Sejarah Penemuan Keranjang Takakura

Sumber : http://url.stisitelkom.ac.id/98424

 

Gerakan pengelolaan lingkungan yang dilakukan Pusdakota dengan Warga RW 14 Rungkut Lor Surabaya sejak tahun 2000, di samping menginspirasi berbagai pihak juga mempertemukan kami, Pusdakota dengan Pemerintah Kitakyusu Jepang dan Kitakyusu International Techno-cooperation Association (KITA).

Tahun 2005, Pusdakota menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kota Surabaya, KITA, Pemerintah Kitakyusu Jepang, di bidang riset teknologi dan pengorganisasian masyarakat.

Untuk kerjasama di bidang teknologi, kesepakatannya adalah optimalisasi teknik-teknik pengelolaan sampah yang telah dilakukan Pusdakota bersama komunitas dan optimalisasi metode-meode pengelolaan sampah yang sudah berkembang di Surabaya dengan segenap potensi yang tersedia.

Dengan riset itu Pusdakota berharap, Indonesia akan punya banyak alternatif metode untuk menangani sampah. Teknologi tersebut kami harapkan bisa diterapkan siapa pun dengan bahan baku yang mudah dan murah. Yang lebih mendasar adalah, teknologi ini diharapkan mampu memberi inspirasi tentang keterjagaan diri untuk senantiasa memberikan yang terbaik bagi lingkungan sekitar. Bukankah teknologi haruslah dimaknai lebih dari sekadar sebagai alat bantu, namun sarana kita untuk menempuh tujuan maknawi?

Penemuan Keranjang Takakura adalah citra semangat dan kerja keras kami terhadap pengelolaan sampah. Kami melakukan penelitian puluhan keranjang untuk membuat perbandingan formulasi yang paling efektif dalam mereduksi sampah, dengan puluhan kolom yang harus diisi setiap satu jam sekali selama dua bulan. Belum lagi kami harus menentukan pilihan metode yang paling sesuai sampai tiga kali.

Keranjang Takakura memang belum final dan bukan yang terbaik. Maka kami terbuka terhadap inovasi-inovasi untuk selalu menemukan yang lebih baik. Penemuan atas Keranjang Takakura saat itu tidak langsung kami sampaikan kepada masyarakat sebelum kami benar-benar menemukan kelayakannya, antara lain lewat praktik-praktik yang kami lakukan. Semua keluarga staf Pusdakota disiplin memakai dan merawat hasil kerja keras itu untuk semakin memberi penyempurnaan. Proses awal, pengolahan, perawatan, pematangan, pemanenan, hingga kemanfaatan hasil keranjang sakti akhirnya kami sepakati berdasarkan lesson learned kami.

Kenapa unit komposter ini dinamakan Takakura? Pakar Kompos Koji Takakura sangat berjasa atas penemuan teknologi ini. Sangat pantas bila Takakura dijadikan nama bagi keranjang pengomposan itu. Takakura – juga Tetsuya Ishida dari KITA — pernah mengada bersama bahu-membahu bersama demi perbaikan lingkungan hidup.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Hak Paten

Saat kami berproses menemukan Keranjang Takakura bersama pihak Jepang, kami pun memprediksi bahwa suatu saat unit komposter ini akan menarik minat banyak orang. Tentu secara alami akan muncul persepsi sederhana dan manusiawi, kebanyakan orang sekarang tidak mau repot menciptakan sesuatu.. Kita terbiasa dengan budaya instan. Sementara Pusdakota bukan lembaga profit oriented yang mengumpulkan laba sebanyak-banyaknya untuk kepentingan organisasi. Kami pun tidak ingin keranjang sakti ini nantinya dikomersialisasikan demi keuntungan indivisu, kelompok atau lembaga tertentu.

Kami pun menemukan salah satu alternatif solusi yaitu HAKI. Untuk satu keputusan mematenkan produk ini pun kami berdebat panjang. Salah satunya adalah anggapan bahwa HAKI adalah produk kapitalisme.

