Yang Berhasil Itu Yang Disiplin

“Betapa pun berbakatnya seorang pemimpin, ia tidak akan mencapai potensi maksimalnya jika tidak disiplin” – John C. Maxwell

 Jalan menuju puncak tidaklah mudah. Tidak banyak orang yang berhasil mencapai posisi terbaik dalam sebuah pekerjaan. Bahkan yang  dianggap terbaik malah jauh lebih sedikit.

Tak seorang pun bisa meraih prestasi dan mempertahankannya tanpa disiplin. Disiplin menempatkan seorang ke tingkat tertinggi dan membuat prestasinya bertahan lama. Continue reading

Memimpin untuk Dilayani atau Melayani untuk Memimpin?

Source : http://leadershipqb.com/index.php?option=com_content&view=article&id=233:memimpin-untuk-dilayani-atau-melayani-untuk-memimpin&catid=39%:betti-content&Itemid=30

 

Banyak orang mengasosiasikan kepemimpinan dengan kekuasaan. Mereka berlomba-lomba untuk mencapai puncak kepemimpinan agar bisa mendapatkan kekuasaan. Lalu, kekuasaan dan wewenang itulah yang dijadikan alat untuk memimpin, untuk mencapai tujuan-tujuan kepemimpinannya.
Pemimpin-pemimpin terbaik justru bekerja dengan melayani. Sebagai pemimpin, mereka melihat perannya adalah melayani timnya, agar potensi-potensi terbaik dari timnya ini dapat dimunculkan. Mereka meng-coach, membimbing, mementori, dan memberikan dorongan. Itulah sejatinya yang dilakukan seorang pemimpin: melayani.

Bulan lalu, sebagai ketua Dewan Juri Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA), saya mendapat kehormatan untuk menghayati apa arti kepemimpinan yang sejati. Dua pemenang BHACA 2010 adalah Walikota Solo, Joko Widodo, dan Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto. Keduanya sungguh merupakan contoh ideal pemimpin yang sukses karena melayani rakyat yang dipimpinnya.

Mendengarkan Sambil Mentraktir Makan Ala Jokowi

Sementara di banyak tempat kekerasan menjadi alat yang diandalkan untuk memaksakan relokasi PKL (pedagang kaki lima), di Solo Jokowi menggunakan cara yang jauh berbeda. Para pedagang ini dia ajak berdialog sambil makan. Ketika kenyang, seseorang akan lebih mudah diajak berbicara, dalihnya.

Para PKL ini diyakinkan bahwa relokasi adalah jalan yang jauh lebih baik. Kepada mereka diberikan kios di tempat yang baru, SIUP, dan TDP gratis agar mereka dapat menjadi pedagang formal yang bisa memimjam uang dari Bank. Tidak jarang dialog sambil makan itu harus dilakukan berkali-kali oleh Jokowi, sebelum mereka akhirnya berhasil diyakinkan. Jokowi mendengarkan keluh kesah mereka dan mencarikan jalan keluar bagi mereka. Alhasil, ribuan PKL itu dengan suka rela bersedia direlokasi.

Sebagai akibatnya, Solo pun menjadi kota yang tertata apik, dengan jalur hijau dan jalur pejalan kaki yang nyaman. Bukan hanya itu, Pendapatan Asli Daerah Solo yang didapatkan dari pasar juga mencapai Rp19,2 miliar, lebih tinggi ketimbang pendapatan yang berasal dari hotel sebesar Rp7 miliar, parkir Rp1,8 miliar, atau papan reklame Rp4 miliar.

Selama 40 tahun periode sebelum Jokowi memimpin, tak satu pasar pun dibangun di Solo. Dalam 5 tahun kepemimpinannya, ada 15 pasar dibangunnya. Daerah-daerah lain mengeluhkan anggaran yang tidak mencukupi. Namun, Jokowi punya pendekatan yang berbeda dalam menyiasati anggaran ini.

Sebelumnya, anggaran yang terbatas disebarkan merata sehingga masing-masing daerah mendapatkan porsi anggaran yang kecil, sehingga hasilnya menjadi serba tanggung. Jokowi lalu memilih fokus kepada satu bidang saja setiap tahun, namun konsepnya dibuat secara matang, dilaksanakan dengan perencanaan yang baik, serta diawasi dengan betul sehingga hasilnya menjadi signifikan, bagus, dan tidak ada kebocoran.

Tahun berikutnya, ia memfokuskan anggaran untuk bidang yang lainnya. Semua dilaksanakan dengan kualitas yang baik, sehingga penggunaan anggarannya menjadi sangat efisien. Banyak yang berhasil dicapai oleh Jokowi. Selain 15 pasar yang berhasil dibangunnya, pembangunan taman kota, trotoar bagi pejalan kaki, perbaikan administrasi pelayanan, pengembangan green belt di tepi sungai  Bengawan Solo sepanjang 7 kilometer pun telah membuat Solo menjadi kota yang nyaman dihuni.

