Mix

Bahasa dan Makna untuk Jurusan DKV

Sengaja artikel ini saya copy, karena menurut saya ini artikel bagus banget untuk kemajuan DKV STISI Telkom, terutama perbaikan moralitas mahasiswanya.

 

Judul original: Suatu Hari di Kelas Komunikasi

Sumber : http://url.stisitelkom.ac.id/95335 Bahasa dan Makna untuk Jurusan DKV

 

Suatu Hari di Kelas Komunikasi

Sa’i Muslim Movement–Profesi utama saya yang kedua adalah mengajar sebagai dosen. Profesi itu memang urutan kedua setelah profesi saya sebagai kepala keluarga. Sebagai dosen, saya mengajar di jurusan Desain Komunikasi Visual di sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Salah satu mata kuliah saya ampu adalah mata kuliah Komunikasi. Mungkin yang menjadi alasan kenapa saya yang dipilih atasan untuk mengajar dalam mata kuliah ini adalah latarbelakang S2 saya yang dekat dengan subjek ini. Saya bersyukur, karena ilmu ini cukup saya pahami. Dan saya suka mengajar ilmu-ilmu yang memang menjadi expertise saya. Disamping kadang saya merasa tertantang juga mengajarkan ilmu yang belum terlalu saya kuasai sebelumnya. Bukan untuk mengajar dengan jurus ngawur ala dewa mabuk, tapi justru karena tertantang, saya harus secepatnya mempelajari ilmu tersebut, cepat menguasai, dan siap mentransfer ilmu itu kepada orang lain.

Kembali lagi tentang saya mengajar komunikasi. Pagi itu sebenarnya saya sudah berniat untuk tidak mengajar karena alasan yang cukup kuat. Saya sakit agak berat. Semalaman panas tinggi, pusing berat, dan diare. Tapi berhubung dosen pengganti tidak siap dengan materi hari itu. Pagi itu saya nekat berangkat ke kampus untuk mengajar. Mengingat kondisi kelas sudah mulai dipenuhi mahasiswa. Tidak sedikit, ada 68 mahasiswa jika seluruhnya hadir. Jumlah yang sulit bagi saya untuk meninggalkannya begitu saja tanpa ada kuliah hari itu.

Saya katakan kepada teman saya –si dosen pengganti itu—“Ok, saya berangkat sekarang.” Sambil berusaha menahan sakit saya yang belum terobati.

Materi pagi itu adalah tentang “Bahasa dan Makna”. Kenapa bab ini penting dan sengaja dipilih untuk Jurusan DKV? Karena bahasa dan makna memiliki porsi yang sangat besar ketika seorang desainer komunikasi visual akan menciptakan sebuah karya. Mereka menggunakan bahasa sebagai tools untuk menyampaikan pesan, dan ‘pemaknaan yang tepat’-lah adalah apa yang ingin mereka ingin dari audiens yang mereka target.

Dalam kuliah ini saya memulai dengan topik “History of Language and Meaning”. Disinilah yang inti topik yang sebenarnya ingin saya bahas dalam tulisan ini. Sejujurnya, sebelum saya mengajar materi ini, saya telah ‘mengobrak-abrik’ isi buku-buku yang membahas tentang sejarah bahasa yang digunakan oleh manusia di muka bumi ini. Satu persatu saya baca dan coba pahami. Sampai akhirnya saya menarik benang merah kesimpulan, bahwa seluruh literatur sejarah sekuler dari Barat tidak pernah mengaitkan sejarah bahasa dengan campur tangan Tuhan sebagai pencipta manusia. Sehingga segala sesuatunya dilihat dari sudut pandang filsafat positifisme, suatu cara berpikir yang hanya mengakui segala sesuatu yang terjadi didunia ini pasti ada penyebabnya (sebab-akibat). Sehingga penelitian-penelitian mereka terkesan konyol dan kering dari spiritualitas. Kesimpulan yang mereka ambil pun juga tidak melegakan para spiritualis maupun kaum agamis.