Tapi toh memang produk ini hasil karya dan kerja keras kami. Dan kami diingatkan kembali oleh visi lembaga kami bahwa kami berdiri hanya untuk menjadi jembatan bagi siapa pun menuju masyarakat berdaya dan berkeadilan. Kami ingin melipatgandakan energi sosial masyarakat. Itu menjadi alasan kami mematenkan Keranjang Takakura.
Singkatnya, HAKI akan memperkecil kemungkinan pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan materi bagi diri atau kelompok. Yang kedua, agar tidak terjadi kesalahan prinsipil terhadap penyediaan Keranjang Takakura. Soalnya, jika terjadi kegagalan, komplinnya pasti ditujukan kepada kami.

Selanjutnya adalah hal yang berkait dengan mekanisme kontrol publik yang transparan dan akuntabel terhadap penggunaan Keranjang Takakura. Kami ingin ada ukuran yang pasti tentang tingkat partisipasi masyarakat dalam mereduksi sampah, setidaknya lewat keranjang ini. Kami punya nomor register. Berapa buah keranjang ini beredar di masyarakat, kami memiliki datanya.

Pusdakota mengajukan permohonan untuk memperoleh HAKI pada 20 April 2006. Tahap pemeriksaan formalitas telah terpenuhi dengan turunnya surat bernomor H3.HC.02.Pol.012/1173, tertanggal 29 Maret 2006.

Sesungguhnya kami membuka diri bagi siapa pun yang ingin menyediakan atau memproduksi Keranjang Takakura, namun syaratnya, sistem monitoring dan karakteristik komponen di dalamnya memiliki fungsi dan kualitas yang sama atau lebih baik dengan Takakura Home Method. Beberapa jaringan kami di tingkat komunitas telah kami latih untuk melakukannya, sesuai dengan standar tersebut. Peran komunitaslah yang nantinya muncul, bukan peran individu atau golongan.

Ini juga merupakan media pembelajaran agar warga dapat menjalankan mekanisme pengelolaan sampah di wilayahnya secara mandiri. Intinya, dari waktu ke waktu besarnya partisipasi pengelolaan sampah seiring dengan meningkatnya jumlah Keranjang Takakura yang tersebar, signifikan mereduksi sampah organik yang dibuat ke TPS.
Jika sistem dijalankan dengan disiplin hasilnya pasti bagus. Alangkah indahnya bila komunitas dan kader-kader pengelola, secara rutin, mungkin pada hari lingkungan, bersamaan menyampaikan perkembangan pengelolaan sampah, kualitas dan kuantitasnya.Ini memudahkan kota untuk membuat langkah strategis dalam pengelolaan sampah pada masa mendatang. Bukankah kita telah sepakat bahwa sampah tidak dapat diatasi oleh satu pihak saja?

Untuk Keranjang Takakura, kami juga selalu membuka diri untuk pembelajaran baru. Beberapa kali teman-teman dari perguruan tinggi, bahkan siswa SMP menginovasi atau menyempurnakan Keranjang Takakura. Kami berterima kasih pada keluarga besar UNESA, ITB, UNNIBRAW, UPN, ITS, UBAYA dan NGO’s di Bali, Semarang, Tulung Agung, Semarang, Keluarga Mantan Menteri Kehutanan Jamaludin Soeryohadikusumo, PKK Kodya Surabaya dan banyak komunitas lain yang tak mungkin kami sebutkan satu persatu.

 

Sejarah Penemuan Keranjang Takakura

Pengertian Keranjang Takakura

Sumber : http://url.stisitelkom.ac.id/98424

 

Keranjang Takakura merupakan alat pengomposan skala rumah tangga yang ditemukan Pusdakota bersama Pemerintah Kota Surabaya, Kitakyusu International Techno-cooperative Association, dan Pemerintahan Kitakyusu Jepang pada tahun 2005. Keranjang ini dirakit dari bahan-bahan sederhana di sekitar kita yang mampu mempercepat proses pembuatan kompos.

Satu keranjang standar dengan starter 8 kg dipakai oleh keluarga dengan jumlah total anggota keluarga sebanyak 7 orang. Sampah rumah tangga yang diolah di keranjang ini maksimal 1,5 kg per hari.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Berikut ini petunjuk pemakaiannya:

Jenis-jenis sampah yang diolah:

 

    • Sisa sayuran. Idealnya sisa sayuran tersebut belum basi.
      Namun bila telah basi, cuci sayuran tersebut terlebih dahulu, peras, lantas
      buang airnya.