Melayani Ala Herry Zudianto

Herry yang berlatar belakang entrepreneur sudah biasa melayani pelanggan. Saat menjadi walikota, paradigmanya pun tetap sama: melayani. Kepada jajaran Pemkot Yogya, dia menanamkan sikap “saiyeg sak eko kapti” (bersatu dalam cita), “saiyeg sak eko proyo” (bersatu dalam karya) dalam melakukan reformasi birokrasi dan mewujudkan pemerintah sebagai pelayan masyarakat.

Dalam kepemimpinannya, Herry berhasil mengembangkan berbagai inovasi layanan publik, khususnya di sektor investasi, pendidikan, kesehatan, perumahan, dan lingkungan hidup. Dinas perijinan satu pintu dibangunnya untuk memangkas proses perijinan yang berbelit-belit.

Semangat untuk mendengarkan dan melibatkan masyarakat diwujudkannya dalam pembuatan APBD yang transparan dan partisipatif. Saluran untuk menyampaikan masukan pun dibuat melalui mekanisme komplain elektronik yang dikenal sebagai UPIK (Unit Pelayanan Informasi keluhan).

Pendekatan yang memberdayakan, yang dilakukan oleh Herry, telah membuat masyarakat Yogya sangat terlibat dalam memecahkan berbagai masalah publik—sesuatu yang sangat disyukuri oleh Herry. Terbukti, indeks persepsi korupsi dan indeks good governance Kota Yogyakarta sangat bagus, yakni peringkat pertama untuk indeks persepsi korupsi pada tahun 2008.

Banyak pemimpin pemerintah maupun swasta mencapai tujuannya dengan menggunakan kekuasaan dan wewenang yang dia miliki. Namun, pemimpin yang paling efektif adalah ketika mereka dapat mempengarui orang lain dengan cara yang menyentuh hati dan merebut respek, karena mereka mau mendengar, menghayati, dan mencari jalan keluar bagi masalah-masalah yang dihadapi oleh orang-orang yang dipimpinnya.

Kalau Jokowi dan Herry bisa, tentu kita pun bisa menjadi pemimpin yang melayani.

Salam hangat penuh semangat
Betti Alisjahbana

Sumber gambar: coachestrainingblog.com

 

Tuesday, 09 November 2010 16:21 | Written by Betti Alisjahbana

Memimpin untuk Dilayani atau Melayani untuk Memimpin?

 
www.stisitelkom.ac.id www.di.stisitelkom.ac.id www.ktm.stisitelkom.ac.id
www.dkv.stisitelkom.ac.id www.dp.stisitelkom.ac.id www.srm.stisitelkom.ac.id
www.blog.stisitelkom.ac.id www.multimedia.stisitelkom.ac.id
www.elearning.stisitelkom.ac.id www.library.stisitelkom.ac.id
www.repository.stisitelkom.ac.id www.cloudbox.stisitelkom.ac.id
www.digilib.stisitelkom.ac.id www.mirror.stisitelkom.ac.id
www.sisfo.stisitelkom.ac.id www.hilfan.blog.stisitelkom.ac.id
www.telkomuniversity.ac.id www.stisitelkom.academia.edu
www.kuningmas-autocare.co.id www.usnadibrata.co.id www.askaf.co.id www.hilfans.wordpress.com www.hilfan-s.blogspot.com www.profesorjaket.co.id

Memimpin di Era Media Sosial

Source : http://leadershipqb.com/index.php?option=com_content&view=article&id=3444:memimpin-di-era-media-sosial&catid=39%:betti-content&Itemid=30

 

Rabu, 22 Juni 2011, QB Leadership Center dan Warta Ekonomi menyelenggarakan Leadership Series yang ke-9 dengan tema “Leadership 2.0: Leading in Social Media Era”.  Acara yang menghadirkan dua pembicara, Sandiaga Uno dan Betti Alisjahbana, ini berhasil memikat banyak sekali peserta. Tercatat, lebih dari 100 peserta hadir dalam acara tersebut. Antusiasme hadirin pun luar biasa. Dialog yang sangat hidup terjadi, sehingga acara yang dijadwalkan selesai pada pukul 22.00 WIB itu baru ditutup pada pukul 22.30 WIB. Itu pun, masih banyak hadirin yang tinggal untuk bertanya lebih jauh dan berfoto bersama pembicara hingga pukul 23.00 WIB. :-)

John C. Maxwell mengatakan bahwa memimpin adalah mempengaruhi-tidak lebih dan tidak kurang. Bila kita berhasil menginspirasi orang untuk bercita-cita tinggi, mempelajari hal-hal baru, mempraktikkannya sehingga menjadi orang yang lebih baik, maka kita adalah pemimpin, terlepas dari apapun jabatan kita.

Pemimpin masa kini dihadapkan pada tantangan yang berbeda dibandingkan dengan pemimpin masa lalu. Masa kini ditandai dengan derap perubahan yang semakin cepat, globalisasi ekonomi, teknologi, dan inovasi, sehingga kita dihadapkan pada tuntutan untuk senantiasa gesit. Demikian dinamisnya dunia masa kini, sehingga yang terjadi bukan lagi perusahaan yang besar memakan yang kecil, melainkan perusahaan yang gesit memakan perusahaan yang lamban.

