Lebih baik bersedekah dari pada beli terompet

Jika kita perkirakan, apabila setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp. 2.000,- untuk membeli terompet dan sesuatu yang dapat memeriahkannya, sedangkan orang yang merayakan tahun baru sekitar 200 juta penduduk Indonesia, maka berapakah jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu itu, Hal itu baru perkiraan harga terompet sekitar Rp. 2.000,- lantas bagaimana jika harganya mencapai Rp. 15.000,- per buah? Dan berapa rupiahkah yang mesti terbuang dengan percuma? Padahal masih banyak saudara-saudara kita yang masih membutuhkan uluran tangan kita.

Pedagang Musiman Terompet Tahun Baru

Pedagang Terompet Tahun Baru Sumber : http://data.tribunnews.com/foto/images/preview/20131230_222858_pedagang-terompet-tahun-baru.jpg

 

var uid = ‘34055’;
var wid = ‘63234’;

 

Terompet, suatu benda yang dapat mengeluarkan suara berisik. Entah siapa yang pertama kali mengawali membuat terompet, yang jelas bahwa benda itu menjadi sebuah hal yang identik dengan pesta dan perayaan. Termasuk diantaranya adalah tradisi meniup terompet disetiap pergantian tahun diakhir tahun masehi, bahkan terompet tahun baru bukan hanya sekedar berbentuk mencorong panjang, sekarang ini bentuk terompet tahun baru sudah semakin rumit. Mulai dari bentuk mirip alat music hingga bentuk naga dengan berbagai lekukannya, sungguh kebiasaan yang dapat membawa rejeki bagi sebagian masyarakat Indonesia yang kreatif, lantas bagaimanah Islam memandang budaya tersebut?

Membunyikan Terompet Adalah Perilaku Orang-Orang Yahudi
Meniup terompet pada tahun baru merupakan budaya masyarakat Yahudi, bahkan menurut berbagai sumber bahwa meniup terompet merupakan perintah Allah kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dalam syari’at Taurat untuk menyambut datangnya Rosh Hasanah atau tahun baru Taurat, yang jatuh pada bulan ketujuh atau tanggal 1 bulan Tishri dalam kalender Ibrani purba.

Dalam Alkitab disebutkan;
“Katakanlah kepada orang-orang Isra’el, begini: Dalam bulan yang ketujuh, pada tanggal satu bulan itu, kamu harus mengadakan hari perhentian penuh yang diperingati dengan meniup serunai (terompet), yakni hari pertemuan kudus” (Imamat 23:24)

Hari raya ini terjadi pada hari pertama dari bulan ketujuh, mungkin sebagai peringatan dan persiapan bagi Hari Pendamaian yang sudah dekat. Allah menginginkan agar Israel merenungkan hal-hal rohani, khususnya mengenai hubungan perjanjian mereka dengan-Nya.

Dalam Alkitab Bilangan 29; 1 juga disebutkan
“Pada bulan yang ketujuh, pada tanggal satu bulan itu, haruslah kamu mengadakan pertemuan yang kudus, maka tidak boleh kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat; itulah hari peniupan serunai (terompet) bagimu.” (Bilangan 29:1)

Dari keterangan diatas menjadi jelas bahwa meniup terompet merupakan budaya orang-orang Yahudi untuk mengadakan pertemuan kudus di hari raya mereka. Namun kenyataannya, banyak diantara mereka baik di Barat maupun di Timur, meniup terompet tanpa ada motif kerohaniaan, melainkan motif mereka hanya untuk bersenang-senang atau motif komersil, sayangnya banyak dari kalangan kaum Muslimin sendiri ikut meramaikan budaya tersebut dengan berbagai macam cara dan model pada saat malam pergantian tahun.