 

    • Sisa nasi.

 

    • Sisa ikan, ayam, kulit telur dll.

 

    • Sampah buah yang lunak (anggur, kulit jeruk, apel, dan
      lain-lain). Hindari memasukkan kulit buah yang keras seperti kulit salak.

Cara kerja:
Sampah dapur yang dimasukkan di Keranjang Takakura sebaiknya dalam materi yang kecil. Semakin kecil materi, semakin mudah diuraikan. Untuk sisa sayur dan buah, potonglah kecil-kecil.
Gali starter kompos di dalam keranjang tersebut dengan cetok. Luasan dan kedalaman galian, sesuaikan dengan banyaknya sampah yang hendak dimasukkan.
Masukkan sampah pada lubang yang digali. Tusuk-tusuk sampah tersebut dengan cetok.
Timbun sampah tadi dengan kompos di tepian lubang.
Tutup kompos tersebut dengan bantalan sekam.
Tutup permukaan keranjang dengan kain.
Yang terakhir, tutuplah dengan tutup keranjang.

Catatan:
Letakkan Keranjang Takakura di tempat yang terhindar dari sinar matahari langsung.
Bila kompos kering, perciki air bersih sambil diaduk merata. Suhu ideal adalah 60 derajat celsius.

Cara Pemanenan
Bila kompos di dalam Keranjang Takakura telah penuh, ambil 1/3-nya dan kita matangkan selama seminggu di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sisanya yang 2/3 bisa kita gunakan kembali sebagai starter untuk pengolahan berikutnya.

 

Pengertian Keranjang Takakura

Membuat Kompos Dengan Keranjang Takakura

Sumber : http://url.stisitelkom.ac.id/98424

 

Proses pengomposan ala keranjang takakura merupakan proses pengomposan aeraob di mana udara dibutuhkan sebagai asupan penting dalam proses pertumbuhan mikroorganisme yang menguraikan sampah menjadi kompos. Media yang dibutuhkan dalam proses pengomposan yaitu dengan menggunakan keranjang berlubang, diisi dengan bahan-bahan yang dapat memberikan kenyamanan bagi mikroorganisme. Proses pengomposan metode ini dilakukan dengan cara memasukkan sampah organik – idealnya sampah organik tercacah – ke dalam keranjang setiap harinya dan kemudian dilakukan kontrol suhu dengan cara pengadukan dan penyiraman air.

Alat/bahan:

No   Bahan / Alat Jumlah Satuan

  1. Sekam Secukupnya
  2. Pupuk ampas tebu Secukupnya
  3. Mikroorganisme cair Secukupnya
  4. Kompos 8 Kg
  5. Sampah organik 2 KK
  6. Keranjang plastik 2 unit
  7. Jarum jahit 2 Buah
  8. Benang nilon 1 Roll
  9. Jaring 1 Meter
  10. Gunting 1 Buah
  11. Kertas kardus Secukupnya
  12. Termometer 2 buah
  13. Kain stocking 0,5 meter
  14. Sprayer 1 unit
  15. Bak plastik 2 buah
  16. Air PDAM Sesuai kebutuhan
  17. Garu kecil 1 buah

Cara Pembuatan:

