Contoh dari Rasulullah agar Bebas Finansial

Sejak jaman Rasul 1 Dinar setara 1 ekor kambing, 1 dirham setara 1 ekor ayam

Sejak jaman Rasul 1 Dinar setara 1 ekor kambing, 1 dirham setara 1 ekor ayam

Ingin Bebas Finansial? Ini Rahasianya dari Rasulullah

Dengan langkah gontai, laki-laki itu datang menghadap Rasulullah. Ia sedang didera problem finansial; tak bisa memberikan nafkah kepada keluarganya. Bahkan hari itu ia tidak memiliki uang sepeserpun.

Dengan penuh kasih, Rasulullah mendengarkan keluhan orang itu. Lantas beliau bertanya apakah ia punya sesuatu untuk dijual. “Saya punya kain untuk selimut dan cangkir untuk minum ya Rasulullah,” jawab laki-laki itu.

Rasulullah pun kemudian melelang dua barang itu.

“Saya mau membelinya satu dirham ya Rasulullah,” kata salah seorang sahabat.

“Adakah yang mau membelinya dua atau tiga dirham?” tanya Rasulullah.

Inilah lelang pertama dalam Islam. Dan lelang itu dimenangkan oleh seorang sahabat lainnya. “Saya mau membelinya dua dirham”

Rasulullah memberikan hasil lelang itu kepada laki-laki tersebut. “Yang satu dirham engkau belikan makanan untuk keluargamu, yang satu dirham kau belikan kapak. Lalu kembalilah ke sini.”

Setelah membelikan makanan untuk keluarganya, laki-laki itu datang kembali kepada Rasulullah dengan sebilah kapak di tangannya. “Nah, sekarang carilah kayu bakar dengan kapak itu…” demikian kira-kira nasehat Rasulullah. Hingga beberapa hari kemudian, laki-laki itu kembali menghadap Rasulullah dan melaporkan bahwa ia telah mendapatkan 10 dirham dari usahanya. Ia tak lagi kekurangan uang untuk menafkahi keluarganya.

Salman Al Farisi punya rumus 1-1-1. Bermodalkan uang 1 dirham, ia membuat anyaman dan dijualnya 3 dirham. 1 dirham ia gunakan untuk keperluan keluarganya, 1 dirham ia sedekahkan, dan 1 dirham ia gunakan kembali sebagai modal. Sepertinya sederhana, namun dengan cara itu sahabat ini bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dan bisa sedekah setiap hari. Penting dicatat, sedekah setiap hari.

Nasehat Rasulullah yang dijalankan oleh laki-laki di atas dan juga amalan Salman Al Farisi memberikan petunjuk kepada kita cara dasar mengelola keuangan. Yakni, bagilah penghasilan kita menjadi tiga bagian; satu untuk keperluan konsumtif, satu untuk modal dan satu untuk sedekah. Pembagian ini tidak harus sama persis seperti yang dilakukan Salman Al Farisi.

KEPERLUAN KONSUMTIF

Untuk soal ini, rasanya tidak perlu diperintahkan pun orang pasti melakukannya. Bahkan banyak orang yang menghabiskan hampir seluruh penghasilannya untuk keperluan konsumtif. Tidak sedikit yang malah terjebak pada masalah finansial karena terlalu menuruti keinginan konsumtif hingga penghasilannya tak tersisa, bahkan akhirnya minus.

Yang perlu menjadi catatan, bagi seorang suami, membelanjakan penghasilan untuk keperluan konsumtif artinya adalah memberikan nafkah kepada keluarganya. Jangan sampai seperti sebagian laki-laki yang menghabiskan banyak uang untuk rokok dan ke warung, sementara makanan untuk anak dan istrinya terabaikan.

MODAL

Sisihkanlah penghasilan atau uang Anda untuk modal. Bahkan, kalaupun Anda adalah seorang karyawan atau pegawai. Sisihkanlah setiap bulan gaji Anda untuk menjadi modal atau membeli aset. Menurut Robert T. Kyosaki, inilah yang membedakan orang-orang kaya dengan orang-orang kelas menengah dan orang miskin. Orang kaya membeli aset, orang kelas menengah dan orang miskin menghabiskan uangnya untuk keperluan konsumtif. Dan seringkali orang kelas menengah menyangka telah membeli aset, padahal mereka membeli barang konsumtif; liabilitas.