Saya sebagai dosen yang beragama, Islam. Memiliki tanggungjawab yang besar terhadap apa yang saya ajarkan kepada mahasiswa saya. Ide-ide Barat yang bodoh dan miskin aspek spiritual lebih berguna jika saya jadikan bahan untuk lelucon dikelas daripada sebagai rujukan utama mahasiswa-mahasiswa kuliah ini. Lumayan,…ketika saya ceritakan bahwa dulu orang-orang Yunani kuno meneliti asal usul bahasa, mereka mencatat tiap bunyi yang terucap pada bayi yang baru lahir lalu dicari kaitan maknanya dengan apa yang dia lihat, seluruh mahasiswa sampai tertawa terbahak-bahak.

Lalu teori apa yang saya pakai untuk menjelaskan sejarah bahasa manusia? Sebagai seorang muslim, saya harus mencari jawabannya yang pertama kali adalah dalam ‘buku panduan’ hidup manusia tertinggi: Al-Qur’an. Saya teringat seorang ulama yang 6 tahun lalu pernah membahasa tafsir di masjid Al-Falah Surabaya, menceritakan tentang hal ini. Beliau menjelaskan dengan runut tafsir surat Al-Baqarah ayat 30-34 tentang asal-usul bagaimana manusia mengenal setiap kata yang akhirnya berkembang hingga hari ini menjadi bahasa sehari-hari kita. Allah berfirman:

“ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””

(QS Al Baqarah 30)

“dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemuka-kannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

(QS Al Baqarah 31)

“mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Al Baqarah 32)

“Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

(QS Al Baqarah 33)

“dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

(QS Al Baqarah 34)

Jelas sudah apa yang dikemukakan dalam Al-Quran tentang sejarah lahirnya kata-kata yang dipakai untuk berdialog oleh manusia dimuka bumi ini. Allah-lah yang mengajarkan semuanya kepada Nabi Adam as pertama kali. Diawali dengan dialog malaikat dengan Allah Ta’ala tentang pertanyaan malaikat tentang alasan Allah menciptakan manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Hingga akhirnya malaikat mengerti dan hormat kepada Adam (manusia) karena Allah telah mengajarkan sebagian ilmu-Nya (tentang semua vocabulary yang ada diseluruh alam semesta ini) kepada Adam as dan itu yang tidak dimiliki makhluk lainnya seperti malaikat sekalipun.

Ketika saya mengajarkan materi ini, saya tidak menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber hukum yang harus (dipaksakan) ditaati seluruh mahasiswa. Tapi sebagai sumber sejarah yang dapat dijadikan rujukan oleh siapa saja. Bagi mereka yang non-muslim, yang untungnya masih paham dengan penjelasan saya: kristen, mengakui pula sejarah Nabi Adam as. Jadi tidak terlalu membingungkan bagi mereka untuk bercerita sejarah semacam ini. Apalagi ketika pertanyaan saya yang pertama untuk membuka perkuliahan ini tentang darimana asal-usul bahasa manusia, seorang mahasiswa beragama Kristen justru yang menjawab :“Adam!” Lebih cerdas daripada rata-rata yang hanya berpikir berhenti pada kata “nenek moyang”.

Suasana kelas ketika itu cukup mengasikkan. Saya bisa melihat wajah-wajah ketertarikan akan materi yang disampaikan. Mungkin ini baru bagi mereka. Dan tidak pernah mereka menyangka sejarah itu ada dalam kitab yang sebagian besar mereka miliki dirumah dan tertumpuk di rak yang paling dalam posisinya. Yang sudah lama tidak mereka jamah. Wajah-wajah mereka mungkin mengingatkan pada wajah saya ketika kurang lebih enam tahun yang lalu mendengar penjelasan almarhum ulama tafsir tentang ayat yang sama. Ilmu yang sama sekali tidak banyak dijamah oleh para pakar linguistik dan komunikasi. Ironis.