  1. Siapkan bak dan isi dengan sekam secukupnya, lalu ambil mikroorganisme cair, tuangkan ke dalam sprayer.
  2. Semprotkan mikroorganisme cair dengan menggunakan sprayer secara merata dengan sesekali mengaduk sekam dengan tangan.
  3. Gunting jaring untuk membuat dua kantong sesuai ukuran alas dan bagian atas keranjang dengan cara menjahit bagian tepi jaring.
  4. Setelah jaring berbentuk kantong, isi masing-masing kantong jaring dengan sekam secukupnya lalu jahit hingga menyerupai bantal;
  5. Ambil kardus dan potong dengan menggunakan gunting sesuai ukuran sekeliling keranjang lalu tempelkam potongan kardus tadi di sekeliling bagian dalam keranjang.
  6. Setelah bagian dalam keranjang terlapisi kardus, letakkan bantal sekam pada alas keranjang.
  7. Semprot Microorganisme cair pada permuakaan luar dalam kardus dan bantal sekam dengan menggunakan sprayer hingga basah merata.
  8. Siapkan bak lalu isi dengan kompos dan pupuk ampas tebu lalu aduk hingga merata.
  9. Masukkan campuran kompos dan pupuk ampas tebu ke dalam keranjang yang sudah terlapisi kardus
  10. Masukkan sampah organik segar yang sebelumnya telah dicacah terlebih dahulu, sesekali menekan sampah dengan cetok hingga sanpah berada di tengah-tengah campuran pupuk kompos dan pupuk ampas tebu;
  11. Masukkan termometer sebagai alat pengukur suhu pada saat proses pengomposan.
  12. Lapisi permukaan atas dengan menggunakan bantal sekam yang sudah disemprot dengan Mikroorganisme cair.
  13. Setelah terlapisi dengan bental sekam, tutup bagian mulut keranjang dengan menggunakan kain stocking agar serangga kecil tidak masuk.
  14. Setelah keranjang tertutup kain stocking, ambil penutup dari keranjang tersebut lalu tutup dan tekan hingga rapat dan kuat.

Catatan :

  1. Pilih kain stocking yang berpori dan bahan yang awet sehingga tidak mengganggu respirasi.
  2. Usahakan sampah organik masih segar dan dalam kondisi tercacah.
  3. Sebaiknya sampah organik segar yang diisi setiap hari, usahakan sampah ditekan dengan cetok sampai sampah timbunan baru tidak terlihat.
  4. Ganti kardus yang menjadi lapisan dalam keranjang setelah 3-6 bulan atau ketika hancur.
  5. Cuci kain penutup jika dirasa kotor.
  6. Bila Keranjang penuh maka 1/3 dari kompos itu dapat kita ambil dan dimatangkan di taman/kebun kita yang terlindungi dari sinar matahari selama kurang lebih 2 minggu untuk kemudian dapat digunakan sebagai pupuk kompos.
  7. Keranjang Takakura dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat. Keranjang ini dipatenkan Pusdakota Ubaya untuk menjaga kemungkinan komersialisasi pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan diri.

Pengertian Takakura, Sejarah Takakura 

 

Membuat Kompos Dengan Keranjang Takakura

Mengapa Sampah Harus Dikelola

Sampah adalah material sisa suatu aktivitas yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan menurut derajat keterpakaian dan kegunaannya. Makin majunya ilmu pengetahuan akan makin banyak material ditemukan kemanfaatannya bagi manusia, dan dengan itu akan makin sedikit material sisa yang dikatagorikan sampah. Sampah organik bisa digunakan pada pembuatan pupuk organik, berguna bagi pemberian zat hara tanaman. Sementara sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi baru.

8 DES 2006

Mengelola Sampah Di Sumbernya, Rumah Tangga

Mengapa Sampah Harus Dikelola ?


Setiap hari manusia menghasilkan sampah, baik berupa material sisa aktifitas buangan di rumah tangga, lingkungan fasilitas umum seperti alun-alun dan pasar maupun sampah industri. Material sisa yang dianggap tidak memiliki kegunaan, bermacam-macam bentuk dan jenisnya. Sampah jika tidak diurus dan dikelola dengan baik dapat menyebabkan masalah lingkungan, yang sangat merugikan. Sampah, yang menumpuk dan membusuk didekat tempat hidup manusia dapat menjadi sarang kuman dan binatang, selanjutnya dapat mengganggu kesehatan manusia baik badan maupun jiwa, serta mengganggu estetika lingkungan karena terkontaminasi pemandangan tumpukan sampah dan bau busuk yang menyengat hidung. Belum lagi akibat sampah menyumbat drainase di kota bisa sebabkan banjir, khususnya di musim dengan intensitas hujan yang tinggi.