Aset adalah modal atau barang yang menghasilkan pemasukan, sedangkan liabilitas adalah barang yang justru mendatangkan pengeluaran. Barangnya bisa jadi sama, tetapi yang satu aset, yang satu liabilitas. Misalnya orang yang membeli mobil dan direntalkan. Hasil rental lebih besar dari cicilan. Ini aset. Tetapi kalau seseorang membeli mobil untuk gengsi-gengsian, ia terbebani dengan cicilan, biaya perawatan dan lain-lain, ini justru menjadi liabilitas. Robert T Kiyosaki menemukan, mengapa orang-orang kelas menengah sulit menjadi orang kaya, karena berapapun gaji atau penghasilan mereka, mereka menghabiskan gaji itu dengan memperbesar cicilan. Berbeda dengan orang yang membeli aset atau modal yang semakin lama semakin banyak menambah kekayaan mereka.

Jangan dianggap bahwa aset atau modal itu hanya yang terlihat, tangible. Ada pula yang tak terlihat, intangible. Contohnya ilmu dan skill. Jika Anda adalah tipe profesional, meningkatkan kompetensi dan skill adalah bagian dari modal, bagian dari aset. Dengan kompetensi yang makin handal, nilai Anda meningkat. Penghasilan juga meningkat.

SEDEKAH

Jangan lupa sisihkan penghasilan Anda untuk sedekah. Mengapa? Sebab ia adalah bekal untuk kehidupan yang hakiki di akhirat nanti. Baik sedekah wajib berupa zakat maupun sedekah sunnah.

Apa yang dilakukan Salman Al Farisi adalah amal yang luar biasa. Ia bersedekah senilai apa yang menjadi keperluan konsumtif keluarganya. Jadi kita kita punya gaji atau penghasilan tiga juta, lalu kebutuhan konsumtif keluarga kita satu juta, kita baru bisa menandingi Salman Al Farisi jika bersedekah satu juta pula. Namun karena ada hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa sedekah satu bukit tidak dapat menyamai sedekah satu mud para sahabat, kita tak pernah mampu menandingi sedekah Salman Al Farisi.

Harta sejati kita yang bermanfaat di akhirat nanti adalah apa yang kita sedekahkan. Lalu mengapa kita membagi penghasilan kita menjadi tiga bagian; konsumsi, modal dan sedekah? Mengapa tidak semuanya disedekahkan? Sebab konsumsi dan modal sesungguhnya juga pendukung sedekah kita. Jika keperluan konsumsi kita terpenuhi, maka fisik kita relatif lebih sehat. Dengan fisik yang sehat, kita bisa beribadah dan bekerja yang sebagian hasilnya untuk sedekah. Mengapa perlu mengalokasikan untuk modal/aset? Karena ia akan semakin memperbesar pemasukan kita dan dengannya kita menjadi lebih mudah untuk bersedekah dalam jumlah lebih besar dan juga lebih banyak beramal.

 

 

Disadur dari : [Muchlisin BK/keluargacinta.com]
https://www.facebook.com/mieke.wahyunisuswono/posts/700671610001504?fref=nf

FITNAH: Arab Saudi Akan Memindahkan Makam Nabi!

Tampaknya, fitnah terhadap Arab Saudi tak kunjung henti. Belum lagi satu fitnah tenggelam fitnah baru dilahirkan, atau fitnah lama dihidupkan kembali. FITNAH: Arab Saudi Akan Memindahkan Makam Nabi!

Tampaknya, fitnah terhadap Arab Saudi tak kunjung henti. Belum lagi satu fitnah tenggelam fitnah baru dilahirkan, atau fitnah lama dihidupkan kembali. 

Fitnah terbaru dan paling "hot" saat ini adalah issu bahwa "Arab Saudi Berencana Memindahkan Makam Nabi."