Tasyabbuh terhadap orang-orang Yahudi
Jika orang-orang Nasrani membunyikan lonceng sebagai syimbol dalam event ibadah mereka, meski lonceng orang-orang Nasrani adalah buatan mereka sendiri dan bukan ajaran Nabi Isa ‘alaihis salam, dan orang-orang Yahudi menggunakan terompet sebagai symbol untuk merayakan hari kudus mereka, maka Islam memiliki syimbol khusus untuk mengumpulkan orang-orang ketika hendak beribadah kepada Allah, seruan yang dapat membuat hati menjadi tenang dan setan-setan lari terbirit-birit ketika mendengarkannya.

Abu Daud meriwayatkan dalam sunannya
عَنْ أَبِي عُمَيْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ عُمُومَةٍ لَهُ مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَ اهْتَمَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلصَّلَاةِ كَيْفَ يَجْمَعُ النَّاسَ لَهَا فَقِيلَ لَهُ انْصِبْ رَايَةً عِنْدَ حُضُورِ الصَّلَاةِ فَإِذَا رَأَوْهَا آذَنَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا فَلَمْ يُعْجِبْهُ ذَلِكَ قَالَ فَذُكِرَ لَهُ الْقُنْعُ يَعْنِي الشَّبُّورَ وَقَالَ زِيَادٌ شَبُّورُ الْيَهُودِ فَلَمْ يُعْجِبْهُ ذَلِكَ وَقَالَ هُوَ مِنْ أَمْرِ الْيَهُودِ قَالَ فَذُكِرَ لَهُ النَّاقُوسُ فَقَالَ هُوَ مِنْ أَمْرِ النَّصَارَى فَانْصَرَفَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ وَهُوَ مُهْتَمٌّ لِهَمِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُرِيَ الْأَذَانَ فِي مَنَامِهِ قَالَ فَغَدَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لَبَيْنَ نَائِمٍ وَيَقْظَانَ إِذْ أَتَانِي آتٍ فَأَرَانِي الْأَذَانَ قَالَ وَكَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَدْ رَآهُ قَبْلَ ذَلِكَ فَكَتَمَهُ عِشْرِينَ يَوْمًا قَالَ ثُمَّ أَخْبَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تُخْبِرَنِي فَقَالَ سَبَقَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ فَاسْتَحْيَيْتُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بِلَالُ قُمْ فَانْظُرْ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ فَافْعَلْهُ قَالَ فَأَذَّنَ بِلَالٌ
Dari Abu Umair bin Anas dari sebagian pamannya dari kaum Anshar, dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat memperhatikan shalat, bagaimana cara mengumpulkan orang-orang untuk mengerjakan shalat. Maka dikatakan kepada beliau; Pancangkanlah bendera ketika waktu shalat telah tiba. Apabila mereka melihatnya, maka sebagian memberitahukan yang lainnya. Namun usulan itu tidak disukainya. Disebutkan juga kepada beliau, terompet, kata Ziyad; Terompet adalah (syimbol) Yahudi, pendapat ini juga tidak disukai beliau, dan beliau bersabda: “Itu termasuk perbuatan orang orang Yahudi”. Disebutkan pula kepada beliau supaya memakai lonceng, beliau bersabda: “Itu perbuatan orang orang Nasrani”. Lalu Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbih pulang, dia adalah seorang yang sangat peduli terhadap kepedulian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian dia bermimpi adzan, katanya; Maka hari esoknya Abdullah pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan perihal mimpinya. Dia berkata kepada beliau; ‘Wahai Rasulullah, ketika aku di antara tidur dan jaga, tiba tiba datang kepadaku seseorang lalu memberitahukan adzan. Perawi berkata; Umar bin Al-Khaththab juga bermimpi demikian sebelum itu, namun beliau menyembunyikannya selama dua puluh hari. Kemudian Umar memberitahukannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda kepadanya: “Apa yang menghalangimu untuk menyampaikan kepadaku?” Dia menjawab; Abdullah bin Zaid telah mendahuluiku, sebab itu aku merasa malu.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Bilal, berdirilah, dan laksanakanlah apa yang diperintahkan oleh Abdullah bin Zaid kepadamu!” Kemudian Bilal mengumandangkan adzan. http://hadits.in/abudaud/420