Pemimpin masa kini juga dihadapkan pada situasi dimana media sosial berkembang dengan sangat pesat dan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita. Secara sangat sederhana, media sosial saya deskripsikan sebagai orang-orang  berkomunikasi di dunia maya. Komunikasi di dunia maya difasilitasi oleh Facebook, Twitter, YouTube, LinkedIn, blog, milis, dan masih banyak lagi. Komunikasi yang kita lakukan bisa dalam bentuk tulisan, gambar, audio, video, serta kombinasinya.

Media sosial telah mengubah secara fundamental cara kita berkomunikasi. Dulu, komunikasi massa sering dilakukan secara monolog, dimana kita yang berbicara sementara yang lain mendengarkan tanpa bisa merespons. Sekarang, dengan adanya media sosial, kita dituntut untuk mau dan bisa berdialog.

Komunikasi massa kini menuntut kita untuk mendengarkan, tidak hanya berbicara. Masyarakat luas, baik itu pegawai, pelanggan, pemasok, mitra kerja, maupun pemerhati, kini mempunyai corong dan pengeras suara untuk menyampaikan pendapatnya, termasuk pendapat mengenai produk yang kita jual, gaya kepemimpinan kita, dan cara kita melayani klien. Episode Rumah Sakit Omni International dan Prita adalah salah satu contoh dimana suatu perusahaan belum menyadari kekuatan media sosial, dan karenanya gagal beralih dari cara komunikasi monolog ke dialog.

Kombinasi derap perubahan yang begitu cepat, besarnya tuntutan untuk gesit dan inovatif, serta pesatnya pertumbuhan pemanfaatan media sosial, menuntut para pemimpin masa kini untuk “entrepreneurial“. Pemimpinentrepreneurial berani mengambil inisiatif baru, tajam melihat peluang dan merealisasikannya, serta berani mengambil resiko yang telah diperhitungkan dan bertanggung jawab atas hasil yang didapat-termasuk bila hasil yang didapatkan buruk. Ketika hasilnya buruk, pemimpin yang entrepreneurial tidak mencari kambing hitam, melainkan mencari cara untuk membuatnya menjadi baik. Dia tetap optimistis dan melihat peluang di balik kegagalan.

Di era media sosial, selain bersifat entrepreneurial, pemimpin juga diharapkan berfungsi sebagai wajah perusahaannya di mata publik. Dia harus mengalihkan penekanan gaya berkomunikasinya dari “broadcast” dan berfokus pada dirinya sendiri, menjadi lebih banyak mendengar dan melayani. Pun, pemimpin masa kini diharapkan bisa memberdayakan komunitas untuk mengenal brand-nya dan turut mempromosikannya. Dengan demikian, pemimpin di era media sosial memberikan fokus. Tidak hanya mengembangkan modal finansial, dia pun mengembangkan modal sosial bagi keberhasilan perusahaannya.

Kolaborasi, Sinergi, dan Inovasi

Ketika derap perubahan semakin cepat, bekerja sendiri membuat pencapaian kita tidak optimal. Kolaborasi dan sinergi menjadi kunci sukses: kolaborasi antarpegawai, kolaborasi dengan mitra perusahaan, kolaborasi dengan pelanggan, dan kolaborasi dengan komunitas.

Untuk membangun kemampuan berkolaborasi, dibutuhkan “connective leaders“, yaitu pemimpin yang tidak canggung untuk berpartisipasi dalam kegiatan timnya, bisa memfasilitasi terjadinya kolaborasi tanpa mendominasi, dan dapat memberdayakan timnya agar mampu menghasilkan karya-karya terbaik. Tak kalah penting, pemimpin masa kini juga dituntut untuk memberikan ruang gerak bagi timnya untuk menjadi informal leaders di berbagai kesempatan, dan memberikan ruang gerak bagi mereka untuk bereksperimen dan berinovasi. Memang, gaya pemimpin “command and control” sudah usang.

* Materi presentasi selengkapnya dari Sandiaga Uno dan Betti Alisjahbana, tentang “Leading in Social Media Era” dapat diunduh di website ini.

Sumber Gambar: wordpress.com

Wednesday, 29 June 2011 23:56 | Written by Betti Alisjahbana

 

 

Memimpin di Era Media Sosial

 
www.stisitelkom.ac.id www.di.stisitelkom.ac.id www.ktm.stisitelkom.ac.id
www.dkv.stisitelkom.ac.id www.dp.stisitelkom.ac.id www.srm.stisitelkom.ac.id
www.blog.stisitelkom.ac.id www.multimedia.stisitelkom.ac.id
www.elearning.stisitelkom.ac.id www.library.stisitelkom.ac.id
www.repository.stisitelkom.ac.id www.cloudbox.stisitelkom.ac.id
www.digilib.stisitelkom.ac.id www.mirror.stisitelkom.ac.id
www.sisfo.stisitelkom.ac.id www.hilfan.blog.stisitelkom.ac.id
www.telkomuniversity.ac.id www.stisitelkom.academia.edu
www.kuningmas-autocare.co.id www.usnadibrata.co.id www.askaf.co.id www.hilfans.wordpress.com www.hilfan-s.blogspot.com www.profesorjaket.co.id