Sayangnya, tanpa chek and richek. bahkan dengan mengabaikan professionalisme, berbagai media Indonesia ikut-ikutan menebarkan Issue ini, dengan menjadikan "The Independent" dan "Daily Mail"sebagai sumbernya. Lihat saja misalnya: 
- http://www.tribunnews.com/internasional/2014/09/03/arab-saudi-berencana-memindahkan-makam-nabi-muhammad
-http://m.news.viva.co.id/news/read/534537-makam-nabi-muhammad-terancam-dihancurkan
-  Dll

BANTAHAN:

Sumber yang dijadikan referensi atas fitnah ini adalah penelitian yang ditulis oleh Dr. Ali bin Abdul Aziz al-Shebl. Dalam penilitian setebal 51 halaman, dengan judul " 'IMARAT MASJID AN-NABIY ALAIHISSALAM WA DUKHUL AL-HUJURAT FIHI, Dirasah Aqadiyah" .

Maka berikut bantahan kami terhadap fitanh yang tersebar:

1. Setelah membaca penelitin ini, khususnya bagian penutup: Rekomendasi dan usulan, tidak ada satu kata, atau satu kalimat pun dari peneliti meminta "Dipindahkannya makam Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.

Artinya, andai kata kelima usulan Dr. Ali al-Shebl diterima oleh pemerintah Saudi, maka tidak akan ada proyek pemindahan makam Nabi.

2. Usulan perluasan Masjid versi ini (perluasan dari arah Kiblat, Selatan) ditolak mentah-mentah oleh Hai'ah Kibar Ulama dan ulama lainnya seperti Syekh. Abdurrahman a-Barrak. 
(http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=296169)

Insinyur  Abdul Haq al-Otaibi, via Surat Kabar "Makkah" menyatakan Usulan-usulan peneliti tersebut kurang tepat. Ia juga menilai bahwa banyak realita sejarah perluasan masjid Nabawi yang luput dari si peneliti. http://www.almasryalyoum.com/news/details/514359 

Kendati demikian, ada beberapa masyaikh menyetujui usulan perluasan ke arah selatan.

3. Setelah meminta pendapat Hai'ah Kibar Ulama, para ulama mengusulkan kepada Kerajaan agar perluasan ke arah selatan (Qiblat) dibatalkan dan dialihkan ke arah Utara. (http://twasul.info/16651/)

KESIMPULAN: 

1. Baik dari hasil penelitian Dr. Ali al-Shebl, maupun usulan Hai'ah Kibar Ulama dan ulama lainnya, sama sekali tidak ada topik atau rencana "pemindahan makam Nabi."

2. Yang menjadi kontroversi di internal Saudi adalah perluasan ke arah selatan (bagian kiblat), dan usulan terakhir adalah pengalihan perluasan ke arah Utara.

3. Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat, para sahabat beliau berbeda pendapat di mana beliau akan dimakamkan.

Maka sahabat Abu Bakar al-Shiddiq berkata: "Aku mendengar dari Rasulullah sesuatu yang tidak pernah kulupa, beliau bersabda: "Allah tidak akan mencabut nyawa seorang Nabi, kecuali di tempat yang ia (Nabi tersebut) suka untuk dimakamkan padanya." Makamkanlah beliau (Nabi) di (bawah) tempat tidurnya. (HR. Tirmizdi, no. 1018, al-Baghawi dalam Syarh al-Sunnah, no. 3832. Syekh al-Albani menyatakan hadits ini Shahih, Mukhtashar al-Syama'il, jilid I, h. 195)

Karenanya, mulai dari zaman sahabat sampai hari ini, saya yakin tidak akan ada seorang pemimpin, atau seorang muslim pun yang berani "Memindahkan" makam Nabi.

Wallahu A'lam

Fitnah terbaru dan paling “hot” saat ini adalah issu bahwa “Arab Saudi Berencana Memindahkan Makam Nabi.”

