimana kota Solo berbenah diri mengatasi persoalan “kemiskinan” dan “kesehatan” utamanya masalah kesehatan Ibu dan Anak.
2. Saya salut kepada Solo yang begitu peduli pada kondisi dan status pendidikan anak. Sejauh mana Bapak mempersiapkan kota Solo seandainya Solo dijadikan model kota Anak? Terima kasih Pak.

Jokowi:
1. Masalah pendidikan ada program BPMKS (Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta) yang anggotanya 43.000, dan kesehatan ada program PKMS (Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Kota Surakarta) yang anggotanya 206.000 … ada Kartu Silver untuk setengah miskin, Gold untuk yang miskin dan Platinum untuk yang sangat miskin. Semuanya by Name dan by Address sehingga tersistem dan gampang controllingnya.
2. Solo sudah menjadi role model Kota Layak Anak … ada : Taman Cerdas Kampung (7 lokasi di kawasan kumuh), ada pemberian makanan tambahan anak sekolah (PMTAS), ada Kartu Insentif Anak (KIA), ada Forum Anak Solo di setiap kampung. Tahun ini pada bulan Juli, Solo akan dijadikan tuan rumah KONFERENSI KOTA LAYAK ANAK SE ASIA PASIFIK. Sebelum penentuan menjadi tuan rumah sudah di cek 3 kali dari panitia Internasional.

Mufti, MA-79:
Wuihhhh ….Mas Jokowi … jempols … cah Badran Solo ikut seneng. Sukses Mas … kangen jajan pasar kota Solo.

Bambang Sugiyarso, MS-79:
Wah top lah, saya ikut bangga dengan prestasinya. Selamat dan semoga makin sukses. Amin.

Harapan Rachman:
Saya mengetahui bila Indeks Persepsi Korupsi Solo menempati peringkat 3 seluruh  Indonesia (TI 2010). Apa kiat-kiat Bapak? Apakah budaya nepotisme di Solo kuat? Dan bagaimana mengatasinya? erima kasih atas waktu Bapak. Semoga sukses selalu Pak.

Jokowi:
Meskipun tiga terbaik, nilainya masih 6 … jadi masih ada sisa 4 yang belum baik, belum baik punglinya, belum baik nepotismenya. kita perbaiki sistem, perlu waktu yang lama untuk menjadikan Solo kota yang bersih dari pungli, nepotisme dll … perlu proses dan perlu waktu. Saya merasa Solo belum baik.

Satyo GM-78:
Bapak dengan statement ini menunjukkan apa yang disebut oleh Jim Collins sebagai Level 5 leadership! Selamat Indonesia, masih ada pemimpin seperti Pak Jokowi!!! Alhamdulillah.

Ari- MS76:
Saya dengar Bapak sedang menggali budaya “macan luwe”. Gaya berjalan putri solo yang ditiru peragawati kelas dunia macam naomi campbell itu khan berasal dari solo. Tiruannya meskipun bagus, tapi terkesan centil atau kurang tulus. Padahal khan ada patron nya ya Pak? Misalnya posisi kaki kanan dan kiri saat melangkah. Juga posisi bahu kanan dan kiri terhadap tubuh, kaki dan kepala. Ini yang sulit. Tapi kalau itu dilakukan dengan benar, pasti ciamik banget ya Pak. Macan nya sendiri mungkin kalah sama putri solo nya, hehehe. Kasih bocoran dikit dong Pak, penelitian Bapak dan temen2 sudah sampai dimana? Biar nanti yang jalannya kayak macan luwe bukan hanya putri Bapak. Tetapi putri saya juga :-). Terima kasih Pak. Sugeng siang.

Jokowi:
Pak Ari, “penelitiannya” belum selesai.

Dani Badra FT-04:
Langsung saja, Pak. Saya mau tanya kota solo itu ke depannya akan dibawa ke arah ‘barat’ atau mengikuti kearifan lokal beserta contoh real-nya pak. Terimakasih Pak Jokowi.

Jokowi:
Solo masa depan adalah solo masa lalu. Solo yang modern adalah Solo yang tradisional. Menggabungkan dua hal inilah (80 tradisi, 20 modern) yang menjadi tantangan kita.

Andrianto Soekarnen:
1. Menurut Bapak, apa 5 nilai kepemimpinan terpenting? Bagaimana Bapak mempraktekan masing-masing nilai kepemimpinan tersebut?
2. Mungkinkah kepemimpinan yang bersih di Indonesia? Mengapa?

Juga, ada titipan pertanyaan dari komunitas QB Leadership Center melalui Twitter:
Dari @Puan_yeah: Siapa yang berjasa menjadikan Bapak seeperti sekarang ini?
Dari @rohbudbud: Bagaimana cara Bapak membangkitkan semangat di birokrasi Pemkot yg umumnya sangat lamban?