(Abu Hafizh, Catatan Mingguan Ke-2, 12-10-2011, 17:05)

10 Tanda Gagal Ramadhan

::♥ 10 tanda gagal ramadhan ♥::

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,,

Sahabat, saudaraku fillah, Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup dan pintu syurga dibuka lebar-lebar. Namun banyak orang gagal mendapatkan kemuliaannya. Di bawah ini kiat-Kiat menghindarinya gagalnya Ramadhan

1. Kurang melakukan persiapan di bulan Sya’ban.

Misalnya, tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan shalat tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Sya’ban, sebagaimana telah disunnahkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Radhiallaahu ‘anha berkata, ”Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa selain di bulan Sya’ban.”

2. Gampang mengulur shalat fardhu.

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih.” (Maryam: 59)

Menurut Sa’id bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat (meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya. Misalnya menjalankan shalat zhuhur menjelang waktu ashar, ashar menjelang maghrib, shalat maghrib menjelang isya, shalat isya menjelang waktu subuh serta tidak segera shalat subuh hingga terbit matahari. Orang yang bershiyam Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.

3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.

Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul-lail. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan ciri orang yang shalih.

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (Al-Anbiya:90)

“Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya.” (Hadits Qudsi)

4. Kikir dan rakus pada harta benda.

Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah tandanya. Salah satu sasaran utama shiyam agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan (Bahimiyah). Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya.

Mendekat kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala, akan menguatkan sifat utama kemanusiaan (Insaniyah).

5. Malas membaca Al-Qur’an.

Ramadhan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam Ramadhan untuk membaca Al-Qur’an.

“Ibadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Qur’an.” (HR Baihaqi)

Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan suci.

6. Mudah mengumbar amarah.

Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Saw bersabda: “Orang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah.”

Dalam hadits lain beliau bersabda: “Puasa itu perisai diri, apabila salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah sesesungguhnya saya sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

7. Gemar bicara sia-sia dan dusta.

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan Az-Zur, maka Allah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah)

Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik. Umar ibn Khattab Ra berkata: “Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia.” (Al Muhalla VI: 178) Ciri orang gagal memetik buah Ramadhan kerap berkata di belakang hatinya. Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara masak: “Bicara dulu baru berpikir, bukan sebaliknya, berpikir dulu, disaring, baru diucapkan.”

8. Memutuskan tali silaturrahim.

Ketika menyambut datangnya Ramadhan Rasulullah Saw bersabda: “?Barangsiapa menyambung tali persaudaraan (silaturrahim) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya?” Puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta.

Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu. Apabila ada atau tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan.

9. Menyia-nyiakan waktu.

Al-Qur’an mendokumentasikan dialog Allah Swt dengan orang-orang yang menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main.

“Allah bertanya: ‘ Berapa tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi?’

Mereka menjawab: ‘Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’

Allah berfirman: ‘Kamu tidak tingal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. “Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mu’minun: 112-116)

Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.

10. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam.

Salah satu ciri utama alumnus Ramadhan yang berhasil ialah tingkat taqwa yang meroket. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat ialah semangat mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan ‘amar ma’ruf nahiy munkar dilakukannya, karena ia ingin sebanyak mungkin orang merasakan kelezatan iman sebagaimana dirinya. Jika semangat ini tak ada, gagal lah Ramadhan seseorang.

Kesadaran penuh akan kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus berada pada puncaknya saat Iedul Fitri, dan bukan sebaliknya.

☆ Semoga Bermanfaat ☆

ღ•Sahabat Saudaraku fillah..Silakan di Tag/Share semua Untuk Umat dan Syiar Islam,,Bantu Tag Sahabat-sahabat yang lain…. Jazzakumullahu khayran wa Barakallahu fiikum.

ღ•SaLam Santun Erat SiLaturrahim dan Ukhuwah Fillah•ღ

 

10 Tanda Gagal Ramadhan

Sumber : http://url.stisitelkom.ac.i
d/28475