Bagaimana Mengelola Sampah ?
Berikut ini adalah hal-hal yang wajib diperhatikan dalam mengelola tempat sampah rumah tangga atau tempat pembuangan sampah pribadi di rumah-rumah, sebagaimana disarankan standar kesehatan :

1. Pisahkan sampah kering hasil indutsri atau non organik ( undegradable material) dengan sampah basah alami atau organik (degradable material) dalam wadah plastik. Maksud pemisahan ini karena sampah organik akan membusuk dalam waktu kurang dari 24 jam (tanpa aerasi yang baik) sehingga jika tergabung dengan sampah an-organik akan menjadikan semua bahan tercemari dan sulit guna di daur ulang sendiri maupun oleh pihak lain.

2. Tempat sampah harus terlindung dari sinar matahari langsung, hujan, angin, dan lain sebagainya.
3. Hindari tempat sampah menjadi sarang binatang seperti kecoa, lalat, belatung, tikus, kucing, semut, dan lain-lain dengan menempatkannya dengan jarak tertentu diatas permukaan lantai,
4. Buang sampah dalam kemasan plastik atau fiber  yang  tidak tertutup rapat agar tidak mudah mengeluarkan bau yang tidak sedap akibat keluaran gas metahana (CH4) dan H2S.
5. Tempat sampah harus aman dari segala gangguan namun mudah dijangkau untuk kepentingan upaya menjaga kebersihan maupun uapaya daur ulang sampah melalui pengomposan.

Terbatasnya informasi dan pemahaman masyarakat akan perbedaan sampah organik dan anorganik, tempat sampah harus disertai dengan keterangan daftar nama dan gambar yang memudahkan semua lapisan masyarakat, termasuk anak-anak belajar membedakan kedua jenis sampah tersebut. Persepsi masyarakat juga harus dirobah, sampah bau karena tanpa oksigen, lebih 20 jam akan timbulkan bau. Dengan menutup rapat pada tempat sampah umum maupun kantong plastik, sebenrnya itulah pangkal masalah bau. Jadi bukan karena bau maka ditutup tapi justru karena tertutup rapat, terjadi reaksi anaeerobik, keluarkan gas polutan dan itulah bau busuk.

Tempat Sampah Terpilah BerSeka ini menyajikan semua kepentingan standar kesehatan diatas sehingga layak dimilki semua keluarga yang mendambakan kesehatan keluarga.

Berapa Banyak Alat dan Berapa Nilai Alat Instalasi Pengelolaan Sampah ?

Kapasitas 1 Unit Tempat Sampah Terpilah (TST) ini adalah 5 liter, atau setara dengan kebutuhan suatu rumah tangga kecil ( 5 jiwa)/ hari. Rata-rata keluaran sampah di Indonesia 2,6 liter/jiwa/hari dibagi menjadi 2 ( dua) jenis sampah ( organik dan an-organik) sehingga dikurangi sampah terbuang diluar rumah dapat di kalkulasi sampah organik terbuang 5 jiwa di rumah adalah 5 liter.

Pada program pengolahan sampah di sumbernya timbul, 500 sampai 1000 Keluarga (KK) kemudian dilayani oleh masing-masing 1 Unit Motor kolektor BerSeka secara berbeda antara Motor sampah Organik dan an-Organik. Kemudian setiap Instalasi memiliki 1 (satu) Unit Komposter Rotary Klin berkapasitas 1500 sd 2000 liter ( 1 Ton) dengan kemampuan mengolah sampah menjadi kompos dalam 5 hari. Dengan demikian, paket Instalasi Pengolahan Kompos Kota (IPKK) akan terdiri dari 500 sd 1000 ( seribu) Tempat Sampah Terpilah (TST), 2 ( dua) Unit Motor Kolektor Sampah (MKS) dan 5 ( Lima) Unit Komposter Rotary Klin BioPhosko kapasitas 1 Ton.
Apa dan berapa nilai Rp – yang akan anda peroleh sebagai pengelola IPKK ?