Jokowi:
1. Dua saja Pak Andri, Intergritas dan kerja keras. Ya langsung saja dipraktekkan dalam keseharian.
2. Sangat mungkin. Tergantung Top Leadernya : harus strong character dan bisa memberikan teladan / contoh. Menyiapkan sistem/membenahi sistem, dan memaksakan agar sistem itu jalan. Setiap saat dikontrol sehingga birokrasi selalu merasa diawasi dan ON dalam bekerja.

Santri 91:
Sejauh ini, apa kendala yg masih belum bapak temukan jalan keluar utk mengatasinya dlm merealisasikan visi dan misi kota?

Jokowi:
Masalah budget yang selalu tidak cukup untuk merealisasikan sebuah program dengan cepat. Dengan posisi budget seperti ini perlu waktu 20 tahun untuk menjadikan sebuah kota yang mapan.

Munji Syarif:
1. Terimakasih karena telah menjadi contoh pemimpin anti korupsi. Mohon maaf sekiranya pertanyaan ini terlalu umum.
2. Kira-2 apakah yang menjadi sebab korupsi pada bawahan2 di lingkungan pemda (dimana saja di Indonesia atau paling enggak di Solo jika masih ada bawahan yg koruptif)? dan bagaimana pencegahannya?
3. Menurut pengamatan bapak yg mempunyai rekan sesama walikota/bupati, apa sebab banyak Walikota/Bupati yg “terjebak” atau “menjebakkan diri” pada situasi koruptif? Masih menurut pengamatan bapak, bagaimana halnya dengan pola koruptif atasan walikota/bupati yakni para gubernur yg semakin marak (berita terakhir 17 gubernur ditenggarai korupsi).
4. Bagaimana agar efektif memberantas korupsi dengan cepat dan tanpa gejolak?

Terimakasih atas perhatiannya.

Jokowi:
1. Perlu pembenahan dan perombakan sistem secara total dan leader yang bisa dijadikan contoh.
2. Karena tersandera oleh investor politik…
3. Waduh nggak tahu saya
4. Dimulai dengan pendidikan anti korupsi di sekolah-sekolah … ini yang harus segera dimulai

Munawar:
Saya asli Solo dan masih sering berkunjung ke Solo, karena keluarga besar banyak yang berdomisili di sana. Mohon tanggapan mengenai hal berikut:
1. Berkenaan dengan keterhubungan Solo dengan kota-kota/negara lain, ada sarana transportasi yang harus dibenahi. Khususnya mengenai keterhubungan bandara Adisumarmo dengan kota Solo. Saya yakin Anda tahu masalahnya: ada monopoli angkutan di bandara tersebut (oleh taksi dari koperasi suatu angkatan), sehingga mengakibatkan ineffisiensi, harga tinggi serta mengurangi berkembangnya bandara. Jika dilihat perbandingan dengan bandara Yogya, ada integrasi Bandara – Stasiun kereta Maguwo – Terminal bus JogjaTrans dan keterbukaan sarana taksi. bagaimana mengatasi ini?

2. Masalah PKL. Sekarang di banyak jalur utama a.l. Jalan Veteran, PKL kembali merebak. Modusnya mungkin ingin memperoleh jatah kios gratis seperti yang pernah terjadi dengan ex. PKL Banjarsari. Menurut Anda, apakah pendekatan pembagian kios gratis akan menyelesaikan masalah, dan bukan memanjakan/membuat orang belomba-lomba ‘nakal’ agar diberi gratisan kios? Terima kasih.

Jokowi:
1. Saya sudah berkali-kali berkomunikasi dengan pihak bandara dan AU, tetapi selalu dijawab, “ini menyangkut masalah kesejahteraan”, dan bandara bukan wilayah administratif Solo, ini juga menyulitkan.
2. Kita sudah punya database PKL, itu yang kita pakai untuk pemberian kios. saya yakin tidak terjadi “kenakalan” agar diberi kios gratis. Memang masih banyak PKL di Solo yang bertebaran, yang diselesaikan baru 62%, sisanya belum tertata.

Sena, SI-91:
1. Apa problem utama kota Surakarta ? Dan bagaimana cara Bapak mengatasinya?
2. Saya melihat misi Bapak mengenai pendidikan di website resmi kota Surakarta, http://www.surakarta.go.id/ , “..To improve service and to expand access to people in education, by employing free school programs, plus schools, community education assistance, development of educational facilities, improving the quality of teachers and education personnel… ” Apa kiat-kiat Bapak untuk mewujudkan misi ini, dan bagaimana pencapaiannya sampai saat ini ?

Satu usulan untuk website kota Surakarta, kalau bisa ditambahkan kolom pengaduan atau masukan dari warga (atau mungkin saya terlewat membacanya?). Malah mungkin bisa dibuatkan semacam online rating penilaian dari warga untuk pelyanan aparat Surakarta (sebagai contoh http://www.healthgrades.com/, dalam menilai pelayanan dokter pada pasiennya). kalau rating nya bagus akan menjadi apresiasi buat aparat, dan kalau rating nya jelek bisa dijadikan bahan evaluasi.