Sayangnya, tanpa chek and richek. bahkan dengan mengabaikan professionalisme, berbagai media Indonesia ikut-ikutan menebarkan Issue ini, dengan menjadikan “The Independent” dan “Daily Mail”sebagai sumbernya. Lihat saja misalnya:
http://www.tribunnews.com/internasional/2014/09/03/arab-saudi-berencana-memindahkan-makam-nabi-muhammad
– http://m.news.viva.co.id/news/read/534537-makam-nabi-muhammad-terancam-dihancurkan
– Dll

BANTAHAN:

Sumber yang dijadikan referensi atas fitnah ini adalah penelitian yang ditulis oleh Dr. Ali bin Abdul Aziz al-Shebl. Dalam penilitian setebal 51 halaman, dengan judul ” ‘IMARAT MASJID AN-NABIY ALAIHISSALAM WA DUKHUL AL-HUJURAT FIHI, Dirasah Aqadiyah” .

Maka berikut bantahan kami terhadap fitanh yang tersebar:

1. Setelah membaca penelitin ini, khususnya bagian penutup: Rekomendasi dan usulan, tidak ada satu kata, atau satu kalimat pun dari peneliti meminta “Dipindahkannya makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Artinya, andai kata kelima usulan Dr. Ali al-Shebl diterima oleh pemerintah Saudi, maka tidak akan ada proyek pemindahan makam Nabi.

2. Usulan perluasan Masjid versi ini (perluasan dari arah Kiblat, Selatan) ditolak mentah-mentah oleh Hai’ah Kibar Ulama dan ulama lainnya seperti Syekh. Abdurrahman a-Barrak.
(http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=296169)

Insinyur Abdul Haq al-Otaibi, via Surat Kabar “Makkah” menyatakan Usulan-usulan peneliti tersebut kurang tepat. Ia juga menilai bahwa banyak realita sejarah perluasan masjid Nabawi yang luput dari si peneliti.http://www.almasryalyoum.com/news/details/514359

Kendati demikian, ada beberapa masyaikh menyetujui usulan perluasan ke arah selatan.

3. Setelah meminta pendapat Hai’ah Kibar Ulama, para ulama mengusulkan kepada Kerajaan agar perluasan ke arah selatan (Qiblat) dibatalkan dan dialihkan ke arah Utara. (http://twasul.info/16651/)

KESIMPULAN:

1. Baik dari hasil penelitian Dr. Ali al-Shebl, maupun usulan Hai’ah Kibar Ulama dan ulama lainnya, sama sekali tidak ada topik atau rencana “pemindahan makam Nabi.”

2. Yang menjadi kontroversi di internal Saudi adalah perluasan ke arah selatan (bagian kiblat), dan usulan terakhir adalah pengalihan perluasan ke arah Utara.

3. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, para sahabat beliau berbeda pendapat di mana beliau akan dimakamkan.

Maka sahabat Abu Bakar al-Shiddiq berkata: “Aku mendengar dari Rasulullah sesuatu yang tidak pernah kulupa, beliau bersabda: “Allah tidak akan mencabut nyawa seorang Nabi, kecuali di tempat yang ia (Nabi tersebut) suka untuk dimakamkan padanya.” Makamkanlah beliau (Nabi) di (bawah) tempat tidurnya. (HR. Tirmizdi, no. 1018, al-Baghawi dalam Syarh al-Sunnah, no. 3832. Syekh al-Albani menyatakan hadits ini Shahih, Mukhtashar al-Syama’il, jilid I, h. 195)

Karenanya, mulai dari zaman sahabat sampai hari ini, saya yakin tidak akan ada seorang pemimpin, atau seorang muslim pun yang berani “Memindahkan” makam Nabi.