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyukai terompet karena menyerupai Yahudi dan lonceng yang menyerupai Nasrani, beliau beralasan karena itu adalah perilaku orang-orang Yahudi dan Nasrani. Motif hukum ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang syimbol-syimbol yang menjadi ciri khas orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sedangkan syimbol agama ini adalah suara adzan yang mengandung pemberitahuan dengan bacaan-bacaan dzikir kepada Allah. Hadits ini juga di antara sekian banyak hadits yang menunjukkan bahwa menyerupai orang kafir (tasyabbuh) adalah terlarang, barangkali inilah dampak yang paling berbahaya yang secara langsung bersentuhan dengan aqidah seorang muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa bertasyabuh (menyerupai) dengan suatu kaum, maka ia bagian dari mereka.” http://hadits.in/abudaud/3512

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan bahwa diakhir zaman nanti, ummat ini akan meniru dan mengikuti jejak orang-orang Yahudi dan Nashrani sejengkal demi sejengkal, Mungkin inilah zaman yang pernah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana Kaum muslimin terlihat jelas telah mulai mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun tradisi.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
Dari Abu Sa’id Al Khudzri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sungguh, kamu akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, hingga kalaulah mereka masuk liang biawak, niscaya kalian mengikuti mereka.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nasranikah?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” http://hadits.in/bukhari/6775

Ibnu Taimiyyah menegaskan, katanya; “(ternyata) Syimbol agama Yahudi dan Nasrani ini telah dipakai oleh banyak umat Islam, baik yang menjadi penguasa ataupun yang bukan.”

Dampak Negative Terompet
Di samping tasyabbuh terhadap orang-orang kafir, meniup terompet ketika merayakan tahun baru juga menimbulkan dampak negative lainnya, diantara dampak yang paling penting adalah;

  1. Melanggar adab yang diajarkan oleh Islam yaitu mengganggu orang lain
    Merayakan tahun baru yang banyak diramaikan dengan suara terompet atau suara bising lainnya adalah suatu kemungkaran, sebab dapat mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang sakit, anak-anak dan orang-orang yang lelah karena bekerja selama seharian. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seorang muslim mengganggu muslim lainnya.
    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
    Dari Abdullah bin ‘Amru –radhiallahu ‘anhuma- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seorang muslim adalah seseorang yang kaum Muslimin lainnya dapat selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” http://hadits.in/bukhari/9
    Hadits ini memberikan motivasi atau dorongan kepada setiap Muslim untuk tidak menyakiti muslim lainnya baik dengan perkataan maupun perbuatan dan hal-hal lainnya yang membuat orang lain terganggu. Oleh karena itulah Al Hasan Al Bashri mengatakan,
    الأبرار هم الذين لا يؤذون الذّر والنمل
    “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya seekor semut”. (Syarh Bukhari karya Ibnu Al Batthol). Seekor semut yang sangat kecil saja dilarang untuk disakiti, lantas bagaimana dengan manusia?.
  2. Menghambur-hamburkan uang dan melakukan tindakan pemborosan, padahal Islam melarang perilaku semacam ini. Allah ta’ala berfirman;
    وَءَاتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا . إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
    Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros, karena sesungguhnya para pemboros adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar pada Rabbnya” [QS Al Isra’: 26-27]. Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini.
    Ibnu Mas’ud mengatakan,
    التبذير: الإنفاق في غير حق
    “Tabdzir (pemborosan) adalah membelanjakan sesuatu pada jalan yang salah.” Ibnu Abbas juga mengatakan hal yang sama. (Tafsir Ibnu Katsir 5/69).
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga melarang hal ini, beliau bersabda;
    إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ
    “Allah membenci kalian tiga hal, yaitu: Orang yang menyampaikan setiap hal yang didengarnya, menyia-nyiakan harta dan banyak bertanya”. http://hadits.in/bukhari/1383

Sumber :  http://kaifahal.com/terompet-tahun-baru-dalam-tinjauan-syariat/#sthash.jHeZTaeg.dpuf

Rajin Sholat Puasa Sedekah Tapi Masuk Neraka

Rajin Sholat, Puasa, Sedekah Tapi Masuk Neraka?