Sekurangnya anda akan peroleh :
1. Hasil Kompos ( amilioran pembenah tanah) sebanyak 50 % dari berat sampah atau 1 ton sampah ~ 3 m3 akan menghasilkan Kompos 500 kg x Rp. 500- Rp 1000/kg atau senilai Rp. 500.000,- sd Rp 1.000.000,-~ Rp 15.000.000,-/bulan

2. Pupuk Organik Cair (POC) sekitar 10 liter atau 20 botol  @ 500 ml xRp 40.000,-) atau senilai Rp 800.000,- atau sekitar Rp 15.000.000,-/bulan,

3. Sampah An-Organik ( plastik, logam, dst ) sekitar @ 1 kg/ Rumah atau sebanyak 1000 kg dengan nilai belum dihitung (PM),

4. Retribusi kebersihan atau iuran kebersihan warga- yang biasa dikumpul di Indonesia oleh setiap RT/RW dengan rata-rata @ keluarga Rp 20.000,- sd Rp. 50.000,- /bulan atau untuk setiap IPKK/ 1000 KK akan hasilkan minimal Rp 20.000.000,-/ bulan,
Total Pendapatan IPKK / bulan sekurangnya = Rp. 50.000.000,- ( Lima Puluh Juta Rupiah)
Sungguh suatu pendapatan yang fantastis jika mengingat modal dan tenaga kerja yang relatif tidak perlu modal besar.
Perkiraan modal yang dibutuhkan :
2. Tempat Sampah Terpilah (TST) 1000 unit @ 395.000.000,- yang dapat menjadi beban setiap Rumah,
3. Motor Roda Tiga 2 Unit Rp 35.000.000,-
Total Modal minimal jika TST dibebankan ke setiap Rumah = Rp 110.000.000,- atau jika Tempat Sampah Terpilah menjadi Investasi anda akan diperlukan modal Rp 505.000.000,- Tentu saja kalkulasi ini belum menghitung modal kerja bagi setiap proses pengolahan 1 ton sampah organik bahan kompos. Namun dengan analisa sederhana anda bisa menghitung jika setiap 1 Ton sampah organik akan membutuhkan 1 kg ( 1 / 1000 dari bahan sampah 1 Ton) Green Phoskko Compost Activator dan 30 kg ( 3 % bahan sampah 1 Ton )Mineral Bulking Agent Green Phoskko senilai ke-2 nya adalah Rp 250.000,-
Bagaimana Mendapatkan Uang Bagi Modal Itu ?
Pembaca, saat ini perusahaan memerlukan media promosi efektif agar produknya mendapat “awareness” konsumen. Semua alat perlengkapan IPKK dapat ditawarkan kepada setiap perusahaan menjadi media Iklan produk yang cocok seperti sabun, sabun cuci, produk berorientasi kesehatan ( pembersih lantai, pembersih rumah dari hama/nyamuk, dst) serta produk lainnya.
Disamping dijual ke perusahaan digunakan iklan, dapat juga dana Pembinaan Lingkungan BUMN ( PKBL BUMN) seperti Telkom, ANTAM, PT PGN ( Persero) serta perusahaan swasta yang berorientasi dan memerlukan pada pencitraan lingkungan atau sebagai suatu persyaratan dalam mendapatkan sertifikat ISO 14002.
Belum lagi alternatif pembiayaan yang dapat dilakukan dengan cara memusyawrahkan pada level RT/RW setempat, dimana investasi dibebankan kepada warga atau RT/ RW membentuk Koperasi Warga.
Layanan Informasi dan Pembelian Produk Bisa Didapatkan Di Agen Outlet PT CVSK Di Wilayah Indonesia dan Semenanjung, klik Daftar Alamat Agen CVSK Disini
 
Dalam pengalaman usahawan UKM Mikro di Bandung, sebenarnya modal terbesar adalah tekad kuat berkeinginan mengusahakan Instalasi Pengelolaan Kompos Kota (IPKK) dengan motivasi mendapatkan laba sekaligus ikut serta menjaga lingkungan agar tetap asri dan bersih serta menghasilkan pupuk organik bagi kepentingan tanaman pekarangan bagi pengusahaan tanaman obat dan bunga maupun bagi kepentingan para petani pada umumnya. Sekali lagi bahwa tekad yang kuat telah dipancangkan, pantang mundur maka kemudahan akan didapatkan++)