Wallahu A’lam

Jilbab Bagi Wanita Beragama Islam adalah bukan warisan budaya arab tetapi keharusan yang tercatat dalam Al-Quran

Jilbab Bagi Wanita Beragama Islam adalah bukan warisan budaya arab tetapi keharusan yang tercatat dalam Al-Quran

Jilbab Bagi Wanita Beragama Islam adalah bukan warisan budaya arab tetapi keharusan yang tercatat dalam Al-Quran

KOMENTAR: “kamu ngapain berhijab panjang gitu? mau jadi ustadzah?”
TANGGAPAN: berhijab syar’i bukan cuma ustadzah kali.. semua Muslimah juga diperintah

KOMENTAR: “kamu mau jadi teroris pake hijab panjang kayak gitu?”
TANGGAPAN: kerudung melabuh ke dada dan jilbab lebar itu perintah Allah dear

KOMENTAR: “hijab biasa aja kali, nggak usah ekstrim, berlebihan ah”
TANGGAPAN: lho, jadi sekarang kamu merasa lebih tau tentang ‘hijab syar’i yang benar’?

KOMENTAR: “iya, hijab panjang kayak kamu itu nggak menarik”
TANGGAPAN: tujuan hijab memang membuatmu nggak diperhatikan, bukan malah menarik perhatian

KOMENTAR: “berhijab syar’i kayak kamu itu bikin ribet”
TANGGAPAN: justru simpel, nggak banyak jarum, peniti, bahan, belitan, asesoris, temali, kawat

KOMENTAR: “tapi ya sesuaikan dengan zaman lah”
TANGGAPAN: menyesuaikan zaman atau mode maksudnya? hijab itu ibadah, menyesuaikan Allah harusnya

KOMENTAR: “percuma aja hijab syar’i kalo kelakuan masih jelek”
TANGGAPAN: hijab syar’i itu doa, agar Allah juga membenahi akhlak, hargai usaha dear

KOMENTAR: “aku baru mau berhijab syar’i kalo udah siap”
TANGGAPAN: bersiap itu artinya melakukan bukan menanti, berusaha bukan berdiam

KOMENTAR: “kantor mana yang mau terima hijab syar’i begitu?”
TANGGAPAN: rezeki itu milik Allah, yang taat pasti dibantu, daripada dapet tapi nggak berkah?

KOMENTAR: “cowok mana yang mau nikahi yang berhijab syar’i?”
TANGGAPAN: yang jelas bukan cowok-cowok yang kamu kenal, tapi mereka yang mengenal Allah, mau

KOMENTAR: “aku bakal dijauhi temen-temen kalo berhijab syar’i begitu”
TANGGAPAN: Allah akan ganti dengan temen-temen yang lebih baik, yang mendukung yang baik

KOMENTAR: “hijab syar’i bikin aku terbatas geraknya”
TANGGAPAN: memang hal baik itu mengajak kita pada yang baik dan menjauhi yang buruk

KOMENTAR: “hijab syar’i itu nggak gaul”
TANGGAPAN: memang kita bukan untuk digauli, tapi dihormati dan dimuliakan, sebagaimana perintah Allah

KOMENTAR: “nggak, aku nggak bisa berhijab syar’i”
TANGGAPAN: nggak bisa beda dengan nggak mau, Allah wajibkan pasti kita bisa kalau kita mau

KOMENTAR: “hijab syar’i itu gimana sih?”
TANGGAPAN: simpel, gamis lebar tak transparan, dipadu kerudung panjang menutupi dada, dan kelakuan tidak berlebihan

KOMENTAR: “maksudnya gamis lebar?”
TANGGAPAN: pakaian yang tak menampakkan lekuk tubuh, dan diulurkan ke seluruh tubuh, seperti gamis, liat QS 33:59

KOMENTAR: “maksudnya kerudung panjang?”
TANGGAPAN: kain yang dipakai untuk menutupi kepala, sampai menutup pada keseluruhan dada, liat QS 24:31

KOMENTAR: “maksud kelakuan tak berlebihan?”
TANGGAPAN: jangan berbuat semua hal yang bakal mengundang perhatian kepadamu, tabbaruj itu, liat QS 33:33

KOMENTAR: “misalnya tabbaruj?”
TANGGAPAN: baju yang terlalu ribet, gaya foto di-unyu-unyu-in, suara di-kiyut-kiyutin, semua yang menarik perhatian lelaki

KOMENTAR: “hehe.. sering tuh liat yang begitu”
TANGGAPAN: banyak, haus perhatian lelaki, seneng kalo fotonya dikomen lelaki dengan “subhanallah ukhti..”