Semoga Bapak bisa terus sukses memimpin Solo. Terimakasih,


Komentar- komentar:

Nandang Solihin:
Saya tidak bertanya, hanya mendoakan semoga Pak Jokowi bisa diberi kekuatan kesempatan untuk dapat memimpin negeri ini… Semoga solo bisa menjadi inspirasi batu loncatan untuk menjadikan Indonesia yang bersih dari korupsi kemiskinan.

Rusi Hidayat Susilo:
Gaya kepemimpinan bapak mirip sekali dengan Presiden Iran Ahmadinejad, setiap hari satu jam di kantor, selebihnya buat keliling dan berdialog dengan rakyat. Kepemimpinan seperti itulah yang disukai olah rakyatnya.

Akhyar – 98:
Emailnya bagus. Saya jadi inget Foursquare.. Hehe Sukses ya pak.

Kacuk Sumarto:
Mengucapkan selamat dan sukses buat temen2 (Bu Betti dkk) yang meng’inisiasi adanya dialog ini. Saya sendiri nggak ikut, meskipun ada yang menggelitik. Khususnya bidang air bersih dan persampahan (note: 2 tahun lalu ikut mempromosikan Global Partnership Output Based Aid dari Bank Dunia, unt kedua bidang tersebut, dibeberapa kota salah satunya Solo. Sekaligus tempat lahir saya). Melalui komunitas ITBSOLO saja nanti akan saya sampaikan lebih detil.

Semoga acara ini tidak hanya sekali saja dan tidak hanya mas Jokowi saja. Sehingga sharingnya bisa banyak, dan membawa alumni ITB (setidaknya saya yang merasakan banyak manfaatnya) untuk lebih mendalami pengelolaan daerah.

Menurut saya, nara sumber tidak selalu yang dianggap berhasil (seperti mas Jokowi) tetapi juga yang gagal (dan mengerti mengapa dia gagal). Ini saya anggap perlu, bahwa belajar tidak selalu dari yg berhasil saja tetapi juga dari yg gagal. Perlu sangat-sangat dihindari nara sumber yang ‘jaim’..maunya cuman pencitraan saja, bukan karyanya.

Sekali lagi: Selamat dan selamat. Salam Hangat.

Surono – 76:
Saya kira jika tdk sempat terjawab, pertanyaan @ri scr pribadi hrs dimaklumi, tetapi saya puas dgn membaca pertanyaan dari rekan2 Alumni dan membaca jawaban dr Bapak Jokowi. Waktu dua jam tdklah panjang n tdk cukup dalam acara dialog yg sangat menarik ini. Saya stuju dgn usulan salah seorang Alumni (maaf lupa namanya) untuk mengundang yg gagal, agar supaya kita belajar dr kegagalan tsb untuk meraih keberhasilan. Itu terserah kpd Mba Betty saja, saya hanya sbg pandemen dialog yg konstruktif, inspiratif dan saya yakin akan membawa manfaat bagi kita semua.

PENUTUP

Terima kasih kepada Pak Jokowi atas sharing selama 2 jam yang sangat menarik, to the point, dan menginspirasi. Semoga akan lebih banyak lagi pemimpin pemimpin Indonesia yang berintegritas tinggi dan bekerja keras seperti yang telah Bapak contohkan. Semoga sukses senantiasa menyertai Bapak, Solo, dan segenap masyarakatnya.

Terima kasih kepada semua teman-teman yang telah berpartisipasi dalam acara ini.

Salam hangat penuh semangat

Betti Alisjahbana

 

Foto: http://www.lensaindonesia.com

 

Monday, 31 January 2011 12:30 | Written by Betti Alisjahbana

Dialog Kepemimpinan dengan Jokowi

 
www.stisitelkom.ac.id www.di.stisitelkom.ac.id www.ktm.stisitelkom.ac.id
www.dkv.stisitelkom.ac.id www.dp.stisitelkom.ac.id www.srm.stisitelkom.ac.id
www.blog.stisitelkom.ac.id www.multimedia.stisitelkom.ac.id
www.elearning.stisitelkom.ac.id www.library.stisitelkom.ac.id
www.repository.stisitelkom.ac.id www.cloudbox.stisitelkom.ac.id
www.digilib.stisitelkom.ac.id www.mirror.stisitelkom.ac.id
www.sisfo.stisitelkom.ac.id www.hilfan.blog.stisitelkom.ac.id
www.telkomuniversity.ac.id www.stisitelkom.academia.edu
www.kuningmas-autocare.co.id www.usnadibrata.co.id www.askaf.co.id www.hilfans.wordpress.com www.hilfan-s.blogspot.com www.profesorjaket.co.id