Alhamdulillah khutbah Jum’at kali ini lumayan bagus.
Tentang menjaga lisan agar tidak menyakiti manusia dan tentang orang yang Muflis/Bangkrut.

Bagaimana mungkin orang yang rajin Sholat. Bukan cuma sholat Wajib dan sholat sunat rawatib. Tapi juga sholat Duha, Sholat Tahajjud, Sholat Safar, dsb. Rajin puasa. Bukan cuma Ramadhan, tapi Syawal, puasa tengah bulan, Senin-Kamis, bahkan Puasa Daud (sehari puasa sehari buka). Kemudian rajin bayar zakat dan sedekah.
Tapi di hari kiamat, ternyata pahalanya diambil Allah dan diberikan kepada orang2 yang dia zalimi. Orang2 yang dia katai. Orang2 yang dia hina. Dia pukul. Bahkan bunuh.
Saat pahalanya habis dan dosanya masih banyak karena dia menghina orang setiap hari. Memfitnah orang setiap hari, dsb, maka dosa orang2 yang dia zalimi ditimpakan ke dia.

Akhirnya meski amal ibadahnya banyak, bukannya masuk surga, malah masuk neraka. Mudah2an kita terhindar dari hal seperti itu.

Tahukah kamu siapa orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.” Nabi Saw lalu berkata, ” Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah (orang) yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia pernah mencaci-maki orang ini dan menuduh orang itu berbuat zina. Dia pernah memakan harta orang itu lalu dia menanti orang ini menuntut dan mengambil pahalanya (sebagai tebusan) dan orang itu mengambil pula pahalanya. Bila pahala-pahalanya habis sebelum selesai tuntutan dan ganti tebusan atas dosa-dosanya maka dosa orang-orang yang menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke api neraka.” (HR. Muslim)

Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi (membicarakan) aib-aib orang lain. (HR. Ad-Dailami)

 

 

www.stisitelkom.ac.id www.di.stisitelkom.ac.id www.ktm.stisitelkom.ac.id
www.dkv.stisitelkom.ac.id www.dp.stisitelkom.ac.id www.srm.stisitelkom.ac.id
www.blog.stisitelkom.ac.id www.multimedia.stisitelkom.ac.id
www.elearning.stisitelkom.ac.id www.library.stisitelkom.ac.id
www.repository.stisitelkom.ac.id www.cloudbox.stisitelkom.ac.id
www.digilib.stisitelkom.ac.id www.mirror.stisitelkom.ac.id
www.sisfo.stisitelkom.ac.id www.hilfan.blog.stisitelkom.ac.id
www.telkomuniversity.ac.id
www.kuningmas-autocare.co.id www.usnadibrata.co.id www.askaf.co.id www.hilfans.wordpress.com www.hilfan-s.blogspot.com

Abu Bakar As-Sidq Menyedekahkan Seluruh Hartanya

Senin, 23 Jul 2012

Betapa Abu Bakar As-Sidq Menyedekahkan Seluruh Hartanya

Jakarta (voa-islam.com) Pernahkah terbetik dalam benak pikiran, ketika membandingkan manusia modern sekarang dengan generasi dahulu dalam Islam? Generasi salafusshalih. Sebaik-baik generasi (khairul khurrun). Generasi yang langsung dibimbing dan dididik oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam. Generasi pertama yang langsung menerima wahyu al-Qur’an dari Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam.

Sampai-sampai generasi salafushalih diabadikan dalam al-Qur’an. Mereka memiliki karakter yang khas, karakter Qur’an. Generasi salafushalih adalah generasi yang istijabah (menyambut) seruan Rabbul Alamin. Dengan seluruh jiwa raganya. Tanpa ragu sedikitpun.

Mereka tidak syak terhadap perintah-perintah-Nya. Mereka beriltizam (komit) dengan perintah-perintah dan larangan-Nya. Tidak ada yang cacad dalam kehidupan mereka. Mereka menerima Islam secara totalitas, tak ada yang dikurangi sedikitpun, khususnya ketika menjalankan prinsip (mabda), yang bersifat ushul (pokok).

Karena itu, Allah Azza Wa Jalla, mengingatkan kepada manusia bahwa perhiasan dunia yang Allah berikan, berupa harta dan anak, merupakan kekayaan yang dapat dinikmati sepanjang kehidupan dunia.

Namun, bukan bagian kekayaan akhirat, dan tidak dapat memberi manfaat di hari kiamat. Kekayaan dunia sangat terbatas, dan akan berakhir bersamaan dengan waktu. Kekayaan dunia tak ada yang abadi. Sedangkan kehidupan akhirat itu, lebih mulia dan kekal.

Allah Azza Wa Jalla, selanjutnya akan memberikan karunia bagi orang-orang Mukmin, kenikmatan di akhirat yang kekal. Tanpa batas. Tidak bisa dianalogkan dengan apapun cita rasa kenikmatan di akhirat.

Tidak dapat diimajinasikan oleh akal manusia. Ganjaran berupa kenikmatan akhirat itu. Visualisasi dengan kenikmatan kehidupan dunia, berupa harta, anak, pangkat, semua tak sebanding dengan balasan yang akan diberikan oleh Allah Wa Jalla.

Maka, barangkali yang dilakukan oleh Abu Bakar As-Sidq ra, seperti diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib ra, bahwa Abu Bakar bersedekah hampir seluruh harta kekayaan yang dimilikinya, hampir-hampir tak lagi tersisa bagi keluarganya.  Semua harta yang dimiliki di sedekahkan.

Semua digunakan fi sabilillah. Harta yang dimiliki oleh Abu Bakar Sidq ra, hampir seluruhnya di infaqkan. Sampai-sampai Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, menegur Abu Bakar ra, “Apa yang engkau gunakan membiayai hidupanmu dan keluargamu, wahai Abu Bakar, sesudah seluruh hartamu engkau sedekahkan?”. Abu Bakar As-Sidq, dan dengan tandas mengatakan, “Aku masih mempunyai Allah dan Rasul”, tukasnya.

Sikap Abu Bakar As-Sidq ra mendapatkan cemooh sebagian kalangan masyarakat Madinah, atas sikapnya yang menyedekahkan dan menginfaqkan hartanya itu. Abu Bakar As-Sidq ra, sudah tidak lagi hatinya  tertambat dengan harta dan segala hal yang terkait dengan dunia.

Abu Bakr ra rela melepaskan harta dan seluruh kekayaan yang dimiliki demi agama Allah, yang diyakininya. Tak ada ragu lagi. Karena, seluruh jiwa dan raganya hanya diarahkan dalam mencari ridha dan kemuliaan dari Allah Azza Wa Jalla. Atas sikapnya itu, kemudian diabadikan dalam al-Qur’an, surah 42 : 36).

Begitu pula Umar ibn Khattab, yang mendapat julukan “al-Farooq”, ketika mengikuti seruan Rasulullah Shallahu Alaihi wasslam, dan masuk ke dalam agama Islam, kemudian Umar meninggalkan seluruh perbuatan maksiat dan dosa. Orang-orang yang bersama-sama dengan Umar mengejeknya.

Sesudah Umar ibn Khattab masuk Islam, dikenal sebagia pembela agama Allah, dan Rasul Shallahu Alaihi Wassalam. Gambaran masa lalu, yang pekat, dan penuh dengan kejahiliyahan, semua ditinggalkannya.

Tidak pernah lagi Umar menengok kehidupan masa lalunya. Umar ibn Khattab menutup rapat-rapat masa lalu dengan kehidupan barunya yang hanya bersandar kepada Qur’an. Tokoh yang paling dikenal dalam sejarah Islam, sikapnya yang sangat keras itu, menjadi manusia mulia, atas bimbingan dari Allah Azza Wa Jalla.

Karena itu, kehidupan Umar Ibn Khattab, dikenal dalam shirah, dan masyhur, sebagai Khalifah, yang sangat dikenal, karena perjuangannya dalam menegakkan agama Allah. Membebaskan negeri-negeri Muslim, yang dijajah oleh Romawi, dan membebaskan Palestina, serta Mesir, yang dikuasi kekuatan kaum musyrik Fatimiiyah.

Kemulian demi kemuliaan yang terus diukir oleh Umar Ibn Khattab dalam sejarah kehidupan, dan akan terus menjadi sumber kehidupan bagi generasi sesudahnya. Karena itu, peristiwa masuknya Islam Umar itu, diabadikan pula dalam al-Qur’an, surah 42 : 37)

Sifat-sifat seorang Mukmin yang diberikan kenikmatan oleh Allah Azza Jalla akan selalu menjauhi dosa dan berbagai bentuk kemusyrikan, yang dapat merusak keimanannya. Menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Menolak segala kemungkaran yang berlangsung dalam kehidupan. Tidak membiarkan kemungkaran terus merajalela.

Abu Bakar As-Sidq ra, Umar ibn Khattab ra, dan para salafushalih selalu memenuhi panggilan Allah, ketika mereka dipanggil mengikrarkan ketauhidan, keesaan-Nya dan membebaskan diri dari segala bentuk peribadatan selain Allah Rabbu Alamin. Para salafusslahih mendirikan shalat yang wajib dengan memenuhi batasan-batasannya, dan ketika menghadapi perkara mereka bermusyawarah.

Keimanan yang sempurna adalah anugerah Allah Azza Wa Jalla. Untuk meraih keimanan yang sempurna, orang perlu taat sebenar-benarnya mengikuti perintah al-Qur’an.

Tidak sedikitpun memiliki keinginan menselisihi. Taat secara total dalam menjalani perintah-perintah Allah Azza Wa Jalla. Karena itu, seorang Mukmin akan selalu mentaati batasan-batasan yang diberikan oleh Allah Azza Wa Jalla.

Ketabatan dan kesabaran  orang-orang Mukmin yang begitu luar biasa, dan terus memegang iman dan aqidahnya sesuai dengan al-Qur’an dan As-Sunnah, membuat Mukmin, mengungguli semua jenis manusia. Inilah yang diisyarakatkan oleh Allah Rabbul Alamin.

Kemudian, tengoklah hari ini, betapa manusia penuh dengan hingar bingar hidupnya,dan setiap hari didera dengan masalah-masalah kehidupan mereka. Tanpa henti. Terus menerus. Hidupnya diekploitasi oleh orang-orang yang lebih kuat, dan yang memiliki kekuasaan dan modal.

Mereka yang lemah, dan tidak memiliki asset apapun, kemudian mereka diperlakukan sebagai budak dalam kehidupan nyata. Itulah nasib orang-orang yang sudah menggandaikan kehidupan dengan mengejar harta. Mereka tak lagi memiliki nilai yang berarti bagi kehidupan.

Mereka seperti mesin, yang terus bergerak, dan tidak tahu kapan bisa berhenti dalam putaran. Sampai ajal menjemputnya. Kemudian di akhirat mereka menjadi sia-sia belaka.

Mereka di dunia celaka, dan diakhirat merugi. Kehidupan manusia modern yang memuja kehidupan dunia, dan mereka berada di kota-kota di seluruh dunia, hanya mengikuti rutinitas kehidupan, yang sama sekali tidak berguna.

Maka, pergilah ke jalan Islam, sampai mendapatkan kemuliaan. Wallahu’alam.