KOMENTAR: “jadi nggak boleh pasang PP diri gitu?”
TANGGAPAN: bukan gitu, cari PP yang nggak undang fitnah aja, kadang tanpa sadar PP kita pilih yang caper

KOMENTAR: “oh, jadi hijab itu kelakuan juga ya?”
TANGGAPAN: bener, emang mau foto kita didownload, dinikmati cowok sedunia maya? atau jangan-jangan demen?

KOMENTAR: “wah, susah juga ya berhijab syar’i?”
TANGGAPAN: susah tapi bukan nggak mungkin, selangkah demi selangkah, sadar dan mau taat itu bagian pahala

KOMENTAR: “terus aku mulai darimana?”
TANGGAPAN: mulai dengan cari komunitas berhijab syar’i, yang paling penting ikut kajian rutin biar pemahamannya naik

KOMENTAR: “aku masih bimbang”
TANGGAPAN: mulailah melangkah, bimbang akan sirna, lakukan karena Allah insyaAllah mudah, banyak yang sudah kini giliranmu

ini Hijab Syar’i = Khimar (QS 24:31) + Jilbab (QS 33:59) – Tabarruj (QS 33:33) |

 

SUMBER: USTADZ FELIX SIAUW

Jilbab Bagi Wanita Beragama Islam adalah bukan warisan budaya arab tetapi keharusan yang tercatat dalam Al-Quran

Rukun Islam Vs Rukun Syiah

Rukun Islam Vs Rukun Syiah

Ketika kita katakan Syi’ah bukan Islam, maka para penganut Syi’ah dan Syi’ahLover menuduh kita sebagai pemecah belah umat. Namun mereka terdiam, atau berusaha lari dari kenyataan saat kita datangkan bukti valid yang tak terbantahkan.

Rukun Syi’ah dari Mulut Marji’/ulama referensinya:
1. Shalat.
2. Zakat.
3. Puasa.
4. Haji
5. Wilayah (loyalitas kepada Ali -radhiyallahu ‘anhu)


Catatan:
Apakah syahadatain tidak termasuk rukun agama dalam ajaran Syi’ah? Bukankah satu-satunya alasan ‘terlaris’ para pembela Syi’ah yang menuduh kita sebagai pemecah belah umat adalah karena “Syi’ah juga bersaksi “Tiada Tuhan Yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah?”

Lantas apa posisi syahadatain bagi mereka?
Bukankah “Syahadatain” adalah pembeda muslim dengan kafir?

Bagaimana pula dengan orang yang bersyahadatain, shalat, puasa, zakat, dan haji namun tidak mengimani “al-wilayah” versi Syi’ah?

Sepandai-pandai Syi’ah menutupi kebusukannya, baunya akan tetap tercium, di setiap masa, di semua tempat!

 

Perempuan-perempuan Yang Berpakaian dan Berjilbab Tapi Sebetulnya Telanjang

Melalui sabdanya, Rasulullah SAW telah memberitahukan kepada kita mengenai hal ini. Rasulullah SAW bersabda:

مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
۞رواه أحمد ومسلم في الصحيح ۞

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya. Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia (maksudnya penguasa yang dzalim), dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu (jarak jauh sekali),” (HR. Muslim dan yang lain).

Dalam hadits tersebut jelas bahwa wanita-wanita yang menggunakan punuk unta pada hijabnya termasuk golongan orang-orang yang merugi di akhirat kelak. Mereka tidak akan mencium bau surga yang sebenarnya dalam jarak yang jauh sekali pun dapat tercium. Tapi, itu memang sudah ketetapan dari Allah SWT akibat kelakuan mereka sendiri. Mereka bangga dengan apa yang mereka pertontonkan. Padahal, dari perbuatan yang seperti itulah mereka telah berbuat kesalahan yang berakibat fatal bagi dirinya.

Hal tersebut telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW jauh sebelum hal itu terjadi. Tapi, Rasulullah memberitahukan kepada kita, bahwa salah satu tanda akhir zaman itu ialah adanya hijab punuk unta tersebut. Subhanallah, itulah kelebihan yang dimiliki oleh Nabi kita. Allah SWT telah memberi kabar akan adanya tanda akhir zaman itu melalui Nabi kita. Dan kini, apa yang disampaikan Nabi SAW itu benar adanya. Apakah mungkin akhir zaman itu telah mulai dekat? Wallahu ‘alam.

 

Jaman sekarang ini, aneka jenis hijab telah merajalela. Hanya saja, kebanyakan dari gaya berhijab ini, bertentangan dengan apa yang ada dalam aturan Islam. Salah satunya ialah berjilboob dan dengan mengadakan punuk unta pada hijabnya.

Hijab punuk unta yaitu menggunakan hijab tetapi ada tonjolan dibelakangnya seperti punuk unta. Tonjolan itu dapat berupa rambut yang digelung maupun sesuatu sebagai pengganti rambut agar terdapat tonjolan itu. Misalnya saja berupa bantal kecil yang sengaja dimasukkan agar memperindah bentuk.

Fenomena Jilboob sekarang ini memperlihatkan kepada kita bahwa penggunaan jilbab tidak hanya sebagai syariat wanita beragama Islam saja, namun lebih kepada fesyen dan keindahan menurut pandangan mata. Fesyen body fit sekarang ini membuat pakaian lebih memperlihatkan lekuk tubuh. Inilah yang disebut Perempuan-perempuan Yang Berpakaian dan Berjilbab Tapi Sebetulnya Telanjang. Lekuk tubuh bagi wanita adalah aurat yang haram dilihat oleh yang bukan mukhrimnya, sehingga wajib bagi seorang wanita baligh untuk menutupi lekuk tubuhnya agar tidak mudah dipandang orang lain.

Beberapa kalangan yang menyatakan dirinya sebagai Hijabers, biasanya kumpulan para wanita yang menggunakan Jilbab namun tetap gaya dengan fesyen. Kita akan melihat fenomena dimana kerudung penutup kepala mereka merupakan kumpulan beberapa kain yang dirancang sedemikian rupa, sehingga kadang terlihat menggumpal diatas (seperti kepala yang memiliki tumor otak kemudian ditutupi kain), sebagian lagi terlihat seperti rambut, bahkan ada yang dibentuk bagaikan seperti rangkaian bunga. Diluar penutup kepala, kita juga akan melihat beberapa pakaiannya yang terkadang body fit sesuai lekuk tubuh, sebagian yang lain memiliki sabuk atau pengikat didaerah pinggang, maka kita akan mudah melihat lekukan pinggangnya. Atau ibu-ibu muda yang menggunnakan jilbab, dengan kain yang tidak memiliki lekukan, namun bahan kainnya sangat tipis, dengan mata telanjang pun kita akan mudah melihat celana bagian dalamnya.

Perempuan-perempuan Yang Berpakaian dan Berjilbab Tapi Sebetulnya Telanjang

Perempuan-perempuan Yang Berpakaian dan Berjilbab Tapi Sebetulnya Telanjang

Untuk itu, kewajiban kita kepada sesama muslim ialah saling mengingatkan. Jadi, apabila kita melihat seseorang yang berhijab seperti itu, tidak ada salahnya apabila kita menegurnya. Karena, boleh jadi mereka tidak mengetahui ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya yang sebenarnya. Bila seseorang yang ditegur itu tidak mau mendengarkan nasihat kita, maka tidak menjadikan dosa kepada kita. Pada hakikatnya, kewajiban kita hanya mengingatkan saja, dan apabila hal itu telah dilakukan maka gugurlah kewajiban kita itu. Yang salah adalah apabila kita mendiamkan mereka tetap berada dalam kesalahannya.

Wahai Wanita Mengapa Engkau Mengorbankan Kehormatanmu untuk Mencari Perhatian Lelaki

Wahai Wanita Mengapa Engkau Mengorbankan Kehormatanmu untuk Mencari Perhatian